"Jangan sentuh apa pun. Jangan duduk di sofa sebelum mandi. Dan singkirkan remah kerupuk itu dari jangkauan radar saya!" — Calvin Harvey Weinstein.
Nirbita Luminara Rein mengira hidupnya sudah berakhir saat orang tuanya pergi dan kakaknya, Varro, menyatakan mereka bangkrut. Tapi ternyata, penderitaan yang sesungguhnya baru dimulai saat ia "digadaikan" oleh kakaknya sendiri kepada Calvin—CEO jenius yang punya alergi akut pada segala sesuatu yang tidak rapi.
Bagi Calvin, Nirbi adalah sumber kuman berjalan. Bagi Nirbi, Calvin adalah kulkas dua pintu yang cerewetnya minta ampun. Namun, di balik semprotan disinfektan dan aturan ketatnya, Calvin menyimpan rahasia: Ia sudah jatuh cinta pada "si kuman kecil" ini sejak insiden pelukan salah sasaran di kampus dulu.
Bisakah rumah super steril Calvin bertahan dari badai keberantakan Nirbi? Atau justru hati Calvin yang akhirnya "terkontaminasi" cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Singgasana Besi dan Luka yang Membusuk
Lampu kristal di penthouse Calvin biasanya memantulkan cahaya yang menenangkan, namun sore ini, cahaya itu terasa tajam dan mengiris. Di sofa tunggal berbahan kulit premium, duduk Abraham Weinstein. Sosoknya adalah definisi Old Money sejati, tenang, tak bergerak, namun setiap tarikan napasnya seolah mampu menekan oksigen di ruangan itu.
Di belakangnya, berdiri Hendrawan Weinstein, ayah Calvin. Ia tampak gelisah namun angkuh, matanya yang tajam menyisir ruangan seolah sedang menginspeksi kotoran.
"Jadi, ini alasan kamu menolak panggilan Papa selama sebulan ini, Calvin?" suara Hendrawan memecah kesunyian, dingin dan menusuk. Matanya beralih ke Nirbi yang berdiri gemetar di samping Calvin. "Hanya untuk gadis yang tampilannya bahkan tidak lebih baik dari pelayan di rumah utama kita?"
Nirbi mencengkeram ujung kemeja Calvin, jantungnya berdegup kencang. Varro yang berdiri di belakang mereka sudah bersiap maju, namun Calvin menahan lengan kakaknya itu.
"Namanya Nirbita, Pa. Dan dia adalah calon istri saya," jawab Calvin, suaranya rendah namun bergetar oleh amarah yang tertahan.
Hendrawan tertawa sinis, langkah kakinya terdengar berat saat ia berjalan mendekati mereka. "Istri? Jangan membuat lelucon di depan Kakekmu. Papa sudah menyiapkan yang terbaik untukmu. Clarissa, putri pemilik bank di Swiss. Dia elegan, dia bersih, dia tahu cara membawa nama Weinstein. Bukan gadis yang... bahkan saya ragu dia tahu cara menggunakan pisau makan dengan benar."
"Hendrawan, cukup."
Suara Kakek Abraham tidak keras, namun cukup untuk membuat Hendrawan seketika membungkam mulutnya. Sang Kakek mengetukkan tongkat peraknya sekali ke lantai marmer. Tuk.
Kakek Abraham menatap Nirbi. Tatapannya tidak menghina, melainkan menyelidik—mencari sesuatu di balik wajah polos gadis itu. "Mendekatlah, Nona muda," perintahnya.
Nirbi melirik Calvin, yang mengangguk pelan. Dengan langkah ragu, Nirbi mendekat ke arah sang Kakek.
"Kakek," bisik Nirbi pelan.
Kakek Abraham menatap tangan Nirbi yang tidak memakai sarung tangan, lalu menatap wajah Calvin. "Calvin... kulihat kamu tidak menyemprotnya dengan disinfektan saat dia menyentuhmu tadi. Itu kemajuan yang luar biasa bagi anak yang bahkan benci menyentuh gagang pintunya sendiri."
"Dia berbeda, Kek," sahut Calvin tegas.
Kakek Abraham tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat langka. "Aku mendukungmu, Calvin. Seorang pria Weinstein harus tahu siapa yang bisa memberinya kedamaian, bukan sekadar mempercantik citra."
"Papa!" seru Hendrawan tidak terima. "Papa membiarkan dia menikahi gadis dari keluarga bangkrut ini? Keluarga Rein itu penuh dengan kegagalan!"
