Cherry adalah seorang gadis yang beruntung, ia memiliki keluarga yang hangat dan sangat menyayanginya, hidupnya seperti impian banyak gadis seusianya terlebih ia memiliki Kakak Laki laki yang selalu melindunginya Kevin, di sekolah berpacaran dengan pria paling populer sekaligus ketua OSIS Dion Prince, namun setelah kehadiran dua Pria bernama Bumi dan Langit hidupnya berubah, masa lalu yang selama ini ia cari kebenarannya perlahan mulai terungkap. Akankah Cherry berhasil mengetahui masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YirumaNitya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hubungan yang dangkal
Di Rumah Dion
"PRANG BRAK BRUK" Suara benda benda pecah belah terdengar keras, seorang Perempuan dewasa tak kuasa menahan amarahnya dan melemparkan semua benda yang dilihatnya di meja makan.
"Cukup Mam cukup" Teriak Dion sambil menarik bahu Mami tercintanya, ia kemudian memeluk erat mami, sambil mengusap rambut maminya dengan sayang.
"Mami, ada Dion mih, mami tenang dulu"
Wanita itu terdiam sejenak nafasnya tak teratur dan wajahnya sangat marah. Airmata membasahi pipinya, hatinya yang memang sudah remuk sejak dulu, kini remuk kembali.
Sedangkan Pria dewasa lain dihadapannya hanya terdiam tak bersuara.
"Bajingan Kamu Edward bajingan, selama ini kamu janji mau berubah, tapi mana buktinya, kamu ulangi lagi prilaku binatang mu" Teriak wanita itu penuh luka dan amarah.
Untuk kali ini Eva benar benar sudah diambang batas kesabarannya, mendapati suaminya berselingkuh dengan LC di bar, membuatnya naik pitam, terlebih ini bukan yang pertama kalinya terjadi.
"Eva, tolong tenang dulu, masalah ini pasti bisa aku selesaikan baik baik, nanti setelah semua selesai, kita bisa kembali lagi seperti awal, aku janji ini yang terakhir." Ujar lelaki berusia 50 tahunan bernama Edward itu.
"Terakhir selalu kamu bilang terakhir, pembohong kamu, bajingan." Eva berkata sambil menutup matanya yang banjir air mata.
"Gak usah rewel, aku janji akan beresin masalah ini secepatnya, aku akan selalu kembali ke kamu Eva." Ujar Edward tanpa rasa bersalah.
Mendengar ucapan Papinya itu Dion yang sedari tadi berusaha untuk menenangkan maminya tak kuasa menahan amarah. Iya menghampiri Papinya kemudian.
"PLAK" di tamparnya wajah bule Papinya dengan keras penuh dendam, membuatnya tersungkur dilantai.
Edward meringis kesakitan sambil menahan amarah yang memuncak, sudut bibirnya terluka, pipinya lebam, ada rasa ngilu yang menjalar sampai ke rahangnya, melihat sikap anak bujangnya yg sudah berani menamparnya membuat ia sangat murka.
"Berani beraninya kamu tampar Papi kamu sendiri Dion, dasar anak kurang ajar kamu" Makinya keras.
"Emang kamu pantas dipukul Edward" Dion menatap tajam ke arah Papinya sambil masih mengepalkan tangannya menahan amarah.
"Kurang ajar" Teriak Edward kemudian berdiri sambil melayangkan tamparan yang tak kalah keras ke wajah anaknya.
Dion membeku, saat ini fikirannya sungguh tak karuan, ingin rasanya ia membunuh ayahnya saat itu juga, namun mau bagaimanapun Edward adalah ayah kandungnya.
Melihat pemandangan itu Eva yang sedari tadi berteriak dan mengamuk terdiam pilu, karenanya dan sang suami, anak mereka harus mengalami kejadian kejadian seperti ini berulang kali.
Eva menahan dirinya untuk tak tumbang namun seketika semua terlihat gelap baginya, ia terhuyung huyung mencoba tetap berdiri tapi gagal, kemudian tubuhnya mulai tumbang dan akhirnya tersungkur di lantai pingsan.
"Miiiii" Teriak Dion Panik ia bergegas membawa maminya ke kamar untuk dibaringkan.
Edward mengikutinya dari belakang namun belum sempat ia masuk ke kamarnya sendiri Dion dengan penuh kesadaran menendang keras tubuh ayahnya hingga tersungkur lagi ke lantai.
Edward mengaduh kesakitan, perutnya sangat sakit terkena hantaman kaki anak Bungsunya.
