Aruna Pramesti mencintai dalam diam, ia menerima perjodohan dengan Revan Maheswara dengan tulus.
Menikah bukan berarti dicintai.
Aruna menjadi istri yang diabaikan, disisihkan oleh ambisi, gengsi, dan bayang-bayang perempuan lain. Hingga saat Revan mendapatkan warisan yang ia kejar, Aruna diceraikan tanpa ragu.
Aruna memilih pergi dan membangun kembali hidupnya.
Sementara Revan justru terjerumus dalam kegagalan. Pernikahan keduanya berakhir dengan pengkhianatan, menyisakan luka, kehampaan, dan penyesalan yang datang terlambat.
Takdir mempertemukan mereka kembali. Revan ingin menebus kesalahan, tapi Aruna terlalu lelah untuk berharap.
Namun sebuah amanah dari ibunya Revan, perempuan yang paling Aruna hormati, memaksanya kembali. Bukan karena cinta, melainkan karena janji yang tidak sanggup ia abaikan.
Ketika Revan baru belajar mencintai dengan sungguh-sungguh, Aruna justru berada di persimpangan. Bertahan demi amanah atau memilih dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamak3Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sosok yang Sempat Terlupakan
Di kantor Maheswara & Partners, siang itu berjalan seperti biasa terlalu biasa untuk seseorang bernama Revan Maheswara.
Revan duduk di balik meja kerjanya yang luas, menatap layar laptop tanpa benar-benar membaca isi dokumen yang terbuka. Ponselnya baru saja ia letakkan di samping keyboard, layarnya sudah kembali gelap, tetapi getaran yang tadi terasa masih tertinggal di dadanya. Pesan dari papanya.
Ia tahu, sejak membaca satu kalimat itu, ada sesuatu yang berubah.
Revan menyandarkan punggung ke kursi, menatap langit-langit kantor yang bersih dan dingin. Ruangan ini selalu membuatnya merasa terkendali, segala sesuatu rapi, terstruktur, dan bisa diprediksi. Tidak seperti pikirannya sekarang.
“Aruna…” gumamnya tanpa sadar.
Nama itu keluar begitu saja, membuat alisnya berkerut. Sudah lama sekali ia tidak menyebutnya, bahkan di dalam hati. Enam tahun, dan ia yakin nama itu telah terkubur bersama masa mudanya. Namun kenyataannya, tidak sepenuhnya.
Bagi Revan, pengakuan Aruna sore itu di depan perpustakaan hanyalah satu peristiwa kecil. Ia mengingatnya samar seorang gadis yang berdiri dengan bahu tegang, suara yang sedikit gemetar, dan tatapan yang tidak berani menatap matanya terlalu lama.
Lalu dirinya sendiri. Tenang. Sopan. Menolak.
Ia tidak pernah menganggapnya penting. Tidak pernah bertanya bagaimana Aruna pulang hari itu, apakah gadis itu menangis, atau apakah keberaniannya justru meninggalkan luka yang tidak terlihat.
Revan menghela napas pelan. Ia selalu menganggap kejujuran sebagai akhir dari segalanya.
Ponselnya kembali bergetar. “Revan, besok malam jangan ke mana-mana. Kita ada makan malam dengan Aruna dan keluarganya.”
Kali ini, dadanya benar-benar mengeras.
Revan berdiri dari kursinya dan melangkah menuju jendela besar di sudut kantor. Dari lantai atas gedung itu, Jakarta terlihat seperti dunia yang tertata rapi, gedung tinggi, jalanan sibuk, dan manusia-manusia yang bergerak sesuai perannya masing-masing.
Ia menyukai keteraturan itu. Ia menyukai hidup yang bisa ia kendalikan. Namun satu nama barusan berhasil merusaknya.
“Enam tahun berlalu,” ucapnya pelan. “Dan aku pikir semuanya sudah selesai.”
Revan Maheswara bukan laki-laki yang terbiasa mempertanyakan masa lalu. Setelah lulus, ia langsung bekerja di firma hukum milik keluarganya. Ardian Maheswara, ayahnya, adalah sosok yang keras dan disiplin. Tidak ada toleransi untuk kesalahan, apalagi untuk anaknya sendiri.
Revan belajar cepat. Ia bekerja lebih keras daripada rekan-rekannya. Reputasinya sebagai pengacara muda yang kompeten terbentuk bukan karena nama keluarga semata, melainkan karena hasil kerja.
Namun di balik kehidupan profesional yang stabil, ada bagian lain yang tidak pernah benar-benar tenang.
Viona.
Cinta pertamanya sejak awal kuliah. Cantik, percaya diri, dan tahu betul apa yang ia inginkan. Hubungan mereka selalu berjalan di antara dua ujung, tarik menarik antara perasaan dan tuntutan.
Viona ingin kepastian. Revan ingin waktu. Dan keduanya jarang bertemu di titik yang sama.
Sore itu, Revan duduk di sebuah kafe di kawasan Sudirman. Tempat mahal, elegan, dan sesuai dengan dunia yang biasa ia jalani. Viona datang terlambat seperti biasa, mengenakan gaun hitam yang mempertegas siluet tubuhnya.
“Hai, sayang,” katanya sambil duduk. “Kamu kelihatan capek.”
