Isabella adalah mantan pembunuh bayaran paling berbahaya dan paling di takuti di dunia gelap. Selama bertahun-tahun tangannya telah berlumuran darah.
Namun semuanya berubah saat Isabella menemukan seorang bayi perempuan di depan apartemennya. Sejak saat itu dia memutuskan pensiun demi keselamatan anaknya. Tapi sayangnya sang bos tidak menyukai itu, hingga dia membunuh anak Isabella karena menganggap jika anak itu adalah penghalang Isabella.
Melihat sang putri tewas, Isabella marah dan mulai memburu satu persatu orang yang telah membunuh putrinya. Setelah dendamnya terbayar, Isabella memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Namun kematian ternyata bukan akhir baginya, karena setelah membuka mata kembali. Isabella mendapati dirinya berada di tubuh seorang wanita bernama Isabella Iris, seorang ratu yang di buang dari istananya sendiri.
Bagimana kisah Isabella selanjutnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Makan malam yang penuh kehangatan
Makan malam terus berlangsung dengan suasana yang jauh berbeda dari biasanya, Liam bahkan sudah meminta tambahan daging untuk kedua kalinya.
“Pelan-pelan, Liam,” tegur Sean. “Kau makan seperti belum pernah melihat makanan.”
Liam mengembungkan pipinya.
“Apa aku salah? Masakan Ibu sangat enak!”
Elora terkikik kecil, Isabella yang mendengar itu hanya menggeleng sambil tersenyum.
“Kalau masih lapar, kalian bisa menambah makanannya.” Ujar Isabella.
Liam langsung tersenyum lebar.
“Terima kasih, Ibu!”
Isabella tersenyum, dia tidak pernah menyangka akan mendapatkan kebahagiaan seperti ini lagi.
Isabella berjanji akan menjaga mereka bertiga seperti halnya dia menjaga Bianca dulunya, karena sekarang dia adalah ibu mereka, dia tidak akan membiarkan ada yang menyakiti mereka.
Setelah makan malam selesai, Isabella membantu membereskan meja.
Martha segera menghampirinya.
“Nyonya, biar saya yang mencucinya.”
Isabella menggeleng.
“Tidak perlu, kau sudah membantu memandikan mereka.”
“Tapi—”
“Besok kau bisa membantuku menyiapkan makanan.”
Martha terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk.
“Baik, Nyonya.”
Sementara itu, Sean, Liam, dan Elora duduk di dekat perapian, malam ini terasa cukup dingin.
Liam juga mulai terlihat mengantuk, matanya beberapa kali terpejam, tetapi ia berusaha untuk tetap terjaga.
Isabella memperhatikannya.
“Sudah mengantuk?”
Liam menggeleng cepat.
“Belum ibu.”
Namun beberapa detik kemudian kepalanya hampir jatuh ke bahu Sean.
Sean menahan tawa.
"Tapi kau terlihat sangat mengantuk.”
Liam mengusap matanya.
“Aku hanya memejamkan mata sebentar, bukan mengantuk.”
Isabella tersenyum.
“ini sudah malam, sebaiknya kalian tidur sekarang.” Kata Isabella
Ketiga anak itu bangkit dan mengikuti Isabella menuju kamar. Sesampainya di sana, mereka berdiri di depan tempat tidur dengan ragu.
Isabella mengerutkan keningnya.
“Kenapa?”
Elora menunjuk tempat tidur.
“Apa kami boleh tidur di sini ibu?”
Isabella mengangguk.
"Tentu saja, mulai malam ini kalian tidur di sini." Kata Isabella.
"Tapi kami punya kamar ibu." Ujar Sean.
"Lalu kalian akan tidur di atas jerami itu lagi? Tidak, mulai malam ini kalian tidur di sini bersama ibu." Kata Isabella tegas.
"Tapi ibu.... "
"Tidak ada tapi, sekarang naik dan tidur." tegas Isabella.
Ia kemudian membantu mereka naik ke tempat tidur dan menarik selimut hingga menutupi tubuh mereka, Liam langsung meringkuk nyaman.
“Empuk sekali...”
Isabella hampir tertawa.
“Tidurlah.”
Elora menatap Isabella dengan mata mengantuk.
