Wei Chen, CEO perusahaan teknologi dan energi terkemuka di Asia Tenggara, mati di usia 40 tahun karena diracun oleh rekan bisnisnya sendiri, Hartono Lim — orang yang selama 15 tahun ia percayai.
Namun takdir berkata lain. Wei Chen terbangun di tubuh seorang pemuda di dunia asing: Shenzhou, dunia Murim yang dihuni para kultivator, pedang terbang, dan klan-klan besar yang menguasai segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saundra Handara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERSIAPAN MENUJU TAHAP BERIKUTNYA
Sebulan setelah uji coba pil pemurni pada Wei Chen...
Garuda Trading terus berkembang. Cabang di utara dan selatan semakin ramai. Produk-produk baru bermunculan — lampu qi dengan berbagai ukuran, tungku hemat untuk rumah tangga kecil, bahkan alat pertanian sederhana yang memudahkan petani membajak sawah.
Toke Wijaya sibuk mengurus administrasi. Setiap hari dia mengeluh, tapi setiap hari juga dia datang lebih awal. Pria tua itu menikmati kesibukannya.
Lim Xiu semakin percaya diri dalam memimpin. Dia sudah tidak lagi bertanya setiap langkah. Kadang dia ambil keputusan sendiri — dan benar.
Guru Anta sibuk di klinik dan laboratorium rahasianya. Setiap malam, dia meracik, mencampur, menguji. Pil Pemurni versi kedua sudah siap — lebih kuat dari sebelumnya.
Wei Chen duduk di kantornya, membaca laporan dari semua cabang. Angkanya bagus. Pendapatan bulan ini 20.000 koin perak. Laba 8.000 koin perak.
Tabungannya sekarang 25.000 koin perak — 2.500 koin emas.
Masih jauh dari 10.000 koin emas. Tapi kemajuan.
Pintu terbuka. Mei Ling masuk dengan nampan berisi teh dan kue.
"Istirahat dulu." Dia meletakkan nampan di meja. "Kau kerja terus."
"Aku harus."
"Tapi kau juga butuh istirahat." Mei Ling duduk di kursi seberang. "Lihat matamu. Merah."
Wei Chen mengusap mata. Dia memang kurang tidur.
"Aku akan istirahat nanti."
"Janji?"
"Janji."
Mei Ling tersenyum. Menuangkan teh.
"Chen, aku mau tanya sesuatu."
"Apa?"
"Kau pernah berpikir... tentang masa depan?"
Wei Chen mengangkat kepala. "Masa depan?"
"Iya. Setelah semua ini selesai. Setelah kutukanku sembuh. Setelah Hartono kalah." Matanya lembut. "Kau mau apa?"
Wei Chen diam. Pertanyaan itu tidak pernah terpikir.
Di bumi, dia selalu berpikir jangka pendek. Target tahunan. Rencana bisnis. Tidak pernah lebih dari itu.
Tapi di sini...
"Aku tidak tahu," jawabnya jujur. "Aku belum pernah berpikir sejauh itu."
Mei Ling tersenyum. "Aku juga. Tapi kadang aku bermimpi."
"Mimpi apa?"
"Mimpi kita punya rumah kecil. Di pinggir desa. Dengan kebun sayur di belakang." Matanya berbinar. "Kau kerja di toko, aku jaga rumah. Malam-malam kita duduk di beranda, lihat bintang."
Wei Chen membayangkannya. Rumah kecil. Kebun. Beranda. Bintang.
Hangat.
"Itu... mimpi yang bagus."
"Kau mau?"
Wei Chen mengangguk. "Mau."
Mei Ling tersenyum lebar. Tangannya meraih Wei Chen.
Mereka berpegangan tangan. Diam. Tapi penuh makna.
---
Sore harinya, Wei Chen pergi ke klinik Guru Anta.
Guru Anta sedang sibuk dengan ramuan. Meja penuh botol. Tapi matanya berseri melihat Wei Chen.
"Wei Chen! Datang tepat waktu." Dia menunjuk kursi. "Duduk. Aku mau tunjukkan sesuatu."
Wei Chen duduk. Guru Anta mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil. Membukanya dengan hati-hati.
Di dalamnya, lima pil putih susu berjejer rapi.
"Pil Pemurni versi dua," kata Guru Anta bangga. "Dosis lebih kuat. Formula lebih baik."
"Sudah diuji?"
"Pada tiga tikus. Semua sembuh dari racun ringan." Guru Anta menatapnya. "Siap uji pada manusia?"
Wei Chen mengangguk. "Coba padaku."
Guru Anta menghela napas. "Kau yakin?"
"Yakin."
