"Ketika seorang anak ingin dicintai tapi selalu dijadikan alasan"
Kanaya ditinggalkan ibunya sejak bayi berumur 14 bulan dan tumbuh bersama ayah yang selalu menyalahkannya atas setiap kegagalan hidup.
Saat ayahnya menikah lagi, kasih sayang yang dulu sempat ia rasakan perlahan hilang.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang berubah menjadi sumber luka.
Kanaya hanya ingin diakui sebagai anak, bukan beban.
Namun semakin ia berusaha, semakin ia disalahkan.
Sampai akhirnya ia hanya bisa bertanya dalam diam—
Ayah, apa salahku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
YATIM PASIF
Lantai rumah sakit yang dingin dan bau karbol yang tajam menyambut langkah Kanaya yang gontai. Ia berlari menyusuri lorong panjang hingga menemukan bangsal tempat ibunya dirawat. Saat pintu bergeser, pemandangan di dalamnya membuat jantung Kanaya seolah diremas.
Maya terbaring lemah dengan selang oksigen di hidungnya. Tidak ada teriakan. Tidak ada makian melengking. Maya hanya menatap Kanaya dengan tatapan yang sangat sendu, sebuah tatapan yang belum pernah Kanaya lihat sebelumnya—penuh luka, kerapuhan, dan rasa bersalah yang dalam. Keheningan itu justru lebih menyakitkan daripada seribu amarah.
Namun, di sudut ruangan, sosok laki-laki yang bertahun-tahun menghilang itu berdiri. Ayahnya. Laki-laki itu berdehem, mencoba mengambil wibawa yang sebenarnya sudah lama tanggal dari pundaknya.
"Kamu itu, Naya... sudah tahu Ibumu sakit-sakitan, malah bikin ulah. Anak perempuan tidak pantas lari dari rumah begitu. Kurang apa Ibumu mengurusmu sampai jadi sarjana? Kamu harusnya tahu diri, jangan egois hanya memikirkan kesenanganmu sendiri," ucap Ayahnya dengan nada menggurui, seolah ia adalah pahlawan yang baru saja turun dari langit untuk menertibkan keadaan.
Darah Kanaya mendidih. Rasa lelah, sedih, dan hancur yang ia rasakan sepanjang perjalanan di kapal tadi meledak menjadi amarah yang dingin. Ia menoleh, menatap laki-laki itu dengan mata yang merah namun tajam.
"Ayah... sebelum ngomong gitu, Ayah mikir apa nggak?" tanya Kanaya dengan suara yang bergetar hebat.
Laki-laki itu tertegun, tidak menyangka anak perempuan yang biasanya diam itu akan melawan. "Maksudmu apa? Ayah ini sedang menasihatimu!"
"Nasihat?" Kanaya tertawa getir, tawa yang terdengar sangat menyakitkan. "Ayah pernah lihat seberapa berjuangnya aku? Ayah pernah ada di sini saat Ibu mengamuk dan aku harus jadi tamengnya? Ayah pernah peduli saat aku tidak bisa tidur karena takut Ibu melakukan hal nekat?"
Kanaya melangkah maju, memojokkan Ayahnya dengan kenyataan yang selama ini disembunyikan di bawah karpet.
Kanaya melangkah maju, memangkas jarak antara dirinya dan laki-laki yang hanya meminjamkan nama di akte kelahirannya itu. Amarahnya tidak lagi meluap seperti api, melainkan dingin dan mematikan seperti es.
"Ayah pernah nggak peduli sama sekali," desis Kanaya, suaranya tajam merobek keheningan bangsal. "Tadi Ayah bilang apa? Ayah hidup susah? Ayah pikir aku hidup mewah di bawah amukan Ibu setiap hari? Ayah bahkan tidak pernah kirim uang, Ayah tidak pernah urusin aku dari kecil. Kita ini makan dari keringat Ibu yang mengajar pagi sampai sore, bukan dari belas kasihan Ayah!"
Laki-laki itu ternganga, mencoba membuka mulut untuk membela diri, namun Kanaya tidak memberinya celah.
"Jangan pakai alasan 'hidup susah' untuk membenarkan lepas tanggung jawab. Semua orang hidupnya susah, Yah! Tapi Ibu tetap di sini, sementara Ayah lari! Aku ini yatim pasif. Ayahku ada, secara biologis Ayah masih bernapas, tapi di hidupku, Ayah itu seperti sudah mati. Keberadaan Ayah hanya ada saat ingin menyalahkan aku, tapi absen saat aku butuh perlindungan!"
Ayah Kanaya mundur selangkah, wajahnya memerah antara malu dan murka, namun ia tak berkutik di bawah tatapan mata anaknya yang sudah kehilangan rasa takut. Di atas ranjang, Maya terisak tanpa suara. Bahunya berguncang pelan, menyadari bahwa kebencian yang selama ini ia tanamkan pada Kanaya terhadap ayahnya, ternyata tumbuh menjadi kekuatan yang kini balik menghantam mereka semua.
"Sekarang, silakan Ayah keluar," tunjuk Kanaya ke arah pintu dengan tangan yang lurus dan kokoh. "Jangan menasihatiku soal harga diri atau pengabdian, karena Ayah tidak punya keduanya. Ibu masuk rumah sakit karena aku pergi, tapi dia hancur sejak lama karena Ayah pergi. Jadi, jangan merasa jadi pahlawan di sini."