"Dion apa kamu gak punya adab Hah, tadi kamu berani tampar Papi sekarang kamu Tendang Papi, apa maumu." Teriak Edward sambil masih meringis memegangi perutnya di lantai.
"Mulai hari ini kamu bukan Papiku lagi Edward" Ucap Dion dingin kemudian berlalu meninggalkan Edward sendirian dan bergegas untuk menelpon Dokter keluarga.
***
Keesokan Harinya di Sekolah (SMA PELITA)
Hari itu di sekolah Cherry terus menghindari Dion. Namun Dion yang memang sedang sibuk di OSIS juga tak bisa leluasa bergerak untuk mendekati Cherry.
Dalam hatinya gusar, sepanjang rapat OSIS Dion tidak bisa fokus, fikirannya terus berkeliaran kemana mana, bahkan pembina OSIS saat itu sampai menegurnya.
Di OSIS jabatan Dion sangat krusial ia menjabat sebagai Ketua OSIS, karenanya ia harus selalu bisa menjaga sikap saat sekolah, bahkan dia dan Cherry sampai backstreet karena alasan itu.
Dion tidak ingin banyak gosip yang akan mempengaruhi dirinya dan Cherry di sekolah, selain itu Dion juga masih belum sepenuhnya bisa lepas dari bayang bayang masa lalunya bersama sang mantan, dulu semua orang tau ketika ia berpacaran saat berpisah rasanya sangat sulit untuk bisa move on. Hal itu membuat Dion trauma terhadap publikasi.
Cherry yang baru pertama kali berpacaran pun berusaha mengerti, lagian diapun tak bisa leluasa karena Kevin selalu protektif terhadapnya, jadi ia merasa posisinya dan Dion imbang, hanya saja urusan Dion dengan banyak cewek cewek lain sungguh tak pernah bisa ia mengerti.
Selama berpacaran berkali kali Dion ketahuan jalan bersama wanita lain, memang tidak berpacaran, tapi tetap saja itu membuat Cherry kesal dan cemburu.
Disisi lain yang Cherry tidak tahu Dion sebenarnya sangat membenci wanita, wanita disini adalah wanita yang menurutnya gampangan, Dion memilik kecendrungan untuk mempermainkan wanita seperti itu hanya untuk disakitinya lalu dicampakannya, ia tahu sikapnya itu salah, namun entah mengapa berhasil menyakiti wanita wanita seperti itu membuatnya sangat puas. Seperti berhasil membalas dendam ibunya.
"Ngelamun aja awas kesambet" Kata Riana di sela sela jam istirahat.
Hari itu Riana memakai bando pink lengkap dengan aksesoris serba pink dari mulai gelang hingga cincinnya. Riana adalah sahabat dekat Cherry di sekolah dan satu satunya yang mengetahui hubungan Dion dan Cherry di kelas mereka.
Cherry tersenyum kecut "Lagi bad mood total" ujarnya.
"Pasti gara gara si Dion kan?" Selidik Riana.
Cherry mengangguk malas.
"Gimana kalau ke bukit, gue bawa banyak coklat nih" Tunjuk Riana ke kotak bekalnya.
Cherry melihat kotak bekal itu lalu membukanya, aneka coklat memenuhi kotak bekal itu, bukan coklat biasa tampaknya ini coklat dari luar negeri.
"Habis nge rampok coklat dimana neng?" Tanya Cherry menggoda sahabatnya. Cherry tau sekali bahwa Maminya Riana sangat strength soal makanan, apalagi makanan manis.
"Stttttt" Kata Riana sambil meletakan 1 jari di bibir Cherry "Ini harta kartun yang di bawain ka Chika hahaha" Katanya senang.
Kak Chika adakah kakak Riana yang berkuliah di Prancis, dengan kata lain coklat itu adalah coklat Prancis. Di kota Jala keluarga Riana juga merupakan salah satu keluarga yang kaya dan terpandang.
"Jangan sampai mami tau gue makan banyak coklat, bisa bisa besok gue gk boleh makan apapun seumur hidup" Kata Riana hiperbola berniat menghibur Cherry yg kelihatan sangat tak bersemangat hari itu.
"Okey tuan putri, hamba akan menyimpan rahasiamu sampai mati" Kata Cherry, membuat mereka berdua akhirnya tertawa lepas.
Merekapun pergi ke bukit Rahasia, dan memakan harta Karun mereka disana.
Penggambaran Riana Aurora Jansen
***
"Cherry" Teriak Dion dari arah lapangan sekolah bergegas menemui Cherry yang terlihat berjalan ke arah kantin sekolah.
