NovelToon NovelToon
Sendiri Di Tengah Ramai

Sendiri Di Tengah Ramai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: frj_nyt

Kalau kamu pikir pertemanan itu selalu hangat, penuh tawa, dan saling ngerti, kamu salah. Kadang, yang paling dekat sama kita justru bikin capek. Kadang, kita tersenyum di tengah keramaian tapi tetap merasa sendiri.

Aku—Naya—sering berada di posisi itu. Selalu ada, selalu bergerak, tapi jarang disebut. Aku bantu semua orang, tapi yang diingat cuma orang lain. Aku ketawa supaya terlihat aman, padahal di dalam, capeknya nggak ketulungan.

Novel ini bukan tentang keajaiban atau penyelesaian dramatis. Ini cerita tentang hari-hari yang panjang, keputusan kecil yang bikin greget, dan hubungan yang tetap ada tapi nggak lagi sama. Tentang bagaimana rasanya ikut bergerak di tengah orang-orang yang nggak selalu peduli, dan belajar bertahan sambil menahan rasa bingung dan lelah.

Kalau kamu pernah merasa tersisih meski berada di tengah keramaian, atau tersenyum padahal capek banget, cerita ini mungkin bakal terasa familiar.

Selamat membaca. Jangan kaget kalau....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 Pos Satpam

Sore itu aku keluar kamar lebih lama dari biasanya. Bukan karena nggak ada kerjaan, tapi karena kepalaku lagi penuh. Badan capek, tapi nggak pengen rebahan. Kalau rebahan, pikiran malah muter ke mana-mana. Aku jalan tanpa tujuan jelas. Lewat lapangan, lewat aula, lewat jalur kecil ke arah gerbang. Di ujung sana ada pos satpam. Biasanya rame, tempat orang ngerokok, ngobrol, atau sekadar numpang duduk. Aku ke sana karena itu tempat paling netral. Bukan kamar, bukan aula, bukan tempat kumpul mereka.

Di pos satpam, ada beberapa orang. Duduk melingkar. Ada yang sambil main HP, ada yang ngerokok. Aku berhenti sebentar di depan pos. Niatnya mau nyapa, terus duduk sebentar. “Assalamualaikum,” kataku. Beberapa nengok. Ada yang cuma angkat alis, ada yang lanjut ngelihat HP. Nggak ada yang jawab langsung. Satu orang jawab pelan, hampir nggak kedengaran.

Aku berdiri beberapa detik. Nunggu ada yang geser atau nawarin tempat duduk. Bangku panjang masih ada sisa. Tapi nggak ada yang gerak. Aku duduk sendiri di ujung. Suasananya aneh. Bukan sepi, tapi kayak aku nggak ada di situ. Mereka ngobrol lanjut, topiknya ngalir tanpa berhenti. Ketawa kecil, komentar sambil lalu. Aku dengerin. “Soalnya kalau diajak muter, lama,” kata salah satu.

“Iya, kelamaan mikir,” sahut yang lain. Aku tahu mereka nggak nyebut nama. Tapi kepalaku langsung panas. Kalimatnya mirip. Terlalu mirip sama yang sering aku denger akhir-akhir ini. Aku diem. Tangan di paha. Napas aku jaga supaya tetap normal. Aku nggak mau salah paham. Tapi juga capek pura-pura nggak dengar. Beberapa menit berlalu. Aku masih duduk. Nggak ada yang nanya aku kenapa ke sini. Nggak ada yang ngajak ngomong. Seolah aku cuma bangku tambahan. Aku berdiri. “Naya,” ada yang manggil. Aku nengok. “Iya?”

“Lu mau apa ke sini?” Pertanyaannya terdengar biasa. Tapi nadanya datar. Bukan nada nyapa. “Nggak. Cuma duduk aja,” jawabku. “Oh.” Itu aja. Nggak ada lanjutan. Aku ngangguk kecil, lalu jalan pergi. Langkahku agak cepat. Aku ngerasa bodoh. Datang ke tempat yang jelas-jelas bukan ruang aman lagi. Aku kira pos satpam masih sama kayak dulu. Ternyata nggak. Aku berhenti sebentar di dekat pohon. Nunduk, buang napas panjang. Ada rasa greget yang naik pelan-pelan. Bukan marah yang meledak, tapi kesel yang ditahan.

