NovelToon NovelToon
Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:180
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

"Ya Allah, ini ayah mertuaku... yang memberiku restu... yang kutitipi janji menjaganya."

Pedang di tangannya bergetar. Antara cinta pada Halimah dan cinta pada tanah air, ia harus memilih yang satu.

"Ayah... maafkan menantumu. Bukan karena aku tega, tapi karena tanah ini lebih besar dari cinta kita semua."

Pedang itu melesak. Bersamaan dengan ruh ayah mertuanya, ruh Maringgih pun ikut mati separuh.

---

Suara Nurani Halimah

Ia melihat dari kejauhan. Mulut terbuka, suara mati di tenggorokan.

"Suamiku... kau membunuh ayahku?"

Bukan marah yang pertama hadir. Tapi tanya yang lebih dalam:

"Berapa luka yang kau pendam, Maringgih, sampai kau sanggup melakukan ini?"

Air matanya jatuh untuk dua lelaki sekaligus. Untuk ayah yang rebah. Untuk suami yang kini harus hidup dengan bayangan mayat ayah mertuanya sendiri.

"Aku kehilangan ayah hari ini... tapi aku juga kehilanganmu, Maringgih."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: LUKA YANG DIKUBUR BERTAHUN-TAHUN

Malam tidak pernah benar-benar gelap bagi Datuk Maringgih.

Gelap justru hidup di dadanya—di tempat ia menyimpan nama yang tak pernah diucapkan lagi.

Dan malam ini, selembar surat membuka kembali ruang yang selama bertahun-tahun ia segel rapat.

Bukan dengan paksa.

Tapi dengan rindu yang pelan dan menyakitkan.

 

Malam itu, angin berdesir pelan di beranda rumah Datuk Maringgih.

Lampu minyak di sampingnya menyala redup, hampir padam. Tapi ia tidak menggantinya. Ia hanya duduk, mematung, dengan selembar surat di pangkuan. Sudah dua jam ia di sana. Surat itu sudah dibaca berkali-kali. Namun setiap kali membacanya, ada sesuatu yang bergetar di dadanya—sesuatu yang selama bertahun-tahun ia kubur dalam-dalam.

"Kenapa Datuk tidak halalin saya saja?"

Kalimat itu. Sederhana. Polos. Tapi menghantam seperti ombak di malam badai.

Maringgih memejamkan mata. Dan tiba-tiba, ia kembali ke pelabuhan itu.

 

Kilas Balik: Pelabuhan, Sembilan Tahun Lalu

Pelabuhan ramai dengan suara para pelaut dan buruh yang memuat barang. Bau asin laut bercampur aroma rempah dari karung-karung yang menunggu dimuat. Kapal-kapal bersandar, siap berlayar membawa hasil bumi ke berbagai wilayah. Buruh-buruh berlarian, pedagang teriak menawarkan dagangan, dan di tengah keramaian itu, Maringgih berdiri mematung.

Usianya dua puluh tujuh tahun. Di hadapannya, seorang gadis muda berkerudung putih—Aminah, tunangannya. Wajahnya bersih, matanya basah menahan tangis. Di samping Aminah, berdiri seorang lelaki paruh baya—Ayah Aminah, calon mertua Maringgih. Beliau akan menemani Aminah berlayar ke Jawa untuk mengurus keluarga di sana sebelum pernikahan dilangsungkan. Rencananya, tiga bulan mereka di Jawa, lalu kembali dan langsung menikah.

"Kakanda," panggil Aminah pelan. Suaranya bergetar. Angin laut menerbangkan sedikit ujung kerudungnya.

Maringgih menatapnya. Ia menahan segala rasa yang ingin meledak. Dadanya sesak, tapi ia harus kuat di depan calon istrinya.

"Berhati-hati di jalan, Neng." Suaranya lembut, tapi ada getar di sana. "Jaga kesehatan. Jangan lupa makan. Kalau sudah sampai, segera kirim kabar."

Aminah mengangguk. Air matanya jatuh. Ia tidak bisa menahannya lagi.

"Kakanda, doakan kami selamat sampai tujuan. Doakan kami cepat kembali."

Maringgih mengangguk. Ia menatap Aminah dalam-dalam—mengabadikan wajah itu di ingatannya. Bulan sabit di alisnya, lesung pipit di pipi kanan, cara ia menggigit bibir bawah saat gugup. Semua ia rekam.

Aminah meraih tangan Maringgih. Bukan untuk berpelukan, bukan untuk sesuatu yang melampaui batas. Ia hanya menggenggamnya sejenak, lalu dengan penuh hormat, ia mencium punggung tangan Maringgih—sebuah penghormatan terakhir seorang calon istri pada calon suaminya sebelum berlayar ke negeri seberang.

