Apa yang diharapkan Oryza pada pernikahan yang berawal dari kesalahan? Kecelakaan malam itu membuatnya terikat dengan Orion sang pebisnis terkenal sekaligus calon tunangan adiknya, bukankah sudah cocok disebut menjadi antagonis?
Ia dibenci keluarganya bahkan suaminya, sesuai kesepakatan dari awal, mereka akan berpisah setelah anak mereka berusia tiga tahun dengan hak asuh anak yang akan jatuh pada Oryza. Tapi 99 hari sebelum cerai, berbagai upaya dilakukan Oryza mendekatkan putranya dengan sang suami juga adiknya yang akan menjadi istri selanjutnya. Surat cerai tertanda tangani lebih cepat dari kesepakatan, karena Oryza tau ia mungkin sudah tiada sebelum hari itu tiba
Jangan lupa like, vote dan komen ya🙏🏼
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukarromah Isn., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gabril
"Mau kamu itu apasih hah? Bukannya kuliah yang bener malah keluar masuk kantor polisi" gerutunya sebal ketika sudah masuk dalam mobil. Jangan tanya dimana motornya? Tentu saja kena sita karena benar-benar dimodifikasi untuk berisik dan benar-benar mengganggu orang lain
"Kakak kan bestian sama polisinya, jadi aman. Lagian kakak juga dulu kayak gini, jangan mendadak amnesia deh"
"Jaman kita udah beda Gabril, kakak sudah bilang berapa kali sama kamu kalau itu salah dan cuma buat seneng-seneng doang. Nggak ada manfaatnya sama sekali"
"Aku juga cuma buat seneng-seneng doang" laki-laki berusia dua puluh tahun itu menjawab kakaknya enteng yang membuat Oryza gemas ingin memukulnya. Jarak umur mereka kurang dari delapan tahun, tapi laki-laki itu benar-benar lebih tinggi darinya
"Tapi seneng-seneng kamu ngerepotin orang lain"
"Kakak bukan orang lain, daripada aku ngerepotin gojek buat pura-pura jadi orang tuaku" itu adalah sindirian untuk Oryza, dulu ketika masuk kantor polisi ia selalu menyewa jasa ojek online itu untuk bermain peran, karena seringnya yang dibawa selalu beda orang lama kelamaan polisi tak lagi kena tipu, alhasil ia malah membawa kakak sulungnya dan berakhir kena ceramah semalaman
"Kakak kayaknya bakal pergi, jadi jangan keseringan bikin masalah"
"Kakak kan bentar lagi mau cerai, emangnya mau pergi kemana? Balik kerumah lagi?" Oryza tersenyum tak menanggapi. Yang tau tentang surat cerainya itu adalah adiknya dan tentu saja Alice. Makanya perempuan itu berani mendekati Orion secara terang-terangan
"Kakak bakal pergi jauh dan kamu nggak akan pernah bisa nyusul"
"Yaelah, kakak kira uangku nggak ada buat beli tiket pesawat?. Asal kakak tau ya, walau suka bikin keributan nggak jelas, aku punya penghasilan dari balap motor resmi. Jadi bisalah pesen tiket pesawat ke kutub utara sekalipun" Oryza mendengus tak peduli
"Oh iya, dimana Saga? Kenapa nggak ikut?" Agak aneh untuk Gabril, ia tau kakaknya tak pernah membiarkan siapapun dekat dengan anaknya termasuk ayah kandungnya sendiri jadi ia selalu membawanya kemana-mana. Seolah ia mengajarkan pada Saga, kalau ia hanya punya ibunya. Tapi kini kondisinya berbeda, jika tetap seperti itu pada akhirnya ia akan melukai putranya sendiri
"Dia pergi sama papanya"
"Tumben banget"
"Diajak calon mama barunya" Gabril yang memegang kendali menekan rem mendadak membuat mereka langsung mendapat klakson dan umpatan dari pengendara dibelakang. Hampir saja terjadi kecelakaan seandainya orang itu tak fokus
"Kak Oryza mimpi apa sampai biarin dia deket sama Kak Alice?" laki-laki itu sampai menukikkan alisnya tajam
"Nggak papa, kedepannya dia juga bakal jadi ibunya Saga kan?"
"Kakak berubah pikiran? Gimana kalau ternyata Saga lebih sayang dengan Kak Alice daripada kakak sebagai ibu kandungnya?" Kata-kata itu mengganggu Oryza, mengingatkan sama persis dengan apa yang orang tuanya lakukan
"Kenapa nggak kalau Alice juga sayang dia dengan tulus?"
"Tapi gimana kalau ternyata itu cuma trik dia aja buat ngambil hatinya Kak Orion?"
