Bagas adalah remaja yang baru saja meletakkan toganya. Ia membawa beban berat di pundak: impian untuk mengangkat derajat orang tuanya yang hidup pas-pasan. Namun, dunia kerja tidak semanis janji-janji di brosur sekolah. Bagas harus berhadapan dengan HRD yang minta pengalaman kerja "minimal 5 tahun" untuk posisi pemula, hingga kenyataan pahit bahwa "surat sakti" dari orang dalam lebih kuat dari nilai raport-nya.
Perjalanannya adalah roller coaster emosi. Dari tempat kerja pertama yang toxic abis hingga gajinya habis cuma buat bayar parkir dan makan siang, sampai pekerjaan dengan lingkungan malaikat tapi gaji "sedekah". Puncaknya, ia harus bertahan di bawah tekanan bos yang emosinya lebih labil daripada harga cabai di pasar. Ini adalah cerita tentang jatuh, bangun, lari, dan akhirnya menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penghianatan Di Ruang Vip
Sorot lampu kamera dan pengamanan ketat dari Pasukan Pengaman Presiden kini mengepung rumah Bagas. Dalam semalam, Bagas bukan lagi sekadar eksekutif logistik, melainkan aset nasional paling berharga. Pemerintah bergerak cepat; purwarupa Cor les Electromagnetic Generator tersebut dipindahkan ke instalasi militer yang sangat rahasia untuk pengembangan lebih lanjut.
Bagas diundang ke sebuah pertemuan tertutup di Istana Negara. Namun, karena jadwal kepresidenan yang padat, ia terlebih dahulu diarahkan ke sebuah ruang tunggu VIP untuk bertemu dengan Menteri Riset dan Inovasi, Bapak Arman Setiadi.
"Bagas, Anda adalah pahlawan bangsa. Teknologi ayah Anda akan membuat Indonesia menjadi pemimpin energi dunia," ujar Arman sambil menyodorkan sebuah dokumen kerja sama.
Bagas membaca dokumen tersebut dengan teliti. Insting auditnya yang tajam segera menangkap sesuatu yang ganjil. Di sana tertulis bahwa hak produksi massal mesin tersebut akan diberikan kepada sebuah perusahaan konsorsium bernama "Nusantara Power Tech".
"Maaf, Pak Menteri, saya belum pernah mendengar nama perusahaan ini. Siapa di balik konsorsium ini?" tanya Bagas curiga.
Arman tersenyum tipis, jenis senyum yang membuat bulu kuduk Bagas merinding. "Itu adalah gabungan beberapa pengusaha nasional. Kita butuh mereka untuk pendanaan cepat. Anda tidak perlu khawatir soal teknis, cukup tanda tangani ini, dan royalti untuk keluarga Anda akan mengalir selamanya."
Bagas terdiam. Ia menggunakan ponselnya untuk melakukan pencarian cepat melalui jaringan informannya di Dubai. Hasilnya mengejutkan: 60% saham Nusantara Power Tech ternyata dimiliki oleh perusahaan cangkang di Panama yang terafiliasi dengan... Nexus Group.
Bagas merasa mual. Pengkhianatan ini datang dari orang yang memegang mandat negara. Arman Setiadi ternyata sudah dibeli oleh konsorsium global untuk memastikan teknologi ini tetap dalam kendali mereka, meskipun dengan kedok "nasionalisasi".
"Saya tidak bisa menandatangani ini, Pak Menteri," ujar Bagas sambil meletakkan pena. "Ini bukan nasionalisasi. Ini adalah penyerahan kedaulatan energi kita kepada pihak asing yang dulu mencoba membunuh saya di Perancis."
Wajah Arman berubah drastis. Ruang VIP yang tadinya terasa hangat mendadak mencekam. "Bagas, jangan sok idealis. Kamu pikir kamu bisa menjalankan ini sendirian? Jika kamu tidak setuju, pemerintah bisa saja mengambil paksa teknologi ini dengan alasan kepentingan negara. Kamu akan kehilangan segalanya, termasuk keamanan keluargamu.". Bagas berdiri. Ia merasa seperti kembali ke momen saat ia ditindas oleh Pak Mulyono di ruko dulu, atau saat diancam Darwin. Namun sekarang, ia punya "perisai" yang lebih kuat.
