NovelToon NovelToon
I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Selingkuh / Mafia / Konflik etika
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nouna Vianny

Elia menikah dengan Dave karena perjodohan, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Di malam pertama, Dave membuat perjanjian pernikahan yang menegaskan bahwa Elia hanyalah istri di atas kertas. Hari-hari Elia dipenuhi kesepian, sementara Dave perlahan menyadari bahwa hatinya mulai goyah. Saat penyesalan datang dan kata “I’m sorry, my wife” terucap, akankah cinta masih bisa diselamatkan, atau semuanya sudah terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nouna Vianny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejujuran Dave

Sarah kini telah dipindahkan ke ruang rawat kelas VVIP. Meski sudah tersadar dari pengaruh obat bius, kondisinya masih lemah. Kedua matanya terasa berat, seolah membuka kelopak saja membutuhkan tenaga yang tersisa.

“Mom, ini aku Angel,” ucapnya lembut sambil mengelus tangan Sarah penuh kasih.

Sarah tersenyum tipis. Pandangannya lalu bergerak perlahan ke depan, menangkap sosok Dave dan Billy yang berdiri tak jauh darinya.

“Di mana Elia?” tanyanya dengan suara sedikit serak.

“Elia sedang membeli makan siang, Mom,” jelas Dave sambil mengusap lembut rambut Sarah, berusaha menenangkan.

Tak lama, sosok yang ditanyakan itu pun muncul. Elia masuk ke dalam ruangan dengan beberapa kantong makanan di tangannya.

“Elia…” panggil Sarah pelan.

Elia segera menaruh kantong-kantong itu di atas meja makan. Angel memberi isyarat halus agar Elia mendekat.

“Kemari, Elia.”

Elia melangkah mendekat. “Mom… kau sudah bangun?” tanyanya dengan mata berkaca-kaca, suaranya bergetar menahan emosi.

Sarah menatapnya lekat tatapan seorang ibu yang seolah ingin memastikan sesuatu sebelum menutup mata kembali.

“Kau bahagia bersama Dave, Nak?” tanyanya lirih.

Elia menarik napas panjang, menahan agar air matanya tak jatuh.

“Tentu saja aku bahagia, Mom. Dave memberikan apa saja yang ku mau,” jawabnya sambil melirik Dave sekilas. “Ya kan, Dave?”

Dave memaksakan senyum nya. "Iya,Sayang"

"Syukurlah kalau kau bahagia,” ucap Sarah pelan. “Mom tidak ingin kau sedih. Jika Dave berani menyakitimu…” ia berhenti sejenak, menelan napasnya yang terasa berat, “…Mom tidak akan pernah memaafkannya.”

Ucapan itu terdengar jelas, disaksikan oleh Angel dan Billy yang berdiri tak jauh. Keduanya saling berpandangan singkat. Dave sendiri hanya terdiam. Ia menghela napas panjang, seakan kata-kata itu menghantam tepat di dadanya.

“Angel,” panggil Sarah kemudian.

“Iya, Mom?”

“Tolong hubungi Lexie.”

Angel mengernyit. “Untuk apa, Mom?”

“Hubungi saja. Katakan padanya untuk membawa berkas yang kemarin sudah dibuat,” titah Sarah dengan nada lemah namun tegas nada yang tak bisa dibantah.

“Baiklah,” jawab Angel akhirnya.

Ia segera mengeluarkan ponsel dan menghubungi Lexie, pengacara pribadi Sarah. Tak lama, wanita itu mengiyakan dan berjanji akan segera datang.

Di dalam ruang rawat itu, suasana kembali sunyi. Namun kali ini, sunyi yang terasa berbeda lebih berat, seolah menyimpan keputusan penting yang sebentar lagi akan terungkap.

Sementara itu, di kamar apartemennya, Bianca menjalani hari-hari seperti seseorang yang tidak punya kehidupan. Waktu berjalan lambat, diisi dengan kebosanan dan kesunyian yang menyesakkan. Sesekali, ia merindukan masa lalu. Saat namanya dikenal, saat notifikasi ponselnya tak pernah sepi, saat banyak pemilik usaha berebut menjadikannya brand ambassador.

“Kenapa aku tidak memulai itu kembali?” gumamnya sambil mengunyah kacang almond. “Aku hanya perlu mengaktifkan media sosialku… mereka juga pasti merindukanku.”

