NovelToon NovelToon
Surat Cinta Dari Langit

Surat Cinta Dari Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cinta Beda Dunia / Mengubah Takdir
Popularitas:450
Nilai: 5
Nama Author: habbah

Alana, seorang wanita yang sedang memulihkan luka hati, mengasingkan diri ke rumah tua peninggalan kakeknya di puncak bukit terpencil. Kehidupannya yang sunyi berubah sejak ia menemukan surat-surat misterius bertinta perak di dalam sebuah kotak pos kuno yang konon hanya menerima kiriman "dari langit".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Labirin Kertas dan Debu Masa Lalu

Pagi itu, Navasari dibalut oleh keheningan yang berbeda. Tidak ada kicauan burung yang riuh, hanya suara angin yang menyapu dedaunan pinus dengan ritme lambat, berat, seperti napas seseorang yang sedang tertidur lelap. Alana terbangun dengan batu meteorit itu masih tergenggam erat di telapak tangannya. Sensasi hangatnya telah menguap, berganti menjadi dingin logam yang padat, namun beratnya seolah membawa beban ribuan tahun sejarah perjalanan antarbintang.

"Kakek, apa sebenarnya yang kau sembunyikan di rumah ini?" bisik Alana pada dinding kayu yang bisu.

Rasa penasaran yang kini telah bermutasi menjadi obsesi mendorong Alana bangkit. Ia tidak lagi peduli pada kardus-kardus pakaiannya yang belum rapi. Fokusnya terpatri pada satu tempat: menara observasi di samping rumah.

Ia menggeledah laci meja kerja kakeknya yang penuh dengan penggaris busur berkarat dan peta bintang yang sudah menguning dimakan usia. Di sudut paling bawah, ia menemukan sebuah kunci perunggu tua dengan gantungan kayu berbentuk bulan sabit.

Dengan langkah ragu, Alana menuju pintu menara. Saat kunci diputar, suara gerendel yang berat berdentang, membuka akses ke tangga melingkar yang sempit. Debu menari-nari di bawah berkas cahaya matahari yang menerobos celah ventilasi. Setiap langkah di tangga kayu itu menciptakan gema yang membuat jantungnya berdegup lebih kencang.

Sesampainya di atas, bau khas kertas tua, oli mesin, dan udara yang terperangkap lama menyambutnya. Di tengah ruangan, berdiri teleskop raksasa berbahan kuningan—raksasa tidur yang sedang mengawasi cakrawala. Namun, rak-rak buku yang penuh dengan jurnal kulitlah yang menarik perhatiannya. Alana mengambil satu jurnal bertahun "1998".

Ia membuka halaman yang rapuh. Isinya bukan sekadar koordinat bintang, melainkan catatan pribadi yang mengusik nalar:

> 14 Juli: Frekuensi itu kembali lagi. Bukan suara, tapi denyut. Seperti kode Morse yang dikirimkan oleh detak jantung. Mereka bilang aku gila, tapi aku tahu ada seseorang di sana, di balik awan yang tidak pernah terjamah.

> 20 Agustus: Kotak pos harus diganti dengan bahan murni. Besi biasa mengganggu transmisi. Jika mereka bisa mengirimkan 'pesan' itu ke dalam mimpiku, mereka pasti bisa mengirimkannya dalam bentuk fisik jika jalannya benar.

> Tangan Alana gemetar. "Mereka?" tanyanya lirih. Apakah kakeknya terlibat dalam komunikasi antah berantah? Ia terus membaca hingga catatan terakhir sebelum kakeknya wafat:

> Jangan takut pada langit. Takutlah pada mereka yang ingin menutup matamu dari kebenaran. Alana, jika kau yang membaca ini, maafkan kakek. Langit memiliki cara bicaranya sendiri.

> Suara ketukan keras di pintu bawah membuyarkan lamunannya. Mantap dan menuntut. Alana segera turun, menyembunyikan jurnal itu di balik sweter. Di depan pintu, Elian berdiri mengenakan jaket denim tebal, memegang kotak perkakas.

