Shafira Azzahra, tidak menyangka laki-laki yang dulu selalu baik dan royal berubah ketika dirinya sudah menikah dengan Aris Permana. Aris, suaminya menunjukkan sifat aslinya yang pelit dan perhitungan dengannya. Apalagi sikapnya yang lebih mengutamakan keluarganya dibandingkan dirinya yang sebagai istri.
Setiap hari Shafira akan dikasih jatah belanja 20 ribu sehari oleh suaminya, Aris. Setiap hari Shafira harus memutar otak, harus dibuat apa dengan uang 20 ribu rupiah. Jika lauk tak enak, Sharifa'lah yang akan mendapatkan makian dari mulut julid keluarga suaminya.
Akhirnya Shafira memanfaatkan waktunya dirumah dengan menulis novel dan berjualan online dengan nama pena dan nama tokonya memakai nama samaran agar suami dan keluarganya tidak tahu kalau Sahfira juga memiliki penghasilan.
Suatu hari Shafira tidak sengaja melihat sang suami sedang jalan dengan seorang wanita. Karena mencium bau bau perselingkuhan, Shafira pun mulai masa bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Satu
Setelah melihat suami dan kedua mertuanya pergi, Shafira pun segera bersiap-siap. Ia menggunakan gaun cantik yang ia beli khusus untuk menghadiri pernikahan kedua suaminya itu.
Tak lupa ia sedikit memoles wajahnya dengan makeup tipis, sehingga membuatnya terlihat semakin cantik.
Tak lama terdengar suara klakson mobil didepan gerbang rumah, segera Shafira merapikan penampilannya dan keluar menemui kedua sahabatnya yang sudah menunggunya.
"Waah.. Lo cantik banget Ra, bisa-bisa si Aris batalin pernikahannya ini sama calon istrinya itu." celetuk Vinna yang terpesona dengan kecantikan sahabatnya itu.
Memanglah Shafira memiliki wajah yang cantik alami meskipun tidak memakai makeup sekalipun, ia juga selalu merawat wajahnya itu sehingga wajahnya terlihat mulus tanpa adanya jerawat.
"Ho'oh, bisa-bisa suami lo terpesona nanti, dan gak jadi menikah lagi." timpal Nita yang juga mengagumi kecantikan Shafira.
"Kalian berdua jangan berlebihan gitu, ayo lah kita berangkat. Keburu mereka udah sah aja nanti jadi suami istri." ujar Shafira yang merasa malu dan salah tingkah dengan ucapan kedua sahabatnya yang menurutnya berlebihan itu.
Mereka pun berangkat bertiga dengan Vinna yang membawa mobilnya.
Sepanjang perjalanan Shafira merasa gugup, biar bagaimana pun, yang ia hadiri adalah pernikahan kedua suaminya. Pasti nanti disana akan terjadi keributan.
"Lo tenang aja, jangan gugup gitu. Nanti disana lo jangan tunjukkin wajah sedih lo ini. Lo bebas tumpahin semua rasa sakit hati lo ini dan buat suami dan pelakor itu malu di hari pernikahannya."
"Iya, kalian tenang aja, gue gak sedih kok, cuma gue gugup aja."
Sementara ditempat lain, Aris dan kedua orang tuanya beserta beberapa keluarganya baru tiba dirumah Fela. Ternyata bukan hanya kedua orang tuanya yang menemani, tapi ada juga beberapa keluarga dari Bu Ratna yang ikut. Mereka sengaja tidak berkumpul dirumah bu Ratna agar Shafira tidak curiga.
Terlihat tenda pernikahan terpasang didepan rumah Fela, tidak lupa dengan musik khas pernikahan yang biasa dimainkan saat dihari pernikahan. Dan terlihat sudah banyak orang yang datang yang akan menyaksikan acara ijab Kabul.
"Bu, kenapa ramai sekali tamu undangannya. Padahal ini kan cuma pernikahan siri." bisik Aris mendadak gugup, karna Fela juga tidak memberi tahu kalau akan banyak tamu yang akan datang.
Padahal Aris sudah wanti-wanti pada Fela kalau tidak perlu mengundang banyak orang.
"Ya gak pa pa, mau banyak atau sedikit tamu yang hadir juga Shafira gak mungkin tahu kamu menikah lagi." ujar bu Ratna.
Terlihat beberapa orang menyambut kedatangan mereka dan mempersilahkan mereka masuk karna penghulu juga sudah datang.
"Ih, anak ibu cantik sekali, ibu sampai gak ngenalin kamu lho sayang." seru bu Nurma melihat anaknya yang sudah berubah karna wajahnya sudah tertutup makeup.
