Lima tahun Hana mengabdi sebagai istri dan menantu yang sempurna, meski hanya dianggap sebagai pelayan tak berbayar. Ia rela makan sisa rendang di ujung meja dan menelan hinaan setiap hari demi keutuhan rumah tangga.
Namun, saat Hana menemukan Aris—suaminya—sengaja menyembunyikan uang puluhan juta sementara putra mereka terancam putus sekolah karena SPP menunggak, Hana sadar: kesabarannya telah habis.
Hana pergi membawa ijazah akuntansi yang selama ini berdebu di gudang. Dari seorang ibu rumah tangga yang tertindas, ia bertransformasi menjadi akuntan tangguh di bawah bimbingan Adrian, CEO dingin yang membantunya mengungkap borok finansial keluarga Aris.
Hana tidak membalas dengan amarah, ia membalas dengan cara yang paling menyakitkan: menjadi jauh lebih sukses dan menghancurkan harga diri Aris di meja hukum. Ternyata, berhenti menjadi sabar adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Badai di Ruang Digital
Setelah drama di pengadilan, Hana mengira ia akan mendapatkan sedikit ketenangan sebelum sidang pembuktian dimulai. Namun, ia lupa bahwa Aris adalah tipe pria yang tidak akan membiarkan lawannya menang tanpa luka. Jika Aris tidak bisa memenangkan hati Hana kembali, maka ia akan memastikan tidak ada orang lain yang menginginkannya.
Serangan itu dimulai pada Selasa malam. Hana baru saja selesai merapikan beberapa dokumen pekerjaan di apartemennya ketika ponselnya mulai bergetar tanpa henti. Notifikasi dari media sosialnya meledak. Teman-teman lama, kerabat jauh, bahkan beberapa rekan kantor yang tidak terlalu akrab mulai mengirimkan pesan pribadi.
"Hana, apa ini benar?" tulis salah satu teman kuliahnya sambil mengirimkan sebuah tangkapan layar.
Hana membuka tautan tersebut. Aris baru saja mengunggah sebuah video di akun media sosialnya. Dalam video itu, Aris tampak duduk di samping ibunya yang masih berada di atas kursi roda. Wajah Aris tampak layu, suaranya dibuat serak seolah-olah ia telah menangis berhari-hari.
"Saya tidak pernah menyangka pernikahan lima tahun kami berakhir seperti ini," ucap Aris dalam video tersebut. "Hana, istri yang sangat saya cintai, tiba-tiba pergi meninggalkan rumah tanpa pamit. Sekarang saya tahu alasannya. Dia sudah memiliki pria lain, seorang atasan di kantornya yang kaya raya. Harta dan jabatan telah membutakan mata hati istri saya hingga dia tega menelantarkan ibunda saya yang sedang sakit keras demi mengejar kehidupan mewah. Saya hanya rakyat kecil, saya tidak punya kekuatan untuk melawan bos besar itu..."
Unggahan itu langsung viral. Ribuan komentar menghujat Hana. Kata-kata seperti "pelakor", "istri durhaka", dan "matre" memenuhi kolom komentar. Aris bahkan tidak ragu untuk menandai akun perusahaan tempat Hana bekerja, secara tidak langsung menyeret nama baik Adrian ke dalam pusaran lumpur ini.
Hana meletakkan ponselnya dengan tangan gemetar. Ia merasa mual. Fitnah adalah senjata terakhir orang-orang yang kalah, dan Aris menggunakannya dengan sangat kejam. Ia tidak hanya ingin menghancurkan status pernikahan Hana, ia ingin menghancurkan karier dan reputasinya.
Rabu pagi, suasana di kantor terasa sangat berat. Saat Hana melangkah masuk, bisik-bisik yang kemarin sempat mereda kini kembali dengan volume yang lebih keras. Beberapa orang menatapnya dengan pandangan menghakimi, seolah video Aris adalah kebenaran mutlak.
Hana tidak menunduk. Ia berjalan lurus menuju ruangan Adrian. Ia tahu pria itu pasti sudah melihatnya.
Di dalam ruangan, Adrian sedang berdiri menatap jendela, membelakangi pintu. Saat mendengar Hana masuk, ia berbalik. Wajahnya tidak menunjukkan kemarahan, hanya ketenangan yang dingin.
"Kamu sudah lihat?" tanya Hana pelan.
"Sudah," jawab Adrian singkat. "Tim humas perusahaan juga sudah memberi tahu saya. Aris melakukan langkah yang sangat berisiko. Dia mengira dengan membawa ini ke ranah publik, perusahaan akan memecatmu atau saya akan menjauhimu agar reputasi saya aman."
