Lisa Kanaya, meninggalkan keluarganya yang toxic untuk bertugas di pelosok desa. Siapa sangka dia berada di tengah tim yang absurd. Trio semprul dan dokter yang diam-diam menghanyutkan.
"Mana tahu beres tugas ini saya dapat jodoh," ucap Lisa.
“Boleh saya amin-kan? Kebetulan saya juga lagi cari jodoh," sahut Asoka.
“Eh -- "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Foto Kita
Bab 7
Lisa hanya mengangguk lalu mengalihkan pandangannya.
“Nah, bagus itu. Sama dokter Oka aja, nanti saya pinjemin motor sama A Ujang,” ujar Rama lalu membayar bakso yang sudah dinikmati dirinya dan Yuli. “Ajak Lisa muter-muter dok, biar keblinger.”
“Dih, aneh,” sahut Lisa.
“Ya udah aku pulang duluan ya. Besok giliran aku piket,” seru Yuli. Piket yang dimaksud adalah jaga malam di puskes.
“Paling sampe kamar langsung tik-tokan,” ucap Rama sudah menjauh sambil berteriak memanggil Ujang dan Yuli mengekor langkah pria itu ke dalam.
“Sudah makan?”
“Belum, dok.”
“Sekalian saja.” Asoka sudah menggulung lengan kemejanya sebatas siku dan pandangan memperhatikan jalan. Mungkin mengingat-ingat arah dan jalan yang kemarin dilewati.
“Loh, mobil kemarin sudah pergi?”
“Kata Rama sudah. Barang yang tersisa sudah dibawa Sapri ke rumah.”
Asoka mengangguk pelan. Gayanya yang cool dengan tangan dimasukan ke dalam saku celana membuat perempuan ingin mengalihkan pandangan ke arahnya.
“Dokter Asoka.”
Bukan hanya Asoka yang menoleh, Lisa pun ikut melihat ke arah suara. Marina, sang dokter gigi berjalan ke arah mereka.
“Mau langsung pulang? Tadinya mau saya ajak ke tempat praktek saya. Dari sini sekitar satu jam.”
Lisa langsung menunduk pura-pura sibuk saat Marina melirik ke arahnya.
“Hm, sepertinya nggak. Saya mau ada perlu sekalian lihat-lihat daerah sini.”
“Ya sekalian aja, pake mobil saya. Yuk!”
Lisa mengernyitkan dahi masih berpura-pura fokus dengan ponsel, meski telinganya mendengar jelas permintaan Marina.
Dih, maksa. Dokter Oka udah nggak mau kok, malu gue mah.
“Mau pergi sama dia?”
Loh, loh, emang kenapa sama gue. Lisa refleks menoleh, karena sudah tersentil.
"Iya," jawab Asoka.
"Ikut saya aja gimana. Sekalian aku kenalkan dengan para dokter di klinik itu. Ngapain juga betah di sini sama mereka."
Demi apa, ingin sekali Lisa menoyor kening dan mencapit bibir si Marimar ini.
“Saya ketua tim dan sudah tugas saya memastikan kebutuhan anggota tim saya. Bukan karena betah atau tidak."
“Padahal bisa saya antar.”
Ya ampun Marimar, orang Dokter Oka nggak mau. Maunya sama gue.
Tentu saja kalimat itu hanya dalam batin, Lisa tetap menjaga keharmonisan hubungan kerja. masih satu tahun ke depan mereka akan bersama.
Beruntung Rama datang dengan motor matic. “Nanti bawa ke rumah aja dok, biar Sapri yang anter kemari. Gue udah WA dia.”
“Ini punya A Ujang?” tanya Lisa.
“Iya, gampang-lah. Gue udah kasih rokok dua batang sama ajak ngopi.” Rama turun dari motor dan Asoka mengambil alih.
“Biar nanti kita isi bensin nya,” seru Asoka lalu memberi tanda agar Lisa naik.
“Ya udah saya duluan. Lain kali ikut saya ya, nanti saya kasih tau tempat bagus di sini,” ujar Marina dan Asoka hanya mengangguk.
Lisa belum naik ke motor dan kedua pria itu masih terdiam, memperhatikan Marina dengan mobilnya perlahan meninggalkan area parkir dan sempat menekan klakson.
“Hih, serem. Auranya bikin merinding,” cetus Rama sambil bergidik. “Yang dinotice Cuma dokter Oka doang.”
“Masa sih?” seru Asoka.
“Padahal bukan ikut aja dok, mana tahu seru,” ujar Lisa memancing di air keruh.
“Seruan sama kamu.”
“Ea ea, masak air belum mateng. Berangkat sana!” ujar Rama lalu terkekeh. “Kayaknya motor mau gue kirim kemari deh, susah nggak ada kendaraan mah.”
“Sama, saya juga gitu. Untuk kebutuhan mobilitas kita.”
“Gas, dok. Udah sana jalan. Keburu dokter Marina balik lagi. Sa, awas jangan lupa kopi,” seru Rama lalu beranjak menuju pintu IGD karena dia bertugas lagi.
