NovelToon NovelToon
I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nouna Vianny

Elia menikah dengan Dave karena perjodohan, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Di malam pertama, Dave membuat perjanjian pernikahan yang menegaskan bahwa Elia hanyalah istri di atas kertas. Hari-hari Elia dipenuhi kesepian, sementara Dave perlahan menyadari bahwa hatinya mulai goyah. Saat penyesalan datang dan kata “I’m sorry, my wife” terucap, akankah cinta masih bisa diselamatkan, atau semuanya sudah terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nouna Vianny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kiss Me

Tiba di gedung perusahaan, Elia memarkirkan mobilnya tepat di sebelah mobil Dave. Ia keluar sambil menenteng bekal makan siang dan beberapa kotak cake buatan tangannya sendiri. Namun belum sempat melangkah jauh, sebuah suara menghentikannya.

“Tunggu, Nona!” Seorang penjaga bergegas menghampirinya.

“Selamat siang,” sapa Elia ramah.

“Maaf, Nona. Anda tidak bisa memarkirkan mobil di area ini. Ini khusus untuk pemilik perusahaan,” ucap penjaga itu tegas.

Elia mengernyit tipis. “Tapi saya istrinya.”

Penjaga itu menatap Elia dari ujung rambut hingga ujung kaki, sorot matanya penuh curiga. Penampilan Elia yang sederhana jelas tidak sesuai dengan bayangannya tentang istri seorang CEO.

“Anda jangan bercanda. Mana ada istri CEO berpenampilan seperti ini?” katanya meremehkan.

Ucapan itu membuat dada Elia menghangat. “Kalau aku benar-benar istrinya, apa kau siap menanggung risikonya?” tantangnya tenang namun tajam.

“Lebih baik pindahkan mobil Anda sekarang, sebelum saya terpaksa bertindak,” balas penjaga itu, nadanya meninggi.

Elia menggeleng tegas. “Tidak. Aku tidak akan memindahkan mobilku.”

Perdebatan pun tak terelakkan. Emosi Elia yang semula terjaga mulai tersulut oleh sikap penjaga tersebut yang semakin tidak sopan.

“Nyonya Elia?” Nick yang baru saja keluar dari lobi menghentikan langkahnya. Ia menatap pemandangan di depannya, lalu bergegas mendekat.

Penjaga itu langsung memberi hormat. “Tuan, wanita ini mengaku-ngaku sebagai istri Tuan Dave.”

Belum sempat Elia bicara, tangan Nick melayang menampar penjaga tersebut. Suara tamparan itu menggema, membuat Elia terperangah.

“Nick, kau tidak perlu melakukan itu,” ucap Elia cepat.

Namun Nick sudah diliputi amarah. “Kau tahu siapa beliau?! Ini Nyonya Elia, istri sah Tuan Dave!”

Wajah penjaga itu seketika pucat. Ia memegangi pipinya yang perih, tubuhnya gemetar hebat. “A-apa ? Maafkan saya, Nyonya! Saya sungguh tidak tahu!” ucapnya terbata sambil membungkuk dalam-dalam.

Ketakutan jelas terpancar dari wajahnya takut akan kehilangan pekerjaan. Elia menarik napas, lalu berdeham pelan. “Tidak apa-apa. Aku maklumi karena kau tidak tahu,” ucapnya tenang. Namun sorot matanya tegas. “Tapi ingat satu hal jangan pernah menilai seseorang hanya dari penampilannya.”

Penjaga itu mengangguk berulang kali, nyaris menangis. Elia pun melangkah pergi, meninggalkan pelajaran yang tak akan pernah dilupakan.

Beginilah konsekuensi dari pernikahan dengan konsep intimate wedding. Memang ada tamu yang hadir di acara pernikahan Dave waktu itu, namun hanya para petinggi dan orang-orang penting saja. Maka wajar jika sebagian besar karyawan tidak mengenali wajah Elia.

Elia kemudian diantar oleh Nick menuju ruang kerja Dave. Sepanjang koridor, tatapan penuh tanda tanya tertuju padanya. Beberapa karyawan bahkan saling berbisik, jelas penasaran dengan identitas wanita yang berjalan berdampingan dengan Nick.

