NovelToon NovelToon
Gelang Giok Pembawa Rezeki

Gelang Giok Pembawa Rezeki

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Romantis / Ruang Ajaib
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

"Lin Suyin mewarisi gelang giok dari neneknya—sebuah portal menuju dimensi ajaib tempat waktu berjalan 10x lebih cepat dan semua tanaman tumbuh sempurna. Tapi keajaiban ini membawa bahaya: ada yang memburu gelang tersebut. Bersama Xiao Zhen, CEO misterius dengan rahasia masa lalu, Suyin harus melindungi ruang ajaibnya sambil mengungkap konspirasi kuno yang menghubungkan keluarganya dengan dunia kultivator."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: Kehidupan Baru yang Sibuk

Dua minggu berlalu dengan sangat cepat—atau lebih tepatnya, sangat sibuk.

Suyin jatuh ke dalam rutinitas baru yang padat tapi memuaskan. Setiap pagi jam lima, dia bangun untuk sholat subuh, lalu langsung masuk ke ruang dimensi untuk empat sampai lima jam—yang di luar hanya sekitar dua puluh menit karena perbedaan waktu lima belas kali lipat.

Di dalam ruang dimensi, dia menanam, merawat, memanen, mengemas—semuanya dengan sistem yang sudah dia susun rapi dalam sebuah spreadsheet digital yang dia buat di tablet.

Rumah Kaca Budidaya jadi andalan utamanya. Sistem hidroponik memungkinkan dia menanam sayuran daun seperti sawi, kangkung, selada, dan bayam dengan pertumbuhan yang sangat cepat—hanya tujuh hari dari semai sampai panen untuk sayuran cepat tumbuh, dibanding sepuluh sampai dua belas hari di tanah biasa.

Area outdoor dia gunakan untuk tanaman yang butuh waktu lebih lama—tomat, paprika, terong, timun, wortel. Dengan rotasi yang teratur, dia bisa panen setiap hari dalam jumlah yang stabil.

Yang paling membuat Suyin takjub adalah kualitas produknya yang konsisten sempurna. Tidak ada satu pun sayuran yang cacat, tidak ada yang diserang hama, semuanya tumbuh dengan ukuran optimal dan rasa yang luar biasa enak.

"Ini karena kombinasi dari tanah ruang dimensi yang kaya mineral, air mata air yang murni, dan kontrol iklim yang tepat," jelas Pohon Kehidupan saat Suyin bertanya. "Ruang dimensi ini menciptakan kondisi pertumbuhan yang ideal—bahkan lebih baik dari alam luar yang sempurna sekalipun."

Setiap minggu, Suyin berhasil memenuhi semua pesanan—lima ratus kilogram untuk klien besar, ditambah seratus kilogram untuk Bu Lina, Mas Arief, dan beberapa pelanggan kecil lain yang terus bertambah dari mulut ke mulut.

Response dari customer luar biasa positif.

Fresh & Fine melaporkan bahwa sayuran dari Lin's Organic Garden jadi produk paling laris di section organik mereka—bahkan outselling brand organik internasional yang sudah establish. Ibu Kartika menelepon di minggu kedua untuk increase order menjadi tiga ratus kilogram per minggu dan expand distribusi ke semua cabang mereka.

Restoran-restoran yang jadi klien juga sangat puas. Chef-chef mereka bilang sayuran Lin's Organic Garden punya rasa yang unik—lebih kaya, lebih fresh, bahkan setelah disimpan beberapa hari masih tetap crisp.

"Rahasianya apa, sih?" tanya Chef Rudi dari restoran 'Rempah Nusantara' saat Suyin antar pesanan langsung suatu hari. "Aku udah puluhan tahun masak, tapi belum pernah nemu sayuran senikmat ini. Apa kamu pakai pupuk khusus?"

"Kompos alami buatan sendiri dengan resep turun-temurun keluarga," jawab Suyin dengan senyum—setengah benar, setengah diplomatic answer. "Dan tanah yang sangat dijaga kualitasnya."

"Well, apapun itu—jangan berhenti. Customer restoran aku complain kalau ada menu yang gak pakai sayuran dari kamu," Chef Rudi tertawa.