“Banyak kerjaan,” jawab Revan singkat.
Viona menatapnya lama, seolah sedang membaca sesuatu di balik wajah datarnya. “Kamu sudah bicara ke orang tua kamu tentang kita?”
Revan menghela napas. Pertanyaan itu selalu datang di waktu yang tidak ia inginkan.
“Sabar, Vio. Aku lagi fokus kerja. Banyak kasus besar.”
“Kamu selalu bilang begitu,” balas Viona, senyumnya menipis. “Aku gak mau buang waktu.”
Revan terdiam. Ia menyukai Viona, itu tidak ia pungkiri. Tapi setiap kali pembicaraan ini muncul, yang ia rasakan bukan keyakinan melainkan kelelahan.
“Kita jangan bahas ini sekarang,” katanya akhirnya.
Viona mendengus kecil. “Selalu begitu.”
Hubungan mereka memang selalu seperti itu. Pertengkaran kecil, jarak, lalu kembali seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Melelahkan, tetapi terasa aman.
Revan sering bertanya dalam hati, apakah ia benar-benar mencintai Viona atau hanya terbiasa dengannya.
Ia tidak pernah menemukan jawabannya.
Hari-hari Revan kembali dipenuhi rutinitas. Rapat, klien, dokumen, dan arahan ayahnya yang tidak pernah berkurang.
“Kamu ambil kasus ini,” kata Ardian suatu pagi. “Papa percaya sama kamu.”
“Baik, Pa,” jawab Revan singkat.
Ia menenggelamkan dirinya dalam kesibukan. Tidak memberi ruang untuk berpikir. Tidak menoleh ke belakang. Tidak mengingat seorang gadis yang dulu berdiri di depannya dengan keberanian yang tidak pernah ia hargai sepenuhnya.
“Ia cuma junior,” katanya dulu pada dirinya sendiri.
Dan kalimat itu cukup untuk menutup segalanya.
Hingga malam itu tiba. Revan dipanggil ke ruang kerja ayahnya. Ardian Maheswara duduk di balik meja besar dengan wajah serius. Ibunya, Ratih Maheswara, duduk di sampingnya, tenang namun penuh arti.
“Ada apa, pa?” tanya Revan.
“Kamu sudah baca pesan papa.”
Revan mengangguk.
“Papa sudah menghubungi Surya Pramesti.”
Nama itu terdengar asing, tapi entah mengapa jantung Revan berdegup sedikit lebih cepat.
“Sahabat Papa sejak kecil,” lanjut Ardian. “Kami punya janji lama.”
“Janji apa?” tanya Revan hati-hati.
“Pernikahan.”
Kata itu jatuh seperti palu.
Ratih menyentuh lengan Revan lembut. “Nak, Aruna sekarang sudah dewasa.”
Revan menegakkan tubuhnya. “Aruna?”
“Iya,” jawab Ardian tegas. “Kamu akan menikah dengannya.”
Dunia Revan seakan berhenti berputar.
Wajah Aruna enam tahun lalu muncul jelas di benaknya, mata yang berkaca-kaca, senyum yang dipaksakan, dan suara gemetar yang pernah ia anggap sepele.
Untuk pertama kalinya, Revan merasa masa lalu menatapnya kembali.
Ia keluar dari ruang kerja itu dengan langkah berat. Koridor rumah terasa lebih panjang dari biasanya. Ia berhenti di depan jendela besar, menatap taman yang diterangi lampu malam.
Ponselnya bergetar. Viona.
“Sayang, kamu di mana?” suara Viona terdengar tajam.
“Di rumah.”
“Kenapa suara kamu aneh?”
Revan menarik napas panjang. “Aku akan dijodohkan.”
Hening sejenak. Lalu suara Viona terdengar dingin. “Kamu harus menolak, Revan. Aku tidak akan tinggal diam.”
Telepon terputus.
Revan menatap layar gelap itu lama. Dadanya bergemuruh oleh satu kesadaran pahit, perjodohan ini tidak hanya akan menyeret Aruna kembali ke hidupnya, tetapi juga akan menghancurkan keseimbangan yang selama ini ia pertahankan. Dan untuk pertama kalinya, Revan menyadari satu hal yang terlambat. Ia tidak pernah benar-benar menutup cerita dengan Aruna.
Revan memejamkan mata sejenak. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa kehilangan kendali atas hidupnya sendiri. Selama ini, ia selalu yakin bahwa semua bisa diatur, karier, hubungan, bahkan perasaan. Namun kini, satu nama dari masa lalu cukup untuk mengguncang semua keyakinan itu.
Ia tidak tahu bagaimana harus menghadapi Aruna setelah enam tahun berlalu. Tidak tahu apakah gadis itu masih menyimpan luka, atau justru sudah melupakannya sepenuhnya. Yang Revan tahu, pertemuan itu tidak akan sederhana. Dan semakin ia mencoba menenangkan diri, semakin jelas satu kenyataan muncul, makan malam besok bukan sekadar pertemuan keluarga, itu adalah awal dari masalah yang tidak bisa lagi ia hindari.
“Ia tidak pernah benar-benar menutup cerita dengan Aruna.”
❤️Like & follow ya, supaya gak ketinggalan kelanjutannya.
kisahnya semakin seru kak 👍👍👍