Hero dan Awan adalah dua sisi mata uang yang berbeda. Hero begitu hangat dan penuh kasih, sementara Awan sedingin es dan tak tersentuh. Namun, maut merenggut Hero terlalu cepat, meninggalkan Jasmine yang sedang hamil muda dalam kehancuran.
Sebelum napas terakhirnya, Hero menitipkan "warisan" yang paling berharga kepada Awan: istri dan calon anaknya.
Kini, Jasmine harus terjebak satu atap dengan pria yang paling ia hindari. Awan yang ketus, kaku, dan sudah memiliki kekasih matre bernama Celine. Bagi Awan, menjaga Jasmine adalah beban wasiat yang menyebalkan. Bagi Jasmine, melihat wajah Awan adalah luka yang terus terbuka.
Di tengah duka dan tuntutan harta, mampukah Awan menjalankan wasiat kembarannya? Ataukah kebencian di antara mereka justru berubah menjadi benih cinta yang tak seharusnya ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Pagi itu, suasana di ruang tamu kediaman Pramoedya terasa mencekam. Di atas meja marmer, sebuah buket bunga mawar merah yang sangat besar dan indah tergeletak begitu saja. Wanginya menyerbak, namun bagi Awan, aroma itu seperti bau busuk yang mengganggu penciumannya.
Awan berdiri di depan meja itu dengan tangan di saku celana. Matanya tertuju pada kartu kecil yang terselip di antara kelopak bunga.
"Untuk Jasmine yang selalu bersinar. Senang bisa bertemu kembali. Semoga Shaka cepat pulih dari bekas suntikannya ya. - Rendra."
Rahang Awan mengeras. Tanpa pikir panjang, ia menyambar buket mahal itu dan berjalan cepat menuju arah dapur. Dengan gerakan kasar, ia membuka tutup tempat sampah besar di sana dan melempar bunga itu masuk.
"Sampah tetaplah sampah," gumamnya dingin.
"Kak Awan? Apa yang Kakak lakuin?!"
Suara Jasmine yang melengking kaget membuat Awan berbalik. Jasmine berdiri di ambang pintu dapur, wajahnya menunjukkan ketidakpercayaan. Ia melihat sisa mawar yang mencuat dari tempat sampah dan kembali menatap Awan dengan tatapan menuntut.
"Gue cuma bersih-bersih rumah," sahut Awan datar, seolah tindakannya barusan adalah hal paling logis di dunia.
"Bersih-bersih? Itu bunga dari Rendra, Kak! Dia cuma mau perhatian karena kemarin Shaka nangis. Kenapa Kakak buang?!" Jasmine melangkah maju, dadanya naik turun menahan emosi. "Kakak kenapa sih sensi banget? Lagian Rendra itu temen aku... Trus... Kakak juga bukan suami aku kan?"
Kalimat terakhir Jasmine bergema di ruangan itu seperti ledakan bom. Langkah kaki Suster Lastri yang hendak masuk ke dapur langsung terhenti, dan ia segera berbalik arah, tahu bahwa ia tidak boleh ada di sana saat "singa" sedang terluka.
Awan membeku. Sorot matanya yang tajam mendadak menjadi sangat gelap, sedalam palung laut. Kalimat "Kakak bukan suami aku" menghantam egonya lebih keras daripada serangan Celine atau tuntutan paman dan tantenya.
Awan berjalan mendekat ke arah Jasmine. Setiap langkahnya terasa berat dan menekan. Jasmine mencoba bertahan di posisinya, namun aura dominan Awan membuatnya refleks mundur hingga punggungnya membentur lemari dapur.
Awan meletakkan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan kepala Jasmine, mengunci wanita itu di tempatnya. Ia mencondongkan tubuhnya, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Jasmine.
"Lo bener," bisik Awan, suaranya kini tidak lagi meninggi, melainkan rendah dan sangat berbahaya. "Gue bukan suami lo. Gue cuma orang yang nungguin lo operasi sampe pagi. Gue cuma orang yang bersihin muntahan lo pas lo sakit. Gue cuma orang yang bangun jam tiga pagi buat mastiin anak lo nggak kedinginan. Gue bukan siapa-siapa, kan?"
Jasmine menelan ludah. Ia bisa merasakan hembusan napas Awan yang panas di kulit wajahnya. Ia menyesali kalimatnya yang terlalu tajam, namun gengsinya mencegahnya untuk meminta maaf segera.
"T-tapi bukan berarti Kakak bisa ngatur pertemanan aku," balas Jasmine gagap.
