NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang CEO Muda

Istri Kontrak Sang CEO Muda

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Ariana Dewi, 24 tahun, seorang desainer grafis freelance yang hidupnya berantakan setelah tunangan sekaligus bosnya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Terlilit utang almarhum ayahnya dan hampir kehilangan rumah, ia menerima tawaran gila dari Revano Aldrich, 29 tahun, CEO muda Aldrich Group yang dingin dan penuh misteri.
Tawarannya sederhana: menikah kontrak selama satu tahun.
Revano butuh istri untuk meredam tekanan sang kakek agar tidak menyerahkan kendali perusahaan ke tangan paman yang licik. Ariana butuh uang untuk melunasi utang dan menyelamatkan rumah ibunya.
Tidak ada cinta. Tidak ada perasaan. Hanya kontrak.
Tapi aturan paling ketat sekalipun bisa retak ketika dua orang terpaksa hidup dalam satu atap, menanggung luka yang sama, dan perlahan mulai melihat satu sama lain bukan sebagai rekanan bisnis — melainkan sebagai manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 Pagi berikutnya datang tanpa ampun

Jika kemarin adalah serangan emosional, hari ini adalah serangan struktural.

Alya baru saja selesai membaca laporan pasar ketika ponselnya bergetar berkali-kali. Bukan notifikasi media. Bukan komentar anonim.

Laporan saham.

Grafik perusahaan Wijaya Group menunjukkan penurunan tajam sejak pembukaan pasar. Tidak sampai anjlok, tapi cukup untuk memicu kepanikan kecil di kalangan investor minoritas.

Alya menatap angka-angka itu dengan fokus penuh. Wajahnya tenang, tetapi pikirannya bergerak cepat.

“Dia mulai masuk ke jantung perusahaan,” gumamnya pelan.

Bima yang berdiri di belakangnya langsung menghubungi tim keuangan inti. Dalam hitungan menit, ruang kerja mereka berubah menjadi pusat komando kecil. Panggilan konferensi dibuka. Laporan real-time ditampilkan di layar besar.

“Kami mendeteksi aksi jual terkoordinasi,” lapor kepala analis. “Beberapa akun institusi kecil menjual dalam pola berantai. Seolah ingin menciptakan ilusi panic selling.”

Alya menyilangkan tangan di dada.

“Bukan ilusi,” katanya pelan. “Dia ingin memicu efek domino.”

Bima menoleh padanya. “Arsen?”

Alya mengangguk. “Serangan kemarin gagal menggoyahkan kita secara emosional. Jadi sekarang dia mencoba menggoyahkan fondasi finansial.”

Ruangan menjadi hening.

Bima akhirnya berbicara dengan nada yang lebih dalam, lebih dingin.

“Kalau dia mau bermain angka, kita juga bisa.”

Dalam dua jam berikutnya, keputusan besar diambil.

Alih-alih menenangkan pasar dengan pernyataan defensif, Alya justru mengumumkan langkah ekspansi yang sudah lama mereka siapkan namun belum dipublikasikan: akuisisi strategis terhadap perusahaan teknologi logistik yang selama ini menjadi mitra tidak langsung.

Berita itu seperti petir di tengah siang.

Investor yang awalnya ragu mulai menghitung ulang proyeksi keuntungan jangka panjang. Media yang sebelumnya sibuk membahas rumor personal kini terpaksa mengalihkan fokus pada manuver bisnis besar tersebut.

Arsen tidak hanya menyerang.

Ia sedang diuji.

Siang hari, sebuah pesan anonim masuk ke email pribadi Alya.

Bukan ancaman.

Bukan hinaan.

Hanya satu kalimat.

“Kau pikir semua ini hanya tentang bisnis?”

Alya membaca kalimat itu berulang kali.

Ada sesuatu dalam nada tulisan itu. Sesuatu yang lebih personal. Lebih dalam dari sekadar perebutan saham atau reputasi.

Bima melihat perubahan kecil di ekspresinya.

“Apa?”

Alya memutar layar laptop ke arahnya.

Bima membaca, lalu rahangnya mengeras.

“Ini bukan lagi permainan pasar,” katanya pelan.

Alya mengangguk perlahan.

“Tidak pernah benar-benar tentang pasar.”

Sore itu, fakta mengejutkan mulai terkuak.

Tim investigasi internal menemukan bahwa Arsen bukan hanya mengakumulasi saham secara diam-diam melalui perusahaan cangkang. Ia juga sedang membangun aliansi dengan salah satu anggota dewan lama yang pernah berselisih dengan ayah Bima bertahun-tahun lalu.

Ini bukan sekadar balas dendam profesional.

Ini warisan konflik lama.

Dan Alya kini ada di tengah pusaran sejarah yang bahkan tidak sepenuhnya ia ketahui.