Melihat hal itu, Nick langsung menegur mereka dengan nada tegas.

“Apakah sopan menatap seperti itu kepada istri pemilik perusahaan ini?”

Sekejap suasana berubah hening. Para karyawan itu spontan membungkukkan badan, kedua tangan mereka terlipat rapi di depan dada. Tak seorang pun berani bersuara. Mereka paham betul, satu kesalahan kecil saja bisa berujung pada teguran serius atau bahkan pemecatan.

“Sudahlah, Nick. Biarkan saja, mereka hanya belum tahu,” ucap Elia lembut, sama sekali tanpa nada marah. Bahkan saat berdebat dengan penjaga tadi pun, niatnya hanya ingin meyakinkan, bukan merendahkan.

Sesampainya di lantai sepuluh, Nick hendak mengetuk pintu ruang kerja Dave. Namun Elia cepat menahan tangannya dan memberi isyarat agar tidak berisik. Ada kilat kecil di matanya, ia ingin memberi kejutan untuk suaminya.

Nick mengangguk pelan, senyum tipis tersungging di wajahnya. Elia melangkah lebih dulu. Tangannya terangkat hendak mengetuk pintu, namun gerakannya terhenti saat terdengar suara Dave dari balik ruangan, seolah sedang berbicara dengan seseorang.

Elia menelan ludah saat menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri Dave tersenyum bahagia sambil menatap layar ponsel. Bahkan, yang lebih menyakitkan, pria itu mengirim kecupan jarak jauh disertai simbol hati dengan jemarinya. Lagi-lagi aku harus menyaksikan pemandangan ini, gumam Elia dalam hati. Wajah bahagia Dave saat menatap seseorang di layar ponsel membuat dadanya terasa sesak. Tidak mungkin itu hanya teman atau keluarga, pasti seseorang yang lebih spesial.

Tanpa disadari, air mata menetes begitu saja. Nick yang menyaksikan hal itu turut merasa prihatin. Ia tahu betul Elia pasti sangat terluka, meski wanita itu berusaha terlihat tegar. Rasa bersalah pun menyelimuti Nick, karena ia mengetahui kelakuan Dave di belakang istrinya.

Elia buru-buru menyeka air matanya ketika melihat Dave telah mengakhiri panggilan video. Ia segera memasang wajah seolah tidak melihat apa pun. Pintu diketuk, dan Dave mempersilakan orang di luar untuk masuk.

“Hai, Dave!” sapa Elia ceria.

"Eh, Nyonya. Kalau begitu saya permisi dulu"

"Nick, aku membuat bekal makan siang dan kue ayo kita makan bersama".

"Tapi Nyonya"

"Ayo, cepat masuk" titah Elia dengan ramah.

"Baiklah" Nick mengiyakan, ia juga tidak enak jika menolak ajakan istri dari bos nya.

Dave hanya membalas dengan senyum tipis. Ia beranjak dari kursi kerjanya. “Padahal aku sudah bilang, kau tidak perlu repot-repot ke sini, Elia,” ujarnya. Namun, pandangannya tak lepas dari beberapa kotak kue yang menguar aroma menggoda.

“Kau membuat kue sebanyak ini?” tanya Dave.

“Tadinya aku ingin membuat sepuluh loyang, tapi waktunya tidak cukup, jadi hanya bisa membuat tiga saja,” terangnya.

Dave terkekeh. Meski tak mengatakannya secara langsung, ia mengakui dalam hati bahwa istrinya memang pandai memasak dan mengolah apa pun dengan tangannya sendiri.

“Ayo, kita makan siang bersama. Aku memasak cukup banyak,” seru Elia sambil menata hidangan di atas meja. Menu makan siang kali ini adalah masakan khas Timur Tengah. Yaitu nasi briyani dengan paha ayam berukuran besar. Elia masih ingat betul bagaimana Dave begitu lahap menyantap hidangan itu saat mereka berada di Maldives.

Dave yang melihatnya pun langsung tergiur dan tak sabar mencicipi. “Ini enak sekali,” pujinya. Ditambah irisan cabai hijau, bawang bombay, dan perasan jeruk nipis, selera makannya semakin bertambah. “Kau membuatnya sendiri atau memesan dari restoran?” tanyanya, hampir tak percaya masakan seenak ini buatan tangan Elia.