Menyadari ada yang memanggilnya Cherry menghentikan langkahnya. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan, ketika melihat Dion dengan langkah kaki panjang menghampirinya.
Dion tiba di hadapan Cherry dengan membawa sebuah novel di tangannya.
"Cher kenapa kamu hindari aku? Tolong jelasin ke aku" Ujar Dion dengan tatapan sendu.
"Kamu GK tau atau kamu pura pura gak tau Di?" Ujar Cherry kesal pandangannya ia arahkan kemana mana selain ke wajah Dion yang saat ini sangat tak ingin ditatapnya.
Dion menggaruk kepalanya dia sangat bingung dengan sikap Cherry beberapa hari ini. Biasanya mereka selalu rajin untuk berkirim pesan dan video Call, tetapi beberapa hari ini bahkan tak sekalipun Cherry mau mengangkat telepon darinya.
"Aku salah apa lagi? Kalau aku salah kasih tau salahnya apa?" Kata Dion putus asa.
"Arin" Ucap Cherry singkat.
Dion terdiam, ia menyadari sesuatu yang tadinya tak pernah terpikirkan olehnya. Sepertinya ia sudah dipergoki jalan bersama Arin yang juga teman sekelas mereka.
"Kamu liat aku sama Arin?" Tanyanya memastikan.
"Aku liat langsung Di" Cherry membuka handphone nya lalu memperlihatkan Foto yang di ambilnya tempo hari.
Dion terkejut, ia menarik nafas panjang kemudian berkata "Aku cuma temen biasa aja sama dia, kita cuma keluar buat makan, gak ada yang lebih, lagian kan si Arin tuh sekertaris OSIS wajar dong kalau aku bahas masalah di OSIS sama dia"
Cherry tersenyum kecut "Bahas masalah OSIS harus sampe pergi berduaan ke Taman?" Tanya Cherry sambil meremas jari2nya menahan pedih. "Aku males debat sama kamu ujung ujungnya aku yang kalah Dion, karena aku yang suka banget sama kamu." Setetes air mata jatuh di pelipis matanya, Cherry langsung buru buru menyekanya.
Dion menatap gadis itu, rasa tak enak memenuhi hatinya, dia tau kali ini dia sudah sangat keterlaluan, namun iapun tak mau jikalau harus melepaskan Cherry. Cherry baginya tak sama dengan perempuan perempuan lain, Cherry berbeda.
"Cherry aku minta maaf, aku akan tunggu sampe kamu maafin aku ya." Dion berkata dengan lembut.
"Ini aku udah beliin novel kesukaan kamu, kamu lagi cari judul yang ini kan, ini buat kamu" Dion memberikan sebuah novel ke tangan Cherry. "Ini tanda permintaan maaf aku ke kamu, aku minta maaf, dan aku bersumpah gak ada hubungan apa apa sama Arin"
Cherry menatap sampul Novel itu, Novel langka yang sudah dicarinya kemana mana namun tak pernah berhasil ia dapatkan, tampaknya kali ini Dion serius minta maaf padanya, Cherry tau untuk mendapatkan novel ini pasti dia harus bersusah payah.
Cherry terdiam sejenak sambil menahan air mata untuk tidak tumpah "Tapi kalau nanti kamu kayak gini lagi, apa aku harus maafin kamu lagi Dion? Aku gak tahan lagi" Ujarnya.
"Aku janji, aku janji gak akan iseng atau seenaknya lagi, please maafin aku, aku bener bener gak nyaman tanpa kabar dari kamu Cherr, aku GK semangat."
Cherry mengangguk pelan, "Yaudah, aku harap ini yang terakhir kalinya kamu kayak gini" ucapnya lelah.
Dion tersenyum senang, "Makasih Ya Cher, udah ya jangan nangis, aku gak mau liat kamu nangis"
"Iya" Kata Cherry sambil berusaha memasang senyum tipis. Kalau bukan karena rasa sukanya belum hilang, pastilah dia akan dengan mudah melepaskan Dion. Namun hatinya belum rela.
Gambaran : Dion Prince Wood
***
Sepulang sekolah Cherry masih sibuk piket kelas bersama kelompoknya, hari itu mereka harus menata ulang posisi bangku dan meja karena besok akan ada diskusi di kelas mereka, Bu Inggrid guru Bahasa Indonesia Mereka meminta untuk posisi kelas di tata seperti sedang rapat .
Selepas piket Cherry dengan langkah gontai ke luar kelas, Tampak Dion sudah menunggunya.
"Cher makan es krim sebentar yuk di depan" Ajaknya.