Selain produksi, Suyin juga mulai belajar lebih dalam tentang bisnis dari Xiao Zhen. Setiap malam setelah makan malam, mereka duduk di ruang kerja Xiao Zhen untuk diskusi—tentang pricing strategy, marketing, expansion plan, financial management.

"Kamu harus mulai pisahkan rekening pribadi dengan rekening bisnis," saran Xiao Zhen satu malam sambil menunjukkan spreadsheet financial. "Sekarang pendapatanmu sudah cukup besar—sekitar lima puluh juta per minggu dari semua klien. Itu dua ratus juta per bulan. Kamu perlu struktur keuangan yang proper."

"Dua ratus juta..." Suyin masih tidak bisa believe angka itu. Tiga minggu lalu dia struggling dengan gaji lima juta dari kantor arsitektur, masih harus freelance desain untuk tambahan income. Sekarang bisnis sayurannya saja sudah generate empat puluh kali lipat lebih banyak.

"Dan ini baru awal," lanjut Xiao Zhen. "Kalau kita expand ke ekspor seperti yang kita rencanakan, revenue bisa double atau bahkan triple."

"Aku masih terasa seperti mimpi," akui Suyin sambil menatap angka-angka di layar laptop. "Dari ibu rumah tangga yang baru diceraikan, jadi... ini."

Xiao Zhen meraih tangan Suyin, menggenggamnya dengan lembut. "Ini bukan mimpi. Ini hasil kerja kerasmu. Kamu yang bangun jam lima setiap hari. Kamu yang merawat setiap tanaman dengan teliti. Kamu yang belajar sistem bisnis dengan cepat. Kamu yang deserve semua kesuksesan ini."

Suyin tersenyum, mata sedikit berkaca-kaca—bukan sedih, tapi terharu. "Terima kasih. Untuk percaya padaku."

"Selalu." Xiao Zhen mencium kening Suyin dengan lembut.

Hubungan mereka dalam dua minggu ini berkembang dengan natural. Tidak ada drama besar atau declaration romantic yang melodramatic—hanya kedekatan yang tumbuh setiap hari.

Xiao Zhen jadi lebih terbuka dengan emosinya. Dia tersenyum lebih sering, tertawa lebih mudah, bahkan sesekali bercanda—hal yang membuat Nyonya Qin berkomentar "Ini pertama kalinya dalam delapan tahun aku dengar Tuan Muda tertawa terbahak-bahak. Terima kasih, Nona Suyin."

Suyin sendiri merasa lebih percaya diri. Trauma dari perceraiannya dengan mantan tunangan tiga tahun lalu perlahan memudar—digantikan dengan kepercayaan bahwa dia layak dicintai dan dihargai.

Mereka belum officially mengumumkan hubungan mereka ke publik—tapi semua orang di inner circle sudah tahu. Tim Klan Xiao yang sesekali datang untuk check-in selalu senyum-senyum melihat interaksi mereka berdua.

"Kalian sweet banget," komentar Liu Peng saat dia datang berkunjung membawa oleh-oleh dari Bali. "Aku sampai iri lihatnya."

"Jangan iri, cari sendiri," sahut Suyin sambil tertawa.

"Gampang kamu bilang! Gak semua orang seberuntung kalian yang ketemu soul mate!" Liu Peng protes dengan dramatik.

Di sisi kultivasi, Suyin juga terus berlatih—walau tidak seintensif minggu-minggu pertama karena fokusnya sekarang lebih ke bisnis.

Tapi Xiao Zhen tidak membiarkan dia skip latihan sepenuhnya. Setiap Sabtu malam, mereka melakukan joint cultivation bersama di taman belakang—sesi yang bukan hanya melatih Qi tapi juga memperdalam koneksi spiritual mereka.

"Resonansi kita makin kuat," komentar Xiao Zhen setelah sesi cultivation Minggu malam ini. "Aku bisa merasakan energimu bahkan saat kamu di ruang dimensi dan aku di kantor."

"Aku juga merasakannya," akui Suyin. "Kadang-kadang kalau kamu sedang stress di kantor, aku tiba-tiba merasa dada sesak—lalu aku sadari itu karena aku sensing emosimu."

