"Jangan pernah berpikir untuk lari, karena setiap jengkal napasmu adalah milikku." _Azeus (Versi Novel).
Aluna benci Azeus. Bukan Azeus si CEO dalam novel favorit yang tengah ia baca, melainkan Azeus di dunia nyata, seorang cowok narsis, tukang pamer motor 1000cc, dan hobi ugal-ugalan yang hampir membuatnya celaka dua kali!
Aluna mengira hidupnya akan setragis tokoh di dalam bukunya: diculik, disiksa, dan menderita. Namun, kenyataannya malah jauh lebih merepotkan. Alih-alih cambukan, Aluna justru dihujani gombalan narsis, traktiran boba, dan aksi protektif yang ugal-ugalan dari geng motor paling populer di Jakarta.
Saat garis antara fiksi dan realita mulai kabur, Aluna tersadar satu hal, Apakah dia akan berakhir tragis seperti di dalam novel, atau justru terjebak dalam obsesi manis si cowok ugal-ugalan yang diam-diam mencuri hatinya?
"Lo boleh benci Azeus yang di buku itu, tapi jangan harap bisa lepas dari Azeus yang di depan mata lo sekarang."
Karya ini berisi Novel dalam Novel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merasa ditipu
Gathan menghela napas panjang, menatap pintu unit 1205 dengan tatapan datar yang menusuk. Baginya, pemandangan ini sudah terlalu berisik. Dengan gerakan tenang, ia memutar badannya dan melangkah pergi menuju unit apartemennya sendiri yang berada di ujung koridor.
"Gue balik. Jangan ada yang gedor pintu gue kalau urusan ini belum kelar," gumam Gathan dingin. Dalam hatinya, ia tahu bahwa ini adalah momen krusial bagi Azeus dan Aluna. Kehadiran orang ketiga, keempat, apalagi si dodol Raka dan Dion, hanya akan memperkeruh suasana.
Raka dan Dion yang tadinya sibuk mengintip, langsung saling menyikut.
"Tuh kan! Gara-gara lo nih, Dion! Maksa-maksa Gathan, jadi kita diusir kan!" bisik Raka menyalahkan.
"Lah, kok gue? Lo juga tadi yang semangat narik jaketnya! Udah ah, mending kita ikut Gathan daripada jadi obat nyamuk di sini," balas Dion sambil cengengesan takut. Akhirnya, dua sahabat itu mengekor di belakang Gathan, meninggalkan koridor sepi itu untuk Azeus.
Kini tinggal Azeus dan Aluna. Kesunyian di koridor lantai 12 itu terasa mencekik. Azeus menahan napas sesak, dadanya terasa dihantam batu besar saat melihat Aluna masih berdiri dengan wajah jutek dan sorot mata yang penuh kebencian. Aluna sama sekali tidak memberikan celah, tangannya masih mencengkeram gagang pintu dengan buku jari yang memutih.
"Mau apa lagi, Kak? Belum puas mempermainkan aku tiga tahun lalu?" desis Aluna tajam.
Azeus menatap wajah Aluna yang kini jauh lebih dewasa, namun tetap memiliki binar kepolosan yang ia rindukan.
"Na... dengerin aku sekali saja. Malam itu, Erena yang cegat aku di jalan. Dia manfaatin mobilnya yang mogok buat meluk aku. Aku bersumpah, demi nyawaku, aku nggak pernah membalas pelukannya. Aku melepaskannya dengan muak, Na." Azeus memperlihatkan 2 jari nya (✌️) sebagai tanda kejujuran bahwa ia tidak berbohong.
Aluna tertawa getir, matanya kembali berkaca-kaca. "Kakak pikir aku anak kecil yang gampang dibohongi lagi? Aku lihat sendiri betapa mesranya kalian di bawah lampu jalan itu. Dan setelah itu... Kakak menghilang sebulan! Kakak sengaja hindari aku kan?"
"Aku menghindar bukan karena Erena!" potong Azeus dengan suara serak, ia melangkah maju satu tindak hingga napasnya terasa di wajah Aluna.