"Ibu bisa aja mujinya, Fela gugup sekali ini bu."
"Itu wajar sayang, kan kamu sebentar lagi bakalan jadi pengantin. Tapi ibu sebenarnya gak setuju kalau kamu hanya menikah siri, kenapa kamu gak langsung minta dinikahkan secara sah aja sih Fel." ujar bu Nurma yang tidak tahu kalau Aris sudah mempunyai istri, dan Fela akan menjadi istri kedua saja.
"I-itu.. emm nanti mas Aris mau mengurus surat-suratnya dulu. Mas Aris belum bisa kalau sekarang, karna dikantor sedang banyak kerjaan." ucap Fela gugup.
"Ya sudah, tapi pesan ibu, kamu jangan terlalu lama, secepatnya kamu suruh Aris mengurus semuanya. Nanti kamu sendiri yang rugi apalagi kalau kamu sudah hamil."
"I-iya Bu."
"Bude, itu rombongan calon pengantinnya sudah pada datang." seru sepupu Fela yang memasuki kamar tempatnya dirias.
"Waah.. kamu cantik banget Fel, aku juga mau nanti kalau menikah dirias begini." seru Andin sepupu Fela.
"Iya dong, aku selalu cantik walaupun gak pake makeup." ujar Fela percaya diri.
"Ayo kita keluar, ijab kabulnya sebentar lagi dimulai." ujar bu Nurma menghentikan perdebatan keduanya.
Keduanya pun menuntun Fela di kiri dan kanan, membawanya keluar menemui calon mempelai pria.
Sementara ditempat lain, Bram sedang uring-uringan karna Anita tidak pulang kerumah dari kemarin. Ia sudah mencarinya dirumah anaknya tapi Anita tidak ada disana.
"Kamu kemana sih ma, gak biasanya kamu sampai gak pulang kerumah. Apa kamu udah tahu semuanya." gumam Bram yang sedang sibuk menelpon istrinya tapi sekarang malah nomornya tidak aktif.
"Pak, ini ada surat atas nama bapak." ujar Siti menyerahkan amplop berwarna coklat.
"Surat dari siapa?" tanya Bram.
"Saya tidak tahu pak, tadi ada kurir yang mengantar, katanya untuk pak Bram."
"Ya sudah, terima kasih."
"Sama-sama pak, saya permisi dulu."
Bram pun mengangguk dan membuka amplop coklat itu. Seketika Bram membeku melihat tulisan pengadilan agama yang tertera pada kertas putih itu. Meskipun ia belum membuka sepenuhnya kertas itu, tapi firasatnya sudah tidak enak.
Matanya semakin membola kala membaca kalau surat itu memang untuk dirinya.
"Apa-apaan ini, kenapa Anita tiba-tiba menggugat cerai aku. Kurang ajar, ini tidak boleh terjadi, Anita tidak bisa seenaknya main gugat cerai." pekik Bram dengan muka yang sudah merah padam. Ia merasa tidak memiliki harga diri karna istrinya diam-diam sudah menggugat cerai dirinya.
Bram pun langsung menyambar kunci mobilnya dan bergegas keluar rumah untuk mencari keberadaan Anita. Ia berharap Anita sedang berada di cafe miliknya.
"Kurang ajar, kamu gak bisa cerai dari aku Anita, aku gak pernah melakukan kesalahan tiba-tiba kamu mau bercerai." ujar Bram emosi bercampur takut.
Selain karna takut kehilangan kemewahan yang selama ini ia nikmati, Bram juga masih sangat mencintai istrinya itu. Bram hanya bermain-main mencari kepuasan diluar sana, ia hanya menganggap perempuan-perempuan muda yang pernah tidur dengannya itu sebagai selingan kala ia tidak puas dan bosan dengan istrinya dirumah.
Bram masih berfikir istrinya itu tidak tahu kalau ia suka bermain dengan perempuan lain. Bram berfikir Anita salah paham dengan hal yang lain.
"Tari, bu Anitanya ada?" Tanya Bram pada penjaga bagian kasir di cafe milik Anita.
Bram yakin kalau hari ini Anita istrinya itu berada di cafe pusat miliknya.
"Oh iya, Bu Anita ada diruangannya pak. Bu Anita berpesan kalau bapak datang, langsung saja masuk. Bu Anita sudah menunggu." ujar Tari.
Bram segera keruangan Anita yang berada di lantai dua.
Brakk...
Bram yang emosi membuka kasar pintu tanpa mengetuknya. Terlihat Anita sudah menunggunya. Bram pun melempar kertas gugatan cerai itu di meja kerja Anita.
