Aluza, seorang Office girl cantik di Bandara, terjebak dalam kenangan Ivan mantan kekasihnya yang sudah lama meninggal.
Namun di hari pertama Aluza bekerja ia di pertemukan kembali dengan seorang pilot bernama Bara yang wajahnya sangat mirip sekali dengan Ivan
Tapi Bara yang mirip Ivan itu ternyata memiliki kepribadian yang sangat berbeda. Dia kasar, angkuh, dan tidak peduli dengan perasaan orang lain.
Aluza terjebak dalam dilema, apakah dia bisa melupakan Ivan dan jatuh cinta dengan Bara, atau justru Bara akan menjadi racun yang menghancurkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elzaluza2549, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wajah Yang Sama
Aluza mengambil peralatan kebersihan dan menuju ke toilet pilot. dan membuka satu persatu pintu toilet pilot dengan hati-hati. Dan pada saat Aluza hendak membuka pintu toilet yang satunya Aluza terhentak kaget rupanya masih ada seseorang di dalam.
“siapa di sana!"
“Maaf, saya kira tidak ada orang!”Nihil tak ada jawaban dari orang di dalam. pada akhirnya Aluza kembali melanjutkan pekerjaan nya membersihkan toilet yang tidak terlalu kotor baginya.
Bunyi decitan pintu toilet ketiga terbuka yang itu artinya pria yang ada di dalam sana telah selesai, Aluza menongolkan kepala nya saja dari toilet pertama melihat pria yang nampaknya berprofesi sebagai pilot itu terus berjalan membelakangi nya.
Aluza penasaran seperti apa wajahnya tapi mau setampan apapun bagi Aluza tak akan ada yang bisa menandingi tampan nya mendiang kekasihnya Ivan.
Bahkan ketika menyebut nama Ivan kembali entah kenapa perasaan Aluza menjadi aneh nampak di hati berdesir hebat. Aluza tak menghiraukan kan hal itu.
Toilet pertama sudah bersih dan sekarang tinggal toilet terakhir yaitu toilet ketiga, namun saat memasuki toilet ketiga Aluza masih merasakan aroma parfum pria pilot tadi yang jejak wanginya masih bertahan meski telah terhitung 3 menit lamanya.
Aluza tak sengaja menemukan sebuah dompet di dalam toilet ini, sepertinya dompet pilot yang tadi imbuhnya menyakinkan. Namun untuk memastikan siapa pemilik dompet ini pada akhirnya Aluza terpaksa membuka dompet demi mengetahui siapa pemilik dompet ini.
Dan pada ketika dompet di buka kedua mata aluza melebar dan berkaca-kaca. Tubuhnya terasa bergetar hebat bahkan ia tak mampu membuat tubuh nya berdiri lebih lama karena terlalu syok.
Foto yang di dompet ini mirip sekali dengan Ivan.
Aluza merasa seperti disambar petir, tubuhnya lemah dan akhirnya dia jatuh tersungkur terduduk di lantai toilet yang masih basah. Dia memegang dompet itu erat-erat, matanya tidak bisa lepas dari foto yang mirip dengan Ivan.
"Ivan... benarkah kamu...?" Dia terus mengulang-ulang pertanyaan itu, tidak percaya apa yang dia lihat. 😊
“Ivan..benarkah dia masih hidup..”lirihnya di sertai Isak tangis.“Tapi tidak mungkin Ivan jelas sudah tiada”
Bara sang pemilik dompet membuka pintu toilet dan terkejut melihat seorang wanita yang tenga tersungkur dan menangis sambil memegang erat sesuatu yang sedari tadi Ia cari.
“Apa yang kamu lakukan dengan dompet saya itu..!”Hardiknya dengan merampas dompet yang berada di genggaman Aluza.
“I..Ivan....”Lirih Aluza dengan bibir gemeteran. Aluza mencoba berdiri sambil memegangi sisi wastafel.
“Dasar pencuri, akan saya adukan kamu kebagian staff keamanan karena berani mencuri dompet seorang pilot.”Ujar Bara sambil memeriksa dompet nya siapa tau ada sesuatu yang hilang.
“Ivan...hiks hiks hiks aku sangat rindu kamu...”
Reflek Bara menjatuhkan dompet nya kembali di saat wanita yang tidak ia kenal sama sekali memeluk tubuhnya sambil menangis.
“Hey apa yang kamu lakukan...!"Bara terlihat marah sampai-sampai ia mendorong tubuh Aluza untuk melepaskan nya.
Tubuh bagian belakang Aluza terasa sakit karena terbentur sebuah wastafel di belakangnya tapi ia tak merasakan jika tenga kesakitan. tapi matanya tetap tertuju pada Bara.
"Ivan... kamu... kamu benar-benar Ivan..." Dia mengulurkan tangan, mencoba menyentuh wajah Bara, tapi Bara menepis tangan Aluza.“Apa yang kamu bicarakan saya bukan Ivan!”Tegas Bara.
Aluza terlihat seperti tidak percaya, dia tetap mengulurkan tangan, "Ivan... aku Aluza, kamu tidak ingat aku?" Suaranya terdengar putus-putus, penuh harap.
Bara semakin menjauh, ekspresinya berubah.“Dasar wanita gila, tidak waras! sakit kamu! sekali lagi saya tegaskan saya bukan Ivan saya Bara!”
Aluza merasa seperti ditampar, dia menarik tangannya kembali dan menatap Bara dengan mata berkaca-kaca. "Tidak... tidak mungkin... kamu mirip sekali dengan Ivan..." Dia mulai mundur, tubuhnya lemah.“Kamu benar, kamu bukan Ivan hiks hiks hiks”lirih Aluza dengan sendirinya.
“Kalau saja saya tidak mempunyai jadwal penerbangan maka saya akan pastikan kamu mendekam di jeruji" cibir Bara dengan menyungging kan senyum.
Bara memasukkan dompetnya kembali ke saku, lalu mengambil napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Dia keluar dari toilet karena dia harus pergi ke pesawat sekarang juga.
...****************...