Rhea adalah seorang pengacara muda idealis yang harus menelan pahitnya kehidupan setelah di-PHK secara sepihak dari firma hukum ternama. Musibah Rhea tak berhenti di situ, sore setelah pemecatannya, dia mengalami kecelakaan lalu lintas parah yang membuatnya koma selama hampir sebulan. Tak ingin menyerah pada nasib, Rhea bangkit dari keterpurukannya. Menggunakan sisa uang pesangon yang pas-pasan, dia nekat mendirikan biro bantuan hukum mandiri di sebuah ruko kecil daerah Tebet bersama Zora, sahabat karibnya yang selalu setia mendampingi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diana mainur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Bukan Sekadar Warisan
"Dan kamu ada disana kan, Rudi?" pangkas Rayven menunjuk dada Rudi. "Sementara Rika tahan obatnya, Fadel menekan Pak Bambang yang lagi megap-megao kehabisan napas buat menandatangani surat warisan palsu itu. Iya kan?"
"Aku... aku cuma berdiri di depan pintu..." bisik Rudi dengan suara pecah yang gemetaran parah.
"Sebutkan faktanya. Ceritakan gimana Fadel dan ibunya membiarkan Pak Bambang mati malam itu?" gertak Rayven menggebrak kursi besi di bawahnya hingga bergaung keras.
Rudi menunduk pasrah, menceritakan detik-detik kelam beberapa bulan yang menghantuinya selama ini.
"Malam itu... Pak Bambang memang sedang bekerja di ruangannya. Tiba-tiba Pak Bambang memegang dadanya dan meminta tolong pada Bu Rika untuk mengambilkan obat beliau, tapi justru obat itu malah diambil dan disembunyikan Bu Rika untuk menandatangani surat warisan itu," tutur Rudi parau.
"Pak Bambang udah lemas banget. Terus Mas Fadel bawa draf surat dan memaksa Pak Bambang buat menempelkan jempolnya yang dipoles tinta ke atas kertas itu pas Pak Bambang setengah sadar. Setelah suratnya ditandatangani paksa, mereka berdua cuma berdiri di sana, ngeliatin Pak Bambang sampai napas terakhirnya habis tanpa di panggilkan ambulans," lanjut Rudi gemetaran.
"Pengakuan yang sangat bagus Rudi. Kamu baru saja menyelamatkan nyawamu dari hukuman mati," Rayven tersenyum puas.
Sekitar pukul dua siang. Suasana di area makan depan sangat bising oleh denting sendok dan hiruk-pikuk pelanggan yang memenuhi meja. Namun, aura di dekat meja kasir terasa sangat dingin membekukan.
Bima masuk perlahan menembus pintu besi belakang dapur. Langkah kakinya menyusuri lorong samping menuju rak penyimpanan. Napasnya masih agak terengah-engah setelah pertemuan tadi. Kebenaran bahwa seluruh restoran ini adalah miliknya masih bergaung kencang di dalam dadanya.
Namun, saat Bima hendak menyeburkan kain lap ke dalam ember...
"Kamu dari mana saja, Bima?"
Suara melengking milik Rika memekakkan keheningan dari arah meja kasir. Wanita berdiri sambil menatap Bima dengan pandangan yang merendahkan yang sangat tajam.
"Kamu tidak melihat restoran ini sedang lagi ramai dan kamu malah pergi. Mau jadi pemalas kamu sekarang," sembur Rika dengan nada meninggi.
Bima menghentikan gerakannya. Ia membalikkan badan perlahan, mencoba menetralkan raut wajahnya agar tidak memancarkan rasa curiga.
Di samping Rika, Fadel duduk di kursi tinggi kasir. Pria itu tidak mengucapkan sepatah kata pun. Wajah Fadel yang biasanya penuh dengan sindiran tajam kini tampak sangat kelam, dingin dan tanpa ekspresi.
Matanya yang merah menatap Bima lurus-lurus tanpa berkedip sebuah tatapan kosong yang jauh lebih menakutkan daripada hentakan Rika. Fadel masih sangat tertekan dan marah karena keberadaan Rudi yang lenyap tanpa jejak.
Bima menundukan kepalanya sedikit. Meremas kain lap di tangannya.
"Iya maaf, Bu. Saya tadi keluar sebentar cari bahan bumbu tambahan yang kurang di dapur. Pak Yudi tadi udah kasih izin," kata Bima.
"Alasan aja. Cepat bereskan meja nomor empat dan lima. Jangan bikin pelanggan kabur gara-gara kerjaan kamu lelet," Rika mendengus kasar, mbuang mukanya ke samping dengan jijik.
"Iya, Bu," sahut Bima pelan.
