Seyra Avalen, gadis bar-bar yang hobi balapan liar tak pernah menyangka jika kejadian konyol di hidupnya justru membuat dia meninggal dan terjebak di tubuh orang lain.
Seyra menjadi salah satu karakter tidak penting di dalam novel yang di beli sahabatnya, sialnya dia yang ingin hidup tenang justru terseret ke dalam konflik para pemeran utamanya.
Bagaimana Seyra menghadapi kehidupan barunya yang begitu menguras emosi, mampukah Seyra menemukan happy ending dalam situasinya kali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Rumahnya saat ini sepi, karena ayahnya bilang akan menginap di rumah istri barunya. Seyra benar-benar tak peduli mau ayahnya pulang atau tidak, asal uang terus mengalir di rekeningnya dia akan mendukung semua keputusan ayahnya.
Seyra meraih payung di samping pintu, dan membukanya. Dia bergegas menuju gerbang lalu saat bertemu satpam dia bertanya.
"Pak, kenapa dia nggak di usir aja?" tanya Seyra kesal.
"Maaf, Non. Tadi bapak sudah bilang suruh tunggu di dalam, tapi Nak Arthur menolaknya." Sahut satpam itu tak enak.
"Makanya lain kali usir aja, Pak. Bikin repot kayak gini, kan." Protes Seyra seraya keluar dari gerbang.
Satpam itu menggeleng pelan, tak habis pikir dengan tingkah nona mudanya yang berbeda jauh dari sebelumnya.
Seyra memayungi Arthur yang sudah basah kuyup, dan wajahnya pucat. "Lo gimana sih? udah tau hujan pake berdiri di sini segala. Kalo sakit jangan nyuruh gue tanggung jawab!"
"Kenapa lo lama banget, Sey?"
"Gue tidur! Lo lupa kalo ini udah malam?!"
Seyra terus mengomel, tapi tangan gadis itu sibuk membuka handuk dan memakaikannya pada tubuh Arthur. Meski ucapannya sangat pedas, namun tersirat rasa peduli pada pemuda itu yang tak bisa Arthur abaikan.
Arthur sama sekali tak menjawab, dia melingkarkan lengannya di pinggang gadis itu. Menarik Seyra ke dalam pelukannya, membuat tubuh Seyra ikut basah terkena pakaian Arthur.
"Eh, lepasin. Baju gue jadi basah nih," cerocos Seyra sewot.
Arthur terkekeh mengeratkan pelukannya, "Lo mau mati bareng gue nggak?"
"Caranya?" Seyra mendongak, menatap netra Arthur yang tampak lelah.
"Lompat dari atas gedung."
Seyra mengangguk singkat, "Ide bagus, tapi gue nggak mau."
Arthur membenamkan wajahnya di ceruk leher Seyra, "Gue takut, Sey."
Sedetik kemudian Seyra mendorong Arthur menjauh, membuat pemuda itu mundur satu langkah. "Modus!"
"Gue nggak modus tuh." Arthur mengangkat kedua bahunya acuh.
"Pulang sana, udah malam masih aja keluyuran." Usir Seyra kesal.
Arthur kembali mendekat, dia kembali mengikis jarak di antara mereka berdua. Pemuda itu menunduk menatap lekat wajah gadisnya, "Cerewet."
"Enak aja, gue nggak cerewet!"
"Iya, lo cerewet." Sahut Arthur terkekeh.
Mendadak Seyra menginjak kaki Arthur kuat hingga pemuda itu terkejut, "Sekali lagi lo bilang gue cerewet gue banting lo, Ar."
Arthur mengangguk patuh, nyalinya mendadak ciut begitu netra Seyra menatapnya dingin. Dia membiarkan Seyra menariknya masuk ke dalam rumah, Arthur di minta untuk mandi di ruang tamu sedangkan Seyra mengambil bajunya untuk Arthur.
Beberapa saat kemudian, Arthur sudah berganti baju menggunakan pakaian milik Seyra. Entah bagaimana ukuran baju gadis itu bisa sama dengan ukurannya. Arthur melangkah dan duduk di samping Seyra yang sibuk bermain ponsel.
"Baju lo wangi banget." Ujar pemuda itu tersenyum tipis.
Seyra hanya berdehem sebagai jawaban, hingga dia terkejut begitu Arthur menyandarkan kepalanya di pundak gadis itu.
"Sey, gue mau jujur sama lo tentang perasaan gue. Tapi lo jangan marah, ya." Ucap pemuda itu.
"Oke."
"Tapi, lo jangan noleh ke arah gue, ya. Lo nggak boleh liat gue! pokoknya nggak boleh." Ujarnya memberitahu.
Seyra kembali mengangguk meski dia sendiri heran, mengapa Arthur memberinya peringatan seperti itu.
Arthur menarik napas dalam-dalam, dia mulai berbicara dengan suara lembut. "Hubungan kita, sebenarnya di awali dengan kebohongan..."
"Maksud lo?" Seyra menarik napasnya pelan. "Gue sama sekali nggak paham sama omongan lo, Ar."