“Tentu saja aku yang membuatnya. Kalau kau ragu, kau bisa bertanya pada Lisa. Dia yang tadi membelikan semua bahan-bahannya,” jawab Elia.

Melihat Dave menyantap masakannya dengan lahap menghadirkan kebahagiaan tersendiri bagi Elia. Meski hatinya masih terasa perih, rasa sakit itu seolah sedikit terobati ketika Dave menghargai masakannya.

Sementara itu, di salon kecantikan, Bianca tengah memanjakan tubuhnya. Sebelum memulai perawatan, ia sempat melakukan panggilan video dengan Dave. Di bilik sebelah, Patricia juga sedang menjalani perawatan yang sama. Karena jarak bilik mereka berdekatan, Patricia sempat mendengar percakapan Bianca saat panggilan video itu berlangsung.

Beberapa saat sebelumnya....

Ponsel Bianca berdering menandakan panggilan video masuk. Begitu melihat nama di layar, ia buru-buru menggeser ikon hijau.

“Hai, sayang!” serunya sambil melambaikan tangan. Wajahnya tampak begitu ceria.

["Kau sedang apa?"] tanya Dave.

“Aku sedang melakukan perawatan di salon langgananku.”

["Perawatan apa kali ini?"]

“Aku melakukan perawatan dari ujung kaki sampai ujung kepala. Dan bagian yang paling kau sukai,” katanya sambil tersenyum menggoda, “bagian terdalam, Dave.”

Percakapan yang mulai mengarah ke arah dewasa itu membuat Patricia, yang mendengarnya dari bilik sebelah, merasa kurang nyaman. Berisik sekali orang itu, gumamnya dalam hati. Pendengarannya juga menangkap satu nama yang diucapkan Bianca yaitu Dave. Patricia teringat bahwa nama suami Elia juga Dave.

"Ah, di dunia ini bukan hanya suami Elia yang bernama Dave," pikirnya mencoba menepis prasangka. Lagipula, ia tidak melihat secara langsung dengan siapa wanita itu melakukan panggilan video.

Patricia kembali berusaha fokus pada perawatannya, sementara di bilik sebelah Bianca masih melanjutkan obrolannya. Tak lama kemudian, seorang terapis masuk untuk memberi tahu bahwa sudah waktunya berpindah ke perawatan berikutnya.

Di kedai ayam panggang, James, Erik, dan Albert tampak begitu lahap menyantap hidangan yang mereka pesan.

“Wah, ayam panggang nya enak sekali,” ujar Erik.

Albert mengangguk setuju. “Iya, bumbunya benar-benar meresap,” timpalnya.

Namun keduanya dibuat kehilangan fokus saat melihat James makan sambil memainkan ponselnya. Ia baru saja menerima sebuah gambar dari Patricia. Wanita itu tengah menjalani spa, berbalut kain yang menutup tubuhnya dari batas dada. Penampilannya terlihat begitu cantik dan memikat. Wajahnya yang polos tanpa riasan justru membuat James semakin tertarik.

Seketika ide jahil pun muncul dalam benak Erik. Ia menukar mangkuk berisi bumbu barbeque milik James dengan mangkuk berisi sambal. Karena terlalu fokus dengan layar ponsel hingga James pun tidak sadar akan kejahilan teman nya itu.

Seketika ide jahil pun muncul dalam benak Erik. Diam-diam ia menukar mangkuk berisi bumbu barbeque milik James dengan mangkuk sambal. Karena terlalu fokus menatap layar ponselnya, James sama sekali tidak menyadari keusilan temannya itu.

James berniat mencelupkan paha ayam ke dalam bumbu barbeque. Namun karena mangkuknya telah ditukar, tanpa sadar ia justru mencelupkannya ke dalam sambal penuh cabai.

Begitu ayam itu masuk ke mulutnya, wajah James seketika memerah.

“Argh!” serunya panik sambil mencari air minum untuk meredakan rasa panas dan pedas yang membakar lidahnya.

