Ravela Natakusuma, seorang kapten TNI-AD, tiba-tiba harus menerima perjodohan dengan Kaivan Wiratama, seorang CEO pewaris perusahaan besar, demi memenuhi permintaan ayah Kaivan yang tengah kritis.
Mereka sepakat menikah tanpa pernah benar-benar bertemu. Kaivan hanya mengenal Ravela dari satu foto saat Ravela baru lulus sebagai perwira yang diberikan oleh Ibunya, sementara Ravela bahkan tak tahu wajah calon suaminya.
Sehari sebelum pernikahan, Ravela mendadak ditugaskan ke Timur Tengah untuk misi perdamaian. Meski keluarga memintanya menolak, Ravela tetap berangkat sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai abdi negara.
Hari pernikahan pun berlangsung tanpa mempelai wanita. Kaivan menikah seorang diri, sementara istrinya berada di medan konflik.
Lalu, bagaimana kisah pernikahan dua orang asing ini akan berlanjut ketika jarak, bahaya, dan takdir terus memisahkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Canggung
Sejak kejadian di dalam tenda malam itu, suasana di antara Kaivan dan Ravela berubah canggung.
Setiap kali mereka berpapasan, Ravela selalu mencari alasan untuk menghindar.
Kadang berpura-pura sibuk, kadang mempercepat langkah seolah tidak melihat Kaivan berdiri hanya beberapa meter darinya. Kaivan memperhatikan semua itu dan jujur saja, itu membuatnya kesal.
Pagi itu, di area proyek hunian sementara, Kaivan berdiri di depan beberapa staf proyek dan mandor. Wajah Kaivan tampak dingin.
“Ini laporan progresnya?” tanyanya datar sambil membolak-balik berkas yang di pegangnya.
“Iya, Pak. Sesuai rencana—” jawab salah satu staf.
“Ini bukan sesuai rencana,” potong Kaivan. “Target pengecoran kenapa mundur dua hari?”
Staf itu menunduk. “Karena alat berat baru bisa masuk kemarin sore, Pak.”
“Alasan,” balas Kaivan singkat. “Kita sudah bahas risiko akses dari awal. Harusnya ada antisipasi.”
Tak ada yang menanggapi. Semua hanya menunduk, menerima omelan itu tanpa perlawanan.
Sandy berdiri agak ke belakang, memperhatikan. Ia mengernyit pelan. Mengapa atasannya itu hari ini sangat sensitif. Hal kecil saja bisa memicu kemarahannya.
Keesokan harinya, Ravela menerima perintah baru dari komandan posko. Ia dan tim personelnya dipindahkan sementara ke sektor barat untuk hari ini saja membantu pengamanan dan pendampingan pembangunan jembatan akses penghubung antar desa.
“Kita berangkat pagi ini,” kata Ravela singkat saat briefing. “Fokus tugas. Jangan sampai lengah.”
Tanpa Ravela ketahui, di waktu yang hampir bersamaan, Kaivan dan tim proyek Wiratama Group juga mendapat agenda meninjau titik pembangunan hunian sementara di sektor barat.
Akhirnya, tanpa banyak pilihan, mereka berada di kendaraan yang sama. Truk militer itu sudah terisi setengah ketika Kaivan naik bersama Sandy dan dua staf proyek.
Beberapa prajurit dan relawan sudah lebih dulu duduk berjejer di sisi kiri bak truk. Saat Kaivan melirik ke sekeliling, semua kursi di sisi itu telah penuh. Pandangannya berhenti di satu tempat kosong yang tersisa. Tepat di sebelah Ravela.
Kaivan berhenti sejenak, lalu duduk. Ravela menegang seketika. Punggungnya lurus, tangannya diletakkan rapi di paha. Pandangannya lurus ke depan.
“Komandan kenapa?” tanya Kirana dari seberang, menatap Ravela yang terlihat tegang.
Ravela menggeleng kecil. “Saya tidak apa-apa,” jawabnya singkat, meski suaranya terdengar sedikit berbeda.
Beberapa pasang mata melirik, termasuk Kaivan. Namun Ravela tetap memaku pandangan ke depan.
Truk mulai berjalan. Jalanan bekas banjir membuat laju kendaraan tidak stabil. Lubang, lumpur kering, dan sisa puing membuat truk beberapa kali berguncang.
Di satu guncangan cukup keras, tubuh Ravela sedikit oleng ke depan. Refleks, Kaivan menahan bahunya. Sentuhan itu singkat, namun cukup membuat mereka saling menoleh dan pandangan mereka bertemu.
Ravela segera memalingkan wajah. Matanya cepat menyapu seisi truk. Beberapa prajurit terlihat tertidur, yang lain sibuk dengan ponsel atau mengobrol pelan. Tidak ada yang memperhatikan dan itu membuatnya sedikit lega.
Kaivan pun menarik tangannya, berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Perjalanan dilanjutkan dalam diam.
Sesampainya di lokasi, semua orang turun satu per satu. Kaivan turun lebih dulu. Saat Ravela hendak turun, Kaivan mengulurkan tangannya. Ravela hanya melirik sekilas dan memilih melompat turun sendiri.
Kaivan terdiam sesaat, lalu menggeleng kecil sambil tersenyum tipis. Ia lupa jika Ravela bukan perempuan yang perlu dituntun. Istrinya itu seorang prajurit. Hal seperti itu sudah biasa dan sangat gampang baginya.
