NovelToon NovelToon
Mau Tapi Malu

Mau Tapi Malu

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Nikahmuda / Dunia Masa Depan / Keluarga / Romansa / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rifqi Ardiasyah

Zahra tumbuh sebagai pribadi yang tenang dan tertutup.
Ia tidak terluka, hanya terbiasa menjaga jarak dan memilih diam.
Schevenko berbeda.
Di balik sikap dingin dan wibawanya, ada masa lalu yang membentuknya menjadi pria yang tidak mudah percaya, tidak mudah berharap.
Pertemuan mereka tidak pernah dibungkus dengan janji manis. Tidak ada cinta yang datang tiba-tiba, hanya kebersamaan yang pelan, percakapan seperlunya, dan perhatian yang tak terucapkan.
Zahra tidak datang untuk menyembuhkan.
Ia hanya hadir—dan entah bagaimana, kehadiran itu cukup.
Hingga akhirnya, dua orang yang sama-sama dingin, dengan alasan yang berbeda, ditakdirkan untuk saling menggenggam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Layar dan Kenyataan

Malam itu sunyi, terlalu sunyi untuk pikiranku yang tak berhenti bergerak.

Aku duduk di atas ranjang, punggung bersandar pada kepala tempat tidur, sementara lampu kamar menyala redup. Ponsel di tanganku terasa asing—padahal baru sore tadi aku memilikinya. Rasanya seperti memegang kunci menuju dunia yang sebelumnya tertutup rapat dariku.

Nama itu kembali terlintas di kepalaku.

Schevenko.

Aku menghela napas pelan, lalu membuka layar ponsel. Jemariku sempat ragu beberapa detik sebelum akhirnya mengetikkan namanya di kolom pencarian. Huruf demi huruf muncul, dan tanpa perlu menunggu lama, hasil pencarian langsung memenuhi layar.

Ada banyak foto.

Ada banyak artikel.

Ada terlalu banyak informasi.

Wajah yang muncul di layar itu sama persis dengan pria yang sore tadi duduk di sampingku—rapi, tenang, dan berwibawa. Namun ada satu perbedaan besar yang langsung terasa.

Ia terlihat… dingin.

Bukan dingin yang dibuat-buat.

Melainkan dingin yang seperti sudah menyatu dengan dirinya.

Aku membuka salah satu artikel.

Judulnya singkat, formal, dan tanpa emosi. Namun isinya membuat dadaku perlahan terasa berat.

Aku membaca perlahan, takut melewatkan satu detail pun.

Tentang masa kecilnya.

Tentang kepergiannya dari negara asal.

Tentang tragedi yang tak dijelaskan secara rinci, tapi cukup untuk membuat siapa pun mengerti bahwa hidupnya tidak pernah berjalan biasa.

Aku berhenti saat membaca satu bagian.

“Seluruh anggota keluarga inti Schevenko meninggal dunia.”

Aku terdiam.

Mataku menatap kalimat itu lama, terlalu lama. Seolah jika aku menatapnya cukup lama, kalimat itu akan berubah. Namun tidak. Tulisan itu tetap di sana, dingin dan tak peduli.

Perlahan aku mulai mengerti.

Foto-foto lama yang tadi kulihat—yang sempat membuatku merasa aneh—kini terasa berbeda. Senyum kecil di wajah anak laki-laki itu bukanlah senyum bahagia, melainkan senyum yang belum mengerti betapa kejam dunia bisa menjadi.

Aku menelan ludah.

Tak ada satu pun artikel yang menyebutkan detail kejadian itu. Tidak ada kronologi jelas. Tidak ada penjelasan panjang. Seolah dunia sepakat untuk tidak mengorek luka yang terlalu dalam.

Dan mungkin… Schevenko juga memilih demikian.

Aku menggulir layar ke bawah.

Informasi lain muncul.

Tertulis bahwa ia telah tinggal di Indonesia selama sebelas tahun.

Sebelas tahun.

Aku menghitung cepat dalam pikiranku. Itu berarti ia datang ke negara ini di usia yang sangat muda. Sendirian. Tanpa keluarga. Tanpa siapa pun yang bisa ia sandari.