Sementara itu, kedua temannya justru tertawa puas melihat reaksi James. Erik bahkan sampai memukul-mukul meja karena tak kuasa menahan tawa. Air mata menggenang di sudut matanya akibat terlalu keras tertawa.

“Makanya, jika sedang makan fokus saja sama piringmu!” ujar Erik di sela tawanya.

Albert pun ikut tertawa. “Erik benar, dari tadi kau terlalu sibuk dengan ponselmu,” timpalnya.

“Brengsek! Kalian malah tertawa di atas penderitaanku!” gerutu James sambil mengembuskan napas, mencoba mengusir rasa pedas yang masih menempel di lidahnya.

Erik bangkit dari kursinya, lalu menghampiri seorang pria penjual susu yang melintas dengan sepeda ontelnya. Ia membeli segelas susu dan memberikannya pada James.

“Ini, minumlah. Bisa meredakan pedasnya,” katanya.

James segera meraih susu itu dan meneguknya. Beberapa saat kemudian, rasa panas di mulutnya mulai berkurang.

“Sudah lebih baik?” tanya Erik.

James mengangguk. “Sudah. Ini pasti ulahmu,” tuduhnya. Di antara mereka bertiga, Erik memang yang paling gemar menjahili.

Erik kembali tertawa kecil. “Maaf, kawan. Aku cuma sedikit memberi hiburan.”

Selepas makan siang, Dave kembali ke ruang rapat. Ia harus menyelesaikan masalah ini secepatnya. Sementara itu, Elia diam-diam mengirim pesan kepada Lea. Meski berada di gedung yang sama, mereka belum sempat bertemu. Lea sempat memberi tahu bahwa Dave kembali ke ruang rapat. Elia pun menanyakan di lantai berapa ruang rapat itu berada, namun pesan tersebut belum juga dibalas.

Akhirnya,

Elia terpaksa menghentikan seorang karyawan yang bertugas sebagai petugas cleaning service untuk menanyakan arah. “Apa kau tahu di mana ruang rapat?” tanyanya.

Karena melihat Elia keluar dari ruangan Dave, petugas itu pun menjawab dengan sopan. “Di lantai lima, Nyonya.”

Elia mengeluarkan uang senilai 500 baht dari dalam tas kecilnya. “Terima kasih, ini untukmu.”

“Wah, terima kasih banyak, Nyonya,” sahut petugas itu dengan wajah berbinar. Lalu, dengan ragu ia bertanya, “Maaf, sebelumnya… Anda siapa? Saya baru pertama kali melihat Anda.”

“Aku istrinya Dave,” jawab Elia singkat, lalu segera melangkah masuk ke dalam lift.

Petugas cleaning service itu tercengang, nyaris tak percaya. “Apa mungkin dia istri Tuan Dave? Tapi kalau dilihat dari penampilannya, sepertinya biasa saja,” gumamnya. Ia lalu mengangkat bahu. “Ah, sudahlah. Yang penting aku mendapatkan uang,” katanya sambil menyelipkan uang itu ke saku bajunya.

Pintu lift terbuka di lantai lima. Elia keluar dan membaca papan penunjuk arah yang menyatakan ruang rapat berada di sisi utara. Ia pun segera melangkah ke sana.

Baru beberapa langkah, suara Dave yang kembali mengamuk terdengar jelas. Karena penasaran, Elia sedikit membuka pintu dan mengintip ke dalam. Ia terlonjak kaget. Dave tampak seperti orang kerasukan, suaranya meninggi, sama sekali tak menerima alasan dari karyawan yang dimintanya maju.

“Hei, kau sedang apa di sini?” tanya seseorang yang tiba-tiba muncul di belakangnya.

Elia terkejut dan tanpa sengaja mendorong pintu. Seketika perhatian Dave dan seluruh orang di dalam ruangan tertuju padanya.

Dave memijat keningnya, lalu melangkah panjang menghampiri Elia. Ia menarik lengan istrinya itu menjauh dari ruang rapat.

“Kau sedang apa di sini?” tanyanya dengan tatapan penuh amarah.

“A-aku hanya ingin membagikan kue buatanku kepada karyawanmu,” jawab Elia lirih, sedikit gemetar.

