Dulu mereka saling mencintai. Lalu berpisah.
Kini, karena perjodohan, mereka dipaksa bersatu kembali sebagai suami istri.
Ia (pria) masih mencintainya, namun memilih menyembunyikan perasaan di balik sikap percaya diri dan ejekan.
Sedangkan istrinya yang lembut namun mudah kesal, berusaha bersikap biasa—meski hatinya tak pernah benar-benar lupa.
Pernikahan mereka lebih terlihat seperti hubungan kakak dan adik yang gemar bertengkar kecil, daripada pasangan yang saling mencinta.
Tapi di balik cincin dan candaan sinis itu… cinta lama ternyata belum pernah benar-benar pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jantung Matahari
Suara hantaman sekop pada tanah yang lembap menjadi satu-satunya bunyi yang memecah keheningan pagi. Luna berdiri dengan jemari yang saling bertaut, jantungnya berdegup kencang menanti apa yang telah dikubur ayahnya selama belasan tahun.
"Tunggu," ujar Isaac tiba-tiba. Ujung sekopnya membentur sesuatu yang keras namun tidak terdengar seperti batu.
Isaac berlutut, menyisir tanah dengan tangannya hingga nampaklah sebuah kotak berbahan kayu sederhana. Kotak itu tampak kotor, permukaannya ditumbuhi sedikit lumut dan noda tanah yang mengerak, namun masih utuh karena dilapisi pelindung luar yang kedap air.
Isaac berlutut, menyisir tanah dengan tangannya hingga nampaklah sebuah kotak berbahan kayu sederhana. Kotak itu tampak kotor, permukaannya ditumbuhi sedikit lumut dan noda tanah yang mengerak, namun masih utuh karena dilapisi pelindung luar yang kedap air.
"Ini dia," bisik Isaac. Ia mengangkat kotak itu dengan hati-hati dan meletakkannya di hadapan Luna.
Dengan tangan gemetar, Luna memasukkan kunci kuningan pemberian Kakek Arka. Klik. Gembok kecil yang berkarat itu terbuka. Saat tutup kayu itu diangkat, aroma kertas tua dan kayu kering menguar, membawa serta memori yang tertidur lama.
Di dalamnya, Luna menemukan harta karun yang jauh lebih berharga daripada emas atau saham perusahaan:
Pertama, sebuah surat yang sangat manis. Kertasnya sudah mulai menguning, namun tulisan tangan Dendra yang tegas dan sedikit berantakan masih terbaca dengan jelas.
"Untuk bidadari kecil Ayah, Luna.
Jika kau membaca ini, berarti kau sudah cukup dewasa untuk kembali ke bukit ini. Maafkan Ayah karena menyembunyikan 'Jantung' ini di bawah tanah, tapi Ayah ingin kau tahu bahwa pondasi bangunan ini bukan hanya beton, tapi cinta kita. Ayah membangun Proyek Matahari ini agar kau selalu punya tempat untuk pulang, sekalipun Ayah sudah tidak ada. Ingatlah, kau adalah matahari di hidup Ayah. Jangan pernah biarkan siapa pun memadamkan sinarmu."
Luna menutup mulutnya, air mata jatuh membasahi kertas tersebut. Ia bisa merasakan kehadiran ayahnya di setiap baris kalimat itu.
Kedua, dua lembar foto polaroid lama.
Foto pertama memperlihatkan momen yang selama ini hanya ada dalam bayang-bayang Luna: Dendra, Natasha, dan Luna yang masih bayi berada dalam satu bingkai. Mereka semua tersenyum bahagia di sebuah taman. Natasha tampak begitu cantik dengan binar mata yang tulus, dan Dendra merangkul mereka seolah-olah ia adalah pria paling beruntung di dunia.
Ketiga, sebuah kalung emas dengan inisial L.
Kalung itu mungil, dengan liontin huruf L yang elegan. Meski sudah sedikit berkarat karena kelembapan tanah yang merembes, emasnya masih memantulkan cahaya pagi. Ini adalah kalung yang seharusnya dipakai Luna saat ia kecil, namun sengaja disimpan Dendra di sini sebagai simbol bahwa identitas Luna akan selalu terikat dengan tanah impian ini.
"Dia menyimpannya di sini..." suara Luna tercekat. "Dia menyimpan bukti bahwa kami pernah menjadi keluarga yang utuh, tepat di bawah bangunan yang akan merawat anak-anak yang kehilangan keluarga."
Isaac merangkul Luna, matanya pun nampak berkaca-kaca melihat betapa dalamnya perasaan Dendra. "Dia tidak hanya membangun gedung, Luna. Dia sedang membangun kembali hatimu yang sempat hancur. Foto-foto ini... ini adalah bukti bahwa kau pernah sangat diinginkan dan dicintai oleh keduanya."
