Seorang penguntit telah dua kali menyusup ke rumah Stella. Ia merasa membutuhkan bantuan profesional. Karena itu, Kayson Sheridan, musuh bebuyutannya semasa kecil sekaligus pendiri Sheridan Securities, pun hadir untuk membantunya.
Kayson berjanji akan melindunginya serta menugaskan penyelidik terbaik untuk menangani kasus tersebut.
Mungkin Kayson tidak seburuk yang selama ini ia kira. Semakin lama bersama pria itu, Stella menyadari bahwa perasaannya jauh menjadi lebih rumit daripada yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Namun, di sisi lain, seseorang telah mengincar Stella dan bertekad bahwa jika tidak dapat memilikinya, maka ia akan menghancurkannya.
୨ৎ SHERIDAN SECURITIES SEASON I ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelidikan Ulang
“Lo pernah mikirin itu?” tanya Kayson, suaranya dalam dan bergetar.
Tatapannya kembali turun ke bibir Stella. Saat dia berbicara, matanya perlahan naik lagi.
“Ciuman kita? Ciuman pertama lo? Lo pernah mikirin itu?”
Stella menggeleng. Karena setiap kali dia berbicara dan berbohong, suaranya selalu goyah. Jadi lebih baik diam.
“Gue senang bisa jadi yang pertama buat lo.”
Stella tidak ingin mengingat ciuman mereka. Itu sudah lama sekali, dan itu kesalahan bodoh. Dia masih berusia lima belas tahun, Kayson tujuh belas.
Saat itu hujan turun deras dan mereka terjebak di sekolah. Stella sedang mengerjakan proyek seni seperti biasa, dan dia tidak tahu kenapa Kayson pulang selarut itu hari itu. Mungkin latihan basket atau semacamnya.
Stella keluar kelas dan bukannya berjalan pulang, dia berdiri di bawah kanopi gerbang sekolah, sementara hujan masih turun dengan lebat. Dia menunggu badai reda. Lalu dia berbalik badan dan bibir Kayson langsung menyosor dari belakang.
“Stella?”
Dia menelan ludah. “Gak ada gunanya bahas kesalahan yang udah lama.”
Suaranya tak goyah. Dia tidak berbohong. Berciuman dengan Kayson memang kesalahan. Dan itu salah satu dari sedikit rahasia yang tidak pernah dia ceritakan pada Riggs.
“Selamat malam.” Sekarang tangannya mendorong dada Kayson.
Kayson mundur. Lalu berbalik. Akhirnya Stella bisa bernapas lagi.
Kayson menoleh padanya, dengan senyum tipis di wajahnya. “Lucu. Kesalahan itu malah jadi ciuman terbaik dalam hidup gue.”
Stella benar-benar merasakan keterkejutan yang menjalar di tubuhnya. Tidak mungkin Kayson bicara seperti itu.
“Oke, mungkin gue salah. Sudah lama. Mungkin suatu hari kita harus mencobanya lagi. Kita lihat apakah sekarang lebih baik daripada dulu.” Kayson mengedipkan mata. “Atau mungkin lo malah jadi lebih hebat sejak saat itu.”
Stella merasakan wajahnya memanas.
Kayson tertawa pelan. “Atau mungkin lo jadi jauh lebih buruk. Oke ... Lo harus nunjukin ke gue.”
Dengan tatapan murka, Stella mengacungkan jari tengah kepadanya lalu menerobos masuk ke kamar tamu.
Stella membanting pintu keras-keras, itu satu-satunya cara untuk menunjukkan apa yang ia rasakan. Pria itu sudah lama menjadi sumber kehancuran hidupnya.
Dan sekarang Stella malah bergantung padanya?
Sambil menggeram pelan, Stella menarik lepas kemejanya saat berjalan menuju kamar mandi. Situasinya benar-benar mengerikan.
Dan sialnya ciuman bodoh itu juga yang terbaik dalam hidup Stella.
Stella memang pembohong kelas kakap. Selalu begitu. Namun Kayson tidak pernah berbohong kepada Stella, dan sungguh menyedihkan harus mengakui bahwa ciuman itu luar biasa.
...────୨ৎ────...
Kayson mengusap wajahnya sambil berjalan menuju kamar tidurnya. Ia menendang pintu kamar hingga terbuka lalu meraih HPnya. Ia tidak peduli jam berapa sekarang. Ia harus menggerakkan timnya untuk menangani masalahnya. Jadi dia menelepon wakil direkturnya dan dalam beberapa menit Joel Gultom pun menjawab.
“Lo bener-bener udah motong sesuatu yang sangat, sangat penting,” geram Joel. “Kenapa sih timing lo selalu nyebelin?”
“Gue mau orang terbaik kita dikirim ke rumah Stella Allesandra besok pagi. Dia mengalami dua kali pembobolan dan ada bajingan yang hancurin rumahnya.”
“Apa?” suara Joel langsung tajam. “Stella yang sama kayak Stella-nya Riggs?”
Kayson hampir meremukkan HPnya.
Stella bukan milik Riggs.
“Dia baik-baik aja?” tuntut Joel.
“Dia baik. Dia ada di sini.”
Hening sejenak.
“Maksud lo, ulangi lagi?”
Kayson tahu pria itu mendengarnya dengan jelas sejak awal.
“Dia bakal tinggal di rumah gue sampai kita nangkep bajingan itu. Kepolisian setempat kewalahan dan gue enggak bakal ngebahayain dia. Gue mau tim terbaik kita pasang sistem keamanan lengkap di rumahnya. Tapi sebelum itu, gue mau area itu disisir buat cari bukti apa pun yang mungkin tertinggal.”
Kayson mengembuskan napas. “Dan gue mau mobilnya diperiksa total. Cek ada perangkat GPS atau nggak, dan pastikan mobil itu berfungsi sempurna.”
Menyabotase mobil adalah cara termudah untuk melukai target.
“Uh, ya tentu, bro, tapi kalau polisi sudah ke rumahnya—”
“Gue mau tempat itu diperiksa lagi. Dan kita berdua tahu tim kita yang terbaik di Asia.”
Bahkan sebenarnya yang terbaik di seluruh dunia.
Joel tidak membantah.
“Dia ketakutan,” tambah Kayson tegas. “Dan gue bilang ke dia kita bakal nemuin idiot itu. Bajingan itu enggak bakal bisa deketin dia lagi.”
Hening sejenak.
“Kedengarannya kok terlalu pribadi.”
Kayson menatap dinding yang memisahkannya dari kamar Stella.
“Iya.”
Kayson mengingat mobil Stella masih terparkir di garasi, sebuah mobil konvertibel kecil berwarna merah yang cantik. Stella menyukai sesuatu yang mencolok. Ia menyukai kesenangan.
Kayson telah menunggu Stella sejak lama. Menunggu seseorang seperti dirinya masuk ke dalam hidupnya. Seseorang yang bisa menenangkan kegelisahan di dalam dirinya. Stella sebenarnya juga menunggunya. Ia tahu itu.