"Ngapain dia berusaha ngambil hati Orion kalau dari awal mereka udah bareng" Gabril akhirnya diam, tapi ia tak setuju dengan hal itu. Besok ia akan diskusikan lagi
Bertepatan dengan mobilnya yang baru sampai didepan gerbang, Oryza juga melihat mobil suaminya sudah terparkir disana, artinya mereka sudah pulang. Lumayan lama karena matahari nampak mulai tenggelam. Ia sendiri perlu menemui kakak sulungnya dulu, tentu saja untuk mengadu kelakuan Gabril namun justru mereka berdua kena ceramah sampai jam seperti ini
"Kamu nggak usah mampir, langsung pulang aja sana. Tapi bawa mobil kakak besok, awas kalau kamu pakek buat kegiatan nggak jelas"
"Adik tuh harusnya minimal disuruh masuk, malah ngusir"
"Karena kamu nggak tau diri dan bawa pengaruh buruk buat Saga" skakmat, ini gara-gara teman-temannya yang menelpon saat ia sedang bersama keponakannya, alhasil seluruh nama hewan kebun binatang terabsen oleh mulutnya
"Yaudah, besok aja aku mampirnya" jawabnya dengan suara kesal kemudian menyalakan mobil dan pergi
"Mama" baru membuka pintu ia langsung disambut sang putra yang berlari kearahnya
"Mainnya seru sayang?"
"Selu! Saga bisa main banyak-banyak" Oryza tersenyum mengusap rambut putranya yang lepek karena keringat, ia ingin melihat senyum ini lebih lama lagi. Ia ingin mendengar putranya bisa mengucap huruf r dengan lancar. Tapi bisakah?
"Besok mama halus ikut ya, mama pasti suka main"
"Iya, besok ya sayang"
"Sekarang, ayo mandi dan makan"
"Saga udah makan tadi sama papa dan Bibi Alice, makan yang enak"
"Oh ya? Kalau begitu selesai mandi langsung tidur ya, Saga pasti capek" walau balita itu mengatakan tidak mengantuk, namun setelah Oryza membantunya selesai mandi sang putra langsung terlelap damai diatas kasurnya. Wajar saja pasti karena ia kelelahan bermain
"Selamat tidur sayang, teruslah bahagia nak"
Setelah menutup pintu itu pelan, Oryza beranjak ke kamar sebelahnya, kamar tidurnya dengan suaminya. Ya, mereka seperti pasangan normal untuk hal ini, tidur dalam kamar yang sama namun dengan jarak dan penghalang yang tak akan bisa tembus saking kuatnya mereka mempertahankan jarak itu. Tentu saja ini untuk mengurangi kecurigaan keluarga mereka yang kadang berkunjung mendadak
"Saga sudah tidur?"
"Sudah" Oryza menjawab pertanyaan suaminya dan berlalu kedepan meja rias
"Kemana kamu hari ini?"
"Gabril" Oryza tak perlu menjelaskan lebih banyak, cukup menyebut nama itu maka ia sudah tau adik iparnya itu berurusan dengan kantor polisi
"Pembuat masalah sepertimu" Oryza terlalu malas menanggapi, lagipula itu membuat hidupnya sedikit berwarna bukan seperti Orion yang selalu datar seperti jalan tol
Oryza yang sedang menghapus sisa make upnya didepan cermin tersentak saat sebuah cairan hangat mengalir dari hidungnya, dengan cepat ia mengambil tisu sebanyak-banyaknya dan berlari ke kamar mandi
BRAKKK
"Dasar aneh" Orion menggelengkan kepalanya melihat pintu itu yang tertutup kencang
"Dimana surat cerainya?" Orion semakin menaikkan sebelah alisnya melihat Oryza yang tiba-tiba keluar kamar mandi langsung meminta surat cerai
"Masih belum waktunya" Orion ingin mengelak, tapi kenapa ia berat memberikan? Bukankah itu yang ia tunggu-tunggu selama ini?
"Kurang dari 99 hari lagi, setidaknya aku sudah tangan sekarang. Takutnya besok tak sempat"
"Memang kamu pergi kemana sampai tak sempat? Seperti orang sibuk saja"
"Aku memang sibuk asal kamu tau"
"Aku tau, tapi masih sebatas kota ini kan. Perjanjian tetap perjanjian, kau tanda tangani saat Saga berusia tiga tahun" Oryza ingin berteriak keras, tapi demi tuhan ia benar-benar takut saat ini. Tapi siapa yang akan percaya jika ia bercerita?
Oryza 😭😭😭😭😭🤧
begitulah versi cerita ni... semua feeling jg ada d situ d uli sebati ole author. huhhh sedih bnget ya
karena Allah lebih tahu bahwasanya kita tidak boleh terlalu terlena & memuja yg ada di dunia ini tanpa mengingat penciptanya... Allah mengambilnya supaya kita selalu mengingat & berdoa kepada sang pencipta