Luna menggenggam kalung emas itu erat-erat. Rasa pahit tentang ibunya, Natasha, mendadak melunak. Meski ibunya pergi, foto itu membuktikan bahwa setidaknya ada satu masa di mana cinta mereka nyata. Dan Dendra ingin Luna memegang kenangan indah itu, bukan hanya kepedihan.
"Kita akan meletakkan kotak ini kembali di dalam kotak kaca yang akan ditanam di pilar utama aula nanti," ujar Luna dengan tekad baru. "Agar setiap anak yang tinggal di sini tahu bahwa tempat ini dibangun di atas sebuah janji seorang Ayah."
Luna memandangi foto polaroid itu cukup lama, membiarkan jemarinya meraba permukaan kertas yang halus. Wajah Natasha di foto itu tampak begitu hidup; senyumnya simetris dan matanya memancarkan kelembutan yang aneh bagi Luna. Meskipun ia tahu itu adalah ibunya, ada perasaan asing yang menyesakkan. Ingatannya tentang Natasha telah terkubur begitu dalam oleh waktu dan rasa kecewa, sehingga melihat wajah aslinya sekarang terasa seperti menatap orang asing yang kebetulan memiliki kemiripan dengannya.
"Apakah dia masih terlihat seperti ini?" bisik Luna pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Isaac. "Atau apakah waktu juga telah bersikap kasar padanya, seperti ia bersikap pada Ayah?"
Isaac memperhatikan gurat kebingungan di wajah istrinya. Ia tahu, kotak kayu ini tidak hanya membuka rahasia pembangunan, tapi juga membuka kotak pandora dalam hati Luna. "Kau ingin mencarinya, Luna?"
Luna terdiam sejenak. Ada percikan rasa penasaran yang tiba-tiba membara di dadanya. Ia ingin tahu di mana Natasha sekarang, apakah ia benar-benar menemukan "mainan cantik" yang ia janjikan, atau apakah ia justru hidup dalam penyesalan. Namun, Luna kemudian menatap sekelilingnya—pada pondasi yang baru digali, pada Kakek Arka yang melambaikan tangan dari kejauhan, dan pada sketsa panti asuhan yang tergeletak di meja.
"Rasa ingin tahu itu ada, Isaac. Sangat besar," jawab Luna sembari menyimpan kembali foto itu ke dalam kotak dengan hati-hati. "Tapi tidak sekarang. Ayah menanam kotak ini di sini agar aku fokus pada apa yang ia mulai. Aku tidak ingin teralihkan oleh bayang-bayang masa lalu yang sudah membuangku."
Luna berdiri, membersihkan debu tanah dari lututnya. Tatapannya kembali menjadi tajam dan penuh fokus. "Prioritasku adalah menyelesaikan The Dendra Foundation. Aku ingin memastikan anak-anak di sini punya atap sebelum aku mencari tahu siapa wanita di foto itu. Jika nanti semuanya sudah berdiri tegak, dan jika semesta memberikan waktu yang tepat... mungkin aku akan mencarinya. Tapi untuk saat ini, Natasha hanyalah bagian dari sejarah, bukan bagian dari masa depanku."
Isaac mengagumi ketegasan Luna. Ia tahu istrinya sedang mencoba bersikap pragmatis untuk melindungi perasaannya sendiri. "Aku akan mendukungmu, apapun keputusanmu. Kita selesaikan amanah Ayah Dendra dulu."
Pekerjaan konstruksi pun dilanjutkan dengan semangat yang berbeda. Penemuan kotak itu seolah menyuntikkan energi baru ke seluruh area proyek. Luna mulai berkeliling, memberikan instruksi pada para tukang dengan lebih detail, sementara Isaac mulai mengurus logistik material yang akan segera tiba.
Namun, saat Luna sedang memeriksa batas lahan di bagian belakang yang berbatasan dengan hutan kecil, ia melihat sebuah mobil sedan mewah berwarna perak terparkir di kejauhan, di jalan aspal yang jarang dilewati. Seseorang di dalam mobil itu tampak memperhatikan aktivitas proyek melalui teropong, sebelum akhirnya mobil itu melaju pergi dengan cepat saat menyadari Luna menoleh.
Luna mengernyitkan dahi. Ia merasa itu bukan Pak Broto, karena mobil itu terlalu elegan untuk penguasa lokal. Ada perasaan aneh yang menggelitik tengkuknya—seolah-olah sejak "Jantung" itu digali, ada mata lain yang mulai mengintai dari kejauhan.
"Siapa pun itu," gumam Luna sembari mengepalkan tangannya yang masih mengenakan kalung inisial L pemberian ayahnya. "Mereka tidak akan bisa menghentikan matahari ini untuk terbit."