"Boleh"
Saat itu sekolah sudah sepi tampak hanya ada beberapa anak saja yang belum pulang, Dion bisa dengan leluasa berdekatan dengan Cherry di waktu seperti itu, mereka berjalan bersama menuju gerbang sekolah.
"Kamu pasti capek, sini aku bawain tas kamu" Kata Si tampan berwajah blasteran itu menawarkan.
Cherry tersipu ia memberikan tasnya pada Dion "Makasih ya"
"Baikan?" Tanya Riana yang tiba tiba muncul entah darimana.
Cherry dan Dion sedikit terkejut dengan kehadirannya, mereka berdua mengangguk kompak.
"Iyuuuuh, udah gue duga bakal baikan lagi, gak asik." Kata Riana meledek Cherry.
Dion menjitak kepala Riana pelan "Diem lo gak tau gue sesusah apa minta maaf ke Dia ." Kata Dion ke Sepupunya. Riana memang adalah sepupu Dion, karena Ayahnya Dion adalah Adik kandung mami Riana.
"Kalau gue jadi Cherry udah gue hempaskan cowok playboy kayak loe wleeee " Ledek Riana lagi tanpa kapok. suaranya agak keras agar terdengar jelas oleh Cherry.
Cherry hanya tertawa kecil melihat tingkah Dion dan Riana.
"Untung dia Ganteng banget Ri, makanya gue bucin kalau enggak ya pasti udah gue buang ke laut" Kata Cherry.
Mendengar perkataan Cherry Dion tersenyum puas. Entah mengapa detak jantungnya menjadi terasa berbeda, ada perasaan yang sebelumnya belum pernah Dion rasakan.
"Yaudah yaudah, awas lu ya bikin sahabat gue nangis lagi, gue bakal aduin loe ke Tante Eva" Ancam Riana.
Dion melotot galak, namun Riana sama sekali tidak takut.
"Eh gue cabut duluan ya, lupa Papi udah jemput di depan sekolah, bye bye..."
Riana berlari menuju gerbang tergesa, rambut panjang coklatnya terlihat mulai semrawut tersibak karena berlarian.
"Hati hati" Teriak Cherry pada Riana.
Sementara itu Dion dan Cherry melanjutkan langkahnya.
Cherry tersipu sipu lagi, melihat Dion menenteng tas ungunya, pemandangan ini biasa dia lihat di drama, lelaki gentle yang membawakan tas ceweknya.
Tak disangka dia yg diperlakukan seperti itu saat ini.
Dion adalah pacar pertama Cherry, sebelumnya dia sering sekali menyukai oranglain, namun belum sempat jadian pasti sudah kandas duluan karena Kevin ikut Campur, kali ini Cherry bertekad untuk tetap mempertahankan Dion selama Dion masih layak untuknya.
***
Sesampainya di gerbang sekolah.
"De...." Teriak Kevin dari atas motor ninja hijau ZX 25Rnya, Kevin ternyata sengaja menunggu Cherry untuk pulang bersama.
Kondisi sekolah sudah mulai sepi, namun masih ada beberapa anak yang lalu lalang keluar sekolah.
Sial batin Cherry, mana bisa pulang bareng Dion kalau gini. Padahal tadinya Dion mengajak Cherry untuk mampir ke toko kue dan Es Krim di sebrang sekolah mereka lalu berjanji pula akan mengantar Cherry pulang.
Cherry mengambil tasnya dari tangan Dion.
"Aku duluan ya Dion, bos aku udah jemput tuh maafin ya hari ini gagal nongki sama kamu." Cherry menunduk penuh penyesalan, lalu ia menarik kecil lengan baju Dion sambil memberi wajah imut layaknya kucing.
Melihat tingkah Cherry Dion tersipu, pipinya memerah Dia berkata "Iya next time aku bakal nekad culik kamu dari cowok posesif itu" Ia melirik tajam ke arah Kevin, namun baiknya saat itu Kevin sedang tak memperhatikan karena ada anak perempuan sekelasnya yg mengajak ngobrol.
Cherry menaruh 1 jari di bibir Dion "Ssssstt jangan asal ah, kalau bos denger kamu bisa dikerjain lagi, aku gak rela pacarku ditindas." Bisiknya.
Dion mengangguk pelan, pura pura sepakat, "Yaudah gih samperin cowok posesif itu, hati hati ya."
"Bye" Cherry melambai dan bergegas mendekati Kevin.
Dari kejauhan di dalam mobil sport berwarna warna hitam, tampak sepasang mata memperhatikan dengan raut wajah kurang senang.