NovelToon NovelToon
Izinkan Aku Mencinta

Izinkan Aku Mencinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Romansa / Perjodohan
Popularitas:384
Nilai: 5
Nama Author: Amerta Nayanika

Kinan tak pernah siap kehilangan, terlebih dalam satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Kecelakaan itu bukan hanya merenggut tunangannya, tetapi juga meninggalkan trauma yang perlahan hinggap dalam dirinya.

Alana hadir sebagai perawat—sekedar menjalankan tugas, tanpa tahu bahwa langkah kecilnya akan membawanya masuk ke dalam kisah yang rumit. Ketulusan yang ia berikan justru membuat keluarga Kinan memintanya bertahan… bahkan menikah.

Hubungan yang seharusnya sederhana itu berubah menjadi pertaruhan perasaan.
Sebab mencintai Kinan berarti bersedia berbagi ruang dengan masa lalu yang belum pergi.

Akankah Alana mampu bertahan, atau justru terluka oleh cinta yang belum selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amerta Nayanika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alana

Di sana, di dalam sebuah gang yang mungkin hanya muat untuk pejalan kaki dan satu motor untuk berlalu lalang. Tempat di mana aroma bensin dan sesekali bau bangkai tikus yang singgah di atas genteng bercampur menjadi satu. Tempat di mana dinding dingin antar rumahnya saling menmpel satu sama lain.

Aroma tumisan bawang putih menyapa peciumannya begitu pintu rumah terbuka. Sinar layar televisi yang dibiarkan menyala, melesak dari sela rak kayu yang menampung beberapa miniatur dan tanaman hias. Dingin menyapa telapak kakinya begitu dia melangkah masuk ke dalam sana.

"Ibu!" panggil Alana dengan suara sedikit meninggi.

Perempuan dengan rambut yang masih digulung rapi itu mengintip ke dalam kamar utama yang dibiarkan terbuka lebar. Kain syal rajut milik ibunya tergeletak di atas kasur begitu saja. Kursi roda yang biasanya dikenakan juga bergeming dingin di samping ranjang.

Lalu, terdengar suara wanita tua yang terbatuk dari arah dapur. Sepertinya karena aroma masakan yang mulai terlalu menyengat untuk hidungnya.

Alana menyibak tirai kristal perlahan hingga menimbulkan suara denting kecil di sekitarnya. "Ibu...," panggilnya,

Bahu Alana layu sambil menghampiri Laksmi yang kini duduk di depan kompor sambil mengaduk isi wajan di hadapannya. Entah sudah berapa kali Alana memperingatkan agar ibunya itu beristirahat saja. Namun, namanya orang tua memang susah diberi tahu.

"Kan Alana udah bilang nggak usah ke dapur, Bu," ujar Alana setelah mengembuskan nafas berat.

Laksmi menoleh dan tersenyum kecil pada anak bungsunya. "Nggak apa-apa, Lan. Ibu juga pengen masakin buat anak Ibu lagi," katanya.

Mendengar itu, Alana lantas mendinginkan hatiya agar tak tersentuh sedikit pun oleh ucapan itu. Dia malah mengambil alih spatula besi bergagang kayu dari tangan ibunya. "Kalau asmanya Ibu kambuh, terus pingsan lagi gimana?"

Laksmi terdiam. Dengan berat hati dia meninggalkan tempatnya perlahan. Tangannya berpegangan pada tepian meja dan rak di sekitarnya untuk membantunya berjalan. Dia sudah tak ingin lagi mendengar Alana yang mungkin akan mengomel sebentar lagi.

"Memangnya Mas Dipo nggak ke sini, Bu?" tanya Alana sambil mengaduk masakan di dalam wajan.

Mendengar nama anak sulungnya disebut, Laksmi menghentikan langkahnya. "Sudah. Kemarin dia ke sini nganter makanan buat Ibu."

Tentu jawaban itu adalah kebohongan kesekian yang keluar dari bibir Laksmi mengenai anak sulungnya. Dia bahkan membeli masakan matang dari pendagang lauk pauk yang memang selalu lewat setiap hari. Sementara Dipo, pria itu tak sedikit pun menampakkan batang hidungnya.

"Gitu aja? Nggak nemenin Ibu gitu?" timpal Alana.

Suara benturan antar besi di hadapan perempuan yang baru pulang dari pekerjaannya itu tentu sangat penuh arti. Bukan sekedar tak sengaja, Alana juga kesal jika dirinya mulai mengungkit perihal kakaknya. Namun, mau bagaimana lagi? Dia harus menitipkan ibunya pada Dipo jika dirinya sedang berjaga malam di rumah sakit.

"Masmu kan sudah berkeluarga, Lan. Pasti dia sibuk ngurus anak dan istrinya juga di rumah," jelas Laksmi.

Alana menghela nafas panjang. Sejak kepergian ayahnya beberapa tahun yang lalu, bahkan sebelum kakaknya itu memutuskan untuk menikah. Dipo seolah menarik diri dari mereka, seolah memiliki dunianya sendiri di luar sana.