Dave terkekeh sinis. “Dari mana kau tahu aku sedang berada di ruang rapat?”

Elia tertegun. Ia tak mungkin mengatakan bahwa Lea yang memberitahunya. “Oh, aku hanya iseng berkeliling gedung ini lalu tidak sengaja mendengar suaramu yang begitu keras. Seperti yang kubilang di rumah, aku ingin mengenal karyawanmu.”

“Elia, cukup!” potong Dave tegas. “Ini tidak lucu. Aku sedang bekerja. Lebih baik kau pulang sekarang.”

“Ya, aku akan pulang. Tapi tolong beri aku kesempatan untuk membantumu,” ucap Elia cepat.

Dave mengerutkan dahi. “Membantuku?” ulangnya.

“Iya. Izinkan aku membantu penjualan kosmetikmu. Aku melihat sendiri grafik penjualannya menurun drastis,” kata Elia penuh kesungguhan.

“Tidak perlu. Aku bisa mengatasinya sendiri.”

“Ayolah, Dave. Aku hanya ingin membantu. Dan tenang saja, aku tidak akan meminta imbalan apa pun. Soal tidur satu kamar waktu itu… aku hanya bercanda,” jelas Elia sambil tersenyum kecil dan mengangkat dua jarinya.

Dave terdiam sejenak. “Sungguh? Kau tidak akan meminta imbalan?”

Elia mengangguk cepat. “Sungguh. Lagipula, aku tidak ingin memaksa seseorang yang tidak mencintaiku untuk melakukan hal itu.”

Kalimat itu melesat seperti anak panah, tepat menusuk jantung Dave. Ia memang pernah mengatakannya dengan lantang,bahwa ia tidak mencintai Elia. Namun entah mengapa, mendengar kalimat itu keluar dari bibir Elia justru membuat dadanya terasa tidak nyaman.

“Baiklah, ikut aku ke dalam,” ujarnya.

Dave berjalan lebih dulu, diikuti Elia dari belakang. Sontak, kehadiran mereka menjadi pusat perhatian para karyawan di dalam ruangan.

“Perkenalkan, semuanya. Ini Elia, istriku,” ucap Dave.

Mendengar itu, mereka serempak berdiri. Orang yang tadi menegur Elia di depan pintu pun tampak panik.

“Halo semuanya, perkenalkan aku Elia. Senang bertemu dengan kalian semua,” ujar Elia dengan nada sedikit gugup. Para karyawan pun menyambutnya dengan ramah.

“Oh ya, aku datang ke sini membawakan sesuatu untuk kalian. Kalian pasti sangat lelah dengan segala tekanan pekerjaan. Tapi tidak perlu khawatir, aku akan membantu kalian,” terangnya.

Mereka tampak tidak sepenuhnya percaya dengan ucapan Elia, namun tetap berusaha mengontrol ekspresi agar tidak terbaca oleh Dave.

“Dengar semuanya,” lanjut Dave. “Istriku ini adalah seorang karyawan di perusahaan asing. Dia bekerja secara remote untuk membuat campaign bagi brand terkenal dunia.”

Ucapan itu membuat mereka tercengang. “Aku percaya, dengan bergabungnya istriku di perusahaan ini, dia bisa membantu meningkatkan angka penjualan kita yang tengah merosot tajam.”

Semua hanya mengangguk paham, memperhatikan Dave yang masih berbicara. Setelah menyampaikan pesan-pesannya, Dave mempersilakan Elia untuk mulai bergabung esok hari.

“Jadi, aku harap kalian bisa banyak belajar dari Elia.”

“Baik, Tuan,” jawab mereka serempak.

“Baiklah, rapat kali ini saya tutup. Mulai besok kalian akan kembali bekerja dengan leader baru di sini,” ujarnya, lalu berlalu pergi.

Elia tampak canggung, namun perhatiannya teralihkan pada Lea yang mengacungkan jempol sambil menyipitkan sebelah mata. Kue yang tadi dibuat pun segera dibagikan. Para karyawan terlihat sangat antusias, tak sabar mencicipinya. Dari aromanya saja sudah tercium betapa lezat rasanya.