"Adrian, saya minta maaf. Gara-gara urusan pribadi saya, namamu jadi terseret," ucap Hana dengan penuh rasa bersalah.
Adrian melangkah mendekati Hana, menatapnya dengan tajam. "Hana, dengarkan saya. Di dunia korporat, fitnah adalah hal biasa. Bedanya, kali ini fitnahnya datang dari mantan suamimu. Dia menggunakan narasi 'si kaya menindas si miskin' untuk mencari simpati. Tapi dia lupa satu hal: fakta tidak bisa dibantah oleh air mata buaya."
Adrian mengambil sebuah map dari mejanya. "Baskara sudah menyiapkan serangan balik. Kita tidak akan membalas dengan video drama di media sosial. Kita akan membalas dengan bukti hukum. Kita akan menuntut Aris atas pencemaran nama baik dan pelanggaran UU ITE."
"Tapi itu akan memakan waktu lama, Adrian. Sementara itu, reputasi saya sudah hancur," bantah Hana.
"Tidak jika kita memberikan klarifikasi yang elegan," sahut Adrian. "Sore ini, perusahaan akan mengeluarkan pernyataan resmi. Kami akan melampirkan bukti draf gugatan ceraimu yang sudah terdaftar, yang mencantumkan alasan-alasan kuat mengapa kamu pergi—termasuk bukti manipulasi keuangan yang dia lakukan. Kita akan menunjukkan kepada publik bahwa ini bukan tentang pria lain, tapi tentang seorang istri yang menyelamatkan dirinya sendiri."
Sore itu, seperti yang direncanakan, tim hukum dan humas perusahaan mengeluarkan rilis resmi. Mereka tidak menyerang Aris secara personal, melainkan menyatakan dukungan penuh kepada Hana sebagai karyawan berprestasi yang sedang menghadapi proses hukum rumah tangga. Mereka juga menegaskan bahwa segala tuduhan tentang "orang ketiga" adalah fitnah yang tidak berdasar dan sedang diproses secara hukum.
Hana sendiri, atas saran Baskara, mengunggah satu pernyataan singkat di akunnya:
"Kebenaran tidak perlu diteriakkan dengan tangisan. Biarkan proses hukum di Pengadilan Agama yang menjawab segalanya. Terima kasih bagi yang masih menggunakan akal sehat untuk tidak menghakimi tanpa bukti."
Serangan balik yang tenang dan profesional itu mulai membalikkan keadaan. Orang-orang yang tadinya menghujat mulai bertanya-tanya. Mengapa perusahaan sebesar itu berani membela Hana jika dia memang bersalah? Mengapa Hana tampak begitu tenang sementara Aris terus-menerus membuat konten drama?
Malam harinya, Aris kembali mengirimkan pesan kepada Hana. Kali ini nadanya tidak lagi sedih, melainkan penuh amarah.
“Hana! Apa-apaan rilis kantor itu?! Kamu mau menghancurkan aku, ya? Ibu sampai pingsan lagi gara-gara pengacara itu menelepon rumah! Cabut semua tuntutan itu atau aku tidak akan segan-segan datang ke kantormu dan membuat keributan yang lebih besar!”
Hana membaca pesan itu sambil duduk di balkon apartemennya. Ia tidak lagi merasa takut. Ia merasa kasihan pada Aris yang terjebak dalam delusinya sendiri.
Ia mengetik balasan singkat:
"Keributanmu hanya akan menambah daftar bukti di kepolisian, Aris. Selamat malam."
Hana kemudian mematikan ponselnya. Ia menatap lampu-lampu kota yang berkelap-kelip. Ia tahu badai ini belum benar-benar lewat. Masih ada sidang pembuktian, masih ada cibiran dari keluarga besar yang tidak akan pernah berhenti. Namun, di tengah badai itu, Hana menemukan satu hal yang sangat berharga: harga dirinya.
Tiba-tiba, bel apartemennya berbunyi. Hana mengintip melalui lubang pintu. Itu adalah petugas pengantar makanan. Ia tidak memesan apa pun.
Di atas kantong makanan itu ada catatan kecil:
"Jangan lupa makan. Kamu butuh energi untuk menang besok. - Adrian."
Di dalam kantong itu ada kotak hangat berisi bubur ayam kesukaannya dan segelas teh kamomil panas. Hana tersenyum kecil. Ternyata, di tengah dunia yang sedang berusaha meruntuhkannya, masih ada tangan-tangan yang tulus menjaganya agar tetap berdiri.
Malam itu, Hana makan dengan tenang. Setiap suapan bubur itu terasa seperti bentuk cinta pada dirinya sendiri yang selama ini ia abaikan. Ia belajar bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak terluka, tapi tetap berjalan meski kaki penuh memar.