NovelToon NovelToon
Tunangan Selingkuh, Dekati Abangnya

Tunangan Selingkuh, Dekati Abangnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rinnaya

Selama ini Nana selalu mengalah pada tunangannya, dia bagaikan gadis bodoh yang tidak ingin kehilangan cinta Tris. Sampai Tris mempermalukan Nana di depan orang banyak, karena kejadian itu Nana dihujat di internet. Lalu Nana mulai berubah usai mendapatkan uluran tangan acuh tak acuh dari abangnya Tris, yaitu Aska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Orang yang salah.

Pagi itu, suasana di Stellar Komik Studio tidak lagi sehangat biasanya. Meski mesin kopi tetap menderu dan suara gesekan pena digital tetap terdengar, ada sesuatu yang menggantung di udara; bisik-bisik yang terhenti setiap kali Nana melewati koridor. Video keributan di lobi kemarin telah menyebar di grup-grup percakapan internal, dan meskipun Tris yang terlihat buruk di sana, narasi yang berkembang mulai berbelok ke arah yang jauh lebih kejam.

Nana duduk di mejanya, menatap layar monitor yang masih kosong. Ia bisa merasakan tatapan beberapa rekan kerja dari divisi lain yang melewati ruangannya. Mereka tidak lagi menatapnya dengan kekaguman atas prestasinya, melainkan dengan rasa ingin tahu yang sinis.

"Kau sudah lihat akun gosip industri kreatif di platform X?" Gani tiba-tiba muncul di sampingnya, suaranya rendah dan penuh kekhawatiran.

Nana menggeleng pelan. "Aku belum membuka ponsel sejak pagi."

Gani menghela napas, ia meletakkan ponselnya di depan Nana. Sebuah unggahan anonim sedang viral. Unggahan itu melampirkan foto Nana saat masuk ke mobil Aska tempo hari, dan foto tangkapan layar kredit komik mereka yang mencantumkan Aska & Co. sebagai konsultan hukum.

[Pantas saja anak baru langsung dapat proyek thriller utama dan akses ke firma hukum raksasa. Ternyata 'jalur belakang' lewat ranjang pengacaranya. Siapa yang sangka wajah polos begitu bisa jadi simpanan abang tunangannya sendiri?]

Darah Nana terasa membeku. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Ini bukan lagi soal Tris yang mengamuk, ini adalah pembunuhan karakter yang terstruktur. Fitnah ini tidak hanya menghancurkan reputasinya, tapi juga menyeret nama Aska, pria yang paling ia hormati, ke dalam lumpur yang kotor.

"Ini gila," bisik Nana, suaranya bergetar. "Aku tidak pernah ... kami tidak pernah...!"

"Aku tahu, Na. Aku dan Hadi tahu kau bekerja gila-gilaan di sini," sahut Gani tegas. "Tapi netizen tidak mau tahu. Mereka lebih suka cerita skandal daripada cerita tentang kerja keras."

Hadi kemudian memanggil Nana ke ruangannya. Di dalam, wajah sang Art Director tampak sangat serius. "Nana, aku tahu ini sulit. Tapi investor mulai bertanya-tahu. Mereka khawatir skandal ini akan mempengaruhi citra komik kita yang sedang naik daun. Untuk sementara, aku minta kau bekerja dari rumah dulu sampai situasi mendingin."

Nana menunduk, meremas jemarinya hingga memutih. "Pak, saya tidak melakukan apa yang dituduhkan di sana. Saya riset sendiri, saya..."

"Aku percaya padamu, Nana. Tapi di dunia bisnis, persepsi adalah kenyataan. Pulanglah dulu. Tenangkan dirimu," potong Hadi, meski matanya menunjukkan rasa iba.

***

Di sebuah apartemen mewah lainnya, Elli sedang menyesap anggur merahnya sambil tersenyum puas melihat angka keterlibatan (engagement) pada unggahan anonim yang ia buat lewat jasa buzzer. Ia tahu betul bagaimana cara menghancurkan wanita seperti Nana: serang harga dirinya, dan buat dia terlihat menjijikkan.

"Dengan begini, Kak Aska pasti akan menjauh darimu untuk menyelamatkan reputasi firmanya, Nana," gumam Elli licik. "Dan saat kau hancur, akulah yang akan datang menghibur Kak Aska sebagai wanita yang 'berkelas' dan 'bersih'."

Elli tidak sadar bahwa ia sedang bermain api dengan naga yang salah.