"Kau habis dari menara observasi?" tanya Elian. Matanya menatap tajam ke arah menara, seolah ia bisa melihat menembus dinding batu itu.

"Hanya mencari barang lama," jawab Alana cepat.

Elian mengangguk, namun tatapannya tak beralih. "Pak Surya sering tidak keluar dari sana selama tiga hari. Orang desa pikir dia bicara dengan hantu, tapi aku tahu dia hanya sedang mencari sesuatu yang hilang... lebih jauh dari yang bisa dicapai kaki manusia, Alana."

Kalimat Elian menggantung, menciptakan keheningan yang canggung. Setelah Elian mulai memeriksa saluran air, Alana masuk kembali. Ia ingin menguji sosok "Langit" ini. Ia menulis surat baru:

Jika kau mengenalku, beri tahu aku: Apa warna 'pulang' yang aku simpan dalam ingatanku? Dan apa yang aku hancurkan di Jakarta hingga aku berakhir di sini?

Ia melipat surat itu menjadi pesawat kertas dan meletakkannya di kotak pos. Sore harinya, setelah Elian pamit pulang, Alana berlari keluar. Pesawat kertasnya hilang. Sebagai gantinya, ada sebuah botol kecil berisi cairan biru berkilauan dengan secarik kertas:

> Warna pulangmu adalah 'Amber', warna madu yang terkena sinar matahari sore di dapur nenekmu. Dan di Jakarta, kau tidak menghancurkan apa pun, Alana. Kau hanya hancur karena mencoba memegang cermin yang sudah retak.

> Minumlah ini. Cairan ini adalah embun dari tempat di mana kesedihan tidak memiliki gravitasi.

> Air mata Alana tumpah. Bagaimana mungkin? Warna 'Amber' itu adalah memori rahasia yang tidak diketahui siapa pun. Dengan tangan bergetar, ia membuka tutup botol. Bau harum campuran hujan, melati, dan salju menyeruak. Ia meminumnya dalam satu tegukan.

Detik berikutnya, tubuh Alana terasa seringan kapas. Kamar tidurnya menghilang, digantikan hamparan bintang yang maha luas. Ia melayang di tengah samudra angkasa. Namun, keindahan itu terinterupsi.

Di tengah hamparan bintang itu, Alana melihat sebuah bayangan hitam besar mendekat. Bukan sosok bercahaya yang ia bayangkan sebagai "Langit", melainkan sosok tanpa wajah yang membawa sebuah cermin retak cermin yang menampilkan wajah Alana yang sedang menangis darah di Jakarta.

"Tidakkk!" Alana tersentak bangun.

Ia terbangun dengan napas memburu. Namun, ia tidak berada di tempat tidur. Ia berada di lantai menara observasi, tepat di bawah teleskop raksasa. Dan yang membuatnya menjerit tertahan adalah: Teleskop kuningan itu kini tidak lagi mengarah ke langit, melainkan tertuju tepat ke arah jendela kamarnya sendiri, seolah-olah selama ini seseorang sedang mengintip setiap gerak-geriknya dari dalam menara tersebut.

 

Alana terpaku, jemarinya mencengkeram lantai kayu yang dingin dan berdebu. Napasnya memburu, menciptakan uap tipis di udara menara yang beku. Mata di kepalanya seolah menolak percaya pada apa yang baru saja ia lihat: teleskop kuningan itu, yang beratnya ratusan kilogram, telah bergeser posisinya. Lensa besarnya kini menunduk, mengintai melalui jendela tipis menuju ranjang di kamar tidurnya di bawah sana.

Seseorang telah berada di sini saat ia tertidur. Seseorang telah mengawasinya bermimpi.

"Elian?" bisiknya, suaranya pecah di antara kesunyian.

