Seorang murid sekte luar yang dianggap tidak berguna karena memiliki "Akar Spiritual Terkutuk" tanpa sengaja membangkitkan jiwa seorang jenius dari era kuno yang terperangkap dalam artefak misterius. Bersama, mereka merintis teknik kultivasi kuno yang membutuhkan perpaduan dua elemen yang saling bertentangan, menuntut mereka untuk menyatukan kekuatan dan hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Terlempar Menembus Batas Dunia
Gua kristal itu runtuh bagai langit yang kiamat. Jutaan pedang patah berjatuhan menembus udara bersama bongkahan batu hitam raksasa, menciptakan hujan maut yang bisa menghancurkan seorang kultivator Tingkat Puncak dalam hitungan detik.
Namun, Li Jian bukan lagi kultivator biasa.
Di ranah Bina Pondasi, ia tidak lagi perlu menendang udara atau berpijak pada benda padat untuk bergerak. Cairan Qi raksanya yang kini bersumber dari Fondasi Teratai Bintang Es memungkinkannya memanipulasi gravitasi di sekitarnya. Dengan satu tangan memeluk erat pinggang Xiao Ling, Li Jian melesat melayang menyusuri tanah yang bergetar hebat.
"Tutup matamu dan tahan napasmu!" teriak Li Jian mengalahkan suara gemuruh runtuhan.
Sebuah bongkahan stalaktit kristal sebesar menara pengawas jatuh tepat di atas kepala mereka. Li Jian tidak menghindar. Ia hanya mengangkat Gerhana dengan tangan kanannya dan melepaskan satu tebasan vertikal.
ZRAAAK!
Gelombang Niat Pedang yang bercampur hawa es absolut membelah batu raksasa itu menjadi dua bagian yang sempurna, membekukan potongannya sebelum jatuh mengapit sisi kiri dan kanan mereka.
Di ujung gua, tepat di balik tempat sang Naga Tulang sebelumnya berbaring, terdapat sebuah altar batu bundar yang dipenuhi ukiran rune spasial kuno. Altar itu retak di beberapa bagian, tertutup debu ribuan tahun, namun memancarkan fluktuasi ruang yang samar.
"Itu formasinya! Alirkan Qi-mu ke titik pusatnya, paksakan gerbangnya terbuka!" instruksi Yueyin terdengar mendesak.
Li Jian mendarat kasar di atas altar. Tanah di bawah mereka mulai terbelah, memperlihatkan jurang magma yang mendidih jauh di perut bumi. Waktu mereka hanya tersisa hitungan detik.
Ia menancapkan Gerhana ke lubang di tengah altar. "Buka!" raung Li Jian.
Seluruh Qi raksa dari Dantian-nya meledak, membanjiri sirkuit rune yang telah mati itu dengan energi Yin murni. Altar itu bergetar, merespons energi luar biasa dari Inti Netherworld yang kini menyatu dengan Li Jian. Cahaya perak kehitaman meledak menyilaukan mata, menciptakan pusaran ruang hampa di atas altar.
Tepat saat atap gua raksasa itu runtuh sepenuhnya untuk mengubur mereka, pusaran spasial itu menelan Li Jian dan Xiao Ling.
WUSSSS!
Sensasi robekan ruang menyergap mereka. Berada di dalam terowongan teleportasi kuno yang tidak stabil rasanya seperti dimasukkan ke dalam mesin giling raksasa. Tekanan spasialnya begitu mengerikan hingga Xiao Ling langsung kehilangan kesadaran pada detik pertama, darah menetes dari hidung dan telinganya.
Li Jian menggertakkan gigi. Tulang-tulangnya yang kini sekeras berlian berderit menahan tekanan ruang. Ia memaksakan Fondasi Teratai Es-nya berputar maksimal, menciptakan kubah es tebal yang menyelimuti dirinya dan gadis yang pingsan di pelukannya.
Perjalanan yang mungkin hanya berlangsung beberapa detik itu terasa seperti berabad-abad.
Hingga akhirnya, sebuah celah cahaya muncul di ujung lorong hampa tersebut. Terowongan spasial itu memuntahkan mereka dengan kasar.
BUMMM!
Li Jian terlempar keluar dari celah dimensi, menghantam kanopi pepohonan raksasa sebelum akhirnya mendarat dengan suara berdebum keras di atas tanah yang dipenuhi dedaunan tebal berbau harum.