“Ibu...”
“Ya?”
“Apa besok Ibu masih memasak untuk kami?”
Isabella mengusap rambutnya.
“Kalau kalian mau.”
Elora tersenyum.
“Aku mau, masakan ibu sangat Enak. Elora suka.”
Sean ikut tersenyum.
“Aku juga.”
Liam yang sudah hampir tertidur bergumam pelan.
“Aku juga ibu...”
Isabella akhirnya tertawa kecil.
“Oke, besok Ibu akan memasak untuk kalian lagi.”
Setelah memastikan mereka tertidur, Isabella mematikan lampu. Namun sebelum keluar, ia berhenti di ambang pintu. Memastikan ketiga anaknya benar-benar sudah tidur barulah dia menutup pintu kamarnya.
Setelah menutup pintu kamar itu, Isabella berjalan kembali menuju dapur. Rumah itu sudah sangat sunyi, hanya suara api kecil dari tungku yang terdengar sesekali, membuat suasana malam terasa semakin tenang. Dia sempat melirik martha yang tampaknya juga sudah tidur di atas kursi kayu yang berada di dekat perapian itu.
Sesampai di dapur, Isabella kemudian menarik kursi di meja makan lalu duduk sendirian. Tatapannya tertuju pada meja yang tadi digunakan untuk makan malam bersama Sean, Liam, dan Elora juga Martha. Tanpa sadar, pikirannya mulai memikirkan kehidupan mereka setelah ini.
"Aku tidak mungkin terus bergantung pada persediaan yang ada di rumah ini. Selain itu, aku juga tidak mungkin terus menggantungkan hidup hanya dengan berburu. Aku membutuhkan uang, anak-anak perlu baju hangat dan baju lainnya. Baju mereka sudah terlihat sangat usang. Walaupun Martha bisa menjahit, tapi kain di rumah ini juga sudah habis untuk menjahit baju untuk ketiga anak itu selama empat tahun ini. Martha bahkan hanya memiliki beberapa baju, karena beberapa bajunya di jahit untuk baju ketiga anak itu. Satu-satunya untuk mendapatkan uang adalah dengan menjual inti monster itu dan daging monster itu. Sepertinya besok aku harus ke kota, aku tidak bisa menundanya atau daging monster itu akan rusak. Andai saja aku punya ruang ajaib seperti toko-tokoh utama yang sering ku baca di novel. Sayangnya ini bukan dunia novel, aku bahkan tidak tau dunia apa yang sudah ku masuki ini." gumam Isabella pelan.
Dia memang masih memiliki uang, tetapi jumlahnya tidak akan bertahan selamanya. Terlebih lagi, ketiga anak itu masih kecil dan kebutuhan mereka pasti semakin banyak.
Besok dia harus pergi ke kota, tapi yang jadi masalahnya dia bahkan tidak tau jalan menuju kota.
"Sepertinya besok aku harus bertanya pada martha, mungkin saja dia tau jalan menuju kota."
Isabella mengangguk kecil, merasa sudah menemukan solusi.
Namun beberapa detik kemudian, wajahnya kembali mengeras.
"Tunggu."
Ada satu masalah besar.
"Tapi bagaimana jika Martha juga tidak tau?"
Isabella terdiam.
Isabella baru mengingatnya, jika Martha bahkan tidak pernah meninggalkan rumah ini karena takut pada monster. Lalu bagaimana dia bisa mengetahui jalan menuju kota.
"Sepertinya aku harus mencari tau sendiri."
Saat Isabella sedang berpikir, terdengar suara langkah kaki dari arah lorong. Isabella langsung menoleh, Martha muncul dari sana. Wanita itu terlihat sedikit mengantuk, tetapi ketika melihat Isabella masih duduk sendirian di meja makan, dia langsung menghampirinya.
"Nyonya Alicia, kenapa Anda belum tidur?"
Isabella menatap Martha, sepertinya dia harus mengatakan pada wanita itu agar tidak memanggilnya Alicia lagi. Dia bukan Alicia dan dia tidak ingin di panggil dengan nama itu walaupun ini adalah tubuh Alicia.
"Martha, mulai saat ini tolong jangan panggil aku Alicia lagi." Ucap Isabella.
