Helena kira setelah ia memilih menikah dengan seorang duda beranak 3 dan juga menjadi seorang mualaf kehidupannya akan membaik, namun ia salah, karena setelah menikah pun keluarga dan saudaranya tidak pernah berhenti mengusik kehidupannya belum lagi kedua anak tirinya tidak pernah menyukai keberadaannya bahkan Helena tidak pernah mendengar kata 'mama' keluar dari bibir mereka.
Dan suatu ketika, ia mengetahui niat Farhan menikahi dirinya, bahkan alasan mengapa tidak ada satupun keluarga besar Farhan menyukak dirinya. Hatinya benar-benar terluka, cinta yang tulus ia berikan kepada Farhan ternyata hanya dianggap sampah yang menjijikan olehnya.
Helena bertekad, ia akan membalas semua orang yang melukai hatinya agar mendapatkan hal yang setimpal dengan dirinya, karena mulai saat itu, ia akan berpura-pura menjadi lemah dan memaklumi banyak hal demi bisa membalas semua rasa sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Farhan datang tepat waktu
Farhan menepis kasar tangan yang hendak menarik istrinya pergi.
Farrel, kakak ipar Helena menatap tajam Farhan yang baru saja menepis kasar tangannya, kedua tangannya terkepal erat melihat siapa yang ada fi hadapannya sekarang.
"Saya sudah memperingatimu untuk tidak lagi mendekati istri saya, kamu tidak dengar atau tidak mengerti bahasa manusia?" tanya Farhan menatap tajam Farrel.
Keduanya bertatapan cukup tajam, rahang Farhan mengeras melihat bagaimana beraninya Farrel menyentuh tangan istrinya.
"Apa hakmu melarangku, Helena kabur dari rumah dan kau menikahinya tanpa persetujuan kami, kami keluarganya dan kau dengan seenak jidatnya membawa Helena pergi dan tinggal di rumahmu," balas Farrel tidak mau kalah.
Gavriel, kakak paling tua Helena menatap Farrel sama tajamnya, dalam hati ia membatin karena Farhan berani sekali menghalangi mereka untuk membawa Helena kembali ke rumah.
"Tidak ada keluarga yang menyiksa anggota keluarganya sendiri, tidak ada keluarga yang ingin memperkosa anggota keluarganya sendiri, kalian bukan keluarga, tidak ada keluarga seperti kalian,"
Semua pengunjung di restoran itu langsung menonton perdebatan antara Farrel dan Farrel, beberapa pegawai toko mencoba untuk memisahkan mereka tapi Farrel dengan kasarnya memukul staff laki-laki di sana sampai pingsan, dan Helena sendiri sibuk mencari tempat bersembunyi, karena tidak mungkin ia terus menampakkan diri di saat dirinya yang menjadi target utama Farrel dan Gavriel.
Kedua tangannya pun sibuk menutupi telinga Nael agar tidak mendengar kata-kata yang tidak pantas di dengar oleh anak kecil.
"Tidak apa-apa oke, Nael aman bersama mama," bisik Helena menenangkan Nael yang mulai menangis karena merasa tidak nyaman dengan situasi di dalam sana.
"Helena langsung keluar dari dalam restoran tanpa sepengetahuan ketiga orang yang sedang berdebat, ia sedikit berlari kecil ke arah gedung kantor Farhan yang berdiri di sebelah restoran, Helena semakin panik begitu matanya tidak sengaja melihat mobil keluarganya yang terparkir di depan restoran, bahkan jendela kacanya terbuka lebar dan memperlihatkan Janetta, yang sedang mengawasi dari dalam mobil.
Begitu Janetta turun dari mobil, Helena langsung berlari kencang ke arah satpam yang berjaga di depan gedung kantor, dan masuk ke dalam lobby.
Helena yakin jika Janetta akan tertahan di depan pos satpam karena ia yang bukan karyawan di kantor serta tidak memiliki kartu Tanda pengenal sebagai staff, beruntungnya Helena dulu sangat sering ke kantor Farhan, dan hampir staff mengenali dirinya.
"Mama, ini ada apa?" tanya Nael menatap Helena dengan matanya yang sudah merah.
Helena tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Kita sedang bermain petak umpet dengan papa, makannya mama berlari ke sini, Nael diam oke, nanti kita ketahuan papa!"
Nael mengangguk patuh, walaupun sedikit takut karena ia sempat melihat wajah panik mamanya, Nael akhirnya hanya diam dengan wajah di tempelkan di leher Helena yang tertutup kerudung.
***
"Tau apa kamu tentang keluarga saya?" tanya Farrel marah.
Farhan diam, karena ia sudah sadar jika Helena tidak ada di dalam restoran lagi, hatinya sedikit khawatir tapi lega juga, itu artinya Helena berhasil melarikan diri tanpa diketahui oleh Farrel dan Gavriel.