Bianca meraih ponselnya. Ingatannya masih jelas akan email dan kata sandi yang pernah ia buat. Dengan sedikit ragu, ia mencoba masuk. Berhasil! Akun itu belum tertutup permanen.

Senyum tipis terbit di sudut bibirnya, senyum yang penuh arti. “Daripada aku bosan karena diabaikan oleh Dave,” gumamnya pelan sambil menatap layar, “lebih baik aku kembali aktif di media sosial.”

Saat akun itu kembali aktif, Bianca segera mengunggah foto terkininya. Wajahnya tampak segar, senyumnya lembut, disertai keterangan singkat yang menyampaikan rasa rindunya pada dunia yang sempat ia tinggalkan. Terutama pada pengikut nya di media sosial.

Tak perlu menunggu hingga satu jam.Foto itu langsung dibanjiri like dan komentar.Ratusan notifikasi bermunculan. Banyak yang menanyakan ke mana perginya gadis cantik itu selama ini, ada pula yang mengaku merindukannya dan berharap ia kembali aktif seperti dulu.

Bianca menatap layar ponselnya dengan mata berbinar. Senyum di wajahnya kali ini terasa lebih nyata. Seolah ia menemukan kembali sesuatu yang sempat hilang dalam hidupnya.

Sejak saat itu, semangatnya perlahan bangkit. Dunia yang dulu pernah ia kuasai kini menyambutnya kembali, hangat dan antusias. Dan Bianca tahu, ini baru permulaan.

Di rumah sakit, Erik baru saja keluar dari ruang operasi. Operasi panjang itu menguras hampir seluruh energinya. Perutnya terasa kosong, tubuhnya lelah, dan kepalanya sedikit berat. Yang ia inginkan sekarang hanyalah istirahat sejenak.

Namun tanggung jawab menahannya.

Masih ada beberapa pasien yang harus ia kunjungi—pasien-pasien yang berada di bawah penanganannya di setiap ruangan. Erik menarik napas dalam-dalam, lalu mengepalkan tangannya pelan.

“Semangat… semangat,” gumamnya, mencoba membangkitkan kembali sisa tenaga yang ada.

Dengan langkah mantap meski tubuhnya lelah, Erik berjalan menuju lantai dua, tempat ruang rawat kelas satu, dua, dan tiga berada. Di balik wajah letih nya, profesionalisme tetap ia jaga. Karena bagi Erik, pasien selalu lebih dulu dari dirinya sendiri.

Erik tak sendiri ia di temani oleh perawat untuk mencatat rekam medis pasien. Ia juga harus membuat surat kepulangan pasien yang sudah mulai stabil setelah pembedahan.

“Lantai terakhir,” gumamnya sambil menghela napas panjang.

Saat tiba di lantai lima, tepat di area ruang rawat khusus VVIP, pandangan Erik menangkap sebuah sosok yang terasa begitu familiar. Dari kejauhan, siluet itu membuat langkahnya melambat sesaat.

“Itu… seperti Dave?” gumamnya ragu.

"Siapa dok?" tanya perawat yang ikut penasaran

"Itu seperti teman ku, kau tunggu saja disini"

"Baik, Dok"

Untuk memastikan, Erik segera menghampiri.

“Dave,” sapanya.

Dave menoleh sekilas. Ia sedang menerima panggilan telepon, sehingga hanya mengangguk kecil dan memberi isyarat agar Erik menunggu sejenak.

“Ya, mungkin aku tidak masuk kantor beberapa hari ini,” ucap Dave ke arah ponsel. “Mom sedang sakit. Urusan perusahaan aku serahkan padamu dulu.”

Panggilan berakhir.

“Hei, Rik?” sapa Dave akhirnya.

Erik menatapnya dengan dahi berkerut. “Tadi kau bilang apa? Bibi Sarah sakit? Sakit apa beliau?”

“Mom baru saja menjalani operasi ruptur jantung,” jawab Dave pelan namun jelas.

Erik refleks menutup mulutnya. Wajahnya berubah tegang. “Apa…?”Lalu sekarang beliau dirawat di ruangan mana?”

Dave langsung melirik ke arah pintu ruang rawat inap tepat di belakangnya.

Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Erik segera melangkah cepat dan membuka pintu itu. Masuk dengan wajah serius, seolah bersiap menghadapi sesuatu yang jauh lebih berat dari sekadar kunjungan pasien biasa.

“Selamat siang,” sapa Erik.