Maringgih diam membatu. Ia merasakan hangat bibir Aminah di tangannya. Hangat yang akan ia kenang seumur hidup. Hangat yang membuatnya ingin menarik gadis itu dan berkata, "Jangan pergi." Tapi ia tahu, itu tidak mungkin.

Ayah Aminah mengangguk hormat pada Maringgih. Wajahnya juga sembab, menahan haru melepas calon menantunya.

"Kami titip doa, Nak Maringgih." Suaranya serak. "Semoga Allah mempertemukan kita dalam keadaan baik. Doakan kami selamat."

Maringgih membalas anggukan. Ia mencoba tersenyum, tapi senyumnya getir.

"Aamiin, Pak. Selamat jalan. Hati-hati di laut."

Aminah dan ayahnya naik ke kapal. Langkah mereka lambat, berat. Di atas geladak, Aminah berbalik. Ia melambai. Lambaian kecil, tapi cukup untuk membuat hati Maringgih hancur.

Maringgih melambai balik. Ia berdiri di dermaga, tidak bergerak. Kapal itu berlayar. Perlahan menjauh. Layarnya mulai terkembang. Ombak memisahkan mereka satu per satu.

"Kembalilah, Neng," bisik Maringgih. "Aku tunggu."

Kapal itu terus menjauh, sampai akhirnya hilang di ufuk. Maringgih masih berdiri. Buruh-buruh lalu lalang di sekitarnya, tapi ia tidak peduli. Ia hanya menatap cakrawala, tempat kapal itu lenyap.

Tiga minggu kemudian, kabar datang. Seorang pelaut yang selamat dari kapal lain membawa berita. Kapal yang ditumpangi Aminah dan ayahnya karam di tengah laut. Badai besar menghantam. Tidak ada selamat.

Maringgih tidak menangis saat mendengar kabar itu. Ia hanya diam. Sangat diam. Berhari-hari. Berminggu-minggu. Ia masih ingat hangat ciuman Aminah di tangannya. Hangat yang kini hanya tinggal kenangan. Ia masih ingat lambaian terakhirnya. Senyum getirnya. Air matanya.

Sejak itu, ia tidak pernah lagi membicarakan Aminah. Tidak pernah lagi menyebut namanya. Orang-orang mengira ia sudah move on. Mereka lihat ia sibuk berdagang, sibuk berkirim surat, sibuk melawan VOC dengan caranya sendiri. Mereka kira ia baik-baik saja.

Tapi di malam-malam sunyi seperti ini, nama itu selalu kembali. Berbisik pelan di telinganya.

Aminah.

 

Mata Maringgih terbuka.

Air mata mengalir di pipinya. Ia tidak menyadari kapan mulai menangis. Kapan dadanya mulai sesak. Kapan nafasnya mulai tersengal.

Ia menunduk, melihat surat Halimah lagi. Lampu minyak hampir padam, tapi ia masih bisa membaca.

"Kenapa Datuk tidak halalin saya saja?"

Kalimat yang sama. Tapi kali ini, ia tidak bisa mengabaikannya.

Kau masih kecil, Halimah. Kau belum mengerti apa-apa.

Tapi hatinya membantah.

Ia tujuh belas tahun. Usia yang sama dengan Aminah dulu.

Ia polos. Jujur. Berani. Datang padaku di tengah kebencian ayahnya.

Sama seperti Aminah.

Maringgih mengusap wajahnya kasar. Mencoba membuang pikiran itu. Tapi pikiran itu tidak pergi.

 

Malam semakin larut. Lampu minyak hampir padam. Tinggal secercah cahaya kecil yang berkedip-kedip.

Maringgih masih duduk di tempat yang sama. Surat itu masih di pangkuannya. Punggungnya mulai pegal, tapi ia tidak peduli.

Ia berpikir tentang cinta. Tentang sesuatu yang selama ini ia hindari. Setelah Aminah pergi, ia memutuskan untuk tidak membuka hati lagi. Cinta hanya membawa luka. Hanya membawa kehilangan. Ia sibuk dengan dagang, dengan surat-menyurat, dengan perlawanan sunyi terhadap VOC. Ia kira itu cukup. Ia kira dengan sibuk, ia bisa lupa.

Tapi malam ini, ia sadar: ia rindu.

Bukan rindu fisik. Bukan rindu pada wanita tertentu. Tapi rindu pada sesuatu yang lebih dalam—rindu dianggap rumah oleh seseorang. Rindu pulang ke hati yang menerima. Rindu berbagi sunyi tanpa perlu bicara. Rindu ada yang menunggu. Rindu ada yang bertanya, "Kakanda capek? Sudah makan?"

Aminah dulu memberiku itu. Lalu ia pergi. Dan aku takut.

Ia mengepalkan tangan. Kuku nyaris menembus telapak.

