Kang Yun-seo, seorang pemuda biasa dari dunia modern yang doyan main game, tiba-tiba terbangun di dunia Murim yang penuh intrik dan seni bela diri. Ia dipanggil oleh Hwang Yehwa, ratu iblis yang sekarat akibat pengkhianatan, dan kini kehilangan kekuatannya, berubah wujud menjadi manusia biasa. Untuk bertahan di wilayah manusia yang memusuhi iblis, Yun-seo harus berpura-pura sebagai suaminya. Dengan pengetahuan modernnya, Yun-seo beradaptasi di akademi pedang, menghadapi turnamen, konspirasi gelap, dan bangkitnya kekuatan iblis, sambil menumbuhkan ikatan tak terduga dengan ratu dingin itu. Sebuah kisah isekai penuh aksi, komedi, dan romansa di antara dua dunia yang bertabrakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: BAYANGAN MASA LALU
Tiga tahun telah berlalu sejak pernikahan Yun-seo dan Yehwa.
Matahari pagi menyinari Istana Dinasti Iblis dengan lembut, menerangi dinding-dinding batu hitam yang kini dihiasi ukiran-ukiran baru—simbol perdamaian antara manusia dan iblis. Di taman istana, bunga-bunga dari berbagai penjuru dunia bermekaran, menciptakan lautan warna yang memanjakan mata. Burung-burung bernyanyi riang, seolah ikut merayakan era baru yang damai.
Namun di dalam ruang kerjanya, Yun-seo tidak menikmati keindahan itu.
Ia duduk di kursi kayu jati dengan ukiran naga, menatap tumpukan laporan yang menggunung di meja. Tiga tahun sebagai pendamping ratu telah mengubahnya—dari pemuda biasa yang hanya tahu game, kini ia harus membaca laporan intelijen, kebijakan ekonomi, dan surat-surat diplomatik. Rambutnya sedikit lebih panjang, diikat rapi ke belakang. Wajahnya lebih tegas, dengan garis-garis ketegasan yang mulai terbentuk. Matanya—yang dulu sering sayu karena begadang main game—kini tajam penuh kewaspadaan.
Laporan dari Seo Jung-won yang baru tiga hari lalu membuatnya tidak bisa tidur nyenyak.
"Kau belum tidur semalaman?" Suara Yehwa membuatnya menoleh.
Ratu iblis itu berdiri di ambang pintu, menggendong putra mereka yang berusia dua tahun—Kaisar Muda Hwang Jin-ho, dinamai sesuai Kaisar pertama Dinasti Iblis. Yehwa sendiri tidak banyak berubah dalam tiga tahun—masih cantik memesona dengan rambut hitam panjang dan mata tajam. Tapi kini ada kehangatan di wajahnya yang dulu tidak ada. Menjadi ibu telah melunakkan sisi dinginnya, meski tetap anggun sebagai ratu.
"Ayah!" Jin-ho merentangkan tangan, wajah bulatnya berseri-seri.
Yun-seo tersenyum, menggendong putranya. Bocah kecil itu mewarisi rambut hitam dari kedua orang tuanya, tapi matanya—matanya adalah perpaduan unik: hitam pekat seperti Yehwa, tapi dengan kilatan emas seperti Yun-seo saat cincinnya aktif. Ia sudah bisa bicara lancar—terlalu lancar untuk anak seusianya.
"Jin-ho main apa hari ini?" tanya Yun-seo sambil mencium pipi gembul putranya.
"Main sama Ibu! Lihat bunga-bunga!" Jawabnya antusias. "Ada kupu-kupu besar! Jin-ho kejar, tapi lari terus."
Yun-seo tertawa. "Kupu-kupu memang suka lari, Nak. Lain kali Ayah ajarin cara menangkapnya."
"Janji?"
"Janji."
Yehwa duduk di kursi seberang, matanya mengamati tumpukan laporan di meja. Wajahnya yang tadinya santai berubah serius.
"Apa yang terjadi?" tanyanya langsung. Sebagai ratu, ia sudah terlatih membaca situasi dari bahasa tubuh suaminya.
Yun-seo menghela napas panjang. Ia meletakkan Jin-ho di pangkuan Yehwa, lalu mengambil satu laporan dengan segel merah—tanda darurat.
