Di fajar zaman purba, semesta mengenal satu nama yang sanggup membekukan waktu: Dewa Kehampaan.
Ia adalah pemuncak segala eksistensi, penguasa tunggal yang titahnya menjadi hukum alam dan langkah kakinya adalah nubuat bagi kehancuran.
Di bawah bayang-bayang jubahnya, jutaan pendekar bersujud dan raja-raja siluman gemetar dalam ketakutan.
Namun, takhta yang dibangun di atas keagungan itu runtuh bukan oleh serangan musuh, melainkan oleh racun pengkhianatan.
Di puncak kejayaannya, pedang yang menembus jantungnya adalah milik murid yang ia kasihi. Jiwanya dihancurkan oleh sahabat yang pernah berbagi napas di medan laga.
Dan benteng pertahanannya yang tak tertembus diserahkan kepada maut oleh wanita yang merupakan pelabuhan terakhir hatinya.
Dalam kepungan pengkhianat, Dewa Kehampaan jatuh, namun kehendaknya menolak untuk padam.
Jiwanya yang retak terlempar menembus celah kehampaan, melintasi ribuan tahun untuk kemudian terjaga dalam raga yang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reruntuhan Kehampaan Kuno
Pada suatu malam yang aneh, saat langit gelap Dunia Bawah menurunkan "hujan darah"—fenomena sisa energi yang mengental menjadi tetesan merah—Ye Chenxu merasakan getaran hebat di sekujur tubuhnya.
Seluruh pori-porinya terbuka, menyedot energi dari sekeliling dengan rakus.
DUGG!!!
Sebuah dentuman pelan terdengar dari dalam dadanya. Dengan satu tarikan napas panjang yang terasa menyegarkan, ia menembus batas Tahap Menengah Pengumpulan Qi.
Namun, Ye Chenxu tidak bersorak ataupun tersenyum.
Dia hanya membuka matanya yang kini memancarkan kilatan hitam tipis. Yang dirasakannya justru hanyalah beban tanggung jawab yang semakin berat, Ye Chenxu sadar bahwa perjalanannya baru saja dimulai.
Di sela-sela meditasinya yang panjang, bayangan ibunya tak pernah benar-benar pergi. Sosok itu adalah hantu yang paling indah sekaligus paling menyakitkan yang ia miliki.
Terkadang, saat ia berada dalam kondisi antara tidur dan meditasi (keadaan setengah sadar), ia seolah melihat sosok itu berdiri tepat di mulut gua.
Ibunya tampak mengenakan pakaian sederhana yang bersih, tersenyum lembut ke arahnya seperti saat ia masih kecil.
Namun, di sudut mata ibunya, ada air mata yang ditahan sekuat tenaga agar tidak jatuh.
Setiap kali bayangan itu muncul, jantung Ye Chenxu terasa seperti diremas oleh tangan raksasa.
Rasa bersalah karena meninggalkannya, kemarahan terhadap klan yang mengkhianati mereka, dan tekad untuk menjadi kuat bercampur menjadi satu racun yang memotivasi jiwanya.
“Tunggu aku, Ibu ...” bisiknya ke dalam kegelapan gua yang dingin.
“Aku bersumpah dengan nyawaku, aku akan menjemputmu. Dan saat itu terjadi, tidak akan ada satu pun orang di dunia ini yang berani membuatmu berlutut lagi.”
Beberapa hari kemudian, saat sedang mencari sumber air di area jurang yang lebih dalam, ia menemukan mayat seorang kultivator yang tersangkut di antara akar pohon tua.
Tubuh itu sudah setengah membusuk, tampaknya telah menjadi mangsa serangga dunia bawah selama berminggu-minggu.
Namun, perhatian Ye Chenxu tertuju pada jari manis mayat itu, di sana ada sebuah cincin perak kusam.
Cincin Spasial.
Ye Chenxu mengambilnya dan membersihkan noda tanah. Dengan sedikit paksaan energi, cincin itu terbuka.
Di dalamnya, ia menemukan beberapa batu roh tingkat rendah yang sangat berharga untuk pemulihan, beberapa botol ramuan penyembuh yang masih tersegel, dan sebuah gulungan peta tua yang terbuat dari kulit binatang misterius.
Saat peta itu dibuka di bawah cahaya lumut gua, roh Dewa Kehampaan di dalam dirinya tiba-tiba bergetar hebat. Aura kuno yang terpancar dari permukaan kulit peta itu membuat bulu kuduk Ye Chenxu berdiri.
“Reruntuhan Kehampaan Kuno ...” suara sang Dewa terdengar penuh dengan kerinduan dan peringatan.
“Kekuatan yang tersisa di sana itu adalah takdirmu.”
Ye Chenxu merasakan panggilan samar dari arah yang ditunjukkan peta. Seolah-olah tempat itu memang sedang menantinya selama ribuan tahun, hanya untuk saat ini.
Pandangan Ye Chenxu menatap jauh ke arah kabut tebal Dunia Bawah yang tak berujung. Ia tahu, jalan menuju reruntuhan itu akan jauh lebih berdarah dan jauh lebih berbahaya daripada apa pun yang telah dilalui.
Namun alih-alih merasa takut, sudut bibir Ye Chenxu justru melengkung tipis membentuk senyum predator.
