NovelToon NovelToon
The Ustaz'S Dark Secret

The Ustaz'S Dark Secret

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di balik jubah dakwahnya sebagai ustadz muda karismatik, Musa menyimpan rahasia besar sebagai mafia yang disegani. Selama setahun, ia terus bayangi sosok wanita misterius yang pernah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya dari jebakan musuh sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.

​Titik terang muncul ketika orang tua Musa, Kyai Adam dan Umi Sinta menjodohkannya dengan Musdalifah, putri seorang sahabat. Namun, kejutan besar menanti: wanita misterius yang dicarinya selama ini ternyata adalah Laila, adik kandung Musdalifah. Tanpa ragu, Musa menolak Musdalifah dan menuntut untuk menikahi Laila. Decision nekat itu tidak hanya memicu rasa sakit hati dan dendam Musdalifah, tetapi juga menyeret mereka ke dalam konflik keluarga yang sengit, dibayangi oleh rahasia masa lalu serta bahaya dari dunia kelam Musa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Kyai Adam menarik napas panjang, meredakan ketegangan yang sempat membuncah di dalam dadanya. Ia memandang ke arah Kyai Adi dengan tatapan penuh kearifan.

"Jadi, Kyai Adi, bagaimana? Apakah Anda dan keluarga merestui pernikahan Musa dan Laila?" tanya Kyai Adam meminta kepastian.

Kyai Adi diam sejenak, menatap Laila lalu beralih pada Musa yang tampak begitu teguh memegang keputusannya.

Dengan keikhlasan seorang ayah, Kyai Adi akhirnya menganggukkan kepalanya.

"Jika, ini memang takdir dan jalan yang diridhoi Allah, saya merestui pernikahan anak-anak kita."

Di sampingnya, Umi Mina mencengkeram erat tangannya sendiri di atas pangkuan.

Rasa kesal dan tidak terima bergolak di dadanya karena putri kesayangannya tergeser, namun ia tak mampu membantah keputusan suaminya.

Begitu pula dengan Umi Sinta; meski hatinya berat karena Laila bukan sosok menantu yang ia impikan sejak awal, ia jauh lebih takut kehilangan Musa yang mengancam akan pergi meninggalkan pesantren jika tak direstui.

Kyai Adam tersenyum lega. "Alhamdulillah. Baiklah, kalau begitu mari kita laksanakan hal baik ini sekarang juga. Tidak perlu menunda niat suci."

Kyai Adi berpaling menatap putri bungsunya dengan nada bicara yang melunak.

"Laila, masuklah ke kamar. Gantilah pakaianmu dengan yang lebih layak untuk akad nikah."

Laila menganggukkan kepalanya santun. "Nggih, Abah."

Melihat Laila bangkit dari duduknya, Musdalifah yang dipenuhi rasa dengki mendadak hendak ikut berdiri, bermaksud menyusul sang adik ke kamar untuk meluapkan amarahnya.

Namun, gerakan itu tak luput dari pengawasan tajam Musa.

"Musdalifah, tetaplah duduk di sini," potong Musa dingin dan tegas, menatap Musdalifah dengan aura dominan yang membekukan langkah wanita itu.

"Biarkan Laila mengganti pakaiannya dengan tenang."

Musdalifah tertegun, terpaksa menghempaskan kembali tubuhnya ke sofa dengan napas memburu dan dada yang terbakar cemburu, sementara Musa mengawal kepergian Laila lewat tatapan mata yang protektif.

Di dalam kamar, suasana terasa tenang meski dada Laila berdegup tak karuan.

Bibi pelayan dengan telaten membantu Laila memoles riasan tipis di paras ayunya dan merapikan gaun putih sederhana namun anggun yang terbalut di tubuhnya.

Laila menatap pantulan dirinya di dalam cermin. Ada keraguan dan rasa tidak percaya diri yang mendadak menyelinap di benaknya saat membayangkan sosok Musdalifah yang baru saja lulus dari Mesir.

"Bi, apakah aku cantik?" tanya Laila pelan, menundukkan pandangannya karena tiba-tiba merasa minder.