"Laporan dari Jung-won. Ada kelompok manusia yang tidak setuju dengan perdamaian." Ia membuka laporan itu, memperlihatkan simbol aneh di halaman pertama. "Mereka menyebut diri mereka 'Pembersih'—ingin membersihkan dunia dari iblis."
Yehwa membaca laporan itu dengan saksama. Alisnya mengernyit. "Seberapa besar?"
"Cukup besar untuk membuat kita khawatir." Yun-seo mengambil laporan lain. "Mereka punya pendukung di beberapa sekte besar yang selama ini netral. Bahkan beberapa sekte yang sudah menyatakan damai mulai goyah." Ia menunjuk baris-baris tulisan. "Lihat ini. Dalam tiga bulan terakhir, terjadi dua belas insiden di perbatasan. Enam orang tewas. Tiga desa dibakar."
Yehwa mengepalkan tangan. "Manusia..."
"Bukan semua manusia." Yun-seo meraih tangannya. "Ingat, ada juga manusia yang baik. Seperti Cheol-soo, seperti Jung-won, seperti para pedagang yang datang ke sini setiap hari."
"Aku tahu." Yehwa menghela napas. "Tapi sulit untuk tidak marah."
Jin-ho, yang tidak mengerti pembicaraan orang tuanya, meraih laporan itu dengan tangan mungilnya. "Ayah, gambar apa ini?"
Yun-seo membiarkan putranya melihat. Di halaman terakhir laporan, ada gambar simbol—lingkaran dengan pedang dan api di tengahnya.
"Ini simbol orang jahat, Nak." Yun-seo menjelaskan lembut. "Mereka tidak suka sama Ibu dan Ayah."
Jin-ho mengerutkan kening—ekspresi yang lucu di wajah anak dua tahun. "Jahat? Seperti monster?"
"Seperti monster."
"Jin-ho lawan!" Bocah kecil itu mengepalkan tangan mungilnya, dan seketika—api hitam kecil menyala di tangannya.
Yun-seo dan Yehwa terkejut. Api itu kecil, hanya sebesar korek api, tapi jelas—api iblis, persis seperti punya Yehwa.
"Jin-ho!" Yehwa cepat memadamkan api dengan tangannya. "Kau... kau mewarisi kekuatanku?"
Jin-ho mengangguk polos. "Iya. Tadi pas lihat kupu-kupu, Jin-ho pengen tangkap, terus tangan panas. Tapi kupu-kupunya kabur."
Yun-seo menatap putranya dengan takjub bercampur khawatir. Anak seusia itu sudah menunjukkan tanda-tanda kekuatan iblis—terlalu cepat, terlalu kuat. Biasanya, iblis muda baru menunjukkan kekuatan di usia lima atau enam tahun.
"Dia mewarisi darah kita berdua," bisik Yehwa. "Darah Kaisar Jin dan darah ratu iblis. Dia akan menjadi... luar biasa."
"Atau sangat berbahaya kalau tidak kita arahkan dengan benar." Yun-seo menggendong Jin-ho lagi, menatap mata putranya. "Dengar, Nak. Kekuatan ini harus digunakan untuk kebaikan. Untuk melindungi, bukan menyakiti. Paham?"
Jin-ho mengangguk, meski matanya menunjukkan ia hanya setengah mengerti. "Paham, Ayah. Jin-ho baik."
Mereka bertiga berpelukan di ruang kerja itu, hangat di tengah ancaman yang mulai membayang.
---
Malam harinya, Seo Jung-won tiba di istana dengan wajah tegang.
Ia tidak datang sendiri. Dua prajurit pengawalnya membawa tandu—dan di atas tandu itu, sesosok tubuh terbujur kaku, ditutupi kain putih.
Yun-seo dan Yehwa segera turun ke halaman. Cheol-soo—yang kini sudah menjadi pandai besi resmi istana—juga datang, melihat dengan mata terbelalak.
"Apa ini?" tanya Yehwa.
Seo Jung-won membuka kain itu. Di bawahnya, sesosok prajurit iblis dengan seragam Dinasti Iblis. Tubuhnya penuh luka—bukan luka biasa. Ada bekas terbakar di sekujur tubuh, tapi apinya bukan api biasa. Hitam, membusukkan daging.
