Ia dulu berdoa agar suaminya kaya.
Ia tak pernah membayangkan doa itu justru menjadi awal kehancuran rumah tangganya.
Naura menikah dengan Zidan saat mereka hanya punya cinta, iman, dan sepiring nasi sederhana. Mereka menangis bersama di sajadah lusuh, bermimpi tentang hidup yang lebih layak. Ketika Allah mengabulkan, Zidan berubah. Kekayaan menjadikannya asing. Ibadah ditinggalkan, wanita lain berdatangan, tangan yang dulu melindungi kini menyakiti.
Naura dibuang. Dihina. Dilupakan.
Bertahun-tahun kemudian, Naura bangkit sebagai wanita kuat. Sementara Zidan kehilangan segalanya.
Saat Zidan kembali dengan penyesalan dan permohonan, satu pertanyaan menggantung:
Masih adakah pintu yang terbuka…
atau semua telah tertutup selamanya?
Dan ini adalah kisah nyata.
(±120 kata)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Perubahan Kecil Pertama
#
Dua minggu setelah kejadian sama Ibu Rita, kehidupan di rumah baru mulai berjalan normal. Furniture udah lengkap. Sofa empuk di ruang tamu. Kasur spring bed baru di kamar. Kulkas besar di dapur. Meja makan kayu jati. Semuanya baru. Semuanya bagus.
Naura seneng banget. Setiap pagi dia bangun sambil senyum liat rumahnya yang bersih dan nyaman. Faris juga makin aktif. Udah bisa merangkak kesana kemari. Kadang naik ke sofa sendiri.
Tapi ada yang mulai berubah dari Zidan.
Hari itu Sabtu. Zidan libur kerja. Dia bilang mau ke mall sebentar buat beli sesuatu. Naura nggak ikut karena lagi masak.
"Mas mau beli apa?"
"Nggak tau. Liat liat aja. Bentar kok."
Zidan pergi naik motor. Tapi dia nggak balik bentar. Dia balik jam empat sore. Bawa banyak shopping bag.
Naura yang lagi duduk di ruang tamu sambil main sama Faris langsung kaget liat suaminya bawa kantong kantong belanjaan banyak banget.
"Mas... ini belanja apa? Kok banyak banget?"
Zidan taruh semua kantong di sofa sambil senyum lebar. "Aku beli baju. Sama sepatu. Sama jam tangan."
"Baju? Bukannya Mas baru beli baju minggu lalu?"
"Iya. Tapi yang kemarin kan cuma baju biasa. Yang sekarang aku beli yang branded. Yang bagus bagus."
Naura berdiri terus deketin kantong kantong itu. Dia buka satu per satu. Matanya makin lama makin melotot.
Kemeja merk Polo. Harganya satu juta lima ratus ribu per potong. Ada tiga.
Celana jeans merk Levi's. Harganya satu juta per celana. Ada dua.
Sepatu Nike. Harganya dua juta.
Jam tangan Seiko. Harganya lima juta.
Naura itung cepet di kepala. Total hampir lima belas juta!
"Mas... ini... ini mahal banget. Kenapa Mas beli sebanyak ini?"
Zidan lagi coba pakai jam tangannya di depan cermin. Senyum senyum liat jam itu di tangannya. "Bagus kan? Aku suka yang ini. Pas banget di tangan aku."
"Mas, aku tanya kenapa Mas beli sebanyak ini?"
"Ya karena aku butuh. Aku sekarang kan sering ketemu klien klien. Ketemu orang orang penting. Aku nggak bisa pakai baju murahan terus. Aku harus kelihatan profesional. Kelihatan sukses."
"Tapi Mas, ini terlalu banyak. Lima belas juta Mas. Itu uang banyak."
Zidan noleh sambil mukanya mulai kesal. "Naura, kita punya uang. Kenapa aku nggak boleh beli baju yang bagus?"
"Bukan nggak boleh Mas. Tapi... tapi ini terlalu banyak. Seharusnya kita simpen dulu uangnya. Atau kita..."
"Atau kita apa? Sedekah? Itu kan nanti. Sekarang aku butuh baju dulu."
Naura terdiam. Hatinya mulai nggak enak dengerin nada suara suaminya yang agak tinggi.
