Sinopsis:
Liang Chen adalah pengembara yang memilih hidup sederhana dan menjauh dari dunia persilatan. Ia tidak mengejar kekuatan, nama besar, atau kekuasaan—hanya ingin hidup tanpa meninggalkan jejak. Namun sebuah pertemuan dengan seorang pria sekarat menyeretnya pada sebuah warisan berbahaya: sebuah kitab beladiri yang tidak mengajarkan kemenangan, melainkan cara mengakhiri konflik secepat mungkin.
Sejak itu, hidup Liang Chen berubah. Orang-orang mulai memperhatikannya, mengujinya, dan menyebarkan cerita tentangnya. Ia tidak lagi dinilai sebagai orang biasa, melainkan sebagai gangguan terhadap keseimbangan. Setiap keputusan kecil memicu reaksi berantai, setiap pertarungan melahirkan musuh baru yang tidak selalu datang dengan pedang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ORANG YANG TIDAK BISA DI SELAMATKAN
Xu Fan tidak benar-benar tidur malam itu.
Ia berbaring dengan mata setengah terbuka, menatap balok kayu gelap di langit-langit pondok seolah sedang menghitung retakan yang tidak terlihat. Napasnya datang dalam potongan pendek, kadang tersendat, lalu kembali mengalir seperti mesin yang lupa cara bekerja namun masih memaksa diri bertahan.
Di sudut ruangan, api kecil berderak pelan.
Liang Chen duduk bersandar pada dinding yang berlawanan. Ranselnya tetap di punggung. Pisau berada dalam jangkauan tangan. Ia tidak memejamkan mata.
Ia tidak berjaga karena takut serangan.
Ia berjaga karena ia tahu malam seperti ini jarang memberi kesempatan kedua.
“Kau tidak perlu berjaga,” suara Xu Fan terdengar lirih, hampir tenggelam dalam desah kayu yang mendingin. “Aku tidak akan ke mana-mana.”
Liang Chen mengalihkan pandangan kepadanya. “Aku tahu.”
“Kalau begitu kenapa?”
Pertanyaan itu sederhana. Namun jawabannya tidak.
Liang Chen memandang api beberapa saat sebelum berbicara. “Karena tidak semua orang harus menghadapi akhir sendirian.”
Xu Fan tersenyum samar. Senyum itu bukan rasa terima kasih. Lebih seperti seseorang yang akhirnya mendengar sesuatu yang tak pernah ia harapkan.
“Itu pilihan yang buruk,” katanya pelan. “Orang seperti kita… terbiasa sendirian.”
“Terbiasa bukan berarti seharusnya,” jawab Liang Chen.
Keheningan turun di antara mereka, kali ini lebih berat dari sebelumnya.
Api menyusut menjadi bara. Udara semakin dingin, menyusup dari celah dinding kayu dan merayap ke tulang. Liang Chen menambahkan dua potong kayu, lalu kembali duduk. Tangannya sempat menyentuh ransel—tempat buku itu berada—sebelum berhenti.
Ia belum siap membukanya.
Xu Fan berbicara lagi ketika malam mencapai titik paling sunyi.
“Aku tidak mencurinya.”
Liang Chen mengangkat kepala.
“Kitab itu,” lanjut Xu Fan. “Aku menemukannya di antara mayat-mayat yang masih hangat. Tidak ada tanda perkelahian besar. Hanya luka bersih. Terlalu bersih.”
Liang Chen tidak perlu penjelasan lebih lanjut. Ia pernah melihat kematian yang lahir dari kekacauan—dan ia pernah melihat kematian yang direncanakan dengan tenang. Yang kedua selalu lebih berbahaya.
“Kau tahu itu bukan milikmu,” kata Liang Chen.
Xu Fan tersenyum pahit. “Aku tahu. Tapi aku ingin tahu kenapa seseorang rela membunuh begitu banyak orang demi benda sekecil itu.”
“Dan sekarang kau tahu?”
Xu Fan menggeleng perlahan. “Sekarang aku tahu bahwa penasaran bisa lebih tajam dari pedang.”
Batuk tiba-tiba merenggut kalimatnya. Tubuhnya melengkung ke depan, darah tipis muncul di sudut bibir. Liang Chen sudah bergerak sebelum suara batuk itu selesai. Ia menopang bahu Xu Fan, menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
Xu Fan terengah beberapa saat sebelum napasnya kembali stabil.
“Itu tidak menyenangkan,” gumamnya.
“Berhenti bicara,” kata Liang Chen pelan. “Simpan tenagamu.”
Xu Fan menurut. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, sorot matanya kehilangan ketegangan. Bukan karena menyerah. Karena sadar waktu yang tersisa tidak lagi bisa diperpanjang dengan kemauan.
“Liang Chen.”
“Ya.”
“Kalau aku mati malam ini…”
Liang Chen hendak memotongnya, tapi Xu Fan mengangkat tangan lemah.
“Biarkan aku menyelesaikan kalimatku sekali saja.”
Liang Chen diam.
“Kalau aku mati… jangan kubur aku terlalu dalam.”
Permintaan itu begitu sederhana hingga terasa aneh.
“Kenapa?” tanya Liang Chen.
Xu Fan menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis. “Tanah keras. Kau akan lelah. Dan aku tidak ingin kau tinggal terlalu lama di satu tempat karena aku.”