"Ini Prajurit Kang-lim, komandan pos perbatasan utara." Suara Seo Jung-won berat. "Posnya diserang tadi malam. Semua tiga puluh prajurit tewas. Kang-lim selamat cukup lama untuk memberi laporan, lalu mati di pelukanku."
Yehwa berlutut di samping mayat itu. Matanya merah—amarah. "Siapa pelakunya?"
"Mereka menggunakan ilmu hitam. Ilmu yang sama dengan Penguasa Kegelapan." Seo Jung-won mengeluarkan benda kecil—sepotong kain dengan simbol. "Ini ditemukan di lokasi."
Yun-seo mengambil kain itu. Simbolnya—lingkaran dengan pedang dan api—mirip dengan yang ada di laporan. Tapi ada perbedaan. Di tengah simbol itu, ada tambahan—mahkota kecil.
"Aku tidak mengerti." Yun-seo mengernyit. "Penguasa Kegelapan sudah mati. Aku sendiri yang melihatnya mati di Kastel Kegelapan."
"Tapi ilmunya masih ada. Pengikutnya masih ada." Yehwa bangkit, matanya dingin—tatapan ratu iblis yang dulu. "Dan mereka punya pemimpin baru."
Seo Jung-won mengangguk. "Dugaan sama. Kang-lim sempat berbisik sebelum mati. Katanya..." Ia berhenti, seolah tidak percaya dengan kata-katanya sendiri.
"Katanya apa?" desak Yehwa.
"Katanya, 'Putri Lilian... Penguasa Kegelapan baru...'"
Dunia serasa berhenti.
Cheol-soo bersiul pelan. "Lilian punya anak?!"
Yehwa mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. Lilian—pengkhianat yang ia kira sudah selesai—ternyata meninggalkan warisan beracun.
"Di mana Lilian sekarang?" tanya Yun-seo.
"Masih di menara pengasingan," jawab Seo Jung-won. "Tapi ia tidak mau bicara. Sudah tiga tahun ini ia diam seribu bahasa."
Yehwa berbalik, melangkah tegas. "Aku akan ke menara. Sekarang."
Yun-seo meraih tangannya. "Aku ikut."
---
Menara pengasingan terletak di ujung timur kompleks istana.
Bangunan tinggi menjulang, dikelilingi jurang di tiga sisinya. Hanya satu jembatan batu yang menghubungkannya dengan daratan. Dua penjaga bersenjata lengkap berjaga di pintu masuk.
Yehwa dan Yun-seo menaiki tangga spiral menuju puncak. Di ruangan paling atas, Lilian duduk di sudut, rantai di kaki. Tiga tahun penjara telah mengubahnya—rambutnya memutih sempurna, wajahnya keriput, matanya sayu. Tapi saat melihat Yehwa, matanya menyala sejenak.
"Ratu agung berkunjung," sindirnya lemah. "Apa yang kubawa kali ini? Hukuman mati?"
Yehwa tidak main-main. "Kau punya anak?"
Lilian membeku. Ekspresinya berubah—dari sinis menjadi panik, lalu tertutup kembali.
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan."
"Putrimu. Pewaris Penguasa Kegelapan. Ia membunuh tiga puluh prajuritku." Suara Yehwa dingin membeku. "Kau akan bicara, atau kau akan lihat apa yang terjadi pada pengikut setiamu satu per satu."
Lilian tertawa—tawa pahit. "Kau tidak akan lakukan itu. Kau terlalu baik untuk jadi kejam."
Yun-seo melangkah maju. "Lilian, ini tentang anakmu. Kalau ia terus begini, ia akan mati. Kau mau itu terjadi?"
Untuk pertama kalinya, dinding pertahanan Lilian retak. Matanya berkaca.
"Aku... aku tidak tahu ia akan seperti ini." Suaranya bergetar. "Aku menyembunyikannya saat perang. Memberikannya pada orang kepercayaan. Kusangka ia akan hidup normal, jauh dari politik, jauh dari dendam."
"Tapi ia tumbuh dengan dendam." Yehwa duduk di hadapannya. "Ceritakan semuanya, Lilian. Mungkin masih ada harapan untuk menyelamatkannya."
