NovelToon NovelToon
Mawar Berduri: Tahta Untuk Ratu

Mawar Berduri: Tahta Untuk Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Anonymous MC

"Mereka mengira aku boneka porselen yang siap pecah. Mereka pikir aku buta, bodoh, dan lemah. Biar aku tunjukkan, dari balik duri-duri ini, ada mahkota yang menungguku."

Alana Wijaya adalah putri tunggal konglomerat yang jatuh miskin. Setelah ayahnya wafat, ia menikah dengan pria yang diam-diam berselingkuh dengan sahabatnya sendiri—tepat di bawah atapnya, selama tiga tahun. Alana memilih diam. Bukan karena takut, tapi karena sedang menyusun takhta.

Di balik gaun mahal dan senyum palsunya, ia diam-diam membangun kembali kerajaan ayahnya. Ia masuk ke klub eksklusif dengan pakaian usang, diremehkan, dicemooh—sampai suatu hari, para investor paling disegani di negeri ini berlutut menawarkan kerja sama.

Saat sang suami dan sahabatnya mulai menyadari bahwa mereka bukan lagi predator, melainkan mangsa... Alana baru benar-benar tersenyum.

"Kau pikir kau yang memainkanku? Sayang sekali. Permainan baru saja dimulai—dan akulah pembuat aturannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Investor Misterius di Klub Elit

Mawar di Tengah Badai

Di antara pecahan kaca dan sorot mata yang menghakimi,

Aku berdiri, bukan sebagai tumbal, tapi sebagai duri.

Mereka lihat gaun lusuh dan senyum yang rapuh,

Tapi lupa, mawar tak pernah takut pada lumpur yang tumbuh.

Akarku menjerat diam-diam di bawah singgasana,

Kelopakku menyimpan racun di balik pesona.

Biarkan mereka tertawa, menuding, dan meremehkan,

Saat badai datang, hanya mawar yang mampu bertahan.

Karena aku tahu, di balik duri-duri ini,

Ada mahkota yang menunggu untuk kukenakan sendiri.

Bukan karena takdir, tapi karena pilihan,

Menjadi ratu dari luka dan pengkhianatan.

---

Crystal Palace bukan sekadar klub. Ia adalah altar para dewa ekonomi, tempat transaksi miliaran terjadi dalam bisikan, dan reputasi dibangun atau dihancurkan hanya dalam satu malam. Lampu kristal berkilauan memantulkan kilauan perhiasan para wanita yang duduk dengan anggun, sementara para pria menyandang setelan mahal dengan senyum penuh perhitungan.

Dan di tengah gemerlap itu, Alana Wijaya hadir seperti noda.

Gaunnya—warna navy tua dengan potongan sederhana, usang di beberapa jahitan—tampak seperti barang rongsokan di antara sutra dan renda berkilauan. Ia tahu. Ia merasakan tatapan sinis yang menusuk dari para wanita sosialita yang duduk melingkar di sofa beludru merah. Salah satu dari mereka, Nyonya Renata, bahkan tidak repot-repot menutup tawa cemoohnya saat Alana melintas.

“Ya ampun, mana mungkin pelayan masuk ke area VVIP? Atau mungkin ini acara amal untuk kaum dhuafa?” ledeknya cukup keras hingga beberapa orang menoleh.

Alana tidak berhenti. Ia hanya memperlambat langkah, lalu menoleh dengan senyum tipis. “Maaf, Nyonya. Saya pikir ini acara amal, tapi ternyata hanya undangan biasa. Tapi tidak apa, saya tetap akan menyumbang—dengan kehadiran saya.”

Renata membeku. Sebelum ia sempat membalas, Alana sudah berjalan menjauh, langkahnya mantap meski dadanya berdebar. Ia tidak datang ke sini untuk terlibat perang mulut dengan perempuan seperti Renata. Ia datang untuk satu hal: mencari investor.

Menyusuri ruangan, matanya memindai satu per satu tamu. Para konglomerat tua yang dulu pernah bersalaman dengan ayahnya, sekarang pura-pura tidak melihat. Para pengusaha baru yang kaya raya, terlalu sibuk bergosip tentang mobil terbaru atau model terkini. Hingga matanya berhenti pada sosok di sudut ruangan.