Aku mikir, salahku apa sih? Aku ngerjain tugas. Aku nggak ninggalin. Aku nggak lempar tanggung jawab. Tapi kenapa sekarang rasanya aku yang paling nggak dianggap? Aku balik ke arah kamar. Di lorong, aku ketemu Tara. “Lu ke mana?” tanyanya. “Jalan,” jawabku singkat. Tara ngelihat wajahku agak lama. “Lu kenapa?”

Aku pengen jawab jujur. Tapi capek jelasin. Jadi aku cuma bilang, “Capek.” Tara nggak maksa. Dia cuma bilang, “Kalau mau ngobrol, gue ada.” Aku masuk kamar. Duduk di kasur. Sepatu aku lepas, aku tendang ke bawah. Punggungku jatuh ke kasur. Mataku ngeliat langit-langit. Obrolan di pos satpam keulang lagi di kepala. Kalimat-kalimat kecil, nada ketawa, cara mereka ngomong. Aku ngerasa kayak orang yang nggak diundang tapi tetap datang.

Malam makin turun. Beberapa anak balik ke kamar sambil ribut. Aku tetap diem. HP-ku bunyi. Notifikasi grup. Aku buka. Ada pesan bercanda. Ada stiker. Ada yang bahas besok pulang jam berapa. Aku baca tanpa ikut nimbrung. Aku sadar, aku masih di dalam lingkaran itu. Namaku masih ada di grup. Tapi rasanya jaraknya udah beda. Aku ngetik satu pesan, terus hapus lagi. Aku nggak tahu mau nulis apa. Mau protes? Capek. Mau tanya? Takut dianggap lebay. Mau diam? Ternyata juga sakit. Akhirnya aku taruh HP. Aku tarik selimut sampai dada.

Malam itu aku tidur nggak nyenyak. Kebangun beberapa kali. Setiap bangun, perasaanku sama: berat. Besoknya aku bangun dengan mata sembab. Bukan karena nangis, tapi kurang tidur. Aku paksa bangun, mandi, siapin diri. Aku tetap keluar kamar, tetap ikut kegiatan. Aku tetap jalanin peran aku. Tapi ada yang berubah.

Aku nggak lagi nyari tempat duduk di mana-mana. Aku milih duduk di pinggir. Aku nggak lagi nimbrung obrolan yang nggak perlu. Aku jadi lebih hemat energi.

Siang hari, aku lewat pos satpam lagi. Dari jauh aku lihat mereka duduk. Ketawa. Suasananya kayak biasa. Aku lewat tanpa nengok. Aku nggak marah. Aku cuma mulai ngerti. Kadang, kita nggak diusir. Kita cuma pelan-pelan dibikin ngerasa nggak punya tempat. Dan hari itu, di pos satpam, aku sadar satu hal: diam itu bukan berarti aman. Kadang, diam cuma bikin kita makin jauh, tanpa ada yang sadar.

1
Zanahhan226
jangan terlalu dipaksa, kasian tubuhmu nnti lama" jdi sakit..
km tuh perfeksionis, smpe maunya ditangani sendiri. padahal tubuh udah ngode klo capek banget. istirahat dulu lah..
@fjr_nfs
makasih yaaa... kamu jugaa...
Zanahhan226
kamu merasa semuanya harus sempurna, tapi juga ogah ribet. mirip aku, pen ada di setiap detail spya gk ada yg kelewatan. tapi lama" emg kerasa capeknya. bukan krna kerjaannya, tp krna dianggap nggak ngaruh.
Zanahhan226
dulu juga ijut pramuka, tpi bukan siapa" dan bukan apa"..
hanya anggota biasa..
🙂🙂🙂
Zanahhan226
aku baca ini karna agak relate sama judulnya, entah ceritanya nanti ada yg relate juga atau enggak..
semoga authornya sehat selalu dan tetap semangat, ya..
Zanahhan226
tulisannya lebih rapi dari novel yg kubaca seblumnya..
semangat trs utk berkarya, yah..
Zanahhan226
aku tim datang mepet pokoknya..
🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!