Arthur menunduk, perasan cemas semakin menggelayuti perasaannya. Dia kembali melanjutkan ucapannya, dan menceritakan bahwa awalnya dia memang menjadikan Seyra sebagai bahan taruhan saat bermain truth or dare bersama sahabatnya.
"Terus, kenapa lo baru jujur sekarang?"
Arthur terlihat seperti orang yang sedang berpikir keras, "Mungkin karena lo dengan beraninya buat jantung gue berdetak nggak karuan."
"Lo mau putus?" tanya Seyra langsung.
Arthur menggeleng tegas, "Nggak, kalo pun lo minta putus gue nggak bakal setuju!"
"Why?" Seyra jelas heran dengan sikap Arthur yang mendadak keras kepala.
"Entahlah, gue cuma nggak suka lo di miliki orang lain selain gue." Jawab Arthur serius.
"Haha, alasan apa tuh?" Seyra tertawa. "Lo nggak suka sama gue, jadi buat apa hubungan ini di lanjut?"
Arthur terdiam beberapa detik. Hujan di luar masih turun deras, suara rintiknya memantul di kaca jendela ruang tamu yang temaram. Kepala Arthur masih bersandar di pundak Seyra, tapi kini napasnya terasa lebih berat.
"Gue nggak suka?" ulang Arthur pelan, seolah sedang mencerna ulang kalimat itu. "Siapa bilang gue nggak suka sama lo?"
Seyra akhirnya menoleh, melanggar peringatan Arthur sendiri. "Lo sendiri yang bilang semuanya dimulai dari taruhan. Dari main-main. Dari kebohongan. Itu bukan suka, Ar. Itu iseng."
Arthur mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu netra Arthur yang biasanya santai kini terlihat jauh lebih serius, bahkan rapuh.
"Iya. Awalnya iseng," akuinya tanpa membela diri. "Awalnya gue cuma pengen menang taruhan. Gue pikir lo bakal gampang. Lo keliatan cuek, dingin, dan nggak peduli apa-apa."
Seyra tersenyum getir. "Jadi gue kelihatan gampang, ya?"
"Bukan gitu maksud gue!" Arthur buru-buru duduk tegak. "Gampang dideketin, bukan gampang dijatuhin. Gue salah nilai lo."
Seyra menatap lurus ke depan lagi. "Terus?"
Arthur menelan ludah. "Terus gue yang jatuh duluan."
Hening.
Kalimat itu menggantung di udara, bercampur dengan suara hujan yang tak kunjung reda.
"Gue nggak tau kapan tepatnya," lanjut Arthur lirih. "Mungkin waktu lo marahin gue pertama kali. Mungkin waktu lo pura-pura nggak peduli tapi tetap nolongin gue. Atau mungkin waktu lo bilang lo nggak peduli sama keluarga lo, tapi tatapan mata lo beda."
Seyra menegang sedikit. "Mata gue kenapa?"
"Kesepian."
Satu kata itu seperti menamparnya.
Seyra refleks berdiri. "Sok tau lo."
Arthur ikut berdiri, kali ini tidak menyentuhnya. "Gue nggak sok tau. Gue cuma… liat apa yang nggak lo akui."
"Liat apa? Hidup gue? Lo pikir lo ngerti tentang hidup gue?" Nada suara Seyra meninggi.
"Gue nggak ngerti sepenuhnya," jawab Arthur jujur. "Tapi gue tau rasanya ngerasa nggak dipilih dalam keluarga."
Seyra membeku.
Arthur melanjutkan, suaranya lebih pelan. "Nyokap gue pergi waktu gue kecil. Bokap sibuk kerja. Rumah rame tapi kosong. Jadi waktu gue liat lo berdiri sendirian di teras tiap sore, pura-pura sibuk sama ponsel lo… gue tau rasanya kayak gimana, Sey."
Seyra mengepalkan tangannya. "Jangan samain hidup gue sama hidup lo," bisiknya.
"Gue nggak nyamain. Gue cuma bilang… gue ngerti sedikit."
Seyra tertawa kecil. "Jadi sekarang lo kasihan sama gue? Itu alasannya lo nggak mau putus?"
Arthur menggeleng. "Bukan kasihan. Gue kayaknya beneran suka sama lo."
Sunyi kembali menguasai ruangan.
"Gue nggak mau lo sama orang lain bukan karena posesif doang," lanjutnya. "Tapi karena bayangan lo ketawa sama orang lain aja bikin dada gue sesak."
Seyra menelan ludah. "Itu cuma ego."
"Iya," Arthur mengangguk tanpa menyangkal. "Mungkin ada egonya. Tapi juga ada rasa takut di dalamnya."
"Takut apa?"
"Takut lo sadar gue nggak cukup baik buat lo."
Seyra akhirnya menatapnya lagi. Kali ini lebih lama. Wajah Arthur tidak bercanda. Tidak ada senyum jahil seperti biasanya. Hanya ketulusan yang canggung.
"Lo bilang hubungan ini dimulai dari kebohongan," ucap Seyra pelan. "Terus sekarang lo mau gue percaya sama pengakuan lo?"