NovelToon NovelToon
Braja Geni

Braja Geni

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Pusaka Ajaib
Popularitas:20.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Lahir pada malam 1 Suro setelah dikandung dua belas bulan, seorang bayi menjadi incaran para pendekar aliran hitam dan putih. Di tengah pertumpahan darah, ia menghilang dari dunia manusia.
Diasuh oleh makhluk mitos di rimba purba, ia tumbuh dengan ilmu yang tak dikenal perguruan mana pun. Ia belajar dari angin, dari api, dan dari naluri alam.
Saat dewasa, Braja Geni kembali ke dunia persilatan.
Kehadirannya menggemparkan jagat kanuragan. Jurusnya tak berpihak pada putih maupun hitam—ia adalah kekuatan baru yang mengancam keseimbangan.
Namun di balik kesaktiannya, tersembunyi rahasia kelahiran dan takdir besar yang akan menentukan arah dunia persilatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Tak lama kemudian, Larso dan temannya memasuki tenda Ki Ragil. Di dalam, Ki Ragil tampak duduk bersila di atas tikar kasar, sebuah kendi tuak berada di sampingnya. Aroma minuman keras itu bercampur dengan bau asap kayu dari luar perkemahan.

“Hei… akhirnya kau muncul juga, Larso,” ucap Ki Ragil dengan sorot mata tajam.

“Maaf, Ki. Aku agak lama di sungai. Perutku benar-benar sakit,” jawab Larso tenang.

“Kau ini ceroboh, Larso,” gerutu Ki Ragil. “Kalau saja kau lebih lama lagi di sungai itu, bisa-bisa kau ditelan jin penunggu hutan ini. Hutan ini angker. Sudah beberapa kawan kita yang berkemah di bagian selatan ditemukan tanpa kepala. Mereka terlalu lama keluar dari kelompoknya. Kau ingin bernasib sama?”

Larso menunduk, pura-pura gentar.

“Oh… sungguh mengerikan, Ki. Aku tentu tak mau. Tapi bukankah kita punya seseorang yang mampu menghadapi para dedemit itu?” tanyanya hati-hati.

“Ki Jarwo, si dukun sakti itu maksudmu?” tanya Ki Ragil sambil menyipitkan mata.

“Ya, Ki. Bukankah ia sakti?”

“Ia memang sakti,” jawab Ki Ragil sambil menenggak tuaknya. “Tapi aku tak menyukai caranya. Ilmu yang ia pakai untuk mencuri dan menakut-nakuti pedesaan dengan tuyul dan babi jelmaan itu… selalu menuntut tumbal.”

Larso terdiam, menyimak.

“Aku lebih suka cara terang-terangan,” lanjut Ki Ragil kasar. “Kalau perlu, kita rampas saja harta mereka. Bahkan gadis-gadis desa pun bisa kita bawa. Kita butuh hiburan di hutan sedingin ini.”

“Tapi… bukankah kita ini prajurit, Ki?” sahut Larso.

Ki Ragil tertawa pendek.

“Kau ini polos atau pura-pura bodoh? Pakaian ini hanya kedok. Kita menyamar sebagai prajurit Kesultanan Cirebon untuk mengelabui Pajajaran. Agar mereka segan dan tak berani menyerang iring-iringan kita. Kau tahu sendiri, pasukan sandi Pajajaran berkeliaran di mana-mana.”

“Jadi… kita hanya singgah sementara di hutan ini?” tanya Larso lagi.

“Kau tak mendengar penjelasan pemimpin kemarin?” hardik Ki Ragil. “Kita butuh waktu untuk beristirahat. Dan kita butuh modal untuk perjuangan.”

Ia meneguk tuaknya sekali lagi, lalu melanjutkan dengan suara lebih rendah.

“Itulah sebabnya Ki Jarwo menyebar tuyul dan babi jelmaan itu. Dalam seminggu ini kita masih di sini. Setelah itu, kita bergerak menuju Pamijahan. Di sana kita akan bergabung dengan ribuan saudara seperjuangan.”

Ki Ragil menatap lurus ke depan, seolah melihat masa depan yang ia dambakan.