"Pertemanan?" Awan tertawa sinis, tawa yang menyakitkan. "Pria mana pun yang ngirim bunga mawar merah setinggi gunung ke janda cantik, itu bukan mau berteman, Jasmine! Dia mau masuk ke hidup lo, dia mau gantiin posisi Hero, dan gue nggak akan biarin itu terjadi!"
"Kenapa? Karena Kakak takut warisan Hero jatuh ke tangan orang lain?!" tantang Jasmine.
Awan melepaskan kuncian tangannya dan memukul pintu lemari di samping kepala Jasmine—BRAK!—membuat Jasmine terpejam karena kaget.
"Persis sama warisan itu! Gue punya uang lebih banyak dari yang bisa lo bayangin!" raung Awan. "Gue sensi karena gue nggak suka ada orang asing masuk ke sini dan pura-pura baik di depan lo! Gue sensi karena gue nggak mau lo dibohongin sama mulut manis dokter itu!"
Awan mundur dua langkah, ia mengusap rambutnya dengan frustrasi. Ia terlihat sangat berantakan, topeng kaku dan judesnya retak sepenuhnya pagi ini.
"Lo bilang gue bukan suami lo... iya, Jasmine. Gue tahu. Setiap gue liat Shaka, gue diingetin kalau dia anaknya Hero. Setiap gue liat wajah gue di cermin, gue diingetin kalau gue cuma kembaran yang tersisa. Tapi kalau lo pikir gue ngelakuin semua ini cuma gara-gara status... lo salah besar."
Awan menatap mata Jasmine yang mulai berkaca-kaca.
"Gue ngelakuin ini karena gue..." Awan menggantung kalimatnya. Ia tidak sanggup mengucapkannya. Egonya masih terlalu tinggi, dan rasa bersalahnya pada Hero masih terlalu besar.
Awan berbalik, ia mengambil kunci mobilnya yang ada di atas meja makan dengan gerakan kasar. "Terserah lo mau temenan sama siapa. Terserah lo mau terima bunga dari siapa pun. Tapi jangan pernah sebut gue 'bukan siapa-siapa' lagi di rumah ini kalau lo masih mau gue hormatin sebagai ibunya Shaka."
Awan melesat pergi, deru mesin mobilnya terdengar sangat kencang meninggalkan halaman rumah, menandakan betapa kacau pikirannya.
Jasmine terduduk di kursi makan, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis. Ia tahu ia sudah keterlaluan. Awan memang bukan suaminya, tapi Awan adalah segalanya bagi mereka sekarang.
Suster Lastri masuk membawa Shaka yang baru bangun. Bayi itu tampak mencari-cari sosok yang biasa menggendongnya setiap pagi. "Yah? Yah?" gumam Shaka sambil menunjuk ke arah pintu depan.
Tangis Jasmine semakin pecah. Shaka merindukan "Ayah"-nya, dan pria itu baru saja ia usir dengan kata-kata yang paling menyakitkan.
Jasmine berjalan menuju tempat sampah, ia mengambil kembali buket bunga mawar itu. Tapi bukan untuk dipajang. Ia membuang bunganya, dan hanya mengambil kartu ucapan dari Rendra. Ia merobek kartu itu menjadi potongan-potongan kecil.
"Maaf, Rendra. Kamu memang teman yang baik, tapi tempat ini bukan untuk kamu," bisik Jasmine.
Malam yang Dingin
Awan tidak pulang hingga larut malam. Jasmine menunggu di ruang tamu, tertidur di sofa dengan selimut tipis. Saat jam menunjukkan pukul satu dini hari, pintu depan terbuka pelan.
Awan masuk dengan langkah gontai. Ia terhenti melihat Jasmine yang tidur di sofa. Bau alkohol samar tercium dari kemejanya—pria itu sepertinya sempat mampir ke bar untuk menenangkan diri.
Awan mendekat, ia berlutut di samping sofa. Ia menatap wajah tidur Jasmine yang tenang. Ia mengulurkan tangannya, mengelus pipi Jasmine dengan sangat lembut—kelembutan yang tidak akan pernah ia tunjukkan jika Jasmine sedang sadar.
"Maafin gue, Jas..." bisik Awan parau. "Gue emang bukan suami lo. Tapi gue terlalu takut buat liat lo pergi sama orang lain. Gue bego, kan? Gue cemburu sama orang yang bahkan nggak punya kesempatan buat miliki lo."
Jasmine sedikit bergerak dalam tidurnya, tanpa sadar ia menggenggam jari Awan yang ada di pipinya. Awan tertegun, namun ia tidak menarik tangannya. Ia membiarkan Jasmine menggenggamnya, seolah-olah dalam kegelapan malam itu, status mereka bukan lagi sekadar ipar dan janda, melainkan dua jiwa yang sedang mencoba saling menyembuhkan.