Setelah laki-laki itu melangkah keluar dengan kepala tertunduk, pintu kamar bergeser menutup. Sunyi kembali menyergap, hanya menyisakan bunyi detak monitor jantung yang monoton.
Kanaya berlutut di samping ranjang ibunya. Ia mengambil tangan Maya yang kurus dan pucat, lalu menciumnya lama. Rasa pahit, marah, dan kasih sayang yang terdistorsi bercampur aduk di dadanya.
"Naya sudah di sini, Bu," bisik Kanaya pelan, air matanya akhirnya jatuh tepat di punggung tangan ibunya. "Naya tidak akan pergi ke mana-mana. Tapi Naya mohon... jangan paksa Naya untuk jadi seperti Ibu. Biarkan Naya tinggal karena Naya sayang, bukan karena Naya takut."
Maya membuka matanya yang sembab, menatap anak perempuannya dengan pandangan yang tak lagi menghakimi. Dalam rapuhnya raga itu, ada sebuah pengakuan yang tak terucap bahwa selama ini ia telah salah menjadikan Kanaya sebagai tawanan dari rasa sakit hatinya pada laki-laki tadi.
Suasana di lorong rumah sakit semakin mencekam. Kanaya tidak melepaskan tatapan tajamnya, meski pipinya terasa berdenyut akibat tamparan tadi. Kebenaran yang selama ini tertutup rapat kini terkuak dengan cara yang paling menjijikkan di depan ruang ICU.
"Tante bilang aku nggak tahu diri?" Kanaya mengulang kalimat itu dengan nada meremehkan. "Ayahku itu dicuci otaknya sama Tante. Dia kehilangan arah, nggak sengaja ketemu Tante, dan sekarang merasa Tante adalah segalanya sampai dia lupa siapa dirinya sendiri."
"Kakak sopan dong sama Ibu!" sela adik tirinya, seorang remaja perempuan yang selama ini hidup nyaman dari sisa-sisa keringat yang seharusnya menjadi hak Kanaya.
Kanaya beralih menatap bocah itu dengan pandangan rendah. "Heh, bocah ingusan. Liat kelakuan orang tua kamu itu. Bahkan dia bukan ibuku. Menghargaiku saja nggak, buat apa aku sopan?"
"Naya! Beraninya kamu..." Ibu tirinya hendak berteriak lagi, namun Kanaya selangkah lebih maju.
"Satu hal yang harus Tante ingat," potong Kanaya, suaranya kini merendah namun penuh ancaman. "Ibu yang sedang terbaring lemah di dalam sana itu bukan 'mantan istri' yang bisa Tante remehkan. Dia itu kakak kandung suamimu. Ibu Maya itu kakak perempuan ayahku!"
Rahang Kanaya mengeras saat mengingat betapa rumitnya pengkhianatan ini. Ayahnya bukan hanya meninggalkan anak dan istrinya, tapi dia mengkhianati kakak kandungnya sendiri—Maya—yang selama ini banting tulang menyekolahkannya hingga dia bisa menjadi "orang". Maya yang PNS, Maya yang guru, yang uang gajinya dulu habis untuk menghidupi adiknya yang tak tahu untung itu, kini justru dibalas dengan kehancuran.
"Ayahku itu adik yang nggak tahu malu," lanjut Kanaya, matanya berkaca-kaca karena amarah. "Ibu Maya sudah berkorban seumur hidupnya supaya adiknya bisa hidup layak, tapi apa balasannya? Ayah malah lari dengan Tante, menelantarkanku, dan sekarang Tante datang ke sini untuk menampar anak dari wanita yang sudah menghidupi suami Tante dulu?"
Ibu tirinya tertegun. Fakta bahwa Maya adalah kakak kandung suaminya—orang yang secara moral seharusnya dihormati sebagai orang tua—membuat posisinya mendadak terlihat sangat hina di lorong rumah sakit itu.
"Pergi," usir Kanaya dingin. "Bawa 'adik' Ibu Maya yang pengecut itu keluar dari sini. Jangan pernah tunjukkan wajah kalian lagi di depan Ibu. Dia sudah cukup hancur karena pengkhianatan adiknya sendiri. Dia nggak butuh gangguan dari wanita yang sudah merusak tatanan keluarga kami."
Adik tirinya tertunduk, sementara ibu tirinya hanya bisa mendesis kesal namun tak berani lagi melayangkan tangan. Mereka mundur perlahan, meninggalkan Kanaya yang berdiri tegak di depan pintu kamar rawat.
Kanaya menyandarkan punggungnya ke dinding setelah mereka pergi. Ia menyentuh pipinya yang bengkak, lalu menatap pintu ruang rawat ibunya. Di dalam sana, Maya—wanita yang keras, posesif, dan terluka itu—ternyata adalah korban dari pengkhianatan darah dagingnya sendiri. Kanaya menyadari bahwa amarah ibunya selama ini bukan hanya soal cinta yang hilang, tapi soal pengabdian seorang kakak yang dibalas dengan air tuba oleh adiknya sendiri.