Sebel Bima berbalik menuju area makan, matanya sempat berselisih pandang dengan Fadel. Fadel hanya menyipitkan matanya tajam, memutar-mutar korek api perak di jemarinya tanpa suara. Bima menelan ludahnya kasar, merasakan aura bahaya yang sangat besar dari Fadel, lalu bergegas pergi membawa nampan.
Sekitar pukul empat sore, suasana di dalam ruko kecil itu terasa begitu sibuk dan dipenuhi lembaran kertas yang berserakan diatas meja kaca.
Rhea berdiri di depan papan tulis putih, menuliskan pasal-pasal hukum pidana dan perdata yang bakal mereka tembakkan ke Rika dan Fadel, Zora duduk di depannya sambil menekuni laptop, memasukkan data-data sertifikat asli dan identitas notaris Noto Kusumo ke dalam draf berkas gugatan resmi pengadilan.
"Rhe," panggil Zora sambil membenarkan kacamatanya. "Ini berkas gugatan pembatalan draf palsu sama tuntutan hak ahli waris tinggal buat Bima udah selesai gue ketik. Sekarang tinggal tunggu dari Mas Rayven aja nih."
Rhea memutar spidol di tangannya, melirik jam dinding yang sudah menunjukkan sore hari.
"Rayven kok belum ada kabar ya dari tadi? HP nya juga gak aktif lagi," kata Rhea.
"Ya namanya juga pengacara elit, Rhe. Palingan lagi sibuk rapat sama klien-klien pengusaha kaya," seloroh Zora sambil mengunyah keripik.
Rhea menggembungkan pipinya pelan lalu tertawa tipis mendengarnya. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerja, meregangkan otot-otot lehernya yang terasa agak kaku.
"Yaudah deh, Zor. Kalau gitu kita beres-beres aja. Bentar lagi kita mau pulang nih," ujar Rhea sambil mematikan layar komputernya dan merapikan beberapa lembar kertas diatas meja.
"Seriusan kita mau pulang cepat, Rhe," Zora langsung melotot bercanda.
"Serius Zora. Pekerjaan kita kan udah selesai hari ini. Daripada kita diam di kantor nunggu kabar dari Rayven, mending kita pulang dan istirahat," kekeh Zora menggelengkan kepala.
"Asyikk. Eh btw malam ini kita mau makan apa, Rhe?" seru Zora kegirangan.
"Terserah lu deh mau makan apa, ikut aja gue. Mau ramen, sate, atau bakso juga ayo," jawab Rhea santai.
"Wah, kalau terserah gue, fix kita makan ramen kuah pedas," sahut Zora semangat sambil mengambil tasnya.
Lalu mereka berdua bergegas mengunci pintu ruko dan pergi.
Suasana ruang kerja pribadi Rayven tampak sangat hening. Rayven duduk bersandar di kursi kulitnya, melamun menatap kosong ke arah jendela kaca besar.
TOK... TOK...
Pintu ruangan kerja Rayven diketuk pelan. Asisten pribadinya melangkah masuk membawa sebuah map tambahan.
"Pak Rayven. Ini berkas tambahan soal gugatan perdata Ibu Rika dan Fadel yang Bapak minta tadi. Kalau sesuai instruksi awal, draf ini akan mengajukan pembatalan hak waris atas tuduhan pemalsuan dokumen, kan Pak?"
Rayven tidak langsung menjawab. Tapi senyum tipis penuh teka-teki menari di sudut bibirnya.
"Tolong ubah lagi drafnya," ujar Rayven pendek.
"Ubah gimana maksudnya, Pak? Kita revisi pasal ganti ruginya saja kan, Pak?" tanya asistennya mendadak mengernyit heran.
Rayven menegakkan posisi duduknya, menatap asistennya lurus-lurus dengan tatapan tajam tak tergoyahkan.
"Bukan, cuma pasal warisan," sela Rayven pelan namun menusuk. "Kasus ini bukan lagi sekedar perebutan surat ahli waris atau pemalsuan dokumen biasa... Tapi ini adalah kasus pembunuhan berencana."
Asistennya seketika langsung melongo, matanya membelalak lebar dengan mulut setengah terbuka.
"Hah? Pembunuhan berencana, Pak. Siapa yang..."
"Besok pagi," potong Rayven tenang. Menutup layar komputernya dengan satu gerakan. "Saya sendiri yang bakal bawa berkas ini langsung ke kejaksaan. Fadel dan ibunya bukan cuma bakal kehilangan restoran itu, mereka bakal saya pastikan menghabiskan sisa hidupnya di dalam penjara."
Rayven menyunggingkan senyum dinginnya, meninggalkan asistennya yang masih membeku tak percaya di tengah ruangan.