Kubah esnya hancur berkeping-keping, namun ia berhasil melindungi Xiao Ling dari benturan. Celahan dimensi di udara tepat di atas mereka langsung tertutup dan menghilang tanpa jejak.
Li Jian terbatuk pelan, melepaskan pelukannya dan berdiri perlahan. Ia mengibaskan sisa debu spasial dari jubahnya, lalu memindai sekelilingnya dengan kewaspadaan tingkat tinggi.
Ia berada di sebuah hutan purba. Namun, ini sama sekali berbeda dengan Pegunungan Ratusan Iblis. Pohon-pohon di sini batangnya berwarna keemasan, dan dedaunannya memancarkan pendaran Qi alami yang sangat jernih.
Bahkan, hal pertama yang paling mengejutkan Li Jian adalah udara yang ia hirup.
Energi spiritual (Qi) di udara tempat ini luar biasa padat. Sangat padat hingga terasa seperti kabut tipis yang terus-menerus menekan kulitnya. Bagi manusia fana, bernapas di sini mungkin akan menghancurkan paru-paru mereka. Namun bagi Li Jian, setiap tarikan napas terasa seperti meminum eliksir tingkat tinggi.
"Menakjubkan, bukan?" Suara Yueyin terdengar di kepalanya, diiringi nada meremehkan yang khas namun bercampur dengan sedikit nostalgia. "Udara di tempat ini seratus kali lebih murni daripada tumpukan sampah bernama Sekte Pedang Awan tempatmu berasal."
"Di mana kita, Senior?" Li Jian memutar Gerhana, merasakan bahwa pedangnya pun beresonansi gembira dengan energi lingkungan ini.
"Formasi kuno itu tidak memindahkanmu ke wilayah tetangga, Li Jian. Ia melemparmu menyeberangi Lautan Kematian, langsung ke jantung dunia kultivasi. Selamat datang di Benua Tengah."
Li Jian terdiam. Benua Tengah.
Dalam catatan sejarah yang pernah ia curi pandang di perpustakaan sekte luar, Benua Tengah adalah tanah legenda. Wilayah pinggiran seperti Sekte Pedang Awan hanyalah tempat pembuangan bagi mereka yang bakatnya terlalu rendah untuk bertahan di Benua Tengah.
Di sini, sekte-sekte tidak lagi dipimpin oleh kultivator Bina Pondasi. Di sini, monster-monster tua di tahap Inti Emas (Golden Core) dan Jiwa Sempurna (Nascent Soul) berjalan di bumi sebagai penguasa sesungguhnya.
"Di wilayah asalmu, mencapai Bina Pondasi di usiamu membuatmu menjadi dewa," lanjut Yueyin, menuangkan segelas realitas yang dingin. "Namun di Benua Tengah, Bina Pondasi hanyalah syarat minimum agar kau tidak dijadikan budak atau pakan binatang buas. Jangan biarkan kekuatan barumu membuatmu lengah."
Li Jian menyunggingkan senyum tipis. Darahnya mendidih, bukan karena takut, melainkan karena antusiasme yang luar biasa. Langit di atasnya baru saja meninggi.
"Bagus. Berada di puncak gunung sampah terlalu membosankan," gumam Li Jian.
Ia menunduk, menatap Xiao Ling yang masih terkapar pingsan. Napas gadis itu lemah, tertekan oleh kepadatan Qi Benua Tengah yang terlalu berat untuk tubuh fananya. Jika ia dibiarkan terlalu lama, meridiannya bisa meledak karena kelebihan beban spiritual.
Li Jian berlutut, menempelkan telapak tangannya ke punggung gadis itu, dan mengalirkan sedikit hawa dingin Yin untuk menstabilkan aliran Qi liar yang mencoba menyusup ke tubuh Xiao Ling.
Tiba-tiba, telinga Li Jian menangkap suara ranting patah.
Bukan suara dari binatang liar. Suara itu teratur. Sekelompok kultivator sedang bergerak mendekat ke arah lokasi jatuhnya mereka, tertarik oleh fluktuasi spasial tadi. Aura mereka tidak bisa diremehkan; Li Jian bisa merasakan setidaknya dua orang di tahap Bina Pondasi awal di antara kelompok tersebut.
novel silat dari author yg kereen kapan nyambung nya
ayo ... semangat doong thor
semangat & lanjuuuut thor
pinginnya dihancurin pusat meridiannya kyk suruhannya biar jd sampah selama hidupnya
nanya bukan protes loo.. 🤭🙏