Bibi menghentikan usapan jemarinya di jilbab Laila, lalu tersenyum hangat memandangi wajah lembut gadis yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri itu.

"Masya Allah, Non Laila cantik sekali." jawab Bibi tulus dengan mata berbinar.

"Kecantikan Non Laila itu sejuk, datang dari hati yang tulus. Ustaz Musa tidak salah memilih. Jangan minder ya, Non. Hari ini Non Laila adalah pengantin paling cantik di mata beliau."

Laila tersenyum tipis, merasa sedikit lebih tenang mendengar perkataan hangat itu.

Usai merapikan riasan terakhir, Bibi mendampingi Laila mengayunkan langkah perlahan menuju ruang tamu.

Begitu Laila melangkah keluar dari lorong dan muncul di ruang tamu, seluruh pandangan tertuju padanya.

Musa yang sedang duduk tegap di hadapan Kyai Adi mendadak menahan napasnya.

Matanya mengunci sosok Laila yang begitu anggun.

Musa refleks menelan salivanya; kecantikan Laila yang polos, teduh, dan alami benar-benar menyihir indranya, persis seperti pesona bidadari yang selalu menghantuinya selama satu tahun terakhir.

"Masya Allah." bisik Musa lurus di dalam hati, memuji ketetapan takdir yang membawa wanita penyelamatnya ini kembali ke pelukannya.

"Ayo, sekarang kita mulai acara akad nikahnya," pimpin Kyai Adam memecah keheningan yang sarat akan rasa takjub.

Musa membetulkan posisi duduknya. Suasana ruang tamu seketika berubah menjadi sangat sakral.

Kyai Adi mengulurkan tangannya, menyambut dan menggenggam erat jemari tangan kanan Musa.

Kyai Adi menghela napas panjang, menetralkan keharuan di dadanya sebelum mengucapkan kalimat ijab.

"Ananda Musa bin Adam, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Laila binti Adi, dengan mas kawin berupa uang tunai sebesar seratus juta rupiah, satu unit mobil, dan satu unit rumah dibayar tunai!" ucap Kyai Adi dengan suara lantang dan mantap.

Tanpa jeda, dengan satu helaan napas dan suara yang begitu dalam, mantap, serta berwibawa, Musa menyambut pasrah suci itu.

"Saya terima nikah dan kawinnya Laila binti Adi dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"

"Sah!" sahut para saksi dan seluruh tamu yang hadir secara serentak.

Kyai Adam menutup prosesi itu dengan doa yang membumbung khusyuk ke udara, mengesahkan ikatan suci yang kini resmi menyatukan dua insan tersebut.

Laila mendongak perlahan, menatap paras tampan pria yang kini resmi menjadi suaminya.

Dengan penuh ketakziman dan kelembutan, Laila meraih tangan kanan Musa lalu mencium punggung tangannya dengan erat.

Musa meletakkan telapak tangan kanannya di atas kepala Laila, lalu menyentuhkan bibirnya di kening sang istri cukup lama.

Di dalam hati, ia merapalkan doa kebaikan untuk wanita yang kini dilindunginya, mengalirkan kehangatan yang membuat dada Laila berdesir hebat.

Di sudut ruangan, Musdalifah menyaksikan setiap jengkal momen manis itu dengan mata memerah dan napas memburu.

Jemarinya mencengkeram erat pinggiran kursi hingga buku-buku jarinya memutih.

Rasa sakit hati, cemburu, dan kemurkaan merayapi seluruh tubuhnya. Ia tidak terima dipermalukan sedemikian rupa di rumahnya sendiri!

Tanpa mengucap sepatah kata pun, Musdalifah mendadak bangkit dari duduknya.

Dengan langkah kasar dan membanting pintu, ia berlari menuju kamarnya, meluapkan rasa dendam yang kian membara.

Melihat kepergian putri sulungnya, Kyai Adi menghela napas panjang, menetralkan kecanggungan yang sempat tercipta.

Ia memandangi Musa dan Laila dengan senyum lega, lalu berpaling ke arah lorong dapur.