"Koneksi seperti ini sangat langka—bahkan di antara kultivator yang sudah menikah puluhan tahun." Xiao Zhen menatap Suyin dengan tatapan yang dalam. "Kita special, Suyin."

"Aku tahu." Suyin tersenyum, menyentuh pipi Xiao Zhen dengan lembut. "Dan aku bersyukur untuk itu."

Jumat sore di minggu ketiga sejak bisnis dimulai, Suyin sedang mengemas pesanan untuk Fresh & Fine saat ponselnya berdering.

Nomor tidak dikenal.

Biasanya dia tidak angkat nomor yang tidak dikenal—tapi entah kenapa kali ini dia angkat.

"Halo?"

"Suyin? Ini aku, Meifeng."

Suyin terkejut. Sejak reuni keluarga sebulan lalu, mereka belum kontak sama sekali.

"Kak Meifeng. Ada apa?" tanya Suyin dengan hati-hati—tidak dingin tapi juga belum sepenuhnya hangat.

"Aku... aku ingin ketemu. Kalau kamu bersedia." Suara Meifeng terdengar nervous. "Aku tahu kamu pasti masih marah dan aku tidak deserve untuk minta waktu kamu. Tapi aku harap kamu bisa kasih aku kesempatan untuk bicara—untuk properly minta maaf dan... dan mencoba memperbaiki hubungan kita."

Suyin terdiam, mempertimbangkan.

Bagian dari dirinya masih kesal dengan Meifeng—kebencian dan kecemburuan Meifeng hampir membuat Suyin celaka. Tapi bagian lain dari dirinya ingat kata-kata nenek: keluarga itu segalanya, bahkan saat mereka menyakitimu, mereka tetap keluarga.

"Oke," ucap Suyin akhirnya. "Kita bisa ketemu. Kapan?"

"Besok? Sabtu siang? Di kafe yang sama seperti dulu—Kafe Aroma?"

"Baiklah. Jam dua belas?"

"Jam dua belas. Terima kasih, Suyin. Terima kasih banyak." Suara Meifeng bergetar sedikit—seperti menahan tangis.

Setelah menutup telepon, Suyin duduk sebentar, memproses perasaannya.

Xiao Zhen masuk ke ruangan dengan segelas jus jeruk—dia selalu tahu kapan Suyin butuh sesuatu yang refreshing.

"Siapa yang telepon? Kamu terlihat thoughtful," tanya Xiao Zhen sambil menyerahkan gelas.

"Meifeng. Dia minta ketemu besok untuk bicara." Suyin minum jusnya. "Aku setuju."

"Kamu yakin?" Xiao Zhen duduk di sebelah Suyin, nada suaranya concern tapi tidak judgmental. "Aku akan support keputusanmu apapun itu—tapi aku hanya ingin pastikan kamu tidak memaksa dirimu untuk memaafkan kalau belum siap."

"Aku tidak tahu apakah aku sudah siap memaafkan sepenuhnya," akui Suyin. "Tapi aku pikir aku harus dengar apa yang dia mau bilang. Dia keluarga—walau keluarga yang complicated. Dan nenek pasti mau aku coba perbaiki hubungan dengan dia."

Xiao Zhen mengangguk. "Oke. Tapi aku akan antar kamu dan tunggu di dekat kafe—just in case."

"Apa kamu pikir Meifeng akan mencoba sesuatu yang bahaya lagi?"

"Tidak. Tapi aku tidak akan mengambil risiko dengan keselamatanmu." Xiao Zhen menatap Suyin dengan serius. "Bukan karena aku tidak percaya pada Meifeng—tapi karena aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri kalau ada yang terjadi padamu dan aku tidak ada di sana."

Suyin terharu dengan protectiveness Xiao Zhen. "Oke. Terima kasih."

Sabtu jam dua belas, Suyin tiba di Kafe Aroma dengan Xiao Zhen.

"Aku akan duduk di kedai kopi seberang jalan," ucap Xiao Zhen sambil menunjuk sebuah Starbucks. "Kalau kamu butuh apa-apa, kirim message atau panggil. Aku akan ke sini dalam satu menit."