***

Suasana di kantor Aska terasa seperti di dalam lemari es. Para staf bergerak dengan sangat hati-hati, tidak ada yang berani bersuara keras. Kabar tentang fitnah yang menyeret nama bos mereka sudah sampai ke telinga seluruh departemen humas.

Aska duduk di balik meja besarnya, menatap layar monitor yang menampilkan ribuan komentar negatif tentang dirinya dan Nana. Wajahnya tidak menunjukkan amarah yang meledak-ledak. Sebaliknya, ia tampak sangat tenang, ketenangan seorang predator yang sedang menandai mangsanya.

"Siska," panggil Aska melalui interkom.

Sekretarisnya masuk dengan gemetar. "Ya, Pak?"

"Lacak alamat IP pengunggah pertama. Saya tidak mau alasan 'akun anonim'. Gunakan tim IT forensik kita. Dan hubungi manajemen Stellar Komik. Katakan saya ingin bertemu mereka satu jam lagi di gedung mereka. Bukan di sini."

Aska berdiri, menyambar jasnya. Ia tidak menelepon Nana. Ia tahu gadis itu pasti sedang hancur. Namun, bagi Aska, kata-kata "maaf" atau "sabar" adalah hal yang tidak berguna. Ia adalah pria aksi. Jika seseorang berani menyentuh apa yang menjadi tanggung jawabnya, atau seseorang yang mulai ia hargai, maka ia akan menghancurkan orang itu sampai ke akarnya.

Satu jam kemudian, sebuah mobil SUV hitam berhenti di depan gedung studio. Aska keluar dengan aura yang begitu pekat hingga orang-orang yang melihatnya di lobi langsung menepi, memberi jalan seolah ia adalah seorang raja yang sedang murka.

Hadi dan jajaran manajemen sudah menunggu di ruang rapat. Mereka tampak gugup. Mereka mengira Aska datang untuk memutuskan kontrak kerjasama atau menuntut mereka.

"Duduk," perintah Aska bahkan sebelum tuan rumah mempersilakannya.

Ia meletakkan sebuah map hitam di atas meja. "Di dalam sini adalah data digital forensik tentang siapa yang memulai fitnah ini. Ini bukan orang luar. Ini adalah seseorang yang memiliki hubungan dekat dengan adik saya, Tris. Namanya adalah Elli Kirana."

Semua orang di ruangan itu terkesiap, beranggapan Elli Kirana tidak tahu cara bermain bersih, padahal yang ingin ia jebak melibatkan pengacara cerdas yang memiliki koneksi luas. Membantah fitnah seperti ini mudah bagi Aska.

Aska melanjutkan dengan nada suara yang sangat dingin dan presisi.

"Nana diterima di sini karena bakatnya. Saya menjadi konsultan hukum karena saya melihat potensi besar pada proyek ini, bukan karena hal pribadi. Jika ada satu saja dari kalian yang meragukan integritas Nana atau mencoba menghentikan kontrak kerjanya karena fitnah murahan ini, saya pribadi yang akan menuntut studio ini atas pencemaran nama baik dan pemutusan kontrak sepihak."

Aska menatap Hadi tajam. "Nana adalah aset kalian. Jika kalian membuangnya hanya karena takut pada gosip, maka kalian tidak layak bekerja sama dengan firma saya. Saya akan menarik seluruh dukungan saya dan memastikan tidak ada investor yang berani menyentuh studio ini."

Manajemen Stellar Komik terdiam. Mereka sadar, Aska tidak sedang membela "simpanannya". Ia sedang membela kebenaran dengan cara yang paling brutal dan efektif.

"Kami mengerti, Pak Aska. Kami akan segera mengeluarkan pernyataan resmi dan memulihkan nama baik Nana," ujar direktur studio dengan cepat.

"Bagus. Dan satu lagi," Aska berdiri. "Pastikan Nana kembali bekerja besok pagi. Dan jika ada staf yang masih berani berbisik di belakangnya, beri tahu mereka bahwa pengacara terbaik di negeri ini sedang mengawasi mereka."

***

Nana sedang meringkuk di sofa, air matanya sudah mengering, meninggalkan rasa perih. Ia merasa dunianya runtuh lagi. Ia pikir ia sudah menang, namun ternyata masa lalunya masih punya cara untuk menariknya kembali ke kegelapan.

Tiba-tiba, bel apartemennya berbunyi. Nana ragu untuk membukanya, namun ketukan itu terdengar sangat berwibawa.

