NovelToon NovelToon
Istri Yang Mereka Remehkan

Istri Yang Mereka Remehkan

Status: tamat
Genre:Pelakor / Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Elina bukan istri yang polos. Saat suami dan mertuanya berusaha merebut aset dan perusahaannya, ia memilih diam sambil menyiapkan perangkap.

Mereka mengira Elina tidak tahu apa-apa, padahal justru menggali kehancuran sendiri.

Karena bagi Elina, pengkhianatan tidak dibalas dengan air mata... melainkan dengan kehancuran yang terencana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di balik meja makan

Lampu-lampu kristal di meja makan kediaman Elina menyala terang, memantulkan kilau elegan di atas meja panjang yang telah tertata rapi. Setiap piring, sendok, dan gelas tersusun sempurna.

Aroma masakan rumahan bercampur dengan wangi bunga segar, menciptakan suasana jamuan keluarga yang hangat, setidaknya dari luar.

Elina berdiri di dekat meja makan, menatap hidangan yang ia siapkan sendiri. Senyum tipis terukir di wajahnya, senyum yang tampak tulus namun sulit ditebak maknanya.

"Elina, Bunda dan Ayah sudah di mana?" tanya Ares sambil menghampirinya.

"Masih di jalan, Mas. Sebentar lagi mungkin sampai," jawab Elina tenang.

Di ruang tamu, Arman dan Amelia sudah duduk menunggu. Arman sibuk dengan ponselnya, jarinya sesekali mengetuk layar, sementara Amelia menatap Elina dengan sorot datar yang sulit diartikan. Sebelumnya, Ares sudah memberitahukan bahwa Elina telah kembali seperti dulu, wanita yang menurutnya mudah dibodohi. Bahkan Ares berpesan agar kedua orang tuanya memperlakukan Elina dengan baik, setidaknya sampai tiba saat mereka menyeret Elina keluar dari rumahnya sendiri.

Tak lama kemudian, suara mobil terdengar berhenti di halaman rumah.

"Bunda dan Ayah sudah datang," ucap Ares.

Elina mengangguk kecil, lalu melangkah menuju pintu utama tepat saat bel berbunyi.

Tangannya meraih gagang pintu dan membukanya perlahan.

Albert berdiri tegap di ambang pintu, sorot matanya tenang namun tajam. Di sampingnya, Aurelia tampak anggun dengan senyum tipis yang terukir sempurna, senyum seorang perempuan yang sudah terlalu sering berada di ruang penuh kepalsuan.

"Ayah, Bunda," sapa Elina lembut sambil memeluk keduanya bergantian.

"Bagaimana perjalanan kalian?" tanya Elina setelah melepaskan pelukannya.

"Lancar, sayang," jawab Aurelia lembut.

"Ayah... Bunda..." ucap Ares sambil menyalimi kedua mertuanya dengan hormat.

Aurelia membalas dengan senyum hangat, sementara Albert hanya mengangguk tipis.

"Bagaimana keadaan kamu, Nak, Ares?" tanya Aurelia penuh perhatian.

"Baik, Bunda. Kalian juga, kan?" Ares bertanya balik.

"Tentu, sayang. Kami juga baik, seperti yang kamu lihat," balas Aurelia dengan nada hangat.

Ares tersenyum puas. Melihat sikap mertunya yang tampak biasa saja, ia semakin yakin Elina tidak menceritakan apa pun tentang masalah rumah tangga mereka.

Amelia dan Arman ikut mendekat.

"Bu besan..." sapa Amelia ramah, lalu mereka berdua saling cipika-cipiki. Arman dan Albert berjabat tangan singkat namun sopan.

"Apa kabar? Bu Amelia?" sapanya sopan, suaranya hangat namun berjarak.

"Baik, sangat baik," jawab Amelia cepat, seolah ingin terdengar meyakinkan. Matanya meneliti Aurelia dari ujung kepala hingga kaki, kilas rasa iri nyaris tak sempat ia sembunyikan.

"Silakan masuk, Bun, Yah. Malam ini Elina masak untuk kalian," ucap Elina sambil menggandeng tangan Aurelia dan Albert. Wajahnya tampak antusias.

"Iya, sayang. Sudah lama Bunda nggak ke sini," ujar Aurelia.

Sementara itu, Amelia dan Arman mengikuti dari belakang. Amelia menatap Aurelia dengan pandangan tak lepas, wanita itu tampak jauh lebih muda, dengan pakaian sederhana namun jelas mahal, ditambah perhiasan yang dikenakannya terlihat tanpa batas.

Mereka pun bergerak menuju ruang makan. Kursi-kursi ditarik rapi. Elina sigap membantu Aurelia duduk di samping Albert, sementara Ares mengambil tempat di sisi Elina, seolah ingin menegaskan posisinya.

"Ini masakan Elina, lho, Bun," sahut Ares.

"Wah! Masakan kamu tidak pernah berubah El," ucap Aurelia setelah satu suap masuk ke mulutnya.

"Bunda, lebay deh. Masakan Elina masih standar," balas Elina ringan.

"Tapi apa yang Bunda katakan benar, sayang. Masakan kamu memang selalu enak," sahut Albert.

Percakapan di meja makan pun berlanjut. Tawa kecil sesekali terdengar, namun sebagian besar obrolan diisi oleh Elina, Aurelia, dan Albert yang tampak akrab.

Sementara itu, Amelia dan Arman hanya sesekali menyahut, lebih banyak memperhatikan dan menilai, dalam diam.

Beberapa saat kemudian, mereka berpindah ke ruang tamu. Sofa empuk berwarna krem kembali terisi, namun suasananya tak lagi sehangat saat di meja makan. Keheningan tipis menggantung di udara, seolah setiap orang sedang menimbang kata dan sikap masing-masing.

