Zion Mateo Lopez adalah definisi dari kesombongan masa muda, tampan, kaya, dan tak terkalahkan. Baginya, Cassie Vorcan hanyalah sebuah target dalam taruhan mahal bersama teman-teman elitnya di SMA Chicago. Namun, apa yang dimulai sebagai permainan kotor berubah menjadi jeratan perasaan yang nyata. Selama dua tahun, Zion jatuh hati sedalam-dalamnya, mencintai Cassie lewat tindakan protektif dan rencana masa depan yang matang di California.
Di sisi lain, Cassie gadis panti asuhan yang pintar dan dingin akhirnya meruntuhkan seluruh benteng pertahanannya demi Zion. Dia percaya telah menemukan rumah, hingga sebuah rahasia di ponsel Zion menghancurkan dunianya: bukti bahwa dia hanyalah "barang taruhan" yang sukses ditaklukkan.
Beberapa Tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di Chicago dalam sebuah proyek besar. Zion kini adalah pria dewasa yang dihantui penyesalan, sementara Cassie telah menjelma menjadi arsitek sukses yang lebih angkuh dan tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#1
Angin malam Chicago menyapu Michigan Avenue dengan dingin yang menggigit, namun bagi Zion Mateo Lope, udara itu terasa membara. Deru mesin Lamborghini Revuelto miliknya membelah kesunyian malam, bersahutan dengan sorak-sorai tertahan dari lingkaran sahabat elitnya.
Di tangannya, kunci mobil itu bukan sekadar logam, melainkan simbol taruhan.
"Satu putaran lagi, Zion! Kalau menang, mclaren milik Julian jadi milikmu," seru salah satu temannya.
Zion menyeringai, menginjak pedal gas hingga jarum speedometer melonjak. Baginya, adrenalin adalah satu-satunya cara untuk merasa hidup di tengah tuntutan sebagai putra sulung keluarga Lopez yang terpandang. Namun, kesenangannya terhenti saat sebuah mobil SUV hitam memotong jalurnya tepat di depan garis finish.
Seorang wanita paruh baya turun dengan wajah yang melukiskan otoritas mutlak. Mommy Lopez.
"Turun, Zion Mateo Lopez. Sekarang," suara itu tenang, namun lebih tajam dari decit rem mobil sport.
.
.
Di ruang keluarga kediaman Lopez yang megah, suasana terasa mencekam. Lionel dan Laxia, si kembar yang berusia 24 tahun, hanya berani mengintip dari balik pilar. Lionel menggelengkan kepala melihat kakaknya yang masih mengenakan jaket balap, sementara Laxia tampak cemas.
"Berhentilah bermain-main, Zion. Kamu bukan lagi anak-anak," ucap Mommy sambil meletakkan segelas teh dengan denting yang keras. "Usiamu 27 tahun. Harusnya kamu mengurus perusahaan, bukan menggonta-ganti pasangan seperti mengganti dasi dan mempertaruhkan nyawamu di jalanan."
Zion bersandar di sofa, tampak acuh tak acuh. "Aku hanya butuh sedikit hiburan, Mom."
"Hiburan mu sudah kelewatan. Jika kamu tidak bisa serius, Mommy akan mencabut semua fasilitas mu. Mulai besok, kamu akan bekerja di bawah pengawasan manajer proyek baru untuk pembangunan pusat seni di Chicago South Side. Dia tegas, dan dia tidak akan terpengaruh oleh pesonamu."
Keesokan harinya, Zion melangkah masuk ke kantor dengan gaya angkuh yang biasa. Namun, langkahnya terhenti di depan meja kayu oak besar. Di sana, seorang wanita dengan rambut terikat rapi dan kemeja putih bersih sedang memeriksa cetak biru bangunan.
Dia adalah Cassie Vorcan, 27 tahun. Wanita yang dikenal sebagai arsitek muda paling disiplin dan berdarah dingin di Chicago.
Cassie mendongak. Untuk sesaat, udara di ruangan itu seolah tersedot keluar. Tatapan mata Cassie yang tajam bertemu dengan mata Zion yang biasanya penuh keceriaan palsu.
"Selamat datang, Tuan Lopez. Saya Cassie Vorcan. Saya harap Anda membawa otak Anda hari ini, bukan kunci mobil balap Anda," ucap Cassie tanpa senyum.