"Aku akan baik-baik saja," jamin Suyin sambil menyentuh tangan Xiao Zhen. "Tapi terima kasih sudah worry."

Dia masuk ke Kafe Aroma. Meifeng sudah duduk di meja pojok—wajahnya terlihat lebih kurus dari terakhir kali Suyin lihat, mata sedikit sembab seperti kurang tidur.

"Suyin," sapa Meifeng sambil berdiri—tapi tidak berani mendekati, menunggu reaksi Suyin dulu.

"Kak Meifeng." Suyin duduk di kursi di seberang Meifeng. "Bagaimana kabarmu?"

"Aku... aku tidak terlalu baik, jujur." Meifeng duduk kembali dengan canggung. "Sejak kejadian di reuni, aku tidak bisa tidur dengan tenang. Terus memikirkan betapa buruknya aku pada kamu. Betapa aku hampir membuat kamu celaka karena kebencian yang tidak seharusnya ada."

Suyin diam, menunggu Meifeng melanjutkan.

"Aku sudah ke psikolog," lanjut Meifeng dengan suara pelan. "Ternyata aku punya issue dengan insecurity yang sudah ada sejak kecil—selalu merasa tidak cukup baik, selalu membandingkan diri dengan orang lain, selalu iri kalau orang lain dapat sesuatu yang aku tidak dapat. Psikolog bilang itu rooted dari bagaimana aku dibesarkan—dengan expectation yang sangat tinggi dari orangtua tapi tidak pernah merasa cukup appreciated."

Suyin mulai merasa sedikit simpati. Dia tidak pernah tahu Meifeng struggle dengan itu.

"Itu bukan excuse untuk apa yang aku lakukan padamu," cepat-cepat tambah Meifeng. "Apapun issue yang aku punya, aku seharusnya tidak pernah mengkhianatimu, tidak pernah memberitahu Organisasi Bayangan tentang gelang giokmu, tidak pernah membenci kamu padahal kamu tidak pernah berbuat salah padaku." Air mata mulai jatuh di pipi Meifeng. "Aku minta maaf, Suyin. Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak expect kamu memaafkan aku sekarang—atau bahkan ever. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku sangat menyesal dan aku sedang berusaha jadi orang yang lebih baik."

Suyin menarik napas panjang, merasakan berbagai emosi yang kompleks di dadanya.

Marah? Masih ada, walau tidak sebesar dulu.

Kesal? Sedikit.

Simpati? Mulai tumbuh.

"Kak," ucap Suyin akhirnya, suaranya lebih lembut dari yang dia kira. "Aku tidak akan bilang bahwa aku sudah memaafkanmu sepenuhnya. Itu butuh waktu. Apa yang Kakak lakukan sangat menyakiti aku dan hampir membuat aku celaka."

Meifeng mengangguk sambil menangis diam-diam.

"Tapi..." Suyin melanjutkan. "...aku appreciate usaha Kakak untuk berubah. Aku appreciate kejujuran Kakak hari ini. Dan aku mau kita coba perbaiki hubungan kita—perlahan, step by step. Tidak dengan ekspektasi bahwa kita langsung jadi dekat seperti dulu, tapi dengan harapan bahwa suatu hari nanti, kita bisa."

Meifeng menatap Suyin dengan mata yang penuh harap. "Kamu... kamu mau kasih aku kesempatan?"

"Aku kasih kesempatan. Karena kita keluarga. Dan karena nenek pasti mau kita rukun." Suyin tersenyum kecil. "Tapi kalau Kakak khianati aku lagi—tidak ada kesempatan kedua."

"Tidak akan! Aku janji tidak akan!" Meifeng menggenggam tangan Suyin di atas meja. "Terima kasih, Suyin. Terima kasih banyak. Aku akan buktikan bahwa aku layak dapat kesempatan ini."

Mereka mengobrol hampir satu jam—tentang banyak hal. Meifeng bercerita tentang therapy-nya, tentang bagaimana dia sekarang mencoba jadi ibu yang lebih present untuk anak-anaknya, tentang relationship-nya dengan suami yang mulai membaik sejak dia jujur tentang issue-nya.