Aurelia duduk anggun dengan kaki tersilang rapi, kedua tangannya bertumpu tenang di pangkuan. Di sampingnya, Albert menyandarkan punggung ke sofa, sorot matanya tetap tenang namun awas, mengamati setiap gerak dan ekspresi di sekelilingnya. Elina duduk di sisi mereka, posturnya santai, senyum tipis masih terpasang—tenang, nyaris terlalu tenang untuk sebuah pertemuan keluarga yang sarat kepentingan.

“Saya dengar besok acara pengangkatan CEO, Pak Albert?” ucap Arman akhirnya membuka percakapan.

“Iya, Pak. Besok akan hadir, kan?” tanya Albert balik dengan nada datar namun sopan.

“Tentu, Pak Albert. Mana mungkin kami tidak datang,” sahut Amelia cepat, senyum tipis tersungging di wajahnya.

Albert mengangguk pelan. “Silakan. Kehadiran kalian tentu kami hargai.”

Aurelia menambahkan dengan nada ringan, seolah mencairkan suasana, “Apalagi ini momen penting untuk Anderson Group.”

Beberapa saat kemudian, Albert dan Aurelia telah pamit pulang. Amelia dan Arman lebih dulu masuk ke kamar mereka, disusul Ares dan Elina.

Di dalam kamar, Elina berdiri mematung, menatap dingin ranjang tempat tidur itu, ranjang yang sama, tempat Ares dan Maya pernah berhubungan intim.

“Elina, ada apa?” tanya Ares, memperhatikan sikap istrinya.

Elina menggeleng pelan. “Nggak apa-apa, Mas. Oh ya, aku mau ke dapur sebentar. Kamu mau nitip?” tanyanya, berusaha menahan nada suaranya tetap normal.

Ares terdiam sejenak, lalu menjawab, “Mas ingin air putih saja.”

Elina mengangguk, kemudian keluar dari kamar, meninggalkan Ares seorang diri. Saat Ares hendak melangkah menuju toilet, terdengar suara notifikasi dari ponselnya.

Ares menghentikan langkahnya dan memeriksa layar ponsel itu terlebih dahulu.

(Bayu)

{Tuan Ares, semua telah beres. Besok Anda bisa mengambil berkasnya}

Ting!

Belum sempat ia menyimpan ponselnya, satu notifikasi kembali masuk.

(Dirga)

{Selamat malam, Tuan Ares. Semua dana perusahaan akan masuk ke rekening pribadi Anda.}

Senyum Ares mengembang lebar. “Akhirnya,” gumamnya puas. “Ini adalah saat yang kutunggu-tunggu.”

Sementara itu, di dapur, Elina menuangkan obat tidur ke dalam segelas air putih milik Ares. Niatnya malam ini ia akan tidur di kamar lain, ia tak ingin berbaring di ranjang yang telah ternodai oleh perbuatan Ares dan Maya.

Saat hendak kembali ke kamar, ponsel Elina bergetar.

Ia berhenti sejenak, lalu membuka pesan yang masuk. Ternyata dari Dewa.

(Dewa)

{Nona Elina… Dirga dan Bayu telah menjalankan rencananya}

Bibir Elina tersenyum miring.

“Selamat menikmati permainanmu di atas, Mas,” bisiknya dingin. “Malam ini kamu mungkin merasa sudah berada paling tinggi, tanpa sadar aku sedang menyiapkan caramu jatuh… sejauh-jauhnya.”

1
Nur Liana
menarik
Nona Jmn: Tquuuu😁😁
total 1 replies
Nur Liana
astera di mana thor
Nona Jmn: Kota fiksi Novel kak😂😍🤭😁
total 1 replies
echa purin
👍👍
Nunuk Sutrisno
agak gmn ya ceritanya...sahabat dgn seenaknya sendiri begitu dirumah temannya yg lg kerja,gak masuk akal🤭🤭
Ani Maryani Naryani
intrik keluarga suaminya nya terobsesi harta sang istri
Ani Maryani Naryani
itu mertua anak pelakor gak punya urat malu pingin memiliki harta yg bukan miliknya cepet Elina cerai usir keluarga suaminya kasih hukuman yg tidak terlupakan dan kamu harus bahagia di masa depan dan tinggal kan masa lalu kamu itu cantik dan kuat
Ani Maryani Naryani
dih itu suaminya di kira istri sah gak tau padahal dia lagi merencanakan balas dendam dan mengusir semua benalu harus kuat elina kamu tangguh dan badas
Ani Maryani Naryani
thor pemeran nya pasti Badas dan kuat bisa melawan benalu keluarga suaminya
Fi Fin
wooow elina nya dilraba 👍
Fi Fin
kok ngga di laporin ke polisi ya ..
biar semua masuk bui
Fi Fin
woow Dilraba yg jadi Elina 👍
nira ritawatty
Punya impian?
Bagus
Berusaha?
Harus
Mengambil mimpi Orang lain?
Hangus
Nona Jmn: Hahaha ngakak😂😂
total 1 replies
Mega Arum
Luar biasa..
Wiwik Wardoyo
sok gaya mau' pindah aset konoonnn.... 😄
Wiwik Wardoyo
mampir thoorrr 👍
Rosita Tumbelaka
blm cerai secarah Sah
zyfha
ko zhang ling he
Rina Mariana
bagus
Mama Lilik
Lo kok udah tamat.aja ....gimana itu tawanannya 😁
Hariyanti
ceritanya bagus dan menyenangkan 😘😘😘
Nona Jmn: Terima kasih kakak😍😍😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!