Angel, Billy, dan Elia yang tengah menikmati makan siang serempak menoleh ke arahnya. Erik sempat menunjuk Elia sambil melambaikan tangan kecil. Ketiganya langsung menawarkan Erik untuk ikut makan, namun perhatian Erik sudah tertuju pada satu sosok di atas ranjang.

“Halo, Bibi,” sapanya lembut.

Sarah tersenyum dengan tatapan sayu. “Erik?” gumamnya pelan, seolah memastikan.

“Iya, Bibi. Ini aku, Erik,” jawabnya sambil mendekat. “Dave bilang Bibi baru saja menjalani operasi jantung?”

Sarah hanya mengangguk pelan.

Meski bukan ia yang menangani operasi tersebut, Erik tetap menunjukkan sikap profesionalnya sebagai dokter. Ia memeriksa kondisi Sarah sesaat.“Setelah ini Bibi harus lebih banyak istirahat. Jangan terlalu banyak pikiran, apalagi stres. Konsumsi makanan yang kaya nutrisi, dan untuk sementara jangan mandi berendam.”

“Baik, Dokter Erik,” sahut Sarah sambil tertawa pelan, mencoba mencairkan suasana.

Elia menghentikan aktivitas makannya sejenak. “Kak Erik, ayo makan siang bersama kami.”

“Oh, terima kasih,” jawab Erik sambil tersenyum, “tapi aku masih harus mengunjungi beberapa pasien di ruangan lain.”

“Baiklah. Terima kasih sudah menjenguk Mom,” ucap Elia tulus.

Erik mengangguk, lalu pamit keluar dari ruangan. Dave mengikutinya hingga ambang pintu.

“Terima kasih, Rik, sudah datang,” ucap Dave.

“Sudah kewajibanku sebagai dokter,” jawab Erik santai. “Ngomong-ngomong, kau sudah makan siang?”

“Baru mau makan di dalam.”

“Kalau begitu, makan siang bersama ky saja. Bawa makananmu ke kantin. James dan Albert sedang libur sialan, jadwal libur mereka selalu sama.”

Dave terkekeh. “Tunggu sebentar, aku bilang Elia dulu.”

Erik menyeringai senang. Tak lama kemudian Dave keluar dengan menenteng kantong berisi dua box makanan, yang akan dinikmati bersama dengan Erik.

“Ayo,” ajaknya.

“Ayo, tapi tunggu sebentar. Aku harus memeriksa dua pasien lagi. Tidak lama,” kata Erik.

Dave menghela napas kecil sambil tersenyum. “Huft… baiklah.”

Erik dan Dave kini berada di kantin rumah sakit. Suasananya ramai oleh para dokter, perawat, dan karyawan rumah sakit lain yang tengah beristirahat. Tak jarang, beberapa pasang mata—terutama dari kaum hawa—melirik ke arah Dave.

“Hei… hei… kalian jangan menatap pria di depanku seperti itu,” seru Erik setengah bercanda. “Dia sudah punya istri.”

Dave hanya terkekeh pelan, tak terlalu menanggapi.

Keduanya menikmati makan siang sambil berbincang ringan. Sesekali, mereka membuka ponsel masing-masing untuk memeriksa notifikasi yang masuk.

Tiba-tiba Erik menghentikan gerakannya. Alisnya terangkat saat menatap layar ponsel.

“Hei, ini kan Bianca,” serunya spontan sambil memiringkan ponsel.

Dave seketika menegang. Nama itu terlalu familiar untuk diabaikan.

“Bianca siapa?” tanyanya, berusaha terdengar biasa.

Erik langsung menyodorkan layar ponselnya ke hadapan Dave. Di sana terpampang jelas wajah Bianca. Wajah yang Dave kenal lebih dari siapa pun.

“Aku pernah bertemu dengannya waktu itu di club,” terang Erik santai. Kalimat itu sukses membuat darah Dave mendidih.

“Di club?” ulang Dave dingin. “Kau kenal dengannya?”

Erik mengangguk tanpa curiga. “Tentu. Bahkan aku punya nomor ponselnya. Tapi sialnya, dia tidak pernah membalas pesanku.”

Tangan Dave mengepal tanpa sadar. Rahangnya mengeras, tatapan matanya berubah tajam. Perubahan itu membuat Erik menghentikan ocehannya.

“Kau kenapa?” tanya Erik heran.

Dave menarik napas singkat. “Tidak. Tidak apa-apa.”

Erik kembali menatap layar ponselnya, sama sekali tak menyadari badai yang mulai berkecamuk di dalam diri Dave.