"Aku menghindar karena aku terlalu menginginkanmu, Na! Aku takut aku nggak bisa kontrol diri dan malah ngerusak kamu. Aku takut hasratku bakal bikin kamu benci sama aku. Jadi aku milih buat pergi subuh dan pulang larut malam biar kita nggak ketemu!"
Aluna tertegun. Jantungnya berdegup kencang mendengar pengakuan obsesif Azeus yang sangat jujur itu.
.
Mendengar pengakuan jujur yang meledak-ledak itu, amarah di mata Aluna perlahan surut, berganti dengan rasa haru yang menyesakkan dada. Aluna membuka lebar pintunya, sebuah isyarat yang membuat Azeus seolah mendapatkan nyawanya kembali. Azeus melangkah masuk, menutup pintu apartemen yang mewah itu, lalu mengikuti Aluna yang berjalan menuju sofa.
Begitu mereka duduk bersisian, Azeus langsung menggenggam tangan Aluna erat, seolah takut gadis itu akan menguap jika ia lepaskan barang sedetik pun. Di depan Aluna, sang CEO yang dikenal dingin itu hancur total. Ia menceritakan bagaimana setiap malam ia hanya bisa menatap langit-langit kamar, bagaimana ia mencari Aluna ke seluruh penjuru kota tanpa lelah, hingga air matanya menetes berkali-kali membasahi tangan Aluna.
"Tiga tahun, Na... Tiga tahun aku kayak mayat hidup karena nggak tahu kamu di mana," rintih Azeus tersedu.
Melihat kehancuran pria di depannya, Aluna tidak lagi diam membeku. Dengan gerakan tenang dan dewasa, Aluna mengulurkan tangannya, mengusap air mata di wajah Azeus dengan lembut. Sentuhan jemari Aluna membuat Azeus mendadak mematung. Ia tertegun, menatap Aluna dengan tatapan tak percaya.
Ya, ini bukan lagi Aluna si yang dulu selalu menunduk saat digoda. Aluna yang sekarang jauh lebih berani, mandiri, dan mampu menatap mata Azeus dengan binar kekuatan yang baru. Perubahan itu justru membuat Azeus semakin terpesona sekaligus merasa kecil di hadapan wanita yang selama ini ia remehkan kepolosannya
^^^
Baru saja Azeus ingin menikmati sentuhan lembut Aluna yang sudah tiga tahun ia rindukan, suara pintu apartemen yang terbuka dengan kunci akses digital mengejutkan mereka berdua.
BIP—CLEK.
Di ambang pintu, berdirilah sang penguasa tertinggi, Ayah Azeus. Beliau melangkah masuk dengan setelan jas yang masih rapi, namun wajahnya tidak lagi dingin. Sebuah senyuman sombong dan penuh kemenangan terukir jelas di bibirnya. Beliau menatap Azeus yang masih mematung dengan mata sembab di samping Aluna.
"Gimana, Zeus? Enak rasanya kena tipu Papa selama tiga tahun?" tanya Ayahnya dengan nada bicara yang sangat santai, hampir terdengar seperti sedang mengejek.
Azeus langsung berdiri, jantungnya berdegup kencang antara kaget dan emosi.
"Pa? Jadi... Papa tahu Nana di sini?!"
Ayah Azeus terkekeh, ia berjalan menuju meja makan dan meletakkan tas kerjanya.
"Bukan cuma tahu, Zeus. Papa yang sewa apartemen ini, Papa yang biayai kuliah Nana sampai dia lulus SMA dan sekarang jadi mahasiswi kedokteran berprestasi. Semua detektif 'profesional' yang kamu bayar mahal itu? Mereka orang-orang Papa. Laporan mereka palsu semua."
Azeus melongo. Dunianya serasa dijungkirbalikkan oleh ayahnya sendiri.
"Tapi kenapa, Pa?! Papa lihat Zeus hancur kayak mayat hidup setiap hari!"
