NovelToon NovelToon
Braja Geni

Braja Geni

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Pusaka Ajaib
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Lahir pada malam 1 Suro setelah dikandung dua belas bulan, seorang bayi menjadi incaran para pendekar aliran hitam dan putih. Di tengah pertumpahan darah, ia menghilang dari dunia manusia.
Diasuh oleh makhluk mitos di rimba purba, ia tumbuh dengan ilmu yang tak dikenal perguruan mana pun. Ia belajar dari angin, dari api, dan dari naluri alam.
Saat dewasa, Braja Geni kembali ke dunia persilatan.
Kehadirannya menggemparkan jagat kanuragan. Jurusnya tak berpihak pada putih maupun hitam—ia adalah kekuatan baru yang mengancam keseimbangan.
Namun di balik kesaktiannya, tersembunyi rahasia kelahiran dan takdir besar yang akan menentukan arah dunia persilatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Setelah Ki Damanik pamit, Ki Baraya segera melakukan persiapan. Kujang pusakanya dimandikan dengan air bunga setaman, lalu diasapi kemenyan sebagai bentuk penyucian. Beberapa alat warisan dari Ki Jagat Wisesa pun turut ia siapkan.

Perguruan Lintang Jagat bukan sekadar nama. Gurunya dahulu tak hanya mengajarkan ilmu jagat bumi, tetapi juga ilmu jagat gaib. Namun selama ini, warga desa hanya mengenal Ki Baraya sebagai dukun sakti, bukan sebagai pendekar. Sebab sesungguhnya, ia telah lama mundur dari dunia persilatan.

Setelah persiapan dirasa cukup, Ki Baraya berkeliling desa siang itu. Ia mendatangi beberapa warga yang menjadi korban dan menanyai mereka satu per satu. Dari keterangan yang ia kumpulkan, tersimpul sebuah kejanggalan.

Banyak tuyul sengaja menampakkan diri dan menebar ketakutan. Sosok yang terlihat bukanlah tuyul yang biasa digambarkan polos dan lugu, melainkan bertampang menyeramkan, berwajah iblis, dengan sorot mata tajam.

“Hmmm… ini bukan ulah tuyul sebagaimana mestinya,” gumam Ki Baraya pelan.

Menjelang sore, ia menempatkan dupa di lima penjuru angin pada tiap sudut desa. Setiap dupa dibacakan mantra sebelum dibakar. Asap yang mengepul pun berbeda-beda warnanya, bergantung pada ramuan yang digunakan.

Setelah semuanya rampung, Ki Baraya berdiri sejenak, memperhatikan arah pergerakan asap-asap itu dengan saksama.

Ternyata yang dilakukan Ki Baraya adalah membuat pelacak jejak-jejak gaib. Asap dupa yang membumbung tinggi itu bukan sekadar kepulan biasa, melainkan penunjuk arah. Anehya, kelima asap tersebut condong ke satu titik yang sama—ke arah timur laut, jauh menembus kedalaman Hutan Jagabodas bagian timur.

“Hmmm… mengapa pelacak ini tidak mengarah ke wilayah pemukiman?” gumam Ki Baraya dengan kening berkerut. “Mengapa justru menuju pedalaman hutan angker itu?”

Ia terdiam sesaat, menimbang kemungkinan.

“Apakah yang melepaskan tuyul dan babi-babi jelmaan itu berdiam di dalam hutan? Ah, tak mungkin… hanya orang yang kehilangan akal sehat yang mau tinggal di sana.”

Namun firasatnya berkata lain.

“Bagaimanapun juga, aku harus memastikan,” ujarnya mantap.

Tanpa membuang waktu, Ki Baraya mengerahkan ilmu peringan tubuh. Dalam sekejap, tubuhnya melesat ringan bagai bayangan, melintasi pematang sawah dan semak belukar. Gerakannya nyaris tak menimbulkan suara, hanya hembusan angin tipis yang tertinggal di belakangnya.

Ia mengikuti arah asap pelacak itu—menuju jantung Hutan Jagabodas yang dikenal sunyi dan menyimpan banyak rahasia.