"Lalu aku harus memanggil nyonya dengan nama apa?" Tanya Martha bingung.
"Panggil aku Isabella." Ujar Isabella.
"Baik nyonya isabella." Ucap martha.
"Ada apa nyonya?"
"Aku sedang memikirkan sesuatu, Martha."
Martha berdiri di samping meja.
"Apakah ada sesuatu yang membuat Anda khawatir?"
Isabella menghela napas pelan.
"Besok aku ingin pergi ke kota."
Martha terlihat terkejut.
"Ke kota?"
"Ya."
Isabella menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Monster yang aku dapat tadi siang, aku pikir aku harus menjualnya. Kita memerlukan uang Martha, kita memerlukan pakaian yang layak untuk aku, kau dan juga anak-anak. Apalagi sepertinya musim dingin sudah dekat, kita memerlukan baju hangat. Selain itu, monster yang aku dapat tadi akan membusuk jika aku tidak cepat menjualnya. Garam dan gula kita juga sudah habis, beras dan tepung juga. Kita tidak mungkin hanya memakan hewan buruan setiap hari martha." Kata Isabella.
Martha terdiam sejenak, lalu mengangguk.
"Itu memang ide yang bagus, tapi masalahnya bagaimana cara kita ke kota. Kita bahkan tidak tau apakah jarak antara rumah dan jalan keluar hutan jauh atau tidak." Kata martha.
"Itulah masalah yang aku pikirkan sejak tadi Martha." Kata Isabella.
"Selain itu di hutan ada banyak monster dan hewan buas nyonya, terlalu berbahaya." Sambung Martha.
"Aku itu tau Martha, tapi kita tidak mungkin hanya berdiam saja di tempat ini kan." Kata Isabella.
"Anda benar nyonya, tapi.. "
"Kau mengkhawatirkan aku?" Tanya isabella.
Martha mengangguk, tentu saja dia mengkhawatirkan Isabella. Dia sudah merawat isabella cukup lama, dia bahkan sudah menganggap isabella sebagai adiknya sendiri.
"Tidak usah khawatir Martha, kau lupa kalau aku tadi mengalahkan monster beruang itu." Kata Isabella.
Benar juga, Martha sampai lupa dengan fakta yang satu itu. Nyonya-nya ini sudah berhasil membunuh monster berbentuk beruang itu, apalagi monster itu bobot tubuhnya sangat besar.
"Aku akan baik-baik saja Martha."
"Kalau begitu biarkan aku ikut dengan anda nyonya." Kata Martha.
"Tidak Martha, kau tetap di rumah bersama Anak-anak. Selama aku pergi, kau harus berjanji akan menjaga mereka bertiga." Kata Isabella.
"Baik nyonya, saya janji akan menjaga mereka selama nyonya pergi." Ucap Martha sambil tersenyum.
"Terimakasih martha." Ucap Isabella tulus.
"Tapi Martha, apa kau dulu tidak pernah mendengar tentang hutan ini?" Tanya Isabella.
"Dulu saya pernah mendengar tentang hutan ini dari beberapa pengawal nyonya. Kata mereka hutan ini adalah hutan yang sangat berbahaya. Tidak ada seorang pun yang berani datang ke hutan ini, karena monster yang ada di hutan ini jauh lebih berbahaya dan kuat di banding monster yang setiap hari menyerang desa-desa di perbatasan. Dulu raja sebelumnya pernah datang ke hutan ini bersama 2 jendral dan 20 orang prajurit. Mereka memang berhasil keluar, tapi keluar dengan luka yang cukup parah. Bahkan ada 5 prajurit yang tewas, kabarnya mereka di makan oleh monster nyonya. Sejak saat itu, ada larangan untuk tidak memasuki hutan ini." Jelas Martha.
Masalahnya ternyata jauh lebih besar daripada yang dia bayangkan, mungkin masih ada monster yang jauh lebih kuat dari monster beruang itu.
Sepertinya besok dia benar-benar harus berhati-hati.
Isabella lalu berdiri dari kursinya.
"Sudahlah, Kita tidur dulu, besok baru kita pikirkan lagi bagaimana caranya menuju kota."
"Baik, Nyonya."
Bersambung