"Silakan coba, Pak. Tapi perlu Bapak tahu, purwarupa yang Bapak bawa ke laboratorium militer tadi adalah versi yang dikunci. Hanya saya dan Bapak saya yang punya algoritma untuk menyeimbangkan medan magnetnya. Tanpa kode itu, mesin tersebut hanyalah sebongkah besi tua yang akan meledak jika dipaksa berputar di atas 3000 RPM," gertak Bagas. Sebenarnya Bagas berbohong, tapi ia tahu orang seperti Arman tidak paham teknis secara mendalam.
Bagas keluar dari ruangan itu dengan langkah cepat. Ia tahu ia harus segera bertindak. Ia menghubungi Tiara, yang kini bekerja di jaringan media internasional, dan memintanya menyiapkan sebuah siaran berita eksklusif tentang "Upaya Penjualan Aset Negara kepada Nexus Group oleh Oknum Menteri".
Namun, saat Bagas baru saja sampai di parkiran, beberapa pria berpakaian preman mencegatnya. "Mas Bagas, ikut kami dulu. Ada perintah untuk pemeriksaan tambahan."
Bagas tahu ini adalah penculikan terselubung. Ia segera mengaktifkan sinyal darurat di jam tangannya yang terhubung langsung ke tim keamanan Mr. Khan di Dubai dan Pak Baron di Jakarta.
Pertempuran intelijen pun dimulai. Bagas dibawa ke sebuah rumah aman di pinggiran Bogor. Di sana, ia disekap tanpa akses komunikasi. Namun, para penculik itu lupa satu hal: Bagas adalah seorang ahli logistik. Ia mengamati pola pengiriman makanan dan jadwal pergantian penjaga.
Di hari kedua penyekapan, Bagas berhasil meretas sistem keamanan rumah tersebut menggunakan alat komunikasi sederhana yang ia rakit dari baterai radio dan kabel tembaga pelajaran dari Bapak tentang arus lemah. Ia berhasil mengirimkan titik koordinatnya.
Hanya dalam hitungan jam, tim penyelamat yang dipimpin oleh Pak Baron yang menggunakan koneksi militernya yang masih setia menyerbu lokasi tersebut. Bagas berhasil dibebaskan tepat sebelum ia dipindahkan ke lokasi yang lebih jauh.
Skandal pengkhianatan menteri ini meledak di media. Tiara berhasil menyebarkan bukti-bukti dokumen yang ditemukan Bagas. Rakyat marah besar. Demonstrasi besar-besaran menuntut pengunduran diri Arman Setiadi pecah di berbagai kota.
Presiden akhirnya turun tangan, memecat Arman secara tidak hormat, dan memberikan mandat penuh kepada Bagas untuk memimpin Badan Energi Nasional secara independen.
Bagas kembali ke rumah dengan luka lecet di tangan, tapi semangatnya tetap utuh. Ia melihat Bapak sedang duduk di kursi kayu, menunggunya dengan cemas. "Gas, kamu nggak apa-apa?" tanya Bapak sambil memegang pundaknya.
"Bagas baik, Pak. Cuma sedikit 'logistiknya' yang terhambat," canda Bagas untuk mencairkan suasana.
"Gas," ujar Bapak serius. "Mesin itu sudah membawa banyak kekacauan. Apa kamu yakin kita harus lanjut?"
Bagas menatap mata Bapak. "Kita sudah sampai di sini, Pak. Kalau kita berhenti sekarang, pengkhianatan mereka akan menang. Kita harus buktikan bahwa kejujuran anak SMK dan kejeniusan tukang las bisa menyelamatkan bangsa ini.
" Bagas menyadari, tantangan ke depan bukan lagi soal mesin, tapi soal membangun sistem yang tidak bisa dikorupsi. Ia memutuskan untuk menggunakan teknologi Blockchain untuk mencatat setiap penggunaan energi dari mesin tersebut, sehingga tidak ada satu rupiah pun yang bisa digelapkan oleh pejabat mana pun di masa depan.