Sementara itu, Elia keluar untuk mengejar Dave.

“Dave, tunggu aku!” Melihat Elia mengejarnya, Dave menghentikan langkah dan berbalik badan.

“Ada apa lagi, Elia?”

“Tega sekali kau meninggalkanku sendirian di ruang rapat.”

“Katanya kau ingin mengenal mereka.”

“Iya, tapi bukan ditinggal begitu saja.”

“Lalu sekarang kau mau apa? Aku masih punya pekerjaan yang harus diselesaikan."

“Aku ingin terus berada di sampingmu sampai kau selesai bekerja,” pinta Elia.

Dave hanya menghela napas pelan. Ia teringat bahwa nanti sore, sepulang kerja, ia harus mengunjungi Bianca.

“Elia, sayang. Lebih baik kau pulang untuk beristirahat. Kau pasti lelah setelah menyiapkan bekal dan kue untuk karyawanku. Aku harus kembali bekerja sekarang,” ucap Dave dengan nada lembut, berharap Elia menuruti ucapannya.

“Baiklah, aku akan pergi. Tapi ada satu hal.”

“Katakan.”

“Cium aku.”

“Apa?”

“Iya, cium aku sekarang juga. Setelah itu aku akan pergi dari sini.”

“Tapi—”

“Kalau kau tidak mau menuruti permintaanku, aku akan tetap berada di sini sampai kau pulang kerja,” ujarnya tegas.

Dave terdiam. Ekspresinya menunjukkan ia sedang menimbang permintaan Elia. Jika Elia tidak pergi sekarang juga, geraknya akan semakin terbatas, terutama untuk menemui Bianca nanti sore.

Setelah berfikir sejenak, Dave menarik lengan Elia dan menyandarkan nya pada tembok agar tidak ada terkena pantauan CCTV.

Ia mencium bibir Elia dari yang awalnya lembut, hingga intens. "Sialan! Kenapa aku menikmati ciuman dengan Elia". Gumam Dave dalam hati. Seakan keinginan dan penolakan sedang beradu. Elia yang merasakan setiap belitan Dave hanya dapat memejamkan mata. Hingga tak terasa air mata membasahi pipi nya.

Kecupan itu berlangsung cukup lama, hingga sebuah suara ketukan sepatu membuat Dave melepaskan nya.

1
Nnar Ahza Saputra
klw ada yg lebih baik dari Dave, mending tinggal kn..elia bisa hidup mandiri.. daripada bertahan yg ada hnya sakit hati,,
Vianny: Hallo Kak Nnar terimakasih sudah membaca tulisanku semoga suka ya dengan ceritanya. 🥰
total 1 replies
partini
hati seorang istri yg lemah lembut kaya lelembut ya gini, biar pun lihat dengan mata kepala nya suaminya lagi bercinta behhhh is ok is ok
partini: Thor komen buat karakter nya di novel bukan menerka" alurnya kalau tidak ya bagus bearti dia wanita yg BADAS 👍
total 2 replies
partini
coba nanti kalian tau kalau anakmu bermain lendir Weh,
Dave karakter sangat kuat sdngkn istri melohoyyy apa dia bias marah
kalau bisa Weh luar biasa lain ini Thor
kenal mama Reni ga
partini: author lama di sini Thor spesialis rumah tangga tiga orang ,tapi Endingnya hampir sama semua back together again
total 2 replies
Vianny
Iya😄
partini
itu tiga cogan siapa Thor, temennya Dave
lover♥️
nanti juga nyesel tuh Dave minta kesempatan yg sudah" kaya gitu bilang i love khilaf dll
Vianny: Pasti, karena penyesalan itu muncul selalu di akhir 🤭
total 1 replies
partini
oh betul ternyata bermain lendir weleh
uhhh istri sah dapat Otong sisa 🤭
Vianny: Xie xie 🥰🥰
total 3 replies
partini
menarik ini cerita,apakah setelah puas bermain lendir dengan Bianca dan sesuatu terjadi dia antar mereka berdua datang penyesalan di hati Dave dan ingin kembali ke istri bilang minta maaf ,,
semoga berbeda ini cerita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!