Tujuh tahun cinta, dibalas dengan kematian di tengah api. Di hari pernikahanku, aku baru tahu bahwa tunanganku, Aiden, telah memiliki anak dengan kakak tiriku.
Saat aku membuka mata, aku kembali ke masa lalu. Berdiri di depan pria yang paling ditakuti, Jerome Renfred. Dia adalah paman kandung Aiden—pria dingin yang diam-diam menangisi kerangkaku di kehidupan sebelumnya.
"Jadikan aku istrimu, Tuan Renfred. Mari kita hancurkan mereka bersama."
Aku hanya menginginkan pernikahan kontrak demi dendam. Namun, kenapa setiap kali aku terluka, pria dingin ini yang merintih kesakitan?
"Valerie, jangan pernah berpikir untuk pergi. Di mata dunia kita adalah kontrak, tapi di tempat tidurku, kamu adalah selamanya."
Aiden, bersiaplah memanggilku "Bibi". Karena sekarang, aku adalah milik pria yang paling kamu takuti!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Racun Kecemburuan
Di sebuah apartemen sempit yang kini menjadi persembunyian mereka, Aiden membanting ponselnya ke sofa dengan kasar. "Sial! Jerome benar-benar menutup semua akses. Kita tamat jika tidak melakukan sesuatu!"
Serena yang duduk di sudut ruangan hanya menyeringai, matanya berkilat penuh dendam yang murni. "Belum, Aiden. Masih ada satu kartu as yang bisa membuat Jerome goyah. Kau ingat Elena? Wanita pilihan kakekmu yang dulu hampir menjadi tunangannya? Dia baru saja kembali dari Paris."
Jari-jari Serena mulai mengetik pesan dengan cepat. "Elena terobsesi pada Jerome. Jika kita memberitahunya bahwa Jerome menikahi 'anak kecil' seperti Valerie hanya karena kontrak, dia akan mengamuk. Kita akan gunakan Elena untuk menghancurkan kepercayaan Valerie dari dalam."
...****************...
Malam itu, mansion pribadi Jerome terasa lebih hangat bagi Valerie. Kemenangan atas perusahaan ibunya menumbuhkan rasa syukur yang luar biasa. Ia merasa siap memberikan segalanya kepada Jerome—bukan sekadar ucapan terima kasih, tapi sebagai tanda bahwa ia siap menjadi istri pria itu seutuhnya.
Valerie mengenakan gaun tidur sutra merah tipis yang membalut tubuhnya dengan minim. Ia melangkah mendekati Jerome yang sedang duduk di tepi ranjang setelah mandi. Aroma maskulin pria itu seketika membuat kepala Valerie pening oleh hasrat.
"Jerome..." bisik Valerie sembari melingkarkan lengan di leher suaminya. "Terima kasih untuk hari ini. Aku... aku milikmu malam ini."
Jerome tertegun. Matanya menggelap seketika, menatap bahu Valerie yang terbuka dan paha mulusnya. Tubuh pria itu menegang hebat, tangannya sempat meraba pinggang Valerie, namun tiba-tiba ia melepaskan pelukan itu dengan kasar.
"Pakai piyamamu yang benar, Valerie," ucap Jerome dingin, suaranya serak menahan gejolak yang menyiksa.
"Tapi Jerome, aku tulus... aku ingin melakukannya," Valerie mencoba mendekat lagi.
"Cukup!" Jerome berdiri dan mendorong bahu Valerie pelan namun tegas. "Aku tidak ingin kau memberikan tubuhmu hanya sebagai 'hadiah' karena aku membantumu mendapatkan perusahaan itu. Aku bukan pria bayaran, Val. Aku ingin kau melakukannya karena cinta, bukan hutang budi."
Jerome menyambar jas kamarnya dengan gusar. "Ada berkas penting yang harus kuurus. Tidurlah duluan."
Valerie terpaku. Penolakan itu terasa lebih perih daripada cambukan tempo hari. Air mata mulai menggenang. Hutang budi? Apakah dia pikir aku serendah itu? Rasa sesak itu berubah menjadi rasa penasaran yang menyakitkan. Valerie memutuskan mengikuti langkah Jerome dalam diam, ingin tahu apa yang lebih penting dari dirinya di tengah malam seperti ini.
Di depan ruang kerja, Valerie melihat pintu yang tidak tertutup rapat. Ia mengintip dari celah kecil tersebut. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Di dalam sana, Jerome duduk di kursi kebesarannya dengan kemeja terbuka dan napas tersengal berat. Pria itu menatap sebuah foto di atas meja dengan tatapan memuja sekaligus liar.
"Haah... Sayang... Maafkan aku... Aku sangat menginginkanmu..." rintih Jerome serak.
Valerie tidak bisa mendengar nama siapa yang disebut, namun ia bisa melihat betapa Jerome sangat mencintai wanita di foto itu. Tubuh Valerie lemas. Pikirannya kalut. Siapa wanita itu? Apakah itu Elena? Apakah selama ini aku hanya pengganti?
Valerie berlari kembali ke kamar dengan isak tangis tertahan, meringkuk di bawah selimut yang terasa dingin. Ia merasa dunianya hancur berkeping-keping. Ternyata, ia tinggal di mansion milik pria yang jiwanya milik wanita lain.
Beberapa saat kemudian, Jerome melangkah masuk ke kamar dengan napas yang masih belum stabil. Rasa bersalah menghujam jantungnya. Ia baru saja menolak wanita yang disembahnya selama sepuluh tahun karena tidak ingin Valerie merasa "berhutang tubuh" padanya.
Saat ia merebahkan diri di sisi ranjang, Jerome menyadari bahu kecil Valerie bergetar hebat. Isak tangis yang tertahan menyusup ke indra pendengarannya, membuat dada Jerome sesak seketika melalui ikatan batin mereka.
Baru saja ujung jari Jerome menyentuh kain sutra di bahu istrinya—
"Jangan sentuh aku!"
Valerie menyentak bahunya kasar dan berbalik kilat dengan mata sembap. Tatapannya penuh luka yang mendalam.
"Valerie, dengarkan aku—"
"Pergi, Jerome! Pergi ke ruang kerjamu lagi!" teriak Valerie serak. "Pergilah pada foto itu! Bukankah dia jauh lebih memuaskanmu daripada aku yang ada di depan matamu sendiri?!"
Jerome mematung. Lidahnya kelu. Dia melihatku di ruang kerja? Dia melihat foto itu?
"Bukan begitu, Val. Kau salah paham—"
"Salah paham apa?!" Valerie duduk tegak, air matanya membasahi piyama marunnya. "Kau menolakku karena kau pikir aku berhutang budi? Atau karena ada wanita lain di hatimu?! Jika kau lebih suka bercinta dengan selembar kertas, kenapa kau menikahiku?! Tidurlah di sofa, jangan mendekatiku malam ini!"
Valerie kembali berbaring dan menarik selimut menutupi seluruh kepalanya. Jerome terduduk kaku di tepi ranjang, menatap tangannya yang gemetar. Ia ingin menjelaskan bahwa foto itu adalah foto Valerie sendiri—yang diambil diam-diam selama sepuluh tahun ia mengaguminya.
Namun, bagaimana ia bisa mengatakannya tanpa terlihat seperti pria gila yang telah menguntit istrinya sendiri selama satu dekade? Malam itu, di ranjang yang sama, mereka dipisahkan oleh jurang kesalahpahaman. Dan di dalam perutnya, Jerome merasakan mual yang luar biasa—tanda bahwa hati Valerie sedang hancur.