Tanpa menunggu lama, Ravela memberi isyarat pada prajurit dan relawan. “Tim ikut saya ke lokasi jembatan penghubung. Untuk relawan, langsung saja ke posko pengungsian dan fokus bantu di sana.”
“Siap, Komandan,” jawab timnya.
“Siap Kapten,” ucap relawan yang ikut.
Sementara itu, Kaivan menoleh ke Sandy dan timnya yang lain. “Kita ke lokasi proyek,” katanya.
“Baik, Pak.”
Selepas magrib, Ravela, para prajurit dan relawan akan kembali lagi ke posko utama. Namun sebelum truk militer itu berangkat, tiba-tiba Ravela ingin ke kamar mandi.
“Aku mau ke kamar mandi sebentar," bisik Ravela ke Kirana.
Kirana mengangguk, lalu membuka matanya sejenak, “Mau aku temenin?"
“Tidak usah, aku hanya sebentar. Kamu juga sepertinya lagi kecapean banget,” jawab Ravela dan turun dari truk itu.
Kirana kembali memejamkan mata, menyandarkan tubuhnya pada dinding truk.
Kaivan yang hendak berjalan menuju truk militer untuk memastikan Ravela sudah ada disana seketika terhenti, kala mendapati Ravela berjalan seorang diri entah kemana. Yang bisa Kaivan tebak, pasti Ravela hendak menuju kamar mandi.
Kaivan segera menyusul Ravela, walaupun istrinya itu seorang prajurit, tapi tetap saja ia khawatir terjadi sesuatu padanya.
Di dalam truk, para relawan dan prajurit lain tidak menyadari bahwa Ravela belum naik kembali, sementara Kaivan memang tidak kembali bersama mereka.
Rencananya, Kaivan dan tim proyeknya akan menetap di lokasi itu dan baru kembali keesokan harinya.
Ravela terburu-buru berjalan menuju kamar mandi, ia benar-benar sudah tidak tahan untuk buang air kecil. Langkah kakinya tenggelam oleh suara dahan yang saling bergesekan diterpa angin cukup kencang.
Deru angin dan gemericik dedaunan menelan bunyi langkah lain di belakangnya, hingga Ravela sama sekali tak menyadari jika ada seseorang yang mengikutinya.
Jalan menuju kamar mandi yang sepi dan sedikit licin membuat Ravela harus ekstra hati-hati, salah langkah sedikit saja sudah pasti dia akan tergelincir ke bawah.
Ravela menggerutu kesal, “Ini kamar mandi jauh banget sih.”
Sedangkan Kaivan masih mengikuti Ravela dari belakang, bahkan sedari tadi ia mendengarkan omelan Ravela, yang menurut Kaivan itu terasa lucu.
Ravela berjalan sedikit cepat, namun sial Ravela tanpa sengaja menginjak tanah yang licin, sontak membuatnya hampir terjatuh, beruntung Kaivan segera berjalan cepat menghampiri Ravela dan menopang tubuh Ravela.
Ravela sendiri reflek terpejam, kala merasa dia akan tergelincir, detak jantungnya berdebar kencang karena merasa kaget.
Namun Ravela tidak merasa sakit sama sekali, bahkan Ravela merasa tubuhnya seolah melayang, Ravela bergegas membuka matanya.
Ravela terkesiap, kala mendapati Kaivan lah yang tengah menopang tubuhnya. Ravela benar-benar merasa bersyukur karena Kaivan membantunya, jika Kaivan tidak membantunya, sudah bisa dipastikan saat ini ia akan meluncur kebawah.
Ravela segera mensejajarkan tubuhnya, setelah kesadarannya kembali sepenuhnya. Ravela benar-benar merasa malu dan gugup jika berada di dekat Kaivan.
"Hati-hati. Anda sebenarnya mau kemana, Kapten?" tanya Kaivan, saat Ravela sudah berdiri seperti semula.
“Saya mau ke kamar mandi, mau buang air kecil,” jawab Ravela.
“Ya sudah, ayo saya antar," tawar Kaivan.
Namun Ravela bergegas menolak tawaran Kaivan, yang benar saja ia ingin buang air kecil dan Kaivan yang mengantarkan, apa yang akan dikatakan orang-orang jika sampai ada yang tahu.
“Tidak usah, saya bisa sendiri,” tolak Ravela.
“Tidak usah membantah,” kata Kaivan tegas.
“Saya tahu anda tentara, Kapten. Tapi anda juga seorang wanita. Kalau ada satu dua orang yang berniat buruk, mungkin anda masih bisa menghadapi. Tapi kalau lebih dari itu bagaimana? Apalagi kalau mereka membawa senjata tajam sementara anda tidak membawa apa-apa. Tidak mungkin kan anda hanya mengandalkan tangan kosong,” lanjutnya berbohong sengaja ingin menakuti Ravela.
Ravela mendesah, jelas tidak setuju. “Ini daerah bencana, Mas. Orang-orang di sini lagi kena musibah. Mana mungkin ada yang berpikiran seperti itu.”
“Justru karena situasinya kacau. Saya dengar wilayah ini dikenal rawan, banyak tindak kejahatan yang dilakukan disini.”
Ravela terdiam sejenak, lalu menarik napas panjang. “Baiklah,” ucapnya akhirnya, nada suaranya mengalah meski jelas masih menyimpan keberatan.
“Ya sudah sana, jalan terlebih dahulu, saya akan mengikuti dari belakang,” perintah Kaivan.
Ravela menurut, ia berjalan terlebih dahulu. Akhirnya mereka sampai di kamar mandi, Ravela bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Sementara itu Kaivan sendiri menunggu di luar.