Di ruang kerja pribadi, Alya berdiri menghadap Bima.

“Kau tahu ini akan kembali, bukan?”

Bima terdiam cukup lama sebelum menjawab.

“Aku tahu ada kemungkinan. Tapi aku tidak menyangka dia akan menyeretmu sejauh ini.”

Alya mendekat satu langkah.

“Aku sudah ada di sini. Dan aku tidak akan mundur hanya karena masa lalu yang bukan milikku.”

Tatapan mereka bertemu.

Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang lebih dari sekadar strategi bisnis di antara mereka.

Ada ketegangan sejarah.

Rahasia lama.

Dan kemungkinan bahwa konflik ini jauh lebih besar dari yang mereka perkirakan.

Malam turun lebih cepat dari biasanya.

Langit mendung, seolah ikut mencerminkan tekanan yang menggantung di udara.

Di balkon mansion, Alya berdiri sendirian kali ini. Angin lebih kencang. Kota di bawah tetap gemerlap, tetapi rasanya berbeda — seakan menyimpan intrik di setiap sudut.

Bima keluar beberapa menit kemudian dan berdiri di sampingnya.

“Kalau ini tentang masa lalu keluargaku,” katanya pelan, “maka aku yang akan menyelesaikannya.”

Alya menoleh.

“Tidak.”

Nada suaranya lembut, tapi tegas.

“Kita menyelesaikannya.”

Bima menatapnya dalam. Ada rasa bersalah yang sempat muncul di matanya, namun Alya tidak memberinya ruang untuk itu.

“Kau tidak memilih masa lalumu,” lanjut Alya. “Tapi kau memilih bagaimana menghadapinya. Dan kau memilihku untuk berdiri di sampingmu.”

Keheningan panjang menyelimuti mereka.

Di kejauhan, petir menyambar tipis di balik awan.

Badai belum benar-benar turun.

Tapi awannya sudah berkumpul.

Alya menggenggam tangan Bima.

“Kalau Arsen ingin membuka luka lama, biarkan saja,” katanya pelan. “Karena kali ini, kita tidak berdiri dengan luka terbuka. Kita berdiri dengan kesadaran.”

Bima mengangguk perlahan.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, mereka menyadari satu hal yang lebih besar dari serangan reputasi, lebih besar dari fluktuasi saham, bahkan lebih besar dari konflik pribadi.

Ini adalah perang warisan.

Dan bab berikutnya mungkin akan membuka rahasia yang selama ini tersembunyi di balik nama besar keluarga Wijaya.

Malam itu, hujan akhirnya turun.

Tidak deras.

Tapi cukup untuk menandai bahwa badai sesungguhnya sudah di ambang pintu.

Alya berdiri diam beberapa saat, membiarkan suara hujan mengisi ruang kosong di antara detak jantungnya. Ada sesuatu yang berbeda malam ini. Bukan hanya ancaman. Bukan hanya tekanan. Tapi firasat.

Seolah-olah semua yang terjadi selama ini hanyalah pembuka.

Bima melangkah mendekat, berdiri tepat di sampingnya. Tidak menyentuh. Tidak berbicara. Hanya hadir. Namun kehadiran itu cukup untuk membuat napas Alya kembali stabil.

“Aku tidak suka ketenangan seperti ini,” gumam Alya pelan.

Bima mengerti maksudnya.

Ketenangan sebelum ledakan.

Ponsel Alya tiba-tiba bergetar di tangannya.

Satu notifikasi masuk.

Bukan dari media.

Bukan dari investor.

Dari nomor tak dikenal.

Hanya satu pesan.

“Kau belum tahu setengahnya.”

Alya membaca kalimat itu dua kali. Lalu tiga kali.

Dingin merayap pelan ke tulang belakangnya.

Bima melihat perubahan kecil di wajahnya. “Apa?”

Alya menunjukkan layar ponselnya tanpa berkata-kata.

Bima membaca, lalu rahangnya menegang tipis.

“Itu dia,” katanya rendah. “Dia mulai masuk ke wilayah personal.”

Hujan di luar semakin rapat. Petir menyambar jauh di balik awan, menerangi langit sepersekian detik.

Dan pada kilatan cahaya itu, Alya menyadari sesuatu yang membuat napasnya tercekat.

Kalau Arsen berkata ia belum tahu setengahnya…

Berarti ada sesuatu yang memang belum ia ketahui.

“Bima,” ucapnya perlahan, suaranya lebih tenang dari yang ia rasakan, “apa yang tidak kau ceritakan padaku?”

Pertanyaan itu tidak diucapkan dengan tuduhan.

Tapi dengan kesiapan.

Bima terdiam.

Bukan karena tidak ingin menjawab.