Wei Chen mengambil satu pil. Menelannya.
Lima menit. Sepuluh menit. Setengah jam.
Tiba-tiba, Wei Chen merasakan hangat di dadanya. Bukan panas, tapi hangat. Seperti api kecil yang menyala di dalam.
"Ada efek," katanya.
"Apa rasanya?"
"Hangat. Enak."
Guru Anta memeriksa nadinya. Matanya melebar.
"Qi-mu... naik."
"Apa?"
"Level kultivasimu naik." Guru Anta tersenyum lebar. "Dari Pemula ke Pengumpul Qi Tahap Awal."
Wei Chen terkejut. Selama ini dia hanya latihan biasa. Tidak pernah naik level. Tapi sekarang...
"Ini efek pil?"
"Iya." Guru Anta hampir menari. "Pil ini tidak hanya memurnikan qi, tapi juga mempercepat kultivasi. Ini penemuan besar!"
Wei Chen diam. Memikirkan.
"Kalau begitu, untuk Mei Ling..."
"Kita harus racik ulang." Guru Anta menghela napas. "Dosis untuk penyembuhan kutukan berbeda. Tapi setidaknya kita tahu pil ini bekerja."
Wei Chen mengangguk. "Lanjutkan riset. Aku cari bahan lain."
Guru Anta mengangguk. "Aku butuh Darah Naga."
Wei Chen mengerutkan kening. "Darah Naga?"
"Bukan naga sungguhan. Tumbuhan langka yang getahnya merah seperti darah." Guru Anta menjelaskan. "Tumbuh di gunung berapi. Di wilayah Klan Api."
Wei Chen diam. Klan Api? Dia belum pernah dengar.
"Di mana Klan Api?"
"Di barat. Jauh." Guru Anta menghela napas. "Dua bulan perjalanan. Melewati hutan, gunung, dan padang pasir."
Wei Chen diam. Itu jauh. Tapi demi Mei Ling...
"Aku akan cari."
Guru Anta menatapnya. "Kau benar-benar nekat."
"Aku tahu."
---
Malam harinya, Wei Chen cerita pada Mei Ling.
Dia diam lama. Lalu memeluk Wei Chen.
"Jangan pergi."
"Aku harus."
"Tapi dua bulan... terlalu lama."
"Aku akan cepat."
Mei Ling menangis di dadanya. "Aku takut. Takut kau tidak kembali."
Wei Chen mengusap rambutnya. "Aku akan kembali. Janji."
"Janji palsu."
"Janji sungguhan."
Mei Ling mendongak. Matanya basah.
"Kalau kau pergi... siapa yang jaga desa?"
"Lim Xiu, Kakek Li, Guru Anta." Wei Chen tersenyum tipis. "Mereka kuat."
"Tapi kau pemimpinnya."
"Pemimpin juga butuh istirahat." Wei Chen menghela napas. "Dan kali ini, aku pergi untukmu."
Mei Ling diam. Lalu mengangguk pelan.
"Baik. Tapi janji... kau kembali."
"Aku kembali."
Mereka berpelukan lama. Malam itu, mereka tidak tidur. Hanya berpelukan, menikmati waktu yang tersisa.
---
Tiga hari kemudian, Wei Chen siap berangkat.
Tas punggung berisi bekal, peta, dan senjata. Guru Anta memberi ramuan-ramuan untuk perjalanan. Lim Xiu memberi uang dan surat pengantar ke kenalannya di barat.
Kakek Li menepuk bahunya. "Hati-hati, Nak. Banyak bahaya di luar."
"Aku tahu, Kek."
"Kalau bertemu musuh, jangan sok kuat. Lari lebih baik."
Wei Chen tersenyum. "Saran bagus."
Guru Anta mendekat. "Jangan lupa, Darah Naga harus segar. Kalau sudah kering, tidak berguna."
"Aku ingat."
Mei Ling berdiri di gerbang desa. Matanya basah, tapi dia berusaha tersenyum.
"Chen..."
Wei Chen mendekat. Memeluknya.
"Aku kembali. Tunggu."
"Aku tunggu."
Mereka berciuman — pertama kalinya. Lembut. Hangat.
Wei Chen melepas pelukan. Berbalik. Berjalan ke barat.
Mei Ling menatap punggungnya hingga hilang di ujung jalan.
---
Perjalanan Wei Chen baru saja dimulai.
Di belakangnya, Desa Qinghe aman — untuk sementara.
Di kejauhan, di ibu kota, Hartono sedang merencanakan sesuatu.
Dan di barat, di gunung berapi Klan Api, Darah Naga menunggu untuk dipetik.
---
Chapter 29 END.
---