“Oh, dia memang cantik. Astaga… Bianca ini ternyata seorang influencer?” Erik tertawa kecil. “Ya ampun, beruntung sekali aku bisa punya nomor ponselnya.”

Dave tak menjawab. Pandangannya tertuju entah ke mana pikirannya sudah jauh melayang. Dipenuhi amarah, kecemburuan, dan nama yang seharusnya sudah ia kubur dalam-dalam.

Erik memperhatikan Dave yang terlihat menahan sesuatu. Rahang Dave mengeras, napasnya tak lagi setenang tadi. Erik akhirnya meletakkan ponselnya di atas meja dan menatap Dave lekat.

“Dave, kau baik-baik saja, kan?”

“Ya, aku baik-baik saja,” jawab Dave cepat, nadanya sedikit ketus. “Memangnya ada apa denganku?”

Erik mengernyit. Perubahan sikap itu terlalu jelas untuk diabaikan.

“Kau ini kenapa, sebenarnya? Tadi kau baik-baik saja.”

Ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. “Hei, Dave. Jangan membohongiku. Kita ini sudah bersahabat sejak lama.”

Erik menatapnya penuh selidik. “Pasti kau sedang menyembunyikan sesuatu.”

Dave terdiam. Tatapannya beralih ke meja makan, jari-jarinya mengepal pelan. Untuk sesaat, ia tampak ragu antara tetap bertahan dengan kebohongannya atau membiarkan rahasia itu akhirnya terungkap.

"Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu,” ucap Dave lirih. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kantin, memastikan tak ada satu pun wajah yang terasa mengenali dirinya. “Tapi jangan di sini. Terlalu berbahaya.”

Erik langsung mengerti. “Baiklah. Ke ruanganku saja.”

Mereka segera menyelesaikan makan siang dan beranjak pergi. Tak lama, keduanya sudah berada di ruang kerja Erik,ruangan yang jauh lebih sunyi dan aman dari telinga-telinga asing.

Begitu pintu tertutup, Dave akhirnya bicara. Dan reaksi Erik… tak bisa ditahan. “HAH?” Erik terlonjak dari kursinya. “J-jadi wanita yang aku temui di club waktu itu… adalah kekasihmu?”.

“Dia datang bersama siapa?” tanya Dave pelan, suaranya menekan.

Erik justru menatapnya dengan sorot tak percaya. “Ya ampun, Dave… kau sungguh tega menduakan Elia?” ujarnya tajam, sama sekali mengabaikan pertanyaan Dave.

Dave menghela napas panjang. Wajahnya tegang, namun tak ada keraguan di matanya saat akhirnya bicara.

“Aku dan Elia menikah karena dijodohkan,” ucapnya datar. “Aku sama sekali tidak memiliki perasaan padanya.”

Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih rendah, “Bahkan sampai sekarang… dia masih suci.”Erik terdiam.

“Ya,” tambah Dave cepat, seolah ingin meluruskan sebelum disalahartikan, “meski aku pernah menyentuhnya.”

Ruangan itu mendadak sunyi. Kata-kata Dave menggantung di udara. Jujur, dingin, dan menyakitkan. Erik menatap sahabatnya lama, mencoba memahami apakah yang duduk di hadapannya ini masih Dave yang ia kenal, atau

seseorang yang sudah terlalu jauh terjebak dalam pilihannya sendiri.

“Lalu jika kau tidak mencintainya,” tanya Erik pelan namun tajam, “kenapa kau menikahinya?”

Dave terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab.

“Ibuku dan ibu Elia sudah seperti saudara. Mereka memang sejak lama merencanakan perjodohan kami,” ungkapnya. “Awalnya aku menolak. Tapi penolakan itu membuat kondisi Mom menurun… sangat mengkhawatirkan.”

Ia menghela napas panjang. “Aku tidak mau sampai itu terjadi.”

Mulut Erik menganga. Ia benar-benar mendengar semua itu langsung dari bibir Dave.

“Tunggu,” ujar Erik kemudian, nada suaranya berubah serius. “Tadi kau bilang Elia masih suci. Tapi kau juga mengatakan pernah menyentuhnya. Maksudnya bagaimana?”

Dave lalu menceritakan semuanya secara rinci. Tentang kejadian di Maldives. Tentang momen ketika emosinya tak terkendali dan ia menyentuh Elia. Namun ia menegaskan satu hal: ia tidak sampai melampaui batas terakhir itu.