“Di Pamijahan, kita akan bertemu pemimpin besar kita… Panembahan Jaya Mulya. Dan dari sanalah, serangan terhadap Pajajaran akan dimulai. Kerajaan itu sudah rapuh. Tinggal menunggu waktu untuk runtuh.”

Larso menganggukkan kepalanya pelan, seolah menyetujui.

“Nah, kurasa sudah cukup kita memberi kesempatan pada dukun itu,” ujar Ki Ragil sambil menyandarkan punggungnya. “Sekarang waktunya kita bertindak.”

“Tapi… bagaimana dengan pimpinan tertinggi kita di sini? Apakah ia akan menyetujuinya?” tanya Larso hati-hati.

Ki Ragil mendengus kasar.

“Kau ini kesambet setan mana, Larso? Kemarin kau yang paling berapi-api ingin merampok dan menculik gadis desa. Sekarang malah bertanya seperti anak kemarin sore.”

Larso hanya tertunduk, menjaga perannya.

“Ki Lodaya, pemimpin kita di sini, itu dulunya dedengkot perampok,” lanjut Ki Ragil dengan nada meremehkan. “Sekarang saja ia bergaya seperti pemimpin prajurit terhormat. Panembahan itu yang mencuci otaknya. Tapi wataknya? Tetap saja busuk.”

Ki Ragil tertawa lebar.

“Percayalah. Begitu kita membawa beberapa gadis cantik ke perkemahan, si Lodaya pasti akan minta bagian. Dia hanya pura-pura suci di depan pasukan.”

Larso mengangguk lagi, pura-pura tertawa kecil mengikuti Ki Ragil.

Namun di balik wajahnya yang tampak patuh, pikirannya bekerja cepat.

Kini ia tahu.

Perkemahan ini bukan sekadar tempat singgah.

Bukan pula sekadar kedok prajurit.

Ada ambisi besar di baliknya.

Dan rencana kotor yang akan segera dijalankan.

Malam kian larut. Beberapa kelompok prajurit memang berkemah saling berjauhan, membentuk lingkar pengawasan yang luas. Cara itu sengaja dilakukan agar setiap sudut hutan dapat dipantau. Untuk menjaga koordinasi, mereka menggunakan sandi suara burung hantu—siulan khas yang menjadi tanda bila terjadi sesuatu yang mencurigakan, atau sebagai panggilan bagi para pemimpin kelompok untuk berkumpul di satu titik.

“Nah, sekarang beristirahatlah. Besok malam kita mulai bergerak merampok desa itu,” ujar Ki Ragil tegas.

“Baik, Ki. Selamat malam,” jawab para prajurit hampir bersamaan.

Larso pun keluar bersama temannya dan kembali ke tenda kelompok mereka. Di dalam tenda, ia menunggu dengan sabar hingga satu per satu rekannya terlelap. Meski sebagian masih berjaga di luar, suasana mulai lengang.

Saat semua yang berada di dalam tenda telah tertidur pulas, Larso perlahan mengambil sejumput ramuan dari dalam kantong bajunya. Ramuan itu digosokkan di antara kedua telapak tangannya sembari ia merapalkan mantra lirih.

Tak lama kemudian, hawa halus menyebar tanpa suara.

Satu per satu prajurit dalam kelompok Ki Ragil terkulai lelap. Mereka yang sudah tertidur menjadi semakin dalam tidurnya. Bahkan para penjaga di luar pun tak luput—mata mereka terasa berat, lalu tubuh mereka ikut rebah tanpa sadar.

Larso baru saja mengerahkan Ajian Sirep Begananda, ajian sirep tingkat tinggi yang mampu membuat satu pasukan terlelap tanpa perlawanan.

Setelah memastikan keadaan benar-benar aman, ia berkelebat meninggalkan perkemahan itu. Sesampainya di tempat yang cukup jauh dan tersembunyi, ia berganti pakaian. Dengan gerakan tenang, ia mengusap wajahnya sembari membaca mantra pelepas samaran.

Perlahan, wajah Larso memudar.

Yang tersisa kini adalah wajah asli Ki Baraya.

Ia menarik napas panjang.

“Ini berbahaya,” gumamnya pelan. “Aku harus segera menemui Ki Lurah Damanik. Terpaksa… nama Baraya Pedang Keramat mungkin akan kembali terdengar.”