"Karena itu satu-satunya cara buat bikin si bucin ugal-ugalan kayak kamu jadi manusia berguna," sahut Ayahnya telak.
"Lihat dirimu sekarang. Kamu jadi CEO muda yang sukses, disiplin, dan punya masa depan. Kalau Papa nggak sembunyiin Nana, mungkin kamu masih balapan liar atau malah ngerusak dia karena nafsu mudamu yang nggak terkontrol itu."
Ayah Azeus melirik Aluna yang hanya tersenyum simpul ternyata gadis itu juga sudah komplotan dengan sang Ayah untuk mendewasakan Azeus.
"Papa sengaja biarin kamu menderita, biar kamu tahu rasanya berjuang. Sekarang, karena kamu sudah buktikan bisa kelola perusahaan dengan baik, Papa anggap ujian kamu selesai," lanjut Ayahnya sambil menepuk bahu Azeus yang masih syok.
Azeus menatap Ayahnya, lalu menatap Aluna. Ia merasa kesal karena telah dikelabui begitu rapi, tapi di sisi lain, ia merasa sangat bersyukur. Obsesi dan rasa cintanya kini terbayar lunas dengan sosok Aluna yang jauh lebih matang dan siap ia halalkan.
^^^
Setelah pintu apartemen tertutup rapat menyusul kepergian Ayahnya, keheningan menyelimuti ruangan mewah itu. Azeus menyandarkan punggungnya di sofa, rahangnya mengeras dengan tatapan mata yang dingin menembus dinding di depannya.
Perasaannya berkecamuk hebat. Di satu sisi, jantungnya berdegup lega karena Aluna ada di depan matanya. Namun di sisi lain, harga dirinya sebagai pria dan calon penerus tahta bisnis merasa tercoreng. Ia merasa kerdil karena telah dikendalikan seperti bidak catur selama tiga tahun.
Tentu saja, batin Azeus sinis. Semua bisa dikendalikan dengan uang. Papa bisa beli detektif, beli informasi, bahkan beli waktu luangku hanya untuk sebuah skenario konyol.
Azeus tetap bergeming, enggan menatap Aluna yang duduk di sampingnya. Aura CEO muda yang angkuh dan posesif kembali menyelimutinya, menutupi kerentanan yang sempat ia tunjukkan tadi. Ia kesal karena Aluna pun tampak bekerja sama dalam sandiwara ini.
Namun, suasana dingin itu mendadak mencair saat Aluna bergerak. Tanpa suara, Aluna bangkit dan dengan berani duduk di pangkuan Azeus.
Azeus tertegun. Tubuhnya menegang seketika saat merasakan berat tubuh Aluna dan aroma parfum bunga yang lembut menyentuh indra penciumannya. Aluna melingkarkan tangannya di leher Azeus, menatap wajah kaku pria itu dengan tatapan teduh yang sulit ditolak.
"Masih marah?" bisik Aluna lembut, jemarinya merapikan rambut Azeus yang sedikit berantakan. "Semua itu biar Kakak jadi pria yang hebat seperti sekarang. Lihat diri Kakak... Kakak bukan lagi mahasiswa ugal-ugalan yang hobi balapan. Kakak sudah jadi pemimpin."
Azeus tetap berusaha memasang wajah datar, meskipun hatinya sudah bergetar hebat.
"Kamu juga sama saja, Na. Tega banget biarin aku kayak orang gila selama tiga tahun." Azeus cemberut.
Aluna tersenyum manis, senyum yang dulu selalu membuat Azeus tak berdaya. Ia mendekatkan wajahnya, membiarkan ujung hidung mereka bersentuhan.
"Aku juga kangen, Kak. Setiap hari aku cuma bisa liat Kakak lewat berita bisnis atau foto yang dikirim Papa. Sekarang aku di sini, jangan marah lagi ya?"
Melihat keberanian Aluna yang sekarang jauh lebih dewasa, Azeus tak bisa lagi menahan obsesi dan rasa cintanya. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Aluna, menariknya lebih rapat hingga tak ada jarak di antara mereka.