Ada kejujuran polos dalam kalimat itu yang membuat dada Liang Chen terasa berat.
“Baik,” katanya akhirnya.
Xu Fan mengangguk, puas.
“Dan satu hal lagi.”
Liang Chen menunggu.
“Jangan balas dendam.”
Tatapan Liang Chen mengeras sedikit. “Aku tidak punya alasan—”
“Kau punya kemampuan,” potong Xu Fan lemah. “Itu lebih berbahaya.”
Keheningan jatuh lagi, kali ini tidak canggung.
Xu Fan menatap langit-langit kayu untuk terakhir kalinya. “Aku memilihmu bukan karena kau kuat,” katanya pelan. “Tapi karena kau tahu kapan berhenti.”
Liang Chen tidak tahu apakah itu pujian atau peringatan.
Menjelang fajar, napas Xu Fan mulai memanjang dan semakin jarang. Liang Chen duduk lebih dekat tanpa sadar. Tangannya masih menopang bahu pria itu.
Tidak ada kata-kata terakhir yang indah.
Tidak ada pengakuan dramatis.
Hanya satu hembusan napas panjang… lalu hening.
Liang Chen menunggu beberapa detik, seolah tubuh di hadapannya mungkin berubah pikiran dan menarik udara sekali lagi.
Namun dunia tidak bekerja seperti itu.
Ia perlahan meletakkan tubuh Xu Fan di lantai kayu, menutup mata yang sudah tidak lagi fokus pada apa pun. Tangannya tetap berada di sana lebih lama dari yang diperlukan.
Tidak ada air mata.
Tidak ada amarah.
Hanya ruang kosong yang tiba-tiba terasa terlalu luas.
Fajar menyusup melalui celah atap ketika Liang Chen mulai menggali tanah di belakang pondok. Tanahnya keras, dingin, dan menolak. Ia menggunakan pisau untuk melonggarkan permukaan, lalu kedua tangannya untuk memperdalamnya.
Ia tidak menggali terlalu dalam.
Sesuai permintaan.
Setiap gerakan terasa berat bukan karena kelelahan, tetapi karena kesadaran bahwa tidak ada saksi lain atas akhir hidup Xu Fan.
Ketika semuanya selesai, Liang Chen berdiri memandangi gundukan tanah sederhana itu.
“Aku tidak akan membalas dendam,” katanya pelan. “Tapi aku juga tidak akan membiarkan mereka mendapatkan apa yang kau lindungi.”
Angin pagi bergerak lembut, menggeser daun-daun kering di sekitar pondok.
Liang Chen kembali ke dalam.
Ia duduk bersandar pada dinding, ransel di pangkuan. Untuk pertama kalinya sejak menerima buku itu, ia mengeluarkannya.
Kain pembungkusnya terasa lebih dingin dari udara sekitar.
Ia membukanya perlahan.
Tidak ada simbol emas. Tidak ada tulisan mencolok di sampulnya. Hanya lembaran-lembaran tipis dengan tinta gelap yang ditulis rapi, hampir seperti laporan, bukan kitab rahasia.
Ia membaca baris pertama.
Ilmu ini tidak lahir untuk kehormatan.
Baris berikutnya.
Ia lahir untuk memastikan seseorang tetap berdiri ketika semua orang lain sudah jatuh.
Liang Chen membaca perlahan, tanpa tergesa. Tidak ada jurus indah. Tidak ada janji kekuatan luar biasa. Yang ada hanyalah prinsip sederhana—cara bergerak, cara memutuskan, cara bertahan hidup ketika pilihan terbaik sudah hilang.
Ini bukan kitab untuk pahlawan.
Ini kitab untuk orang yang menolak mati.
Ketika matahari benar-benar terbit, Liang Chen menutupnya.
Ia mengerti sekarang mengapa orang-orang membunuh demi benda ini.
Bukan karena ia memberi kekuatan.
Tetapi karena ia menghapus keraguan.
Ia menyimpannya kembali ke dalam ransel dan berdiri.
Pondok itu terasa lebih kecil dari sebelumnya. Atau mungkin ia yang berubah.
Sebelum pergi, ia menoleh sekali ke arah belakang pondok—ke tempat tanah masih baru dibalik.
“Jangan terlalu dalam,” gumamnya pelan.
Lalu ia melangkah keluar.
Hutan pagi tampak sama seperti kemarin. Cahaya menembus dedaunan. Angin bergerak pelan. Tidak ada tanda bahwa satu kehidupan baru saja berakhir.
Namun Liang Chen tahu sesuatu telah bergeser.
Ia tidak lagi sekadar pengembara yang menghindari masalah.
Ia membawa sesuatu yang orang lain bersedia membunuh untuk mendapatkannya.
Dan entah ia menginginkannya atau tidak, sejak fajar itu, langkahnya tidak lagi sepenuhnya miliknya sendiri.
Di kejauhan, burung-burung tiba-tiba terbang serempak dari satu arah.
Liang Chen berhenti sejenak.
Bukan karena takut.
Karena ia mulai memahami bahwa jalur yang terlalu tenang jarang dibiarkan begitu lama.
Ia menyesuaikan ranselnya dan melangkah ke arah yang berlawanan dari suara itu.
Tanpa menoleh.
Karena orang yang membawa sesuatu seperti ini tidak diberi kemewahan untuk ragu terlalu lama.