"Mas, aku cuma ngingetin aja. Jangan lupa sedekah juga ya. Kita kan udah janji."
Zidan lepas jam tangannya terus taruh lagi di kotak. Napasnya berat. "Iya iya, aku tau kok. Nggak usah diingetin terus terusan. Aku nggak lupa."
"Tapi Mas..."
"Udah Naura! Jangan cerewet! Ini uang hasil kerja aku! Aku yang capek capek keliling cari tanah! Aku yang nego sama orang orang! Masa aku nggak boleh beli baju yang bagus sedikit?"
Nada suaranya makin tinggi. Faris yang lagi main di tikar langsung nangis ketakutan.
Naura langsung angkat Faris terus gendong sambil goyang goyang. "Ssshh Faris, nggak apa apa sayang."
Dia ngeliatin suaminya dengan mata berkaca kaca. "Maaf Mas. Aku nggak bermaksud ngelarang. Aku cuma... cuma ngingetin."
Zidan langsung ngerasa bersalah liat istrinya hampir nangis. Dia deketin Naura terus peluk dari belakang.
"Maafin aku. Aku kelewatan. Aku nggak seharusnya marah marah kayak gitu."
"Iya Mas. Nggak apa apa."
"Aku cuma... aku cuma pengen kelihatan bagus Naura. Selama ini aku selalu pakai baju murahan. Baju bekas. Baju lusuh. Sekarang aku punya uang. Kenapa aku nggak boleh beli yang bagus?"
"Boleh Mas. Aku ngerti. Cuma jangan lupa sama yang lain juga. Sedekah. Tabungan. Masa depan Faris."
"Aku nggak lupa. Besok aku akan sedekah. Aku janji."
Tapi janjinya cuma di mulut.
Besoknya Minggu. Zidan nggak kemana mana. Cuma di rumah aja. Coba coba baju baruannya. Foto foto di depan cermin. Upload ke media sosial yang dia baru bikin minggu lalu.
Caption: "Alhamdulillah rezeki. Kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil."
Likes dan komentar langsung banyak.
"Wah keren bang!"
"Sukses terus!"
"Kapan traktir?"
Zidan senyum senyum liat komentar komentar itu. Hatinya seneng banget. Seneng dikagumi orang.
Naura yang ngeliatin dari dapur cuma bisa geleng geleng kepala pelan. Dia inget dulu Zidan nggak pernah suka pamer. Nggak pernah suka upload upload. Sekarang kok berubah?
Sore harinya, waktu sholat Maghrib berjamaah, Naura coba ngingetin lagi.
"Mas, besok kita ke masjid ya. Kita sedekah. Udah lama nggak sedekah."
Zidan yang lagi duduk bersimpuh ngangkat tangan buat doa. "Iya besok."
"Besok beneran ya Mas? Jangan lupa."
"Iya iya. Nggak usah diingetin terus. Aku tau."
Nada suaranya agak ketus.
Naura diem. Nggak mau bikin suaminya kesal lagi.
Besoknya Senin. Zidan berangkat kerja pake baju branded barunya. Kemeja Polo biru muda. Celana jeans Levi's hitam. Sepatu Nike putih. Jam tangan Seiko di tangan kiri.
Dia liat dirinya di cermin sebelum berangkat. Senyum puas.
"Ganteng. Pantas jadi orang sukses."
Sampe di rumah Pak Rahmat, Pak Rahmat langsung notice penampilannya.
"Wah Zidan, gaya kamu beda hari ini. Kelihatan lebih rapi. Lebih profesional."
Zidan senyum bangga. "Terima kasih Pak. Saya beli baju baru kemarin."
"Bagus. Memang harus begitu. Kalau mau sukses, penampilan juga harus dijaga. First impression itu penting."
"Iya Pak. Saya ngerti."
Seharian itu Zidan merasa lebih percaya diri. Dia ngerasa lebih dihargai. Lebih dipandang. Klien klien yang dia temuin juga pada notice penampilannya.
"Wah Pak Zidan hari ini kelihatan fresh. Beda dari biasanya."
"Ah biasa aja Pak. Cuma ganti baju aja."
Tapi di dalam hatinya seneng banget dipuji kayak gitu.