Seorang pria duduk sendirian di sofa dekat jendela besar yang menghadap ke langit malam. Satu kaki disilangkan dengan santai, segelas wiski di tangan, tatapan mata dingin yang seolah melihat segalanya tapi tidak tertarik pada apa pun. Setelan hitamnya rapi tanpa cela, dasi sedikit longgar—satu-satunya tanda bahwa ia mungkin sedikit bosan.

Nathan Pramana.

Alana mengenalnya dari majalah bisnis. Pewaris tunggal Pramana Group, konglomerat yang bergerak di bidang teknologi dan properti. Usianya baru tiga puluh empat, tapi sudah duduk di jajaran dewan komisaris setengah lusin perusahaan multinasional. Ia dikenal sebagai investor jenius yang tidak pernah salah memilih proyek. Juga dikenal sebagai pria dingin yang sulit didekati, bahkan oleh para model dan sosialita paling cantik sekalipun.

Jika ada satu orang di ruangan ini yang bisa melihat melampaui gaun usangnya, mungkin itu dia.

Atau mungkin hanya mimpi.

Alana menarik napas dalam-dalam. Ia ingat kata-kata ayahnya: Jangan pernah takut mengambil risiko, Nak. Tapi pastikan kau tahu kapan harus melompat.

Sekarang adalah saatnya melompat.

Ia berjalan mendekat. Setiap langkah terasa seperti menantang gravitasi. Dari sudut mata, ia melihat Renata dan teman-temannya memperhatikan dengan seringai penasaran, seolah menunggu tontonan memalukan.

Nathan tidak menoleh saat Alana berhenti di samping sofanya. Matanya tetap pada layar ponsel, jari-jarinya sesekali menyentuh layar.

“Maaf, apakah kursi di sebelah Anda kosong?” Alana bertanya, suaranya tenang meski jantungnya berlomba.

Nathan mengangkat kepala. Sorot matanya menangkapnya—dari ujung rambut yang diikat sederhana, gaun lusuh, hingga sepatu hak yang sedikit tergores. Kemudian matanya kembali ke ponsel. “Tidak. Saya sedang menunggu seseorang.”

“Saya hanya butuh lima menit.”

“Saya sedang sibuk.”

“Anda sedang membaca laporan keuangan kuartal ketiga perusahaan rintisan di bidang fintech. Layar Anda menunjukkan grafik yang menurun. Saya rasa itu bukan hal yang mendesak.”

Nathan berhenti. Ia menatapnya lagi, kali ini lebih lama. Ada sesuatu di matanya—mungkin keterkejutan, mungkin juga minat. “Kau bisa membaca dari jarak itu?”

“Saya punya mata yang cukup tajam. Dan ingatan yang cukup baik untuk mengingat perusahaan mana yang sedang Anda investasi.” Alana duduk di kursi di seberangnya tanpa menunggu izin. “Nama saya Alana Wijaya. Putri dari Hendra Wijaya, pendiri Wijaya Group.”

Nathan menaruh ponselnya di atas meja. Kini perhatiannya sepenuhnya tertuju padanya. “Wijaya Group? Perusahaan itu sudah diakuisisi tiga tahun lalu oleh menantu Hendra. Richard Hartanto, benar?”

Alana tersenyum, tapi matanya tidak ikut tersenyum. “Benar. Suami saya.”

“Suami.” Nathan mengulang kata itu dengan nada datar. Ia meraih gelasnya, menyesap wiski, lalu menatapnya lagi. “Jadi, apa yang dilakukan putri pemilik lama perusahaan yang sudah diakuisisi datang ke sini dengan gaun... maaf, gaun yang menarik perhatian itu?”

“Saya datang untuk menawarkan sesuatu yang tidak bisa ditolak.”

Nathan tertawa kecil. Tawa yang dingin, tanpa humor. “Kau datang ke klub eksklusif dengan penampilan seperti ini, duduk di depan pria yang tidak kau kenal, dan bilang kau punya tawaran yang tidak bisa kutolak?” Ia menggeleng. “Kau berani. Atau bodoh. Aku belum bisa memutuskan.”