Tapi karena memilih kata yang tepat.

“Ada konflik lama antara ayahku dan keluarga Arsen,” akhirnya ia berkata pelan. “Bukan sekadar persaingan bisnis. Ada proyek besar lima belas tahun lalu yang gagal. Ada tuduhan pengkhianatan. Dan sejak itu, hubungan mereka tidak pernah pulih.”

Alya menatapnya tanpa berkedip.

“Dan kau pikir ini semua hanya tentang saham?”

Bima menggeleng perlahan.

“Tidak lagi.”

Hening turun.

Alya mengingat kembali email-email bernada personal. Serangan yang bukan hanya mempertanyakan kompetensinya, tapi juga menyentuh masa lalunya, relasinya, bahkan keluarganya.

Itu bukan taktik bisnis biasa.

Itu pola balas dendam.

“Apa proyek itu?” tanya Alya pelan.

Bima menarik napas dalam. “Proyek merger besar dengan perusahaan asing. Nilainya sangat besar. Tapi sehari sebelum penandatanganan, pihak asing membatalkan sepihak. Ayah Arsen menuduh ayahku membocorkan informasi internal.”

“Dan?”

“Tidak pernah terbukti. Tapi reputasi keluarga mereka runtuh lebih dulu. Mereka kehilangan banyak aset. Kami selamat.”

Kata kami terdengar berat.

Alya akhirnya mengerti.

Bagi Arsen, ini bukan hanya perebutan posisi.

Ini soal warisan yang merasa dirampas.

Hujan mulai mereda. Tetesannya kini lebih pelan, tapi justru terasa lebih jelas.

“Apa kau yakin ayahmu tidak terlibat?” tanya Alya jujur.

Bima menatapnya lama. Tidak tersinggung. Tidak marah.

“Kalau dulu kau menanyakan itu, mungkin aku akan menjawab tanpa ragu,” katanya pelan. “Tapi sekarang… aku hanya tahu satu hal. Aku tidak akan membela sesuatu yang salah.”

Kejujuran itu membuat dada Alya menghangat.

Bukan karena ia mendapat jawaban pasti.

Tapi karena Bima tidak memilih jawaban mudah.

Ponsel kembali bergetar.

Kali ini bukan pesan.

Sebuah email masuk.

Subjeknya membuat darah Alya terasa membeku.

“Dokumen Lama – Bukti yang Terkubur.”

Alya membuka perlahan.

Lampiran berupa scan dokumen perjanjian lama. Tanggal lima belas tahun lalu. Nama keluarga Wijaya. Nama keluarga Arsen.

Dan satu tanda tangan yang membuat Bima terdiam membeku.

Tanda tangan ayahnya.

Di bagian bawah dokumen terdapat satu catatan tangan:

“Kebenaran selalu punya waktu untuk muncul.”

Ruangan terasa lebih sempit.

Bukan karena ancaman pasar.

Bukan karena voting dewan.

Tapi karena masa lalu benar-benar sedang dibuka.

Alya menoleh pada Bima. “Dia tidak hanya menyerang. Dia sedang menyiapkan sesuatu.”

Bima mengangguk pelan, tatapannya berubah.

Bukan lagi defensif.

Bukan lagi sekadar waspada.

Tapi siap menghadapi konfrontasi yang tidak bisa lagi dihindari.

“Kita harus cari tahu kebenarannya,” kata Alya tegas. “Sebelum dia yang membentuk versinya sendiri di depan publik.”

Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, arah perjuangan mereka berubah.

Bukan lagi sekadar menjaga reputasi.

Bukan lagi sekadar mempertahankan posisi.

Tapi mencari kebenaran yang mungkin akan mengguncang fondasi keluarga Bima sendiri.

Angin malam berhembus lembut setelah hujan berhenti.

Langit masih gelap, tapi awan perlahan bergeser.

Badai memang sudah di ambang pintu.

Dan kini, Alya dan Bima menyadari—

Yang akan mereka hadapi bukan hanya Arsen.

Melainkan sejarah yang mungkin menyimpan luka, pengkhianatan, dan rahasia yang selama ini terkubur rapat.

Dan ketika kebenaran itu benar-benar terungkap…

Tidak hanya perusahaan yang akan berubah.

Hubungan mereka pun akan diuji dengan cara yang belum pernah mereka bayangkan sebelumnya.

1
Nina Ninu
terlalu kaku dan bertele tele
Nabilah Putri
💪💪
Wahyu🐊
ok
Ds Phone
ada yang belum puas hati
Ds Phone
nasib baik dia ni ceras d
Ds Phone
tak bolih silap sekit pun
Ds Phone
semua kena ikut aturan
Ds Phone
bermula hidup baru
Ds Phone
semua nya untuk hidup
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!