Ia teringat Elian tadi pagi. Pemuda itu tahu jalan menuju menara. Ia tahu kakek sering mengurung diri di sini. Namun, mungkinkah pemuda dengan mata setenang telaga itu memiliki sisi gelap yang begitu obsesif? Atau jangan-jangan, cairan biru yang ia minum tadi bukanlah "embun tanpa gravitasi", melainkan zat yang membuatnya berhalusinasi sehingga ia tidak sadar telah berjalan tidur ke atas sini?

Alana meraba sakunya, mencari botol kecil itu. Kosong. Cairan itu nyata. Namun, saat ia melihat ke arah lensa teleskop, ia melihat sesuatu yang menempel di sana.

Sebuah helai bulu burung berwarna putih bersih, namun ujungnya berkilau keperakan seperti dicelupkan ke dalam tinta perak yang sama dengan surat dari 'Langit'.

Alana mengambil bulu itu dengan tangan gemetar. Saat menyentuhnya, sebuah sensasi hangat menjalar, diikuti oleh suara bisikan yang menggema langsung di dalam tempurung kepalanya, bukan lewat telinga.

"Jangan melihat ke bawah, Alana. Di bawah hanya ada tanah dan debu masa lalu. Lihatlah kembali ke atas, karena jawaban untuk Jakarta ada di antara rasi yang tidak terdaftar."

Alana tersentak, menjatuhkan bulu itu. Bisikan itu bukan suara kakeknya. Itu adalah suara seorang pria, muda, dengan nada yang begitu dalam dan menenangkan sehingga rasa takut Alana perlahan terkikis oleh rasa penasaran yang aneh.

Ia memberanikan diri mendekati teleskop. Alana menempelkan matanya pada lensa bidik, berharap melihat kamarnya sendiri yang berantakan. Namun, apa yang ia lihat justru membuatnya kehilangan keseimbangan.

Lensa itu tidak menangkap bayangan kamarnya. Padahal moncong teleskop jelas-jelas mengarah ke sana. Lensa itu justru menampilkan sebuah pemandangan kota yang sangat asing. Kota yang bangunan-bangunannya terbuat dari kristal putih, melayang di atas awan keunguan, dengan ribuan cahaya yang bergerak seperti aliran sungai di angkasa.

"Apa ini..." gumam Alana, tangannya mencari pegangan pada kaki teleskop.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar menaiki tangga melingkar. DUG. DUG. DUG. Lambat namun pasti.

Alana menoleh ke arah lubang tangga, jantungnya serasa mau melompat keluar. Tidak ada waktu untuk lari. Ia terpojok di puncak menara dengan sebuah teleskop yang menampilkan dunia lain dan sebuah rahasia yang terlalu besar untuk ia tanggung sendiri.

Pintu kayu di lantai menara terbuka perlahan. Sosok itu muncul dari kegelapan tangga. Bukan Elian. Bukan pula hantu kakeknya.

Seorang pria jangkung dengan jubah berwarna biru malam, yang kainnya tampak beriak seperti air laut, berdiri di sana. Wajahnya separuh tertutup oleh bayangan kubah, namun matanya sepasang mata biru elektrik yang sama persis dengan warna bintang yang berdenyut semalam menatap Alana dengan kehangatan yang menyakitkan.

"Kau meminumnya terlalu banyak, Alana," ujar pria itu. Suaranya adalah suara yang sama dengan bisikan di kepalanya tadi. "Sekarang, batas antara duniamu dan duniaku mulai memudar. Dan itu adalah hal yang berbahaya bagi manusia yang hatinya masih terluka."

Pria itu melangkah maju, dan saat cahaya bulan menyentuh wajahnya, Alana menyadari sesuatu yang membuatnya sesak napas. Pria itu memiliki wajah yang sangat mirip dengan salah satu lukisan kuno yang pernah ia kurasi di Jakarta lukisan yang dianggap sebagai mitos tentang "Sang Penjaga Bintang".

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!