Alana mencondongkan tubuh sedikit ke depan, suaranya merendah. “Saya bukan wanita bodoh. Saya hanya sedang dalam proses... mengambil kembali apa yang menjadi milik saya.”

Untuk pertama kalinya, Nathan terdiam. Ia menatap Alana dengan cara yang berbeda. Bukan lagi sebagai objek kasual, tapi sebagai sesuatu yang perlu diperhatikan. Matanya yang dingin kini menyelidik, mencari celah, mencari kepalsuan.

“Apa yang kau tawarkan?” tanyanya akhirnya.

“Proyek properti di kawasan timur. Tanah seluas sepuluh hektar yang saat ini tercatat atas nama perusahaan suami saya. Tapi sebenarnya, tanah itu adalah warisan ayah saya yang diambil secara ilegal. Saya punya bukti otentik. Saya butuh investor untuk mengembangkan tanah itu, dan saya butuh mitra yang bisa membantu saya secara legal mengambil alih kembali.”

Nathan mengangkat alis. “Kau ingin aku membantumu melawan suamimu sendiri?”

“Saya ingin Anda membantu saya mengambil kembali hak saya. Apa yang terjadi dengan suami saya setelah itu... itu urusan saya pribadi.”

Diam. Nathan meletakkan gelasnya, lalu menyandarkan punggung di sofa. Ia menatap Alana dengan intens, seolah membaca setiap garis wajahnya, mencari kebohongan.

“Kau tahu,” katanya pelan, “selama tiga tahun terakhir, Richard Hartanto membangun reputasi sebagai pengusaha sukses. Tapi aku selalu merasa ada yang aneh dengan laporan keuangannya. Ada dana yang mengalir ke mana-mana, seperti tidak jelas sumbernya. Aku curiga ada sesuatu yang tidak beres.”

Alana tidak menjawab. Ia hanya menatap Nathan dengan pandangan yang sama tajamnya.

Nathan tersenyum tipis. Bukan senyum ramah, tapi senyum seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang menarik. “Kau bukan wanita bodoh, kan?”

Alana balas tersenyum. Senyum yang sama tipisnya, tapi penuh makna. “Apakah saya terlihat bodoh?”

Di kejauhan, Renata dan teman-temannya ternganga. Mereka melihat Nathan Pramana—pria yang selama ini tidak pernah melirik siapa pun—kini duduk berhadapan dengan wanita bergaun lusuh itu, dan bahkan tampak serius berbicara. Apa yang terjadi?

“Baik,” kata Nathan tiba-tiba. Ia mengeluarkan kartu nama dari saku jas, meletakkannya di atas meja. “Kantor saya. Senin pagi, jam sembilan. Bawa semua bukti yang kau punya. Kalau terbukti benar, kita bicara lebih lanjut.”

Alana mengambil kartu itu. Jari-jarinya sedikit gemetar, tapi ia berusaha keras menyembunyikannya. “Terima kasih, Tuan Pramana.”

“Nathan.” Ia mengangkat gelasnya, memberi isyarat. “Panggil aku Nathan. Dan jangan berterima kasih dulu. Aku belum memutuskan apa pun.”

Alana berdiri. Sebelum berbalik, ia menatap Nathan sekali lagi. “Saya tidak butuh keputusan Anda sekarang. Saya hanya butuh Anda mendengar. Dan Anda sudah melakukannya.”

Saat ia berjalan meninggalkan sudut itu, ia merasakan puluhan pasang mata mengikutinya. Tapi kali ini, tatapan itu berbeda. Bukan cemoohan, tapi rasa penasaran. Dan di antaranya, ada satu tatapan yang paling tajam—dari Nathan Pramana, yang masih duduk di sofanya, menyesap wiski dengan senyum misterius.

Di luar klub, angin malam menyapu wajah Alana. Ia menarik napas panjang, menggenggam erat kartu nama itu. Langkahnya mantap menuju mobil tua yang diparkir jauh di pojok.

Satu langkah kecil. Tapi cukup untuk membuat duri-durinya mulai menusuk.

