Alena Alexandria, sang hacker jenius yang ditakuti dunia bawah tanah, tewas mengenaskan dalam pengejaran maut.
Bukannya menuju keabadian, jiwanya justru terlempar ke dalam tubuh mungil seorang bocah terlantar berusia lima tahun.
Sialnya, yang menemukan Alena adalah Luca, remaja 17 tahun berhati es, putra dari seorang mafia dari klan Frederick.
"Jangan bergerak atau aku akan menembakmu," desis Luca dingin sambil menodongkan senjata ke arah bocah itu.
"Ampun, Om. Maafkan Queen," ucapnya, mendongak dengan mata berkaca-kaca.
"Om?"
Dapatkah Alena bertahan hidup sebagai bocah kesayangan di sarang mafia, ataukah Luca akan menyadari bahwa bocah di pelukannya adalah ancaman terbesar yang pernah masuk ke kediaman Frederick?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1
"Satu pintu lagi, Alena. Sedikit lagi. Kau pasti bisa keluar dari sini dengan aman!"
Napas Alena Alexandria memburu, terasa seperti menghirup serpihan kaca yang menyayat paru-parunya. Cairan kental hangat merembes cepat dari lubang di dada dan perutnya, membasahi jaket kulit hitam yang ia kenakan.
Di tangan kanannya, sebuah flash drive berisi data transaksi ilegal klan mafia paling berbahaya di benua itu tergenggam erat.
Dunia bawah tanah mengenalnya sebagai ghost, peretas yang mampu menembus protokol keamanan Pentagon dalam hitungan menit.
Namun malam ini, hanti itu bisa berdarah.
"ITU DIA! JANGAN BIARKAN DIA LOLOS!"
Teriakan itu menggema di gang sempit yang pengap. Suara derap sepatu bot menghantam aspal yang basah karena hujan, terdengar semakin dekat.
Alena berusaha menyeret kakinya, tapi pandangannya mulai mengabur. Cahaya lampu jalanan di atasnya tampak seperti bintang yang bergoyang-goyang.
"Sial, apakah ini akhirnya?" pikirnya getir.
Alena baru saja berhasil meretas sistem pertahanan pusat milik sindikat perdagangan manusia. Ia ingin menghancurkan mereka, tapi ia meremehkan betapa cepat mereka bisa melacak lokasi fisiknya.
DOR!
Satu peluru bersarang di bahunya, membuat Alena terjerembap ke aspal. Rasa sakitnya tak lagi terasa perih, melainkan mati rasa. Ia mencoba merangkak.
"Kau tikus kecil yang merepotkan," desis seseorang di belakangnya.
Alena membalikkan tubuhnya dengan sisa tenaga, menatap moncong pistol yang mengarah tepat ke dadanya. Ia tidak memohon. Ia justru menyeringai tipis.
"Data itu... sudah terkirim secara otomatis... ke Interpol," bohongnya. Ia hanya ingin melihat wajah panik pria di depannya sebelum mati.
DOR!
Satu tembakan tepat mengenai jantung. Cahaya di mata Alena padam seketika. Kesadarannya tersedot ke dalam kegelapan total yang dingin.
*
*
"Sial! Mereka tidak berhenti mengejar!"
Di bagian kota yang berbeda, seorang pemuda berusia 17 tahun bernama Luca, sedang melompati pagar tinggi dengan gerakan yang sangat tangkas.
Luca baru saja membobol brankas digital milik perusahaan ilegal penjualan organ manusia.
"Luca, cepat kemari!" teriak Bobby, asisten setianya, dari balik kemudi sebuah SUV hitam.
Luca meluncur turun dari atap gudang, mendarat dengan mulus dan langsung menyambar pintu mobil.
Sementara itu, peluru-peluru musuh menghantam badan mobil yang dilapisi baja ringan, menimbulkan suara yang memekakkan telinga.
"Jalan!" perintah Luca.
Mobil itu pun melesat membelah kegelapan malam.
Setelah beberapa menit melakukan manuver gila di jalan raya, mereka berhasil menghilang di balik kerumunan kendaraan kota.
Luca menyandarkan punggungnya ke kursi, menyeka keringat di dahinya. Namun, saat ia melirik ke arah kaca spion tengah, jantungnya hampir melompat keluar. Di kursi belakang, di balik bayang-bayang, ada sesuatu yang bergerak.
"Bobby!" seru Luca dengan suara yang tiba-tiba meninggi.