"Ini maksudnya apa!" ujar Bram emosi melihat istrinya yang malah santai.
"Memangnya kamu gak bisa baca mas maksud isi surat itu apa." sahut Anita santai.
"Kamu jangan mancing emosi mas Anita, kenapa kamu tiba-tiba menggugat cerai mas? Mas gak pernah melakukan kesalahan apapun sama kamu." ujar Bram.
"Oh ya? Kamu yakin mas gak pernah melakukan kesalahan?" ucap Anita menatap tajam suaminya itu.
"Y-ya." ujar Bram mengangguk ragu, nyalinya mendadak menciut melihat tatapan istrinya itu.
"Terus ini apa?" Tanya Anita membalikkan foto yang sedari tadi berada diatas meja.
Deg...
Mata Bram melotot melihat foto-fotonya yang sedang merangkul mesra pinggang beberapa perempuan muda, ada juga foto v**garnya yang sedang berhubungan dengan perempuan yang berbeda-beda.
"I-ini tidak benar, ini pasti editan. Pasti Ada yang mau memfitnah mas." gagap Bram yang wajahnya sudah memucat.
Anita tersenyum sinis melihat suaminya yang masih bisa menyangkal.
"Kamu tenang aja mas, tidak ada yang memfitnah kamu. Karna foto-foto ini semua aku langsung yang mengambilnya." ujar Anita bersedekap dada.
kan." "A-apa maksud kamu Nit? Kamu pasti bercanda
"Aku tidak bercanda mas, aku dari dulu udah tahu kalau kamu suka bermain perempuan. Aku diam aja bukan berarti aku gak tahu, aku cuma mau menunggu kamu sadar, tapi apa? Kamu malah semakin menjadi.
"Ma-mas minta maaf Nit, mas khilaf. Mas gak bermaksud selingkuh dari kamu." ujar Bram memegang tangan Anita yang langsung ditepis.
"Kamu Jangan kurang ajar mas, kita sekarang dalam proses perceraian." ketus Anita.
"Sampai kapanpun mas gak akan mau bercerai dari kamu Nit, ingat kita ini sudah tua. Sudah punya cucu. Kamu jangan bersikap kekanakan begini." ujar Bram emosi mendapat penolakan dari istrinya itu.
"Kamu sendiri sadar kalau kamu itu sudah tua, tapi kenapa kelakuan kamu melebihi anak muda. Kamu jalan sana-sini gandeng wanita yang cocoknya jadi anak kamu. Bahkan kamu berzina dengan mereka."
"Maafin mas Nit, mas khilaf. Mas mohon cabut gugatan cerai kamu ini. Mas janji gak akan selingkuh lagi dari kamu."
"Udah lah mas, aku tetap bakalan cerai dari kamu. Aku udah gak bisa menerima kamu yang suka selingkuh."
"Gak Nit, sampai kapan pun mas gak mau cerai dari kamu. Silahkan aja kamu gugat mas, mas akan memberatkan proses perceraian ini supaya kamu gak bisa cerai dari mas."
"Silahkan aja mas, tapi jangan menyesal kalau aku melaporkan kamu ke polisi karna sudah menggelapkan uang cafe milik ku. Jangan pikir aku tidakk tahu kelakuan kamu selama ini ya mas." ujar Anita menyeringai.
Glek...
Bram tidak menyangka istrinya tahu kelakuannya yang selalu mengambil dana dari cafe untuk bersenang-senang dengan para selingkuhannya. Ia pikir Anita tidak pernah mengecek keuangan, karna Anita selama ini terlihat sibuk bermain dengan cucunya.
"Ka-kamu jangan laporin mas kepolisi Anita, bagaimana mana nanti tanggapan semua keluarga kita kalau melihat mas dipenjara."
"Kalau kamu tidak mau dilaporkan, kamu jangan coba-coba memberatkan proses perceraian kita." ancam Anita.
Sebenarnya Anita hanya menakut-nakuti Bram saja yang akan melaporkannya ke polisi. Itu hanya alasan saja, walaupun Bram mencoba memberatkan proses perceraiannya nanti, itu tidak akan bisa karna ia memiliki bukti yang kuat.
Anita juga tidak akan sampai memenjarakan Bram, ia tidak mau anak menantu serta cucunya malu kalau Bram sampai dipenjara.
Bram pun akhirnya mengangguk, ia akan memikirkan cara supaya Anita tidak jadi bercerai darinya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Fela Wahyu Laely binti Wahyu almarhum dengan mas kawin tersebut dibayar tu..
"Tunggu!!!"
Deg...