---

Bersambung...(⁠ノ゚⁠0゚⁠)⁠ノ⁠→

1
lin sya
msih menyimak alurnya, ttp smgat aluna, Lo diterpa byk badai tp lo ttp sehat cuma mental dan kesabaran Lo aj yg diuji, jadi gunakanlah logika dan hati hati dalam bertindak 😍
gaby
Ayah Alana sama bajingannya seperti Ricard. Istri pertama dia buang sampai depresi & berakhir masuk RSJ. Ada yg percaya jgnlah menjahati org baik, karena karma buruk akan menimpa keturunan kita. Mungkin yg di alami Alana buah karma kebejatan ayahnya. Alana anak kesayangan, jd karma menimpanya agar Wijaya merasakan sakitnya melihat wanita baik2 di khianati. Seperti ibu kandung Alana yg dia buang, bahkan Alana pun ga di kenalkan dgn ibu kandungnya. Seolah2 istri baru ayahnya adalah ibu kandung Alana.
gaby
Jgn2 bapaknya Alana pemain perempuan jg kaya Ricard. Td di bilang istri pertama, kalo ada kata Pertama, artinya ada yg selanjutnya alias bukan istri satu2nya
Zahra Ningtiyas
semakin gregetan
lin sya
sedih klo baca alur Alana, smga Nathan bsa secara perlahan mengobati kekecewaan Krn pengkhianatan suami dan sahabat, alana pntas bahagia cuma gak beruntung aj ktmu org serakah, Nathan tulus orgnya bisa jdi jodoh mski alana tkut buka perasaan lgi👍
Arix Zhufa
mereka ber 2 tidak kah di bui?
terlalu enak klo cuma dimiskin kan
gaby: Betul ka, tindakan mreka kriminal. Merampok, slingkuh, zinah, & suami Kdrt. Ini negara hukum, masa pelaku kriminal ga di penjara. Walau penjara mungkin cuma sebentar, tp seenggaknya penjara bisa menghancurkan mental, karir, & nama baik mreka. Kalo ga dipenjarakan, minimal di viralkan, biar netizen yg menghukum
total 1 replies
Arix Zhufa
Richard ini aneh...

selingkuh di rumah sendiri selama 3th, istrinya dikira tdk tau 😄
gaby: Richad mokondo ka, ga mau modal buat bayar hotel. Kalo drmh mertua kan gratis tuh
total 1 replies
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
weehh kok malah antusias
Nurlaila Syahputri
Ceritanya bagus dikhianati dengan balas dendam Sempurna👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Arix Zhufa
cerita nya seru
Aisyah Suyuti
bagus
Arix Zhufa
aq bacanya sambil nahan nafas
Osie
loh diawal kan udah buat janji dgn nathan kok sekarang spti baru kenal lagi
Osie
laahh alana jgn lama lama action nya..kasihan rumah peninggalan ortu mu dijadikan tempat berzina.
Osie
mampir aku nyaaahh..baca sipnosis sptinya seru..moga sesuai ekspektasiku n moga ini cerita sp end🙏🙏
Arix Zhufa
mampir thor...kayak nya seru
JulinMeow20
novel jiplakan karya orang lain
JulinMeow20
kalau nulis itu hasil pemikiran sendiri kak jangan jiplak hasil karya orang lain 🙏 ada hukumnya loh kayak gitu🙏
Ammarcihuy Muhammad: Kok melepem Lempar batu sembunyi Tangan kucur. Adukan aja kak Anonymous sama Noveltoon biar akun nya ke band selamanya. mengotori cerita KK jadi
total 3 replies
gaby
Kayanya seru. Tp aq liat profil othornya, bny bgt novel barunya. Yakin sanggup nulis update beberapa judul skaligus?? Mudah2an ga hiatus di tengah jalan, karena critanya bagus
Ammarcihuy Muhammad: Eh bagudung buktikan Fitnahan mu. Brani berbuat brani tanggung jawab bulan puasa menghasut orang dan memfitnah
total 3 replies
Anonymous MC
ceritanya terlalu manis tuk dikenang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!