"Helena tidak ada di sini, jangan berdebat lagi, kita harus membawa Helena sebelum dibawa oleh ibu kandungnya," beritahu Gavriel yang suaranya masih dapat di dengar oleh Farhan.
Begitu Farrel dan Gavriel hendak melangkah kelaur restoran, seorang staff laki-laki menghentikan langkah mereka.
"Maaf, kalian harus ganti rugi dengan kerusakan yang kalian lakukan tadi, kalian juga harus membayar kerugian karena membuat beberapa pengunjung di sini tidak nyaman dan langsung pergi tanpa membayar pesanan mereka," ucapnya tanpa takut sedikitpun, walaupun pria itu sempat menyaksikan temannya yang terkena pukulan karena berusaha membawa Farrel keluar dari dalam restoran.
Farrel berdecak sebal, dengan kasar, Farrel mendorong pria itu agar menyingkir dari hadapannya, tapi ternyata pria itu cukup kuat menahan dorongan Farrel.
"Apa maumu?" tanya Farrel akhirnya.
"Bayar semua kerugian yang baru saja anda perbuat di sini!"
Farrel mengeluarkan dompetnya dan memberikan semua yang yang ada di dalam dompetnya kepada pria yang sudah menganggu langkahnya itu.
"Sudah.Menyingkirlah dari hadapanku!" sengak Farrel membiat pria itu langsung menyingkirkan begitu ia sudah mendapatkan uang kerugian dari Farrel.
Farhan hanya diam saja memperhatikan kepergian Farrel juga Gavriel, ia yakin mereka tidak akan menemukan Helena, karena Helena sudah pasti menyembunyikan dirinya di kantor, yang tentu saja keluarga Helena tidak akan ada yang bisa masuk, terlebih wajah Farrel sudah terblacklist di daftar seseorang yang boleh masuk ke dalam gedung perusahaannya. Itu semua karena Farrel yang pernah nekat masuk ke dalam gedung demi mengejar Elnara yang saat itu sedang berada di kantor.
Begitu Ferrel dan Gavriel tidak lagi terlihat oleh matanya, Farhan mengeluarkan sejumlah uang dari dalam dompetnya dan memberikannya kepada kasir, sebagian untuk membayar makanan Helena yang belum sempat Helena bayar karena keburu di cegat oleh Farrel, dan sebagiannya lagi untuk membayar kerugian restoran karena kejadian tadi yang membuat pengunjung pergi tanpa membayar pesanan mereka.
"Sekali lagi saya minta maaf atas kekacauan yang terjadi tadi, saya permisi,"
Farhan langsung keluar dari dalam restoran melupakan satu hal yang nanti akan kembali memicu sebuah pertengkaran.
"Oh jadi kau yang memungut si sampah itu,"
Farhan mengerutkan dahinya melihat seorang wanita yang baru saja menghalangi langkahnya, melihat bagaimana pakaian yang di pakai wanita itu membuat Farhan sedikit memundurkan tubuhnya, menjaga jarak dari seorang wanita yang pakaiannya sangat terbuka.
"Maaf, saya buru-buru, jika kamu sedang mencari seorang laki-laki untuk kamu jadikan sugar daddy, silakan cari di tempat lain, di sini kamu tidak akan menemukannya," beritahu Farhan yang justru malah membuat wanita itu marah.
"Kau kira aku apa hah? Lancang sekali kau mengatakan aku wanita murahan," teriaknya marah.
Farhan tersenyum sangat kecil, "jika anda tidak merasa seperti itu ya sudah, tolong jangan halangi jalan saya,"
Tidak terima dengan ucapan Farhan, wanita itu menampar pipi Farhan kencang, menimbulkan suara yang begitu nyaring.
"Kurang ajar sekali kau, berani mengusir kita dari sini, kau sudah membuatku marah dengan mulutmu yang sangat menjijikan itu, kau pikir kau siapa berani berbicara seperti itu kepadaku?" dengan sombongnya wanita itu mendongak menantang Farhan.
Rahang Farhan kembali mengeras, ternyata wanita di hadapannya itu sangat menguji kesabarannya, maka tidak segan-segan Farhan mendorong paksa wanita itu sampai tersingkirkan dari hadapannya, dengan begitu, Farhan bisa kembali berjalan ke arah kantornya.
"Jaga sikapmu, atau Helena akan terkena dampaknya," teriak wanita itu.
Mendengar itu, Farhan mengepalkan kedua tangannya, rasanya sangat marah begitu tahu jika Helena masih diincar karena kecantikan dan juga tubuhnya, dan yang membuat Farhan jijik adalah, yang mengincar Helena bukanlah orang lain, tapi keluarganya sendiri.