Aroma melati yang merebak di gedung itu terasa mencekik paru-paru Rina. Harusnya, hari ini menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya. Namun, di balik riasan bold dan kebaya putih mewah yang melekat di tubuhnya, ada hati yang sedang hancur berkeping-keping.
Di sampingnya, duduk Gus Azkar. Pria itu tampak tenang, nyaris tanpa cela. Dua bulan lalu, saat Azkar datang melamar ke rumahnya, Rina tak punya kuasa untuk menolak keinginan orang tuanya. Azkar adalah menantu idaman—seorang ustadz muda yang dihormati, santun, dan memiliki garis keturunan pemuka agama yang terpandang.
Tapi bagi Rina, Azkar adalah orang asing yang memisahkan dunianya dengan Bian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji yang Terbelah: Antara Azkar dan Bian
Aroma melati yang merebak di gedung itu terasa mencekik paru-paru Rina. Harusnya, hari ini menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya. Namun, di balik riasan bold dan kebaya putih mewah yang melekat di tubuhnya, ada hati yang sedang hancur berkeping-keping.
Di sampingnya, duduk Gus Azkar. Pria itu tampak tenang, nyaris tanpa cela. Dua bulan lalu, saat Azkar datang melamar ke rumahnya, Rina tak punya kuasa untuk menolak keinginan orang tuanya. Azkar adalah menantu idaman—seorang ustadz muda yang dihormati, santun, dan memiliki garis keturunan pemuka agama yang terpandang.
Tapi bagi Rina, Azkar adalah orang asing yang memisahkan dunianya dengan Bian.
Tamu yang Tak Diundang
Suasana riuh seketika hening di mata Rina saat sesosok pria dengan kemeja hitam muncul di ujung karpet merah. Itu Bian. Pria yang selama tiga tahun ini berjanji akan menjaganya. Langkah Bian terasa berat saat menaiki undakan pelaminan. Matanya merah, menahan badai emosi yang sama besarnya dengan apa yang dirasakan Rina.
Saat Bian berdiri tepat di hadapannya, pertahanan Rina runtuh. Air matanya mengalir deras, merusak sedikit riasan di pipinya.
"Selamat, Rin..." suara Bian bergetar, hampir tak terdengar di antara hingar bingar musik rebana.
Rina tidak tahan lagi. Secara refleks, tangannya bergerak, hendak meraih jemari Bian untuk terakhir kalinya—sebuah bentuk perpisahan atau mungkin permohonan agar Bian membawanya pergi dari sana.
Cengkeraman Sang Suami
Namun, sebelum kulit mereka bersentuhan, sebuah tangan yang kokoh namun lembut mencekal pergelangan tangan Rina.
Rina tersentak dan menoleh. Gus Azkar tidak menatap Bian dengan amarah, melainkan dengan tatapan tajam yang penuh wibawa. Cengkeramannya di tangan Rina seolah memberi pesan bisu: Kamu sudah menjadi tanggung jawabku sekarang.
"Terima kasih sudah datang," ucap Gus Azkar dengan nada suara yang rendah namun dalam, matanya menatap Bian lurus-lurus. "Mohon doanya untuk keberkahan rumah tangga kami."
Bian mengepalkan tangan di samping tubuhnya. Ia menatap Rina yang tertunduk lesu, lalu menatap tangan Azkar yang masih menggenggam erat pergelangan tangan istrinya. Tanpa sepatah kata lagi, Bian berbalik dan turun dari pelaminan, meninggalkan Rina yang kini harus menghadapi kenyataan bahwa dunianya bukan lagi milik Bian.
____________________________________________________Catatan Penulis: Konflik ini sangat menarik karena mempertemukan antara kewajiban (pernikahan) dan perasaan masa lalu. Gus Azkar di sini terlihat protektif namun tetap menjaga adab sebagai seorang pemuka agama.
___________________________________________________
Ketegangan di atas pelaminan itu semakin memuncak. Setelah Bian pergi, suasana di sekitar mereka seolah membeku. Gus Azkar tidak melepaskan genggamannya begitu saja, ia justru mempereratnya sejenak sebelum akhirnya melepasnya dengan perlahan.
Gus Azkar mengembuskan napas kasar. Dadanya bergemuruh. Sebagai seorang pria yang mengerti agama, ia tahu ia harus bersabar, namun sebagai suami, ada rasa cemburu yang menyengat ulu hatinya melihat istrinya menangisi pria lain di hari pernikahan mereka.
Ia memperbaiki posisi duduknya, tegak dan berwibawa, lalu mendekatkan wajahnya ke arah Rina.
"Kamu sudah menjadi istri saya, Dek," bisik Azkar.
Suaranya rendah, namun setiap kata yang keluar terasa seperti hantaman godam yang dingin.
Rina berjengit pelan. Ia tidak berani menoleh.
"Saya harap kamu bisa melupakan masa lalumu secepat mungkin," lanjut Azkar tanpa ekspresi. Matanya kini menatap lurus ke depan, menyapa tamu yang mulai mendekat, namun kalimatnya tetap tertuju pada Rina. "Saya tidak suka jika apa yang sudah menjadi milik saya diambil orang, atau bahkan sekadar disentuh oleh kenangan orang lain."
Perubahan Sang Ustadz
Rina meremas gaun pengantinnya. Ini bukan Azkar yang ia kenal selama masa khitbah dua bulan lalu. Dulu, Azkar tampak begitu lembut dan penuh pengertian. Namun kini, di balik sorban dan wajah tenangnya, terpancar sisi posesif yang tegas.
"Tapi Gus... saya..." suara Rina tercekat.
"Panggil saya 'Mas' kalau kita sedang berdua, dan panggil saya 'Gus' jika itu di depan santri. Tapi untuk sekarang, cukup simpan air matamu," potong Azkar cepat. "Tersenyumlah. Jangan biarkan orang tua kita malu karena wajah murungmu."
Azkar kemudian mengulurkan tangannya, kali ini bukan untuk mencekal, melainkan untuk menggenggam jemari Rina di atas pangkuan—sebuah gestur yang terlihat manis bagi para tamu, namun terasa seperti peringatan bagi Rina bahwa pelariannya telah usai.