Rajendra Baskara, putra sulung keluarga konglomerat, dikhianati oleh adik angkatnya dan istrinya sendiri demi warisan keluarga. Setelah dibunuh, ia terbangun kembali di usia 20 tahun—sebelum pernikahan dan sebelum kehancuran hidupnya. Dengan ingatan masa depan, kecerdasan, dan pengalaman pahit, Rajendra memilih memutus hubungan keluarga dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, sambil menyiapkan balas dendam yang perlahan, menyakitkan, dan tak terhindarkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon asep sigma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SIDANG PERTAMA
Dua minggu berlalu cepat.
Rajendra hampir tidak sadar waktu berjalan—hari-harinya penuh dengan meeting, coding review bersama Arief, diskusi konten dengan Dina, koordinasi logistik dengan Bambang.
LokalMart mulai berbentuk.
Platform web sudah jalan—masih beta, masih banyak bug, tapi bisa diakses. Catalog produk sudah ada template-nya. Shopping cart berfungsi. Payment gateway masih manual—transfer bank dan COD—tapi sistem tracking pengiriman sudah mulai dibangun.
Dina sudah publish lima artikel di blog. Facebook page punya tiga ratus follower—kebanyakan teman-teman mereka dan keluarga, tapi tetap awal yang bagus.
Bambang sudah finalisasi rute pengiriman untuk area Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi. Dua truk tuanya diperbaiki total—cat ulang, mesin servis, ban baru.
Semua bergerak.
Pelan, tapi bergerak.
Tapi hari ini berbeda.
Hari ini Rajendra harus ke pengadilan.
Senin pagi, Rajendra berdiri di depan cermin kecil di kamar kosnya—memakai kemeja putih lengan panjang yang baru dibeli kemarin, celana bahan hitam, sepatu pantofel yang sudah dipoles.
Rambutnya disisir rapi—tidak biasa buat dia.
Wajahnya terlihat lelah—mata sedikit cekung, kulit sedikit pucat—tapi tatapannya tajam.
Ponselnya bergetar—pesan dari Hartono:
"Saya sudah di pengadilan. Sidang jam 10. Datang 15 menit lebih awal. Jangan terlambat."
Rajendra menatap jam dinding—pukul delapan setengah.
Masih ada waktu.
Ia mengambil jaket tipis, dompet, ponsel, lalu keluar kamar.
Pengadilan Negeri Jakarta Selatan terletak di kawasan Kebayoran Baru—gedung tua dengan cat putih kusam, halaman luas tapi tidak terawat, pohon-pohon besar yang rindang tapi dipenuhi sarang burung.
Rajendra turun dari bus—berjalan melewati gerbang—melihat orang-orang hilir mudik dengan map coklat tebal, wajah-wajah lelah, mata-mata yang kosong.
Pengadilan tidak pernah jadi tempat yang menyenangkan.
Ia masuk ke lobby—lantai keramik putih kotor, bangku kayu panjang di kiri kanan, papan pengumuman jadwal sidang di dinding.
Hartono berdiri di dekat tangga—memegang tas kulit coklat tua, memakai jas hitam formal, rambut putihnya disisir rapi.
Ia melihat Rajendra—mengangguk singkat.
Rajendra berjalan mendekat.
"Pagi, Pak."
"Pagi. Sudah sarapan?"
"Belum."
Hartono menatapnya—lalu mengeluarkan sebungkus roti dari tas.
"Makan. Jangan sampai perut kosong di sidang. Nanti pusing."
Rajendra menerima roti itu—membukanya pelan—menggigit sedikit meski tidak nafsu makan.
"Gugup?" tanya Hartono sambil berjalan naik tangga ke lantai dua.
"Sedikit."
"Wajar. Tapi ingat—jangan tunjukkan. Hakim bisa baca bahasa tubuh. Kalau Anda terlihat gugup, dia akan pikir Anda tidak percaya diri dengan kasus Anda."
Rajendra mengangguk—menelan roti yang terasa kering di tenggorokan.
Mereka sampai di lantai dua—koridor panjang dengan pintu-pintu kayu berlabel nomor ruang sidang.
Hartono berhenti di depan ruang sidang nomor 7—pintu tertutup.
"Kita tunggu di luar dulu. Sidang dimulai jam sepuluh tepat."
Mereka duduk di bangku kayu di luar ruangan—Hartono membuka tas, mengeluarkan dokumen-dokumen, memeriksa satu per satu.
Rajendra hanya duduk diam—menatap lantai—mendengar suara langkah kaki orang berlalu-lalang.