Lilian menunduk lama. Lalu, dengan suara serak, ia mulai bercerita.
"Ayahnya adalah Penguasa Kegelapan. Kami bertemu saat perang, jatuh cinta secara rahasia. Aku hamil, melahirkan diam-diam. Tak satu pun tahu—bahkan para tetua." Ia menatap Yehwa. "Kau ingat, setahun sebelum pemberontakan, aku minta cuti? Aku bilang sakit?"
Yehwa mengangguk pelan. Ia ingat.
"Aku melahirkan saat itu. Anakku—namanya Lilith. Kuberi nama yang mirip denganku." Air mata mengalir di pipi keriputnya. "Setelah pemberontakan gagal, aku titipkan dia pada pengikut setia. Kusuruh mereka bawa dia jauh, sembunyi, lupakan aku."
"Tapi ia tidak lupa," kata Yun-seo.
Lilian menggeleng lemah. "Dendam adalah warisan yang paling mudah diwariskan." Ia menatap Yehwa. "Aku tahu kau tidak akan percaya, tapi... aku tidak pernah ingin ia jadi seperti ini. Aku ingin ia bahagia, normal."
Yehwa diam lama. Lalu bangkit.
"Aku akan coba selamatkan dia. Bukan karena kau, tapi karena ia masih punya kesempatan." Ia berbalik. "Tapi kalau ia terus memilih jalan kegelapan... aku tidak punya pilihan."
Di ambang pintu, ia berhenti.
"Lilian, terima kasih sudah jujur."
Lilian menunduk, menangis dalam diam.
---
Kembali di ruang kerja, Yun-seo, Yehwa, Seo Jung-won, dan Cheol-soo berkumpul.
Peta wilayah terbentang di meja. Seo Jung-won menandai lokasi-lokasi serangan.
"Pola serangannya tidak acak." Ia menunjuk. "Mereka menghancurkan pos-pos perbatasan, tapi tidak pernah masuk ke dalam. Seperti... menarik perhatian."
Yun-seo mengamati peta. "Apa yang mereka tunggu?"
"Mungkin pengumpulan kekuatan. Atau..." Yehwa menunjuk satu titik. "Istana. Mereka ingin kita keluar, meninggalkan istana tidak terjaga."
Cheol-soo angkat bicara. "Kalau begitu, kita jangan keluar. Bertahan saja di sini."
"Tidak bisa." Yehwa menggeleng. "Kalau kita diam, mereka akan terus membunuh prajurit kita. Moral pasukan akan runtuh."
Yun-seo diam, berpikir keras. Lalu matanya berbinar.
"Mungkin kita tidak perlu keluar semua. Kita bisa bagi tim."
Semua menatapnya.
"Yehwa dan Jung-won, kau paling kuat. Kalian keluar, hadapi mereka di luar. Aku, Cheol-soo, dan pasukan yang tersisa jaga istana. Kalau mereka memang menunggu kita lengah, mereka akan menyerang saat Yehwa pergi. Dan saat itulah kita tangkap mereka."
Yehwa mengerutkan kening. "Kau mau jadi umpan?"
"Aku punya darah Kaisar. Aku bisa bertahan." Yun-seo tersenyum percaya diri. "Percaya padaku."
Yehwa menatapnya lama. Lalu mengangguk.
"Baik. Tapi janji—kalau bahaya, kau panggil aku. Aku bisa kembali dalam hitungan menit."
"Janji."
Rencana disusun. Malam itu juga, Yehwa dan Seo Jung-won diam-diam meninggalkan istana dengan pasukan kecil, menyamar sebagai patroli biasa. Di istana, Yun-seo memperkuat pertahanan, menempatkan Cheol-soo dan prajurit pilihan di titik-titik strategis.
Tinggal menunggu.
Dan di luar, di balik bayangan, Lilith tersenyum melihat umpan itu dimakan.
"Ratu iblis pergi," bisiknya pada para pengikut. "Saatnya kita serang istana. Bunuh suaminya, culik anaknya. Biar Yehwa merasakan kehilangan."
Para pengikut bayangan bergerak dalam gelap, ribuan pasukan berkumpul di luar jangkauan pandang istana.
Perang baru akan segera dimulai.
---