Begitu pintu dibuka, sosok Aska berdiri di sana. Ia tidak membawa bunga, tidak juga membawa kata-kata manis. Ia hanya menyodorkan sebuah dokumen berisi somasi resmi yang sudah ditujukan kepada Elli Kirana.

"Berhenti menangis," ujar Aska datar sambil melangkah masuk tanpa diundang. "Menangis tidak akan menghapus fitnah. Tindakan hukumlah yang akan melakukannya."

Nana menatap dokumen itu, lalu menatap Aska dengan mata yang membelalak. "Bang... Abang melakukannya? Abang membela aku di kantor?"

Aska duduk di sofa, mengendurkan dasinya sedikit. "Aku tidak membela 'kamu' sebagai pribadi. Aku membela kebenaran dan reputasi firmaku. Tapi, aku juga tidak suka melihat orang yang sudah berusaha keras sepertimu dihancurkan oleh wanita rendahan seperti Elli."

Nana berjalan mendekat, ia berdiri di depan Aska. Rasa kagum yang selama ini ia pendam kini meledak menjadi sesuatu yang lebih kuat. "Terima kasih, Bang. Terima kasih karena selalu ada di saat aku merasa paling tidak berdaya."

Aska mendongak, menatap Nana yang kini berdiri tegak di depannya. Ada sesuatu di mata Nana, api yang tidak padam meski baru saja diterjang badai.

"Nana," suara Aska sedikit lebih berat. "Kau bilang ingin mengejar langkahku. Jangan biarkan kerikil seperti ini menghentikanmu. Besok, masuklah ke kantor dengan kepala tegak. Tunjukkan pada mereka bahwa kau tidak tersentuh."

Nana mengangguk mantap. Ia menyadari satu hal: Aska adalah pria yang tidak akan pernah memberikan pelukan hangat, tapi ia adalah pria yang akan membangunkan benteng baja untuk melindunginya. Dan baginya, itu jauh lebih berharga.

"Bang," panggil Nana saat Aska hendak pulang. "Boleh aku bertanya satu hal?"

Aska berhenti di ambang pintu. "Apa?"

"Apa Abang benar-benar hanya membela reputasi firma? Atau ... ada sedikit saja bagian dari Abang yang melakukannya karena peduli padaku?"

Aska terdiam sejenak. Ia tidak menoleh. Keheningan di antara mereka terasa sangat intens selama beberapa detik.

"Jangan tanya hal yang sudah kau tahu jawabannya, Nana. Fokus saja pada pekerjaanmu," sahut Aska sebelum akhirnya melangkah keluar dan menutup pintu.

Nana tersenyum kecil. Ia tahu. Jawaban Aska adalah jawaban khas pria itu, tentu saja demi firmanya. Jika masalah ini tidak melibatkan Aska, dia pasti tidak akan bergerak. Terlebih Aska telah mendengar perkataan Nana, bahwa ia ingin mengejar langkahnya. Aska pasti ingin melihat bagaimana Nana menyelesaikan masalahnya sendiri. Kali ini dia membantunya, tapi tidak tahu untuk yang selanjutnya.

Sementara itu, di tempat lain, Elli menerima surat somasi dari firma hukum Aska & Co. Wajahnya pucat pasi. Ia menyadari bahwa ia terlalu bodoh mengganggu orang yang terbiasa menangani masalah.

Bersambung....

1
jekey
lama" emosi sm aska 😡
Desi Santiani
lanjut thor seruu bgttt
jekey
akhirnyaa 😌😌
jekey
sinting tusi
jekey
thank you thor
Ayu
/Coffee/
Ayu
hahaa sukurin semoga kapok 🤭
Ayu
aku ga bisa kasih banyak ulasan tapi yang pasti bagus bangetttt
Ayu
kayak ginilah nyeseknya kalo baca novel yg baru up ,, mana bagus lagi ceritanya 😍
Ayu
/Coffee/ yuk
Ayu
kalo aku jadi kamu Na ... pasti aku bakalan cepet move on dari Tris🤭
Nilasartika Yusuf
😍
Ayu
hai Thor aku mampir ya
Rinnaya: Silahkan
total 1 replies
jekey
nunggu up thor
Rinnaya: Aman, up tiap hari.
total 1 replies
jekey
mampus eli
Nilasartika Yusuf
suka ceritanya😍
jekey
smngt update thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!