"Kegagalan?" Calvin melangkah maju, menghalangi pandangan ayahnya dari Nirbi. "Papa bicara soal kegagalan keluarga lain? Mari kita bicara soal kegagalan Papa sebagai suami dan ayah."
Wajah Hendrawan memerah. "Jaga bicaramu, Calvin!"
"Kenapa? Takut rahasianya terbongkar di depan Kakek?" Calvin tertawa getir, matanya mulai memerah karena emosi yang dipendam belasan tahun. "Nirbita... Varro... kalian tahu kenapa saya menderita OCD?"
Nirbi menatap Calvin dengan sedih, sementara Varro tertegun.
"Dulu, setiap kali saya pulang bermain dan ada sedikit noda lumpur di sepatu saya, Papa tidak akan memarahi saya. Tapi Papa akan menyeret Mama ke ruang tengah," suara Calvin mulai serak. "Papa menghina Mama habis-habisan. 'Laras, kamu istri tidak becus!', 'Lihat anakmu kotor seperti sampah!'. Papa menyalahkan Mama atas setiap butir debu yang ada di rumah ini!"
Hendrawan membuang muka, sementara Kakek Abraham menutup matanya, seolah baru menyadari penderitaan cucunya.
"Mama sedang sakit kanker saat itu. Dia menahan rasa sakit di tubuhnya, tapi dia lebih takut pada amarah Papa yang diktator!" teriak Calvin. "Setiap malam sebelum tidur, Mama akan mencuci tangan saya sampai perih, hanya supaya besok pagi Papa tidak punya alasan untuk menyakiti hatinya lagi. OCD ini bukan warisan genetik, Pa! Ini adalah trauma yang Papa ciptakan supaya saya bisa melindungi Mama!"
Nirbi terisak, ia langsung memeluk lengan Calvin, mencoba menyerap kesedihan pria itu.
"Sampai hari kematiannya pun, Mama masih meminta maaf karena rumah belum cukup bersih untuk memuaskan Papa," lanjut Calvin dengan napas memburu. "Jadi jangan pernah bicara soal martabat di depan saya, ketika Papa sendiri yang menghancurkan martabat istri Papa sampai dia meninggal!"
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Hendrawan tidak bisa membantah, ia hanya bisa mengepalkan tangan dengan rasa malu yang tertutup kemarahan.
Kakek Abraham berdiri, suaranya kembali menggelegar dengan wibawanya. "Hendrawan, keluar dari sini. Pergilah ke London dan urus bisnismu. Jangan ganggu Calvin lagi, atau aku akan mencabut seluruh hak suksesi darimu."
"Tapi Papa—"
"Keluarlah!" perintah Kakek Abraham telak.
Hendrawan menatap Calvin dengan kebencian, lalu melirik Nirbi dengan sinis sebelum akhirnya melangkah pergi dengan hentakan kaki yang kasar.
Kakek Abraham mendekati Calvin dan Nirbi. Ia meletakkan tangannya di bahu Calvin. "Maafkan kakekmu yang terlambat menyadari ini, Calvin. Dan untukmu, Nona Nirbita..."
Kakek Abraham menatap Nirbi dengan lembut. "Teruslah menjadi 'kekacauan' yang indah untuknya. Hanya kekacauanmu yang bisa meruntuhkan tembok trauma yang dibangun ayahnya. Aku merestui kalian sepenuhnya."
Varro yang sejak tadi menahan napas, akhirnya bisa menghembuskan napas lega. "Wuih... Kakek Weinstein beneran kayak raja di film-film. Hormat, Kek!" celetuk Varro sambil membungkuk sopan.
Kakek Abraham terkekeh pelan. "Dan kamu, Navarro... bimbing adikmu. Jangan biarkan dia menjadi Weinstein yang membosankan. Aku butuh sedikit keributan di keluarga ini agar tidak terasa seperti museum."
Malam itu, di tengah kemegahan penthouse yang steril, Calvin akhirnya menangis di bahu Nirbi—bukan tangisan kuman, tapi tangisan seorang anak kecil yang akhirnya bebas dari bayang-bayang ayahnya.
udah ngasih beban nitipin NOBITA eehh.. maksudku Nirbita...
nglunjak lagi..🤣🤣🤣🤣🤣
dari sahabat jadi musuh ini kah... bukan musuh dari awal.
Nirbita lucu banget ... ini bukan kembaran nya Nobita kan ??? /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
udah ini mah lucu lucu romantis gemes dan lebbayyy tapi aku suka