Suyin bercerita sedikit tentang bisnisnya—tidak terlalu detail, tapi cukup untuk Meifeng tahu bahwa Suyin doing well.

"Aku bangga padamu," ucap Meifeng tulus. "Kamu jadi wanita yang sangat kuat dan sukses. Nenek pasti sangat bangga."

"Terima kasih, Kak."

Saat mereka berpisah, Meifeng memeluk Suyin—pelukan yang awkward karena mereka belum fully comfortable satu sama lain, tapi pelukan yang genuine.

"Boleh aku contact kamu lagi? Untuk ngobrol sesekali?" tanya Meifeng.

"Boleh. Tapi give me space kalau aku belum siap respond cepat, ya."

"Aku mengerti. Terima kasih, Suyin."

Suyin keluar dari kafe dengan perasaan yang lebih ringan dari yang dia expect. Memaafkan tidak berarti melupakan—tapi memberi kesempatan untuk healing.

Xiao Zhen sudah menunggu di mobil, wajahnya concern.

"Bagaimana?" tanyanya begitu Suyin masuk.

"Baik. Surprisingly baik." Suyin cerita tentang pembicaraan mereka, tentang apology Meifeng, tentang keputusannya untuk give second chance.

"Kamu punya hati yang besar," ucap Xiao Zhen sambil menyentuh pipi Suyin dengan lembut. "Tidak semua orang bisa memaafkan seperti itu."

"Aku belajar dari nenek. Dan aku belajar dari kamu—tentang bagaimana kamu eventually bisa move on dari rasa sakit kehilangan Xiu Lan dan membuka hatimu lagi." Suyin tersenyum. "Kalau kamu bisa melakukan itu, aku juga bisa memaafkan Meifeng."

Xiao Zhen menarik Suyin ke dalam pelukan. "Aku mencintaimu, Suyin."

"Aku juga mencintaimu."

Mereka duduk dalam pelukan untuk beberapa saat, menikmati ketenangan dan kehangatan.

"Ayo pulang," ucap Xiao Zhen akhirnya. "Nyonya Qin masak banyak untuk makan siang—dia bilang kamu perlu makan lebih banyak karena terlalu kurus."

Suyin tertawa. "Aku tidak kurus! Aku normal!"

"Buat Nyonya Qin, semua orang terlalu kurus." Xiao Zhen tertawa juga.

Mereka pulang dengan hati yang ringan dan senyum di wajah.

Hidup tidak sempurna—masih ada challenge, masih ada orang dari masa lalu yang harus dihadapi, masih ada Organisasi Bayangan di luar sana yang belum sepenuhnya hilang.

Tapi untuk saat ini, untuk hari ini—everything was good.

Lebih dari good.

Sempurna dalam ketidaksempurnaannya.

Dan Suyin tidak akan menukar hidupnya yang sekarang dengan apapun.

1
Datu Zahra
kelas restoran dan kafe kemang butuh sayuran 20kg per minggu, enggak mnalar amat. sepi banget dong itu tempat. kalo perhari masuk akal
Mak Gemoy
semangat🔛🔥🔛🔥
Mak Gemoy
kok ibu rumah tangga yg diceraikan? bukannya baru tunangan trus gagal nikah?
Andira Rahmawati
lanjuttt thorrr💪💪💪
Wahyu🐊: Aku Buat Novel baru Mampir yah Judulnya, Kumpulan Carpen Romantis First Date
total 1 replies
Andira Rahmawati
nemu cerita bagus nihhh paling suka baca novel yg fantasi apalagi yg ada ruang ajaibnya👍👍👍
Diah Susanti
diatas dibilang 'putri adik nenek' yang menurutku maknanya 'bibinya suyin'. tapi disini dia menyebutkan dirinya 'cucunya juga'🤔🤔🤔🤔
Wahyu🐊: Anda Terlalu Teliti😅🙏 Nanti Aku Revisi Kalau Udah Tamat Masih Panjang Perjalanan nya
total 1 replies
Wahyu🐊
Nanti aku Revisi oke
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!