Sepuluh menit kemudian, suara familiar terdengar dari ujung koridor.
Rajendra mendongak.
Julian Baskara berjalan mendekat—memakai jas abu-abu gelap, dasi merah marun, sepatu kulit hitam mengkilap. Wajahnya keras seperti biasa—rahang tegas, mata tajam.
Di sampingnya, seorang pria berjas hitam berjalan dengan percaya diri—tinggi, postur atletis, rambut disisir ke belakang, kacamata hitam di wajah meski di dalam gedung.
Daniel Kusuma.
Pengacara ayahnya.
Mereka berhenti beberapa meter dari Rajendra dan Hartono.
Julian menatap Rajendra—tatapan panjang, dingin.
Rajendra menatap balik—wajahnya datar, tidak berkedip.
Tidak ada yang bicara.
Hanya tatapan.
Lalu Daniel tersenyum—senyum tipis, percaya diri—lalu berbisik sesuatu ke Julian.
Julian mengangguk—lalu mereka berdua masuk ke ruang sidang lebih dulu.
Hartono menatap punggung mereka—lalu menatap Rajendra.
"Anda baik-baik saja?"
Rajendra mengangguk pelan.
"Gue baik."
Hartono mengerutkan dahi sedikit—mendengar perubahan bahasa—tapi tidak berkomentar.
Lima menit kemudian, pintu ruang sidang terbuka—seorang petugas keluar.
"Perkara nomor 145/Pdt.G/2010/PN.Jkt.Sel—Julian Baskara versus Rajendra Baskara. Silakan masuk."
Ruang sidang kecil—meja hakim di depan yang lebih tinggi, meja untuk penggugat dan tergugat di kiri kanan, bangku penonton di belakang yang kosong.
Rajendra duduk di sebelah Hartono—di meja sebelah kanan.
Julian dan Daniel duduk di meja sebelah kiri.
Hakim masuk—wanita paruh baya dengan rambut diikat ketat, toga hitam, wajah serius.
Semua berdiri—lalu duduk lagi setelah hakim duduk.
Hakim membuka berkas—membaca sebentar—lalu menatap ke dua pihak.
"Selamat pagi. Saya Hakim Marianne Hutabarat. Hari ini kita akan mulai sidang pertama untuk perkara perdata—gugatan pembatalan surat wasiat almarhum Dimas Baskara."
Ia menatap Daniel.
"Kuasa hukum penggugat, silakan sampaikan dalil gugatan."
Daniel berdiri—membuka map coklat—lalu bicara dengan suara lantang, jelas, penuh percaya diri.
"Yang Mulia, klien saya—Julian Baskara—mengajukan gugatan pembatalan surat wasiat almarhum Dimas Baskara tertanggal 12 Juni 2009 dengan alasan bahwa pewaris tidak dalam kondisi mental yang sehat pada saat pembuatan surat wasiat tersebut."
Ia berhenti sebentar—menatap hakim.
"Kami punya bukti berupa keterangan saksi dan dokumen medis yang menunjukkan bahwa almarhum mengalami penurunan fungsi kognitif pada bulan-bulan terakhir sebelum kematiannya. Kami juga punya bukti bahwa tergugat—Rajendra Baskara—melakukan tekanan psikologis kepada almarhum untuk mendapatkan warisan tersebut."
Rajendra mengepalkan tangan di bawah meja—rahangnya mengeras.
Bohong.
Semua bohong.
Hartono meletakkan tangan di lengan Rajendra—memberi isyarat untuk tetap tenang.
Hakim menatap Daniel.
"Bukti apa yang Anda punya?"
Daniel membuka map lagi—mengeluarkan beberapa lembar dokumen.
"Kami punya keterangan dari pembantu rumah tangga almarhum yang menyatakan bahwa almarhum sering lupa, sering bicara sendiri, dan sering tidak mengenali orang-orang terdekatnya di bulan-bulan terakhir."
Hartono berdiri—nadanya tenang tapi tegas.
"Yang Mulia, itu keterangan sepihak tanpa dasar medis. Pembantu rumah tangga bukan ahli kesehatan. Kami punya rekam medis resmi dari dokter keluarga yang menunjukkan almarhum sehat secara mental sampai seminggu sebelum meninggal."
Daniel tersenyum tipis—seperti sudah mengantisipasi.
"Rekam medis itu bisa dipalsukan. Atau bisa jadi dokter tersebut tidak mendeteksi gejala awal demensia."
"Objection, Yang Mulia," kata Hartono cepat. "Itu spekulasi tanpa bukti. Kalau pihak penggugat mau mempertanyakan kredibilitas dokter, mereka harus membawa ahli medis independen untuk second opinion. Bukan hanya menuduh tanpa dasar."
Hakim mengangguk—menulis sesuatu di catatannya.
"Sustained. Kuasa hukum penggugat, kalau Anda mau mempertanyakan kondisi mental almarhum, Anda harus bawa ahli medis sebagai saksi ahli. Tidak bisa hanya spekulasi."
Daniel mengangguk—wajahnya tetap tenang.
"Baik, Yang Mulia. Kami akan siapkan saksi ahli untuk sidang berikutnya."
Hakim menatap Hartono.
"Kuasa hukum tergugat, ada tanggapan untuk dalil gugatan?"
Hartono berdiri—membuka map dengan gerakan tenang.
"Yang Mulia, gugatan ini tidak berdasar. Surat wasiat dibuat dengan prosedur yang benar—ada notaris sah, ada saksi sah, tidak ada cacat hukum. Almarhum Dimas Baskara dalam kondisi sehat jasmani dan rohani pada saat pembuatan surat wasiat. Kami punya bukti rekam medis, kami punya keterangan notaris, dan kami siap hadirkan saksi-saksi yang bisa buktikan itu."
Ia menatap Julian sebentar—lalu melanjutkan.
"Yang Mulia, ini bukan soal keadilan. Ini soal ketidakrelaan penggugat menerima keputusan almarhum. Almarhum punya hak penuh untuk memberikan warisannya kepada siapa pun yang beliau percaya. Dan beliau memilih Rajendra Baskara—cucu kandungnya—karena beliau percaya cucunya bisa mengelola perusahaan dengan baik."
Daniel berdiri lagi—memotong.
"Yang Mulia, klien saya tidak mempertanyakan hak almarhum untuk memberi warisan. Klien saya mempertanyakan validitas keputusan itu—apakah keputusan itu dibuat dengan pikiran jernih atau tidak. Dan kami akan buktikan bahwa tidak."
Hakim mengangkat tangan—memberi isyarat kedua pengacara untuk duduk.
"Baik. Saya sudah dengar dalil dari kedua pihak. Sidang hari ini kita tutup. Sidang berikutnya dijadwalkan dua minggu lagi—tanggal 15 Juli 2010, jam sepuluh pagi. Pihak penggugat diminta untuk hadirkan saksi ahli medis. Pihak tergugat diminta untuk hadirkan notaris dan saksi-saksi terkait pembuatan surat wasiat."
Ia mengetuk palu—bunyi kayu memukul kayu bergema di ruangan kecil itu.
"Sidang ditutup."
Di luar ruang sidang, Rajendra berdiri di koridor—menatap jendela besar yang menghadap ke halaman pengadilan.
Hartono berdiri di sampingnya—memasukkan dokumen kembali ke tas.
"Sidang pertama selalu seperti ini," kata Hartono pelan. "Mereka lempar tuduhan, kita tangkis, hakim dengarkan. Sidang berikutnya baru mulai bukti dan saksi."
Rajendra tidak menjawab—hanya menatap halaman di bawah—melihat orang-orang berjalan, mobil parkir, pohon-pohon yang rindang.
"Anda tadi hampir emosi," lanjut Hartono. "Waktu Daniel bilang Anda tekan kakek Anda. Saya lihat tangan Anda mengepal."
Rajendra menatap tangannya sendiri—masih sedikit gemetar.
"Saya cuma... marah. Itu bohong. Semua bohong."
"Saya tahu. Tapi di pengadilan, kebenaran bukan soal apa yang benar. Kebenaran soal apa yang bisa dibuktikan. Dan kalau Anda tidak bisa kontrol emosi, mereka akan pakai itu melawan Anda. Mereka akan bilang—lihat, dia agresif, dia tidak stabil, dia memang orang yang bisa tekan kakeknya."
Rajendra menarik napas panjang—menghembuskannya pelan.
"Saya mengerti."
Hartono menatapnya—lalu tersenyum tipis.
"Anda lebih kuat dari yang saya kira. Banyak orang umur Anda akan nangis atau marah-marah di sidang pertama. Tapi Anda duduk tenang. Itu bagus."
Rajendra tersenyum pahit.
"Saya sudah pernah lewatin yang lebih buruk dari ini."
Hartono mengerutkan dahi—seperti mau bertanya—tapi memutuskan tidak.
Di ujung koridor, Julian dan Daniel keluar dari ruang sidang—berjalan menuju tangga tanpa melirik ke arah Rajendra.
Tapi sebelum turun, Julian berhenti sebentar—melirik ke belakang—menatap Rajendra dengan tatapan yang sulit dibaca.
Bukan marah.
Bukan benci.
Tapi... kecewa.
Lalu ia turun tangga—menghilang.
Rajendra menatap tangga kosong itu.
Ada sesuatu yang sesak di dadanya—sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan.
Bukan penyesalan.
Tapi... kehilangan.
Kehilangan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ada.
Siang itu, Rajendra kembali ke kantor LokalMart—pintu terbuka, suara Arief dan Rian berdebat soal struktur database terdengar dari dalam.
Dina duduk di meja kecil dekat jendela—mengetik sesuatu di laptop—lalu melihat Rajendra masuk.
"Gimana?" tanyanya langsung.
"Biasa. Sidang pertama. Belum ada keputusan."
"Lu oke?"
Rajendra melepas jaket—menggantungnya di kursi—lalu duduk di lantai, bersandar ke dinding.
"Gue oke. Cuma capek."
Dina menutup laptopnya—berjalan ke dispenser—mengambil dua gelas air putih—lalu memberikan satu ke Rajendra.
"Minum. Lu keliatan dehidrasi."
Rajendra menerima gelas itu—menyeruput pelan.
Airnya dingin. Segar.
"Gue ketemu bokap gue tadi," katanya pelan—lebih ke diri sendiri daripada ke Dina.
Dina duduk di lantai—agak jauh, memberikan space.
"Terus?"
"Dia... dia lihat gue kayak gue orang asing. Kayak gue bukan anaknya lagi."
Dina tidak langsung jawab—hanya mendengarkan.
"Lu nyesel?" tanyanya akhirnya—nadanya hati-hati.
Rajendra menggeleng.
"Enggak. Gue cuma... kadang gue mikir—apa jadinya kalau gue tetap di sana. Kalau gue tetap nurut. Kalau gue gak pernah keluar."
"Lu akan mati pelan-pelan," jawab Dina langsung—nadanya tidak keras tapi tegas. "Mungkin gak secara fisik. Tapi secara mental, lu akan mati. Jadi robot yang cuma ikutin perintah orang lain tanpa punya hidup sendiri."
Rajendra menatapnya.
Dina menatap balik—mata bulatnya serius.
"Gue pernah kayak gitu. Kerja di tempat lama. Ikutin semua yang bos gue mau. Lembur tanpa dibayar. Kerja weekend tanpa komplain. Mikir kalau gue loyal, suatu hari gue akan dihargai."
Ia tersenyum pahit.
"Ternyata enggak. Gue cuma dipake. Dan pas gue sakit, mereka gak peduli. Malah marah karena gue gak bisa kerja."
Rajendra diam—mendengar.
"Makanya waktu lu tawarin gue kerja di sini—dengan gaji lebih besar, dengan visi yang jelas, dengan leader yang gak manipulatif—gue langsung bilang iya. Karena gue gak mau lagi jadi orang yang hidup buat orang lain."
Ia menatap Rajendra.
"Dan lu juga seharusnya gak mau. Lu punya kesempatan kedua sekarang. Jangan buang."
Rajendra tersenyum kecil—senyum tulus untuk pertama kalinya hari ini.
"Thanks, Din."
"Jangan thanks aja. Kerja ! Kita launch sebulan lagi. Masih banyak yang harus dikerjain."
Malam itu, Rajendra duduk di kamar kosnya—laptop terbuka—tapi layarnya cuma menampilkan desktop kosong.
Ia tidak sedang kerja.
Cuma duduk. Menatap.
Pikirannya di mana-mana.
Ponselnya bergetar—pesan dari nomor tidak dikenal lagi.
"Rajendra. Ini Ibu. Tolong hubungi Ibu. Ibu mau bicara. Jangan abaikan Ibu terus seperti ini."
Rajendra menatap pesan itu lama.
Tangannya melayang di atas keyboard—mau ketik balasan.
Tapi akhirnya ia hanya menutup ponsel—menaruhnya terbalik di meja.
Tidak akan balas.
Tidak sekarang.
Mungkin tidak akan pernah.
Ia berbaring di kasur—menatap langit-langit yang retak—lalu menutup mata.
Besok masih panjang.
Masih banyak yang harus dilakukan.
Masih banyak yang harus dibuktikan.
Satu hari dalam satu waktu.
Itu yang bisa dia lakukan.
[ END OF BAB 9 ]