"Bi, tolong sajikan makanan dan minumannya sekarang," panggil Kyai Adi, meminta pelayan segera menghidangkan santap siang untuk merayakan pernikahan suci yang baru saja diresmikan tersebut.

Pelayan dengan sigap menyajikan berbagai hidangan lezat dan minuman segar ke atas meja.

Suasana ruang tamu yang sempat tegang perlahan melunak, tertutup oleh kehangatan prosesi pernikahan yang sakral.

Di tengah momen santap bersama itu, Kyai Adam merogoh saku jasnya.

Ia mengeluarkan selembar kertas berharga dan pulpen, lalu menuliskan nominal sebelum menyerahkannya secara langsung kepada Laila.

"Laila, Nak. Terima ini sebagai hadiah pernikahan dari Abah," tutur Kyai Adam lembut penuh kasih sayang.

Laila menerima lembaran kertas itu dengan santun.

Namun, begitu matanya membaca angka yang tertera di sana—sebuah cek bernilai Satu Miliar Rupiah—napasnya seketika tertahan. Mata indahnya membelalak kaget.

"T-tapi, Abah, ini sangat besar," bisik Laila gemetar, merasa tak enak hati menerima pemberian bernominal fantastis tersebut.

Musa yang duduk tepat di samping Laila mengusap lembut punggung tangan istrinya.

Ia menatap Laila dengan pendar mata yang begitu hangat dan penuh perlindungan.

"Terimalah, Istriku. Itu hakmu dari Abah," ucap Musa pelan, suaranya sarat akan kelembutan yang menenangkan ketakutan Laila.

Melihat pemandangan tersebut, Umi Mina dan Umi Sinta hanya bisa membisu di tempat duduk masing-masing.

Bibir mereka terkatup rapat, tetapi guratan rasa jengkel dan tidak suka tercetak jelas di wajah keduanya.

Umi Mina merasa iri karena putri bungsunya yang selama ini disisihkan justru mendapat kebahagiaan berlimpah, sementara Umi Sinta masih memendam rasa ganjal karena calon menantu impiannya tergeser begitu saja.

Para pelayan dengan sigap menyajikan berbagai hidangan lezat dan minuman segar ke atas meja.

Suasana ruang tamu yang sempat tegang perlahan melunak, tertutup oleh kehangatan prosesi pernikahan yang sakral.

Di tengah momen santap bersama itu, Kyai Adam merogoh saku jasnya.

Ia mengeluarkan selembar kertas berharga dan pulpen, lalu menuliskan nominal sebelum menyerahkannya secara langsung kepada Laila.

"Laila, Nak.Terima ini sebagai hadiah pernikahan dari Abah," tutur Kyai Adam lembut penuh kasih sayang.

Laila menerima lembaran kertas itu dengan santun.

Namun, begitu matanya membaca angka yang tertera di sana—sebuah cek bernilai Satu Miliar Rupiah—napasnya seketika tertahan. Mata indahnya membelalak kaget.

"T-tapi, Abah, ini sangat besar," bisik Laila gemetar, merasa tak enak hati menerima pemberian bernominal fantastis tersebut.

Musa yang duduk tepat di samping Laila mengusap lembut punggung tangan istrinya.

Ia menatap Laila dengan pendar mata yang begitu hangat dan penuh perlindungan.

"Terimalah, Istriku. Itu hakmu dari Abah," ucap Musa pelan, suaranya sarat akan kelembutan yang menenangkan ketakutan Laila.

Umi Mina dan Umi Sinta hanya terdiam di tempat duduk masing-masing dengan perasaan jengkel yang makin membakar.

Umi Mina merasa iri melihat anak yang selama ini ia sisihkan justru mendadak diliputi kemewahan, sementara Umi Sinta masih memendam rasa ganjal karena menantu impiannya tergeser begitu saja.

Usai acara ramah tamah singkat tersebut, Musa bangkit berdiri untuk berpamitan membawa Laila pulang ke rumah baru mereka.

Namun, sebelum mereka melangkah keluar dari kediaman Kyai Adi, Musa merogoh saku pakaiannya dan mengeluarkan selembar kain cadar berwarna hitam halus.