“Cerewet.” Lisa pun naik di belakang Asoka.
“Udah?”
“Udah, dok.”
“Pegangan dong!”
Lisa mengu-lum senyum, tangannya terulur memegang pinggang sang dokter. Asoka pun tersenyum simpul mendapati pinggangnya disentuh oleh Lisa. Tidak pernah menduga dan membayangkan sebelumnya akan sedekat ini. Mengusulkan diri untuk mengganti dokter lain ternyata pilihan yang tepat.
Ingin sekali mengusap tangan itu bahkan menariknya agar melingkar dan mendekap erat. Pelan-pelan, batin Asoka. Ada masanya ia bisa melakukan hal itu. Lebih dekat lagi dengan sang pujaan hati.
***
Berada di toko sembako dan kelontong. Jaraknya tidak sampai sepuluh menit dari puskes. Sebelumnya Asoka mampir ke atm bersama dan menarik uang tunai. 1 dus mie instan dan 1 kantong plastik besar berisi kopi, gula, teh juga sereal, serta 1 kantong lainnya berisi detergen, sabun cuci piring dan pembersih lantai.
“Bisa dok? Atau saya pegang aja yang ini.”
Asoka mengambil alih 1 kantong plastik lainya, ditumpuk di atas belanjaan lain tepat di depannya.
“Bisa. Ayo naik, kita makan dulu.”
Lisa kembali naik dan Oka mulai melaju pelan karena jalanan yang masih agak becek serta menghindari lubang.
“Mau makan apa?” tanya Oka tanpa mengalihkan pandangan dan fokus dengan jalanan.
“Maunya nasi dok, tadi pagi cuma minum sereal.”
“Nasi padang mau?”
“Boleh.”
Asoka berhenti di depan rumah makan padang. Bukan restoran, hanya rumah makan biasa dengan beberapa meja di dalam. Paling tidak terlihat rapi dan bersih. Sudah lewat jauh dari jam makan siang, hanya ada satu meja diisi dan seseorang yang sedang memesan untuk dibungkus.
“Makan di sini apa bungkus?”
“Disini aja. Pake rendang tambah perkedel, jangan pake sambal,” tutur Lisa. “Dok, pake apa?”
Asoka menatap tumpukan menu di lemari kaca.
“Hm. Udang dan telur dadar,” serunya. “Es jeruk ya,” ujarnya lagi lalu menyusul Lisa yang sudah menempati meja paling strategis agar bisa mengawasi motor di depan.
Lisa membuka ponselnya sedangkan Asoka menerima panggilan telepon, sepertinya dari rumah sakit.
Tim Pencari Kitab Suci🤸
Anda ditambahkan oleh Rama P.
Yuli Imut : Grup apaan nih?
S4pri : Kok pencari kitab suci, saya lagi cari jodoh yang tersesat mas
Beni Ganteng : Share foto tadi, mau lihat macam mana gantengku
Lisa Kanaya : Eh iya, Ram. Kirim sini fotonya
Rama P. : Cie, yang boncengan sama dokter Oka, udah di mana? Jangan bilang mampir ke KUA
Lisa Kanaya : Ish, foto mana foto
Yuli Imut : Tau dih, nggak jelas si Rama
Rama P. : Kirim juga foto lo sama dokter Oka ya
Yuli Imut : Dasar pe4, di sini ada dokter Oka juga kali
Rama P : Foto
Rama P : Foto
Rama P : Foto
Rama P : Foto
Yuli Imut : Dih, ulang ah. Besok foto lagi, Rama beg0 foto gue nggak estetik
Beni Ganteng : Ya tuhan, kenapa bisa wajahku macam gitu. Mana bisa dibanggakan ke istri sama keluarga di kampung
S4pri : Padahal saya udah menahan nafas lama, kenapa nggak kelihatan gagah ya
Rama P. : Kurang lama nahannya Sap. Paling nggak lo tahan sampai liang lahat. Pasti hasilnya bagus
Lisa terkekeh membaca isi pesan grup. Makanan mereka sudah tersaji.
Asoka yang baru saja mengakhiri panggilan. “Kenapa?” tanyanya ikut tersenyum.
“Lihat grup deh dok, tim kita kok unik-unik ya.”
Asoka kembali fokus dengan ponselnya dan tersenyum simpul. Sungguh pemandangan indah bagi Lisa melebihi pemandangan cek rekening saat gajian tiba. Semoga saja dia tidak diabetes disuguhi senyum manis sang dokter.
“Bagus,” ujar Asoka.
“Hah, apanya yang bagus?”
“Foto kita.”
“Eh.”
\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa tinggalin sendal, supaya author tahu masih ada yg baca
Oh iya, Asoka Harsa gak ada hubungannya dengan Harsa di judul yang udah tamat ya, cuma kebetulan yg lewat ya nama itu 🤣
Rama Cs jadi tamengnya
rasakan kejahilan Yuli 😆😆😆😆
jangan lama-lama jangan lama-lama nanti aku kabur
mau telp damkar biar bersih otak dan pikiran encep di cuci pake damkar🤭