"Ya? Kita aman, Luc. Mereka sudah kehilangan jejak," jawab Bobby tanpa menoleh, masih fokus mengemudi.
"Apa dia anakmu?" tanya Luca, melirik sang asisten dengan curiga.
Bobby mengernyit bingung. "Anak? Maksudmu apa, Luc? Aku bahkan belum punya kekasih, bagaimana bisa punya anak?"
"Lihat ke belakang, bodoh!" seru Luca sambil merogoh senjata di pinggangnya.
Bobby melirik sekilas lewat spion, lalu menginjak rem mendadak. Mobil itu berhenti di pinggir jalan yang sepi.
Bobby berbalik dengan wajah pucat pasi. Di kursi belakang, seorang bocah perempuan berusia sekitar lima tahun baru saja terbangun.
Rambutnya berantakan, wajahnya kotor oleh debu, dan ia mengenakan pakaian lusuh yang ukurannya terlalu besar. Bocah itu mengerjapkan mata besar yang tampak terlalu cerdas untuk anak seusianya.
"Hah? Sejak kapan dia ada di sana?!" pekik Bobby panik. "Aku bersumpah, mobil ini kosong saat aku menjemputmu!"
Luca tidak menurunkan senjatanya. Matanya yang tajam seperti elang menatap bocah itu dengan tatapan mengintimidasi.
"Siapa kau, hah!? Katakan, siapa yang sudah mengirimmu?!" bentaknya.
Bocah itu yang sebenarnya adalah Alena yang baru saja terbangun di tubuh baru, merasa kepalanya hampir pecah. Ia menatap tangannya yang kecil dan mungil.
"T—tunggu... apa-apaan ini? Kenapa tanganku jadi sekecil bakpao?" batin Alena. Lalu melihat seorang pria menodongkan pistol ke arahnya.
Di kehidupan sebelumnya, Alena mungkin akan menendang senjata itu, tapi di tubuh ini? Ia bahkan tidak yakin bisa melompat setinggi lutut pria itu.
"Jangan bergerak atau aku akan menembakmu," desis Luca dingin.
Alena memutar otak. Ia butuh perlindungan. Jika ia mengaku sebagai hacker jenius, mereka akan menganggapnya gila dan mungkin langsung membuangnya ke sungai.
Alena mendongak, matanya mulai berkaca-kaca. Ia memasang wajah paling memelas yang pernah ada dalam sejarah akting dunia bawah tanah.
"Ampun, Om... Maafkan Queen... Jangan bunuh Queen," ucapnya dengan suara khas anak-anak
"Queen?" Luca mengernyitkan dahi.
"Mungkin itu namanya," bisik Bobby lirih.
Luca mengangguk-angguk tapi tetap waspada.
"Queen cuma mau tidur. Di luar dingin," lanjut Alena sambil terisak kecil, meski di dalam hatinya ia ingin muntah karena tingkah lakunya sendiri. "Sialan, aku memanggil remaja ini om? Harga diriku hancur total!" batinnya.
Bobby menatap Queen sengan tatapan iba, lalu beralih pada Luca.
"Luc, dia hanya anak terlantar. Mungkin dia menyelinap saat kita parkir di gudang tadi untuk mencari tempat hangat."
Luca masih menatap bocah itu dengan curiga. Ada sesuatu di tatapan mata bocah itu yang tidak sinkron dengan usianya.
"Kita tidak bisa membuangnya di sini, Luc. Ini wilayah musuh," bisik Bobby.
Luca mendengus kesal, lalu menurunkan senjatanya tapi tidak menyimpannya. "Bawa dia ke mansion. Jika dia bersikap mencurigakan, aku sendiri yang akan menghabisinya!"
Alena menunduk, menyembunyikan seringai tipis di balik telapak tangan mungilnya.
"Mari kita lihat seberapa canggih sistem keamanan mansionmu dibandingkan dengan jemari mungilku." Alena lagi-lagi hanya bisa bergumam dalam hati.
"Terima kasih, Om," ucap Alena pelan.
"Jangan panggil aku om! Memangnya sejak kapan aku menikah dengan bibimu!" bentak Luca kesal, sementara Bobby hanya bisa tertawa melihat tuan mudanya yang dingin bisa terpancing emosi oleh seorang bocah.
lelaki remaja dgn anak balita 😁😁😁
ternyata Sean juga manusia biasa😌