Dadaku terasa semakin sesak.

Lalu mataku tertuju pada bagian yang membuatku benar-benar terkejut.

Riwayat studinya.

Aku membaca ulang, memastikan mataku tidak salah.

Ia menyelesaikan pendidikan menengah dalam waktu yang jauh lebih singkat dari seharusnya. Beberapa jenjang bahkan diselesaikannya dengan jalur percepatan. Nilai-nilainya hampir selalu sempurna, seolah ia tidak memberi ruang untuk kegagalan.

Bukan hanya itu.

Pendidikan tingginya pun sama.

Ia menyelesaikan studi yang biasanya memakan waktu bertahun-tahun hanya dalam hitungan waktu yang jauh lebih singkat. Beberapa sumber bahkan menyebutkan bahwa ia mengambil lebih dari satu bidang sekaligus.

Aku tertegun.

“Bagaimana mungkin…?” gumamku pelan.

Aku membayangkan hidupku sendiri—hari-hari yang terasa melelahkan, tugas-tugas yang sering membuatku mengeluh, dan kebingungan akan masa depan. Lalu aku membandingkannya dengan seseorang yang kehilangan segalanya, namun justru berlari lebih cepat dari siapa pun.

Ia tidak berhenti.

Ia tidak runtuh.

Ia tidak memilih menghilang.

Ia memilih maju.

Aku teringat perkataannya di pantai.

“Ketahuilah, aku sekarang benar-benar berbeda dengan diriku sebelumnya.”

Saat itu aku tidak benar-benar mengerti. Kini aku mulai paham.

Orang seperti Schevenko tidak berubah karena keinginan.

Ia berubah karena keadaan memaksanya.

Aku kembali membuka foto-fotonya. Di hampir semua media, ekspresinya sama: datar, dingin, menjaga jarak. Tak ada senyum berlebihan. Tak ada ekspresi ramah.

Sangat berbeda dengan pria yang membelikan ponsel untukku tanpa ragu.

Berbeda dengan pria yang berbicara lembut di hadapan orang tuaku.

Berbeda dengan pria yang menatap laut seolah sedang berbicara dengan kenangan.

“Jadi yang mana dirimu sebenarnya…?” bisikku.

Aku meletakkan ponsel di atas dada, menatap langit-langit kamar. Pikiranku penuh, terlalu penuh untuk malam yang seharusnya tenang.

Untuk pertama kalinya, aku merasa tidak hanya penasaran—aku merasa tersentuh. Ada rasa bersalah kecil yang muncul karena pertanyaan bodohku tentang keluarganya sore tadi.

Kini aku tahu, diamnya bukanlah penolakan.

Itu adalah luka.

Aku kembali mengambil ponselku. Jemariku bergerak tanpa sadar membuka ulang profilnya. Tidak ada informasi pribadi. Tidak ada unggahan emosional. Semuanya rapi, terkontrol, dan jauh.

Seperti benteng.

Dan entah kenapa, aku merasa pria yang kutemui hari ini adalah satu-satunya celah kecil di benteng itu—celah yang bahkan mungkin tidak ia sadari telah ia buka.

Aku mematikan layar ponsel.

Malam semakin larut.

Namun pikiranku masih terjaga, dipenuhi satu kesadaran yang membuat jantungku berdetak lebih cepat dari sebelumnya—

Schevenko bukan hanya sosok yang hadir dalam kenyataan sore tadi.

Ia adalah masa lalu yang berat, layar yang dingin, dan misteri yang belum selesai.

Dan tanpa kusadari…

aku telah terlanjur ingin memahami semuanya.

1
Tati Hartati
semangat terus kakak
checangel_
Nah, itu baru benar ... menjauh untuk menjaga 😇
checangel_: semangat/Determined/
total 2 replies
checangel_
Bagus itu/Good/
yanzzzdck
👍
Amiera Syaqilla
hello author🤗
Tati Hartati
lanjut terus kak
Reenuctee 🐈‍⬛🐱
/Good//Good/
Tati Hartati
mantap kak... lanjut terus kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!