“Jika dunia ini adalah neraka,” bisiknya sambil menyimpan peta itu ke dalam jubahnya, “maka aku akan menjadi penguasa yang berjalan di atas apinya.”
Ye Chenxu melangkah pergi dari tepi jurang, masuk lebih dalam ke jantung kegelapan, di mana legenda barunya baru saja dimulai.
***
Langit di atas sana bukanlah langit yang dikenal manusia, itu adalah hamparan kelabu abadi yang sesekali dibelah oleh kilatan petir merah darah.
Cahaya petir itu memantulkan bayangan bangunan runtuh yang menjulang di kejauhan, menciptakan siluet monster-monster raksasa yang terdiam.
Di sanalah Reruntuhan Kehampaan Kuno berdiri dengan segala keangkuhannya yang tersisa.
Struktur batu raksasa itu tampak nyaris roboh, namun tetap berdiri tegak di tengah sebuah kawah raksasa seolah-olah menantang kehancuran itu sendiri.
Dinding-dindingnya dipenuhi ukiran simbol-simbol asing yang berdenyut redup, sisa dari peradaban yang telah dilenyapkan oleh waktu.
Ye Chenxu berdiri di balik bongkahan batu besar di tepi kawah, menahan napasnya agar tidak memicu deteksi musuh.
Tapi dia tidak sendirian!
Di sekitar kawah, puluhan kultivator telah berkumpul. Mereka membentuk kelompok-kelompok kecil dan berdiri dalam jarak yang saling curiga.
Aura yang terpancar dari kerumunan itu adalah campuran yang memuakkan antara haus kekuatan, ketakutan yang ditekan, dan keserakahan yang murni.
“Aura ini ...” gumam seorang pria bertopeng besi yang berdiri beberapa puluh meter dari posisi Ye Chenxu. Suaranya gemetar oleh kegembiraan.
“Tak salah lagi. Fluktuasi ini adalah warisan kuno Tingkat Dewa!”
“Jangan hanya bicara!” sahut rekannya yang memegang kapak besar. “Kalau kita bisa masuk lebih dulu, satu peninggalan saja cukup untuk mengubah nasib kita selamanya. Kita tidak akan lagi menjadi tikus di Dunia Bawah ini!”
Bisikan-bisikan serakah menyebar seperti wabah. Ye Chenxu mengamati mereka semua dalam diam, matanya yang dingin memindai setiap sosok.
Dia bisa merasakan tekanan samar namun menindas dari beberapa sosok kuat di barisan depan.
Setidaknya ada belasan kultivator tahap Pembentukan Pondasi, dan yang paling mengerikan—satu aura di tengah kerumunan yang terasa seperti laut dalam yang tak berujung, seorang kultivator Tingkat Pengumpul Qi Tahap Menengah.
Ye Chenxu mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih. Jika ceroboh atau terpancing emosi, ia akan mati menjadi debu sebelum sempat melangkah masuk ke gerbang reruntuhan.
“Tunggu,” suara Dewa Kehampaan bergema pelan di dalam kepalanya, membawa ketenangan yang dingin.
“Jangan biarkan keserakahan mereka membakarmu. Biarkan para manusia serakah itu yang membuka pintunya. Biarkan mereka memicu jebakan awal.”
Tak lama kemudian, tiga kultivator tua dengan jubah abu-abu maju ke depan. Mereka mengeluarkan jimat pembuka segel yang memancarkan cahaya keemasan terang.
Dengan rapalan mantra yang cepat, jimat-jimat itu ditanamkan ke gerbang batu raksasa yang tertutup rapat.
DUARR!!!
Gemuruh hebat mengguncang bumi. Retakan menjalar dari bawah gerbang, membelah tanah kawah.
Aura yang sangat pekat mendadak memancar keluar, membawa rasa dingin yang begitu ekstrim hingga membuat beberapa kultivator tingkat rendah mundur ketakutan dengan wajah pucat pasi.
Saat pintu batu itu bergeser terbuka dengan suara gesekan yang memilukan, banyak kultivator langsung masuk ke sana.
“Masuk!”
Teriakan itu menjadi aba-aba bagi kekacauan. Bagaikan kawanan serigala yang kelaparan, puluhan orang itu menyerbu masuk ke dalam kegelapan reruntuhan.
Di dalam reruntuhan, dunia seakan berubah total. Ruang dan waktu terasa terdistorsi. Lorong-lorong batu yang sangat luas dipenuhi kabut yang berdenyut pelan, seirama dengan detak jantung yang tak terlihat.
Cahaya samar berpendar dari dinding, memperlihatkan pahatan makhluk-makhluk mengerikan bermata kosong dan bersayap hitam yang tampak seolah-olah bisa melompat keluar kapan saja.
Langkah-langkah kaki yang terburu-buru menggema di segala arah, menciptakan simfoni ketidakteraturan.
“Arghh!!!”
Sebuah jeritan melengking membelah keheningan lorong samping. Seorang kultivator terlempar keluar dari kegelapan lorong tersebut, tubuhnya hancur, berlubang oleh puluhan tusukan energi hitam yang masih berasap.
Semangat
Habiskan
Ye Chenxu 💪💪
Tdk sabar menunggu kelanjutannya
satu....
tunggu pembalasanku 🤭