Sore pulang kerja, dia nggak langsung pulang. Dia mampir ke mall lagi. Liat liat baju lagi.
Matanya nangkep kemeja batik branded yang bagus banget. Harganya dua juta lima ratus ribu. Mahal. Tapi bagus.
Tangannya gatel pengen beli.
"Ah nanti aja. Uangnya masih banyak kok. Beli satu lagi nggak masalah."
Dia beli kemeja batik itu. Bayar cash.
Sampe rumah, Naura lagi masak di dapur. Begitu liat suaminya bawa kantong belanjaan lagi, dia langsung keluar.
"Mas... belanja lagi?"
"Iya. Cuma satu kok. Kemeja batik. Buat acara formal."
"Mas... kemarin kan udah beli banyak. Kenapa beli lagi?"
Zidan taruh kantong belanjaan di sofa terus langsung ke kamar. Nggak jawab.
Naura ikutin ke kamar. "Mas, aku tanya. Kenapa beli lagi?"
"Karena aku suka! Karena aku butuh! Emang kenapa?"
"Mas kemarin udah janji mau sedekah. Tapi sampai sekarang belum. Kok malah beli baju lagi?"
Zidan buka baju kerjanya terus lempar ke kasur. Mukanya kesal. "Naura, please deh. Jangan ngomel mulu. Aku capek kerja seharian. Sampe rumah malah diomelin."
"Aku nggak ngomel Mas. Aku cuma ngingetin."
"Ngingetin atau nyuruh nyuruh? Kamu pikir kamu siapa? Bos aku?"
Naura terdiam. Air matanya mulai keluar.
Zidan ngeliat istrinya nangis langsung ngerasa bersalah lagi. "Aduh... maafin aku. Aku nggak bermaksud bikin kamu nangis."
"Aku cuma... cuma takut Mas lupa sama janji kita. Janji di sajadah waktu itu. Mas bilang akan sedekah. Akan bantu yang susah. Tapi sampai sekarang belum."
Zidan peluk istrinya. "Iya. Aku inget. Aku akan sedekah. Besok. Aku janji besok."
"Besok beneran?"
"Beneran. Percaya sama aku."
Tapi besoknya, Zidan lupa lagi.
Dan lusa.
Dan lusa lagi.
Sedekah yang dijanjikan nggak pernah terlaksana.
Yang ada malah belanjaan bertambah terus.
Minggu depannya dia beli tas branded. Harganya tiga juta.
Minggu berikutnya beli kacamata hitam Ray-Ban. Harganya dua juta.
Naura cuma bisa ngeliatin sambil nggak berkutik. Setiap dia ngingetin, Zidan pasti marah. Pasti bilang dia cerewet. Pasti bilang dia nggak ngerti.
Akhirnya Naura diem aja. Nggak berani ngingetin lagi. Takut suaminya marah marah lagi.
Dia cuma bisa nangis sendirian di kamar sambil gendong Faris.
"Ya Allah... suamiku mulai berubah. Dia mulai suka beli barang mahal. Mulai suka pamer. Mulai lupa sedekah. Ya Allah, aku takut. Aku takut dia makin berubah. Tolong jaga dia ya Allah. Tolong kembalikan dia kayak dulu. Aamiin."
Tapi doanya kayak nggak kedengaran.
Karena Zidan terus berubah.
Hari demi hari.
Minggu demi minggu.
Perubahan kecil yang pelan pelan jadi besar.
Dari beli baju branded.
Jadi beli mobil mewah.
Dari suka pamer.
Jadi sombong dan angkuh.
Dari lupa sedekah.
Jadi lupa sholat.
Dan semua itu dimulai dari hal kecil.
Dari jam tangan lima juta.
Dari kemeja dua juta.
Dari sepatu Nike.
Hal hal kecil yang nggak kelihatan berbahaya.
Tapi sebenarnya itu awal dari kehancuran.
Kehancuran yang akan datang.
Pelan.
Tapi pasti.
Dan nggak ada yang bisa menghentikan.
Bahkan air mata Naura sekalipun.
kasihan ibunya stroke ga ada yg jaga
harusnya mandi hadast besar dulu thor,ini mah mandinya pagi sebelum kerja