Setelah menembus rapatnya pepohonan yang lebat, Ki Baraya semakin waspada. Langkahnya diperlambat, napasnya diatur halus agar tak menimbulkan suara sedikit pun. Dari kejauhan, ia melihat asap tebal mengepul tinggi di tengah hutan itu.

“Gila… siapa yang berani menyalakan api unggun sebesar itu di tengah hutan seperti ini?” gumam Ki Baraya dalam hati.

Kecurigaannya makin menguat.

Ia pun mengerahkan Ajian Sapta Pandulu, ilmu penglihatan jarak jauh yang memungkinkannya mengamati sesuatu dari kejauhan dengan jelas. Pandangannya menajam, menembus sela dedaunan dan bayang-bayang batang pohon.

Berkelebat dari satu pohon ke pohon lain, Ki Baraya bergerak lincah tanpa suara. Hingga akhirnya ia berhenti di satu titik yang cukup tinggi dan tersembunyi.

Dan alangkah terkejutnya ia.

Di hadapannya terbentang sebuah perkemahan luas di tengah hutan—dipenuhi ratusan orang berseragam prajurit. Api unggun besar menyala di pusat perkemahan, sementara tenda-tenda berdiri rapi mengelilinginya.

Ki Baraya menyipitkan mata.

Ini bukan sekadar perkemahan biasa.

“Apa yang terjadi di sini? Siapa mereka? Apa tujuan mereka?”

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang berkelebat di benak Ki Baraya saat mengamati perkemahan besar di tengah hutan.

“Aku harus menyusup. Aku harus tahu apa yang sebenarnya mereka rencanakan,” gumamnya dalam hati.

Ki Baraya lalu memantau setiap gerak-gerik para prajurit. Ia menunggu dengan sabar, mencari satu kesempatan—satu celah kecil—ketika ada seseorang yang terpisah dari kelompoknya.

Tak lama kemudian, kesempatan itu pun datang.

Seorang prajurit berjalan menjauh dari rombongannya menuju sebuah sungai kecil di pinggir hutan. Tampaknya ia hendak buang hajat. Ia melangkah santai, sama sekali tak menyadari bahwa bahaya tengah mengintainya.

“Bugg!”

Sebuah pukulan cepat dan terukur mendarat tepat di tengkuknya. Tubuh prajurit itu langsung lemas dan roboh sebelum sempat menyelesaikan maksudnya.

Sementara itu, di dalam perkemahan…

“Hei, mana si Larso itu? Kenapa lama sekali?” tanya salah satu perwira dengan nada tak sabar.

Perkemahan itu memang terbagi dalam beberapa kelompok, masing-masing dipimpin seorang perwira menengah. Setiap kelompok berisi ratusan prajurit yang tampak terlatih dan disiplin.

“Entah, Ki. Tadi katanya hanya ingin buang hajat,” jawab salah seorang teman Larso.

“Sudah terlalu lama. Pergi kau periksa ke sungai. Bawa dia kemari,” perintah sang perwira tegas.

“Baik, Ki,” jawab prajurit itu sambil bergegas.

Namun baru beberapa langkah ia berjalan, sosok Larso tampak kembali dari arah sungai.

“Kau ini, Larso! Kenapa lama sekali? Ki Ragil sudah mulai tak sabar. Cepat, kau dipanggil ke tendanya,” ujar temannya.

“Oh… perutku tadi benar-benar sakit. Jadi aku agak lama di sungai,” jawab Larso singkat, suaranya terdengar sedikit berbeda—lebih tenang, lebih terukur.

“Ah, itu akibatnya kalau makan tak kira-kira. Lima umbi kau habiskan sendiri. Ayo, ikut aku.”

Larso hanya mengangguk pelan.

Keduanya pun berjalan menuju sebuah tenda besar di tengah perkemahan—tenda milik perwira menengah yang dipanggil Ki Ragil.

Namun teman larso itu sempat heran melihat cara bicara dan jalan larso yang agak berbeda. Tapi ia tak memusingkannya. Mungkin selangkangannya lecet dan mulut nya berubah nada gara-gara kebanyakan makan ubi.

1
raigor
semangat thor...cerita nusantara
👁Zigur👁: thanks 🙏
total 1 replies
abdulR
😍👍💪ok
anggita
like👍2☝☝iklan buat novel laga lokal
👁Zigur👁: thanks kak anggit.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!