Sekarang Halimah datang. Dengan polosnya. Dengan keberaniannya. Dengan pertanyaan yang tidak pernah berani kupikirkan.

"Kenapa Datuk tidak halalin saya saja?"

Ia tersenyum getir. Andai semudah itu. Andai luka bisa sembuh secepat kata-kata.

 

Maringgih melipat surat itu. Perlahan, hati-hati, seperti membawa benda pusaka. Jemarinya meraba setiap lipatan, memastikan tidak ada yang rusak.

Ia berdiri. Lututnya agak kaku karena terlalu lama duduk. Berjalan ke dalam rumah. Membuka laci kayu di samping tempat tidurnya.

Di dalam laci itu, sudah ada satu benda: sebuah saputangan putih yang dulu diberikan Aminah sebelum berlayar. Di sudutnya, ada inisial "A" yang disulam dengan benang merah. Sulaman itu dibuat Aminah sendiri, malam-malam sebelum berangkat. Warna kain sudah pudar, benang merah mulai kusam, tapi Maringgih tetap menyimpannya. Sembilan tahun. Ia tidak pernah membuangnya.

Ia meletakkan surat Halimah di samping saputangan itu.

Dua benda. Dua perempuan. Dua era. Dua luka yang berbeda.

Maringgih menutup laci. Diam.

Aku kubur lagi, pikirnya. Seperti biasa. Seperti yang selalu aku lakukan.

Ia berbaring. Memejamkan mata. Berusaha tidur. Tapi tidur tak kunjung datang.

 

Setengah jam berlalu. Satu jam. Dua jam.

Maringgih membuka mata. Menatap langit-langit. Kayu-kayu tua itu sudah dikenalnya selama bertahun-tahun. Setiap retak, setiap garis, setiap noda—ia hafal.

Pikirannya masih pada Halimah. Pada suratnya. Pada pertanyaannya.

"Apa yang sebenarnya terjadi antara Datuk dan ayah saya?"

"Kenapa ayah saya tiba-tiba memusuhi Datuk?"

"Kenapa Datuk tidak halalin saya saja?"

Ia menghela napas panjang. Lalu tanpa sadar, tangannya meraih laci itu lagi. Dibuka.

Saputangan Aminah dan surat Halimah—dua benda itu tergeletak berdampingan.

Maringgih mengambil surat itu. Membacanya lagi. Untuk kesekian kalinya. Matanya menyusuri setiap baris, setiap kata, setiap tanda baca.

Sampai di kalimat terakhir, tangannya gemetar.

"Terima kasih sudah mau membaca surat ini, Datuk. Apa pun balasannya, saya terima."

Ia tidak minta balasan, pikir Maringgih. Ia hanya ingin didengar.

Tapi bagaimana kalau aku juga ingin... didengar?

Ia terkejut dengan pikirannya sendiri. Selama sembilan tahun, ia tidak pernah ingin didengar. Ia hanya ingin diam. Tapi malam ini, sesuatu berubah.

Apa aku siap?

Pertanyaan itu menggantung. Tidak ada jawaban.

 

Maringgih meletakkan surat itu kembali ke laci. Menutupnya. Lalu berbaring lagi. Tapi pikirannya terus berputar. Seperti kaset rusak yang memutar kalimat yang sama berulang-ulang.

Selama ini aku diam. Aku kubur semua rasa. Aku kira itu aman. Aku kira dengan diam, luka akan sembuh sendiri.

Tapi malam ini... malam ini aku sadar, diam tidak pernah menyembuhkan. Diam hanya menunda. Menunda luka, menunda air mata, menunda rasa.

Ia memejamkan mata. Dalam gelap, ia berbisik pada dirinya sendiri.

"Kalau aku membuka hati... apa aku siap kehilangan lagi?"

Tidak ada jawaban. Hanya angin malam yang berdesir di celah-celah jendela. Hanya suara jangkrik di kejauhan. Hanya detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang.

Tapi di dalam hatinya, sesuatu mulai retak. Benteng yang selama bertahun-tahun ia bangun dengan susah payah, dengan diam, dengan penghindaran—kini mulai goyah. Bukan karena paksaan. Tapi karena rindu yang pelan dan menyakitkan. Rindu yang datang lewat surat seorang gadis tujuh belas tahun.

Maringgih memeluk bantalnya. Untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun, ia menangis. Bukan isak tangis keras, tapi tangis diam-diam. Tangis yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam.

Halimah.

Kenapa kau datang sekarang? Kenapa kau hadir setelah aku memutuskan untuk tidak pernah mencinta lagi?

Ia tidak tahu jawabannya.

Tapi satu hal yang ia tahu: mulai malam ini, segalanya berbeda.

 

[Bersambung...]

1
Ayaelsa
/Smile//Silent//Shy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!