Erik menggeleng pelan. Ia bangkit dari duduknya, lalu melipat kedua tangan di depan dada.

“Apa yang sebenarnya membuatmu tidak mencintai Elia?” tanyanya. “Dia cantik, pintar, dan baik.”

“Aku tahu,” jawab Dave datar. “Tapi aku tidak memiliki perasaan apa pun padanya.”

“Lalu Bianca?” Erik menatapnya lurus.

Dave tak mengalihkan pandangan.

“Aku sudah menidurinya berkali-kali. Aku mencintainya,” ucapnya tanpa ragu. “Saat aku berada di dekatnya, aku merasa nyaman.”

“Dave, mulai sekarang kau harus mencoba menerima Elia,” ujar Erik akhirnya. “Aku yakin, perasaan itu bisa muncul dengan sendirinya.”

Dave menggeleng keras. “Tidak bisa, Rik.”

“Karena kau belum mencoba, kan?” Erik menunjuknya, suaranya meninggi.

“Aku memang sejak awal tidak mencintai Elia,” tegas Dave. “Dan sampai sekarang pun, perasaan itu tidak pernah ada.”

Erik menghela napas panjang, dadanya naik turun. “Dave… sebagai temanmu, aku hanya ingin mengingatkan. Penyesalan itu selalu datang di akhir. Bukan di awal.”

“Aku tidak peduli, Erik!” bentak Dave tiba-tiba. Suaranya lantang, memantul di dinding ruangan.

“Bahkan aku tidak keberatan jika dia mengajukan gugatan cerai. Justru… aku akan sangat senang.”

Kalimat itu jatuh seperti palu keras, dingin, dan tanpa sisa empati. Tak ada keraguan. Tak ada rasa bersalah. Seolah nama Elia sama sekali tak pernah punya tempat di hatinya.

Erik menatap Dave lama. Bukan dengan marah melainkan dengan kekecewaan yang dalam. Untuk pertama kalinya, ia merasa sahabat yang duduk di hadapannya ini telah berjalan terlalu jauh… dan mungkin, tak akan mudah kembali.

1
kalea rizuky
mana karma. buat jalang enaknaja dia dia sukain alex dan bahagia punya anaknya rela q mending di buat kegugudan trs rahim. rusak itu baru adil
kalea rizuky
laki bejat selingkuh ampe nidurin
sutiasih kasih
demi jalang.... n ancamannya km gercep ambil tindakan dave....
hadeuh dave.... ank siapa yg brtanggung jawab siapa🤣🤣🤣
Nnar Ahza Saputra
alex bertindak,, itu kn anak.ny alex,,,
kalea rizuky
cpet bkin Cerainthor gk sbar nunggu Dave gila
sutiasih kasih
lanjut thor
sutiasih kasih
lagian... istri sah di anggp musuh... di hindari....
eeee mlah lbh milih mnjatuhkn pilihan ke jalang....
istri di cuekin... eeee sm si jalang prhatian bgt...
skrg minta ksempatan.... g tau malu n g tau diri km dave.... elia km kasih barang bekasan jalang...
🙄🙄
Cookies
lanjut
Cookies
lanjut thor
kalea rizuky
nyesel mu g guna uda makan itu jalang bergilir lu doyan kam
sutiasih kasih
mkanya jgn nafsu yg km gedein dave.... smpe" buta mata dan hatimu...
udah g usah drama dave... bukankah perempuan pujaanmu adalah bianca...
jdi kmbali lah ke bianca...😅😅
sutiasih kasih
jgn prnah ada kata kmbali elia...
rugi dpt bekasan si bianca jalang...
dave g cocoj dpt perempuan sebaik km elia...
dave cocoknya dpt perempuan jalang..
sutiasih kasih
istri cantik... paket komplit... harus brsaing dgn perempuan yg cm modal selangkangan🙄🙄
sutiasih kasih
ya elah.... bini di rumsh nungguin dgn setia....
suami lgi main lndir sm jalang di luar....
ntar jalangnya hamil....
istri sah harud ngalah dan prgi...
Melinda Cen
lanjut perbnykkan eps nya dong
Nnar Ahza Saputra
gugat cerai aza... pergi nd menjauh,,,
Melinda Cen
lanjut
Melinda Cen
yeee akhirnya Dave menyesal. jgn mau kembali lg elia
Cookies
lanjut
Melinda Cen
lanjut thor, semoga elia berpisah dengan Dave. dan Dave kan menyesal
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!