Musa memandangi Laila dengan tatapan yang amat dalam.

"Apakah kamu bersedia memakai cadar ini, Istriku?" tanya Musa lembut.

"Aku tidak mau lelaki lain melihat kecantikan istriku."

Musa kemudian memajukan tubuhnya, mendekatkan bibirnya tepat di samping telinga Laila.

Suara bisikannya berubah menjadi begitu berat, dingin, dan sarat akan peringatan tersembunyi.

"Duniaku gelap, Laila. Aku tidak mau wajahmu dilihat oleh orang-orang yang memburuku."

Deg!

Laila tersentak hebat. Tubuhnya membeku sejenak mendengar bisikan misterius itu.

Mengingat kembali peristiwa berdarah satu tahun lalu saat ia mencabut peluru dari tubuh Musa, Laila menyadari betapa besarnya bahaya yang mengintai suaminya.

Tanpa ragu, ia menatap mata Musa lalu menganggukkan kepalanya pelan.

"Iya, Musa. Aku bersedia" jawab Laila tulus.

Musa tersenyum tipis. Dengan gerakan yang sangat lembut dan telaten, ia mendekat lalu memasangkan kain cadar itu menutup paras cantik istrinya, menyisakan hanya sepasang mata indah Laila yang berbinar teduh.

1
Muft Smoker
Dy fikir menjebak Musa adalah hal yg mudah x ,,
tp kak ,, khawatir juga sih kalo org udh gelap mata oleh rasa iri gx bisa di bendung ,, bisa berbuat nekat senekat nekat ny ,,
jgn sampe deh rumah tangga Musa dan Laila di ganggu oleh fitnah Musdalifah
Muft Smoker
msh juga nyalahin org ,,
😒😒😒😒😒🥱🥱🥱
Muft Smoker
dtggu versi mini kalian yx ,, 🤭 ,, dan semoga Musdalifah udh jera setelah ini ,, tdk mengganggu Laila dan Musa lgi ,,
Muft Smoker
cuma sgtuu bang kalajengking dan dokter Nakula????
makany jgn coba2 ngusik umi Laila ,,
jd hancur lebur kn Hrga diri kalian ,, 😏😏😏😏😏
Muft Smoker
semoga setelah ini ,,
umi Sinta bisa menerima Laila dg baik ,,
sri hastuti
dokter gila ya thor, apa lg musdalifah , huuhhh, bikin jengkel aja, ksh balasan yg setimpal thor, ayo musa km hrs bisa ,kerahkan semua kekuatan mu 😡😡😡
Muft Smoker
Musdalifah ma Mak ny sama2 manipulatif. ,,
bisa2 ny pak kiyai nikahin perempuan model gtuu ,,
Muft Smoker
lanjuuut kak
Muft Smoker
trnyata Laila pernh ngalamin hal mengerikan di masa lalu ,,
semangat Musa berantas semua org2 yg udh nyakitin Laila ,,
Muft Smoker
si umi kudu di ruqyah 7 hari 7 malam ni ,, buat ngilangin pengaruh makhluk halus ,,
my name is pho: 🤭 hehe
total 1 replies
Muft Smoker
semoga mereka bisa melewati badai yg di bawa keluarga Laila sbntar lgii ,,
Muft Smoker
turun ranjang kah???
Muft Smoker
ooooallaaa cuma bibi ny Laila ternyata ,,
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
wah jgn sampe tuh Nakula bersekutu dg Musdalifah buat hancurin rumah tangga Laila dg Musa ,,
Muft Smoker
Musa yg berhadapan dg Nakula ,, si Yusuf yg panik setengah mati 🤭🤭🤭 ,,
sedangkan Nakula ny B aj ,, 🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
ni juga mak ny si Musa ,, udh liat adab menantu yg di pilih ny bgtuu ,, sangat baguuus cenderung lampir ,,
msh aj di pilih ,, buka mata mu lebar2 umiiiiii
Muft Smoker
jgn2 bukan ibu kandung Laila niih ,,
Muft Smoker
waah gx beres ni si umi ,, bermuka dua ternyata ,,
Muft Smoker
lanjuuuut kak ,,
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!