Zion terpaku. Wajah itu... garis rahang itu... dan aroma parfum yang mengingatkasnya pada musim panas bertahun-tahun lalu di Wales. Sebuah memori yang terkubur dalam-dalam di benaknya mendadak menyeruak naik.
Dalam hatinya, Zion berbisik getir, "Mungkin kita adalah dua orang asing di mata dunia, tapi bagiku, kau adalah Cariad yang tersimpan rapi di lipatan masa lalu yang paling indah."
Masalahnya adalah, Cassie tampak tidak mengenalinya sama sekali. Atau setidaknya, dia berpura-pura tidak mengenalinya.
***
Makan malam di kediaman Lopez malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya, namun ketegangan di udara bisa dirasakan siapa pun. Zion hanya mengaduk-aduk risotto-nya, pikirannya masih tertinggal pada tatapan dingin Cassie di kantor tadi.
"Jadi, Zion," suara Mommy memecah keheningan. Beliau menyesap anggurnya dengan anggun. "Bagaimana hari pertamamu dengan manajer proyek barumu? Cassie Vorcan, bukan? Dia lulusan terbaik, Mommy dengar dia sangat disiplin."
Zion berdeham, mencoba mengontrol ekspresi wajahnya. "Dia... kompeten, Mom. Sangat kaku, tapi kurasa itu yang Mommy inginkan."
Mommy melirik ke arah dua orang yang duduk di seberang Zion. Lionel dan Laxia. Si kembar itu tampak sangat sibuk dengan ponsel mereka, namun telinga mereka berdiri tajam.
"Lionel, Laxia," panggil Mommy. "Kalian satu lantai dengan divisi konstruksi hari ini. Apa yang kalian lihat?"
Lionel, yang memiliki sifat lebih tenang namun observan, meletakkan garpunya. "Aku lewat di depan ruang rapat tadi siang, Mom. Kak Zion terlihat seperti anak sekolah yang sedang disidang kepala sekolah. Wajahnya pucat sekali."
"Lebih tepatnya, dia seperti melihat hantu, Mom," Laxia menimpali dengan seringai nakal. Sebagai satu-satunya anak perempuan, Laxia paling berani menggoda kakaknya. "Aku melihat Kak Zion mencoba menawarkan kopi pada Cassie, tapi Cassie bahkan tidak menoleh. Dia bilang, Tuan Lopez, simpan kafeinmu untuk otakmu yang lambat. Aduh, itu sangat epik!"
"Laxia, tutup mulutmu," desis Zion tajam.
"Oh, ayolah Kak," Lionel tertawa kecil. "Kami ini cuma 'mata dan telinga' Mommy di perusahaan. Ayah memberikan kami jabatan di departemen keuangan dan operasional bukan cuma untuk menghitung angka, tapi untuk memastikan kakak tertua kami tidak kabur ke sirkuit balap lagi."
Mommy tersenyum tipis, merasa puas dengan laporan tim CCTV nya. "Begitu ya? Sepertinya Cassie Vorcan adalah orang yang tepat untuk menjinakkanmu, Zion. Mommy tidak mau mendengar ada laporan kau datang terlambat atau bersikap tidak sopan padanya."
Zion hanya bisa terdiam. Dia tidak mungkin memberi tahu Mommy, apalagi si kembar yang cerewet itu, bahwa "manajer proyek" yang tangguh itu adalah wanita yang sama yang fotonya pernah ia jadikan bahan taruhan sepuluh tahun lalu.
"Dia bukan sekadar manajer proyek, Mom," gumam Zion dalam hati sambil menatap pantulan dirinya di sendok perak. "Dia adalah kehancuranku."
Laxia menyenggol lengan Lionel, lalu berbisik yang cukup keras untuk didengar Zion, "Taruhan seratus dollar, dalam seminggu Kak Zion pasti akan memohon-mohon pada wanita itu."
Lionel menggeleng. "Aku bertaruh dua ratus dollar. Kak Zion tidak akan bertahan tiga hari tanpa membuat masalah."
Zion mendongak, matanya berkilat penuh tekad yang jarang terlihat. "Simpan uang kalian. Kali ini, aku tidak akan kalah. Bukan untuk Mommy, bukan untuk kalian, tapi untuk diriku sendiri."
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
mau menerima Cassie dan Logan dengan tangan terbuka,
tanpa memandang status.