Sorot matanya mengeras menembus gelapnya hutan.

“Kenapa dunia persilatan selalu saja mengejarku…” bisiknya lirih, sebelum tubuhnya kembali melesat menembus malam

Dalam perjalanan menuju rumah Ki Lurah Damanik, Ki Baraya sempat memikirkan para muridnya. Latihan yang selama ini ia jalankan dengan tenang—apakah harus ditunda demi keselamatan mereka? Atau justru dipercepat agar mereka siap menghadapi kemungkinan terburuk?

Ia menghela napas panjang.

Melihat ancaman yang kini terbentang di depan mata, Ki Baraya akhirnya mengambil keputusan. Latihan itu harus dipercepat. Waktu tak lagi berpihak pada mereka. Jika pertempuran benar-benar pecah, murid-muridnya tak boleh berada dalam keadaan belum siap.

Tak lama kemudian, ia telah tiba di rumah Ki Lurah Damanik. Lelaki tua itu menyambutnya dengan wajah cemas di beranda yang remang oleh cahaya lampu minyak.

“Ini sudah larut malam. Kukira kau tak jadi datang, Ki Baraya,” ucap Ki Lurah.

“Maaf, Ki Lurah. Aku datang terlalu malam. Ada banyak hal yang harus kusampaikan,” jawab Ki Baraya serius. “Aku telah menyelidiki asal mula tuyul dan babi jelmaan itu dengan ilmu pelacak gaibku. Dan hasilnya… mungkin akan membuat Ki Lurah semakin cemas. Namun sebaiknya tetap kusampaikan.”

Tanpa berpanjang kata, Ki Baraya memaparkan seluruh kejadian yang ia alami—dari pelacakan asap dupa, perkemahan besar di Hutan Jagabodas, hingga rencana perampokan yang akan dilakukan.

Wajah Ki Lurah Damanik menegang.

“Tak mungkin… Hutan itu angker. Kau tidak sedang bergurau, bukan, Ki Baraya?” tanyanya ragu.

“Aku tidak pernah bergurau dalam perkara seperti ini,” balas Ki Baraya tenang. “Jika Ki Lurah masih ragu, kirimkan pengawal untuk mengintai bagian timur Hutan Jagabodas. Namun ingat—hanya mereka yang menguasai Ajian Sapta Pandulu yang boleh mendekat. Jangan sampai gegabah.”

Ki Lurah mengangguk perlahan.

“Baiklah. Beberapa pengawalku memang memiliki Sapta Pandulu. Akan kuperintahkan mereka menyelidiki wilayah itu.”

“Dan satu hal lagi,” lanjut Ki Baraya. “Besok malam mereka akan bergerak merampok desa ini. Pasukan pengawal kita tak akan cukup menghadapi ratusan orang bersenjata. Apalagi bila kelompok lain terpancing dan ikut turun tangan. Itu bisa berubah menjadi perang terbuka.”

Ki Lurah terdiam, menyadari beratnya situasi.

“Kita harus segera menghubungi Ki Demang Antasena,” tegas Ki Baraya. “Di wilayahnya terdapat barak prajurit khusus yang dipimpin perwira Pajajaran. Kita membutuhkan bantuan mereka. Jika terlambat, desa ini bukan hanya akan dirampok—ia bisa menjadi medan pertempuran.”

Suasana menjadi hening.

Angin malam berembus pelan, membawa pertanda bahwa fajar yang akan datang mungkin tidak lagi setenang biasanya.

1
culuns
elek
Wilson
👍
Wilson
cerita yg bagus mantap
👁Zigur👁: terima kasih 🙏
total 1 replies
saya rimba
bagus
👁Zigur👁: terima kasih 🙏
total 1 replies
Kasara Edsel
"angaaak hooo"😄👍
ibarumbung
luar biasa
👁Zigur👁: terimakasih 🙏🙏
total 1 replies
raigor
semangat thor...cerita nusantara
👁Zigur👁: thanks 🙏
total 1 replies
abdulR
😍👍💪ok
anggita
like👍2☝☝iklan buat novel laga lokal
👁Zigur👁: thanks kak anggit.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!