"Sibuk sama anak istri gimana? Mbak Sukma aja sampai pulang ke rumah orang tuanya gara-gara Mas Dipo jarang di rumah," gerutu Alana dengan suara rendah.

Iba rasanya jika dia mengingat tentang kakak iparnya yang masih sesekali berhubungan dengannya itu. Tak jarang dia melihat kesabaran Sukma dalam merawat anaknya tanpa ada peran suami di sisinya. Hal itu pula lah yang membuat Alana semakin kesal pada kakak kandungnya.

Alana lantas memejamkan matanya. Dia tumpukan kedua tangannya di atas meja kompor meski sedikit panas. Lalu, dia menoleh ke arah Laksmi dan tersenyum lembut.

"Ibu mau makan di sini apa di depan sambil nonton tv? Biar Alana bawain makanannya," ucapnya.

Mendengar itu, Laksmi menarik nafasnya dalam-dalam. "Jangan terlalu memikirkan Masmu ya, Lan," ucapnya.

Dia tahu bahwa Alana kesal dengan kakaknya. Dia tahu bahwa keluarga mereka ini tak lagi seharmonis dulu. Belum lagi dirinya yang mulai sakit-sakitan di tengah kesibukan Alana yang semakin padat sebagai seorang perawat di rumah sakit.

Laksmi hanya ingi suasana ini tak semakin runyam. Dia tak ingin hubungan di antara kedua anaknya semakin merenggang. Tak ada yang bisa dia lakukan selain berbohong untuk menutupi ketidak sempurnaan Dipo di mata adiknya.

Alana menelan ludahnya kasar, dia kembali memutar kepalanya untuk menghadap pada tumisan wortel dan tahu di hadapannya. Membiarkan uap masakan itu membuka pori-pori wajahnya secara perlahan.

"Ibu tunggu di kamar aja. Nanti Alana bawain makanannya ke kamar," ucap Alana tanpa berbalik.

Entah terbuat dari apa hati Laksmi. Alana juga tak mengerti, apa yang membuat wanita itu begitu sabar terhadap Dipo yang seolah mencampakkan mereka begitu saja. Bahkan saat wanita itu masuk rumah sakit pun, Dipo hanya bergeming di balkon rumah sakit tanpa mau masuk ke dalam kamarnya sekali saja.

Tentu Laksmi masih belum tahu perihal rumah tangga Dipo dan Sukma yang hampir di ujung tanduk. Sengaja Alana dan Sukma tak memberi tahu Laksmi perihal itu. Mereka tak mau jika hal itu malah memperburuk kondisi fisiknya.

Sementara, Sukma masih sering kali memeluk Alana dengan derai air mata dan setumpuk kata maaf yang sebenarnya tak diperlukan. Alana lah yang ingin meminta maaf kepada wanita itu, karena Dipo yang merenggut impiannya dengan sejuta janji palsu.

Denting sendok dan piring di tangan Alana kini menjadi pengisi suara dalam kamar utama ini. Dia bahkan belum sempat mengganti bajunya atau sekedar mencuci kaki sejak memasuki rumah beberapa saat yang lalu. Hal itu membuat Laksmi tersenyum masam.

"Maaf, ya. Ibu jadi ngerepotin kamu lagi," ucap Laksmi seraya menunggu Alana selesai meniup sesendok makanan di tangannya.

Mendengar itu, Alana mengerucutkan bibirnya. "Ibu ini ngomong apa? Udah tugas Alana buat ngerawat Ibu sekarang," sahutnya.

Sesendok makanan hangat itu dia suapkan pada Laksmi. Alana bahkan tak sedikit pun mengeluh meski beberapa tetes kuah atau beberapa butir nasi yang terjatuh mengotori baju dan sprei milik ibunya.

Jika hal itu terjadi seperti sekarang, Alana selalu berkata, "Nanti ganti baju dulu ya, Bu. Habis itu Ibu tunggu di depan tv, biar Alana ganti spreinya."

Aroma pewangi baju yang sebelumnya menguasai  ruangan, kini terkalahkan dengan aroma obat. Beberapa bungkus obat yang tercecer di atas meja menjadi pemandangan yang tak asing lagi. Sebuah tabung oksigen lengkap dengan selangnya pun tersedia di samping ranjang bila si penghuni membutuhkannya.

Kamar ini kini lebih pantas disebut kamar pasien. Bukan lagi tempat untuk beristirahat setelah segala penat yang dilalui sepanjang hari. Tapi, tempat untuk berusaha pulih atau sekedar bertahan hidup lebih lama dengan penyakit di dalam diri manusianya.

"Ibu udah minum obat kan tadi siang? Harus setelah makan ya, Bu!" pinta Alana yang entah mengapa selalu cerewet di setiap malamnya.

Laksmi mengangguk dan tersenyum. Dia singkirkan anak-anak rambut yang membingkai wajah anaknya. "Kamu cerewet banget, Lan! Mirip siapa sih?"

"Mirip ibu!" sahut Alana sambil kembali menyuapi ibunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!