NovelToon NovelToon
Tale Of Mumei

Tale Of Mumei

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Kutukan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Liang Hou

Setelah kematian Nobunaga Oda, selir keempatnya Ogen yang sedang hamil mengasingkan diri ke tepian hutan Kurama bersama beberapa pengawalnya. Dalam pengasingan selir Nobunaga itu melahirkan anak perempuan yang kelak di beri nama Mumei.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liang Hou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28. Gulungan Bintang Lima Sudut

Gemericik air hujan yang menetes dari pucuk-pucuk daun cedar tua di pelataran Gunung Kurama lambat laun mereda. Sunyi kembali bertahta di puncak gunung suci itu, menyisakan uap dingin yang membumbung tipis dari lantai batu.

Di dalam ruangan dalam pertapaan yang diterangi oleh sebatang lilin bersumbu minyak wijen, Ogen berdiri di dekat jendela kayu yang terbuka separuh. Wajah wanita itu—yang biasa kaku dan dingin bagaikan batu karang klan Iga—malam itu memancarkan kecemasan yang teramat halus. Matanya menatap lurus ke arah pelataran luar, tempat Mumei sedang duduk bersila sendirian, membersihkan pedang kayunya menggunakan secarik kain perca dengan kepatuhan yang bisu.

Di seberang meja rendah, Biksu Tenkai sedang menyusun beberapa gulungan kertas washi tebal ke dalam kotak kayu berlapis kain sutra hitam. Jemari sang biksu tua yang memegang tasbih kayu berputar dengan ritme yang konstan dan tenang.

"Dia bisa membaca garis tebasan musuh sebelum pedang terangkat dari sarungnya," puji Ogen pelan, suaranya hampir menyerupai bisikan angin malam. "Dia sanggup memutar denyut energi Sojobo untuk menepis angin tebasan pedangku. Namun, Tenkai-sama... coba tatap mata anak itu."

Tenkai menghentikan gerakan jemarinya, mengangkat pandangannya menatap sosok Mumei di luar sana.

"Anak itu tidak tahu cara bicara pada manusia biasa," sambung Ogen, dan ada nada kepedihan sesal yang dalam pada suaranya. "Dia tumbuh di antara bayangan pembunuh Iga, mantra raksasa Tengu, dan pelajaran sejarah berdarah Oda Nobunaga. Jika kau meletakkannya di tengah keramaian pasar Kyoto atau kedai teh di jalanan desa... dia akan menjadi patung yang kebingungan. Dia menguasai energi spiritual yang sanggup meruntuhkan tembok benteng, tetapi jiwanya adalah tempat kosong yang tak pernah disentuh oleh hangatