Hidup Xiao Chen berubah ketika sebuah kejadian misterius membuatnya terlempar ke jaman kerajaan, dengan berbekal sistem beladiri dan rasa ingin tahu ia mulai menjalani kehidupan barunya yang penuh dengan tantangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RubahPerak77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dimensi Kekosongan II
Kombinasi dari dinginnya angin malam yang berhembus dan cahaya bulan yang bersinar malu-malu, membuat suasana malam itu menjadi sempurna untuk mulai berlatih teknik-teknik atau seni yang ada di kitab naga langit.
Setelah sekian lama menempa tubuhnya dalam latihan yang ekstrim dibawah bimbingan dari master virtual, kini Xiao Chen telah berada di tingkatan pendekar ahli tahap menengah, dan sudah waktunya mulai mempelajari seni beladiri.
Xiao Chen bersila dan menutup matanya, kesadarannya ia pusatkan kedalam dantian. Seni pertama dalam kitab naga langit adalah seni penyerapan energi alam, atau biasa disebut Qi.
Namun karena tubuh Xiao Chen belum memiliki akar spiritual (Spiritual Root) sebagai wadah untuk menampung energi alam murni, maka energi yang masuk masih berbentuk energi kasar dan terkumpul di dalam dantian.
Jika bisa diibaratkan, maka dantian adalah sebuah wadah atau bejana tempat dimana core energy atau pusat tenaga berkumpul. Setiap tenaga dalam yang terkumpul, membentuk seperti lingkaran air, atau biasa disebut lingkaran tenaga dalam.
Umumnya seorang kultivator bisa memperoleh 10 hingga 20 lingkaran, dalam waktu setahun (jika berlatih dengan sungguh-sungguh). Akan tetapi dengan seni pernapasan dari kitab naga langit, dan ditunjang dengan kepadatan Qi yang ada di dimensi kekosongan membuat Xiao Chen dengan mudahnya mengumpulkan lingkaran tenaga dalam secara cepat.
Setelah sekian lama mengumpulkan lingkaran tenaga dalam, dan berhasil mendapatkan sekitar 50 lingkaran tenaga dalam. Xiao Chen melanjutkan untuk mempelajari teknik dan seni naga lainnya hingga tanpa dirinya sadari, seni naga langit telah membantunya menembus tingkatan pendekar ahli puncak.
"Hanya butuh sedikit lagi, maka aku akan menembus tingkatan pendekar raja." Gumamnya sambil mengepalkan tangan ke langit.
Namun Xiao Chen sadar, sebelum dirinya menembus tingkatan pendekar raja maka terlebih dahulu ia harus melakukan pembersihan dan penempaan ulang keempat pondasi utamanya yaitu pembersihan darah, penempaan tulang, pembersihan sumsum dan perubahan massa otot, serta yang terakhir adalah pembukaan meridian.
**Pembersihan Darah, darah manusia fana dianggap "keruh" karena makanan dan udara yang tidak murni.
Untuk prosesnya sendiri, tenaga dalam harus dipompa masuk ke aliran darah untuk membakar racun-racun sisa makanan atau zat kimia duniawi.
Saat proses dimulai maka tubuh akan terasa sangat panas seperti demam tinggi.
Jika proses pembersihan darah selesai, maka efeknya darah akan menjadi lebih murni dan berwarna lebih cerah. Darah yang murni akan meningkatkan kecepatan regenerasi tubuh dan membuat seorang kultivator tidak mudah lelah.
**Penempaan tulang, ini adalah tahap yang paling menyakitkan tapi paling penting. Inti tulang adalah tempat diproduksinya sel darah dan dianggap sebagai "akar" dari kehidupan.
Ketika proses penempaan tulang berlangsung, maka tenaga dalam akan menembus hingga ke dalam pori-pori terdalam tulang untuk mengikis kotoran yang sudah mengendap, mengikis dan menghancurkan tulang hingga dalam tingkatan terkecil (sel) lalu membentuk kembali tulang sedikit demi sedikit. Proses ini rasanya seperti ditusuk ribuan jarum secara bersamaan dalam waktu yang tidak bisa dibilang sebentar, membuatnya begitu menyakitkan dan menyiksa.
Hingga ketika tulang telah terbentuk lagi, maka kotoran berwarna hitam pekat yang berbau busuk akan keluar dari seluruh pori-pori kulit.
Penempaan tulang ini akan membuat tulang menjadi sekeras baja tapi seringan bulu. Tulang yang berkali kali ditempa atau dibentuk ulang, ditahap akhir penempaan akan menjadikannya tulang suci (tulang jenis ini konon hanya dimiliki oleh para kultivator yang memiliki pondasi sempurna.)
**Pembukaan Meridian, meridian adalah jaringan transportasi atau saluran yang mengalirkan tenaga dalam ke seluruh tubuh. Pada manusia biasa atau fana, saluran ini tersumbat atau sempit.
Pada Prosesnya, seorang kultivator harus "memaksa" dan memompa energinya melewati titik-titik sumbatan. Rasanya seperti terkena sengatan listrik berulang ulang kali.
Meridian bisa diibaratkan sebuah selang air yang tertekuk dan berkerak, seorang kultivator harus mengalirkan air dengan tekanan sangat tinggi agar selang itu terbuka lebar dan bersih.
Begitu meridian terbuka dan bebas dari kotoran maka(biasanya ada 3600 meridian utama dan 1200 meridian ekstra), Qi atau tenaga dalam dapat mengalir tanpa hambatan ke seluruh tubuh, memungkinkan penggunaan jurus secara instan dan cepat.
**Dan yang terakhir adalah pembersihan sumsum dan perubahan otot, keduanya dipercaya sebagai "asal" dari tenaga itu sendiri.
Proses pembersihan sumsum dan perubahan otot tidak seribet dan semenakutkan dari ketiga proses lainnya. Tujuan utama dari pembersihan sumsum ada memurnikan sumsum, dan mengurangi kadar air yang berada di otot.
Efek saat melakukan pemurnian otot dan sumsum juga tidak menyakitkan, hanya saja pori-pori tubuh akan mengeluarkan air dalam jumlah yang lumayan banyak, dan setelah proses ini selesai, maka massa otot akan berkurang, sehingga seseorang akan terlihat lebih kurus, tapi menjadi jauh lebih lincah, gesit namun tubuh makin kuat terhadap serangan atau pukulan.
Dikarenakan Xiao Chen mempelajari seni naga langit, maka proses pembersihan dan pembentukan ulang keempat pondasinya bisa mendapatkan hasil yang maksimal dalam waktu cepat.
Saat Xiao Chen bermeditasi, terdengar suara retakan tulang dari dalam tubuhnya yang menyerupai geraman naga. Cairan hitam berbau tajam keluar dari setiap pori-pori yang ada di kulitnya, sedetik kemudian muncullah aura keemasan yang terpancar dari tubuh. Darahnya kini berdenyut dengan irama yang kuat, dan meridiannya yang dulu sempit, kini melebar laksana sungai besar yang siap menampung ledakan samudra energi.
DUAAAARRRRRRR...
Ledakan keras terdengar saat Xiao Chen menyelesaikan penempaan keempat pondasi dasarnya untuk pertama kalinya, selaras dengan dimurnikannya tubuhnya. Maka kultivasinya pun akhirnya menerobos ke tingkatan pendekar raja tahap pertama.
Xiao Chen menghembuskan napas berat, sekujur badannya tertutup oleh keringat dan kotoran berwarna hitam pekat dan berbau busuk hingga membuatnya serasa mau muntah, namun yang pasti, kini tubuhnya terasa begitu ringan dan penuh dengan tenaga.
"Ahhh segarnya.." Xiao Chen merebahkan tubuhnya di sebuah kasur bulukan yang selama ini menemani tiap malamnya.
Rasa letih yang terakumulasi setelah melakukan penyucian pondasi dasar selama ini membuat Xiao Chen seolah tak kuasa menahan matanya yang terasa berat. Pemuda itu pun tertidur dengan pulasnya hingga beberapa waktu.
Setelah terbangun, Xiao Chen segera menarik pedang bayangan malam dari ruang kosong. Xiao Chen mulai bekonsentrasi dan mengingat semua teknik atau seni dari kitab pedang tanpa nama yang telah terpatri di otaknya.
Kitab pedang tanpa nama sendiri memiliki 10 bentuk atau seni berpedang, dimana 5 bentuk pertama merupakan bentuk dasar sedangkan 5 bentuk selanjutnya merupakan bentuk pamungkas atau seni utama.
"Seni Pedang Tanpa Nama, bentuk pertama : Hening Membelah Fajar..!!!"
Xiao Chen menarik pedang lalu menyarungkannya kembali dengan begitu cepat sehingga seolah-olah tidak pernah bergerak, namun boneka jerami di depan telah terbelah menjadi dua bagian. Tanpa suara, bahkan angin pun tak beresonansi, hanya keheningan mutlak yang terasa.
Xiao Chen membelalakan matanya, teknik ini sungguh gila dan menakutkan. Dan ini baru bentuk pertama. Tangan Xiao Chen gemetar, bibirnya tersungging, dan lututnya lemas seketika.
"Jika saja aku bisa menguasai teknik ini ketika masih di duniaku, maka mungkin aku tak akan ditindas.." Ucapnya pelan.
Mengetahui kehebatan teknik pedang miliknya membuat Xiao Chen makin antusias dan bersemangat untuk berlatih seni berpedang.
Namun Xiao Chen mengalami kendala ketika berusaha untuk mempelajari bentuk keenam dari seni pedang tanpa nama, karena untuk menguasai bentuk enam keatas, Xiao Chen harus memiliki Aura Pedang atau Jiwa Pedang.
Sebenarnya Jiwa atau aura pedang adalah sebuah keadaan dimana seseorang telah mengetahui segala sesuatu tentang pedang dan menyatu dengannya. Seseorang yang telah mempunyai atau memahami makna dari jiwa pedang, maka biasanya tidak membutuhkan sebuah pedang dalam bentuk fisik. Karena ia sendiri telah menjadi pedang. Bahkan ranting yang begitu lemah pun, ditangan ahli berpedang bisa menjadi senjata yang sangat tajam dan mematikan.
Dengan bimbingan dari master virtual, Xiao Chen mulai mempelajari dan mencoba mengerti apa itu jiwa pedang. Dan setelahnya Xiao Chen semakin giat mengasah skil, intuisi dan juga filosofi berpedang tiap hari tanpa mengenal lelah.
Ketiadaan rasa lapar dan dahaga di dimensi kekosongan memberikan sebuah keuntungan tersendiri bagi Xiao Chen, karena hal itu membuatnya bisa terus berlatih setiap saat tanpa henti.
Hingga ketika jam pasir telah berputar untuk ke sepuluh kalinya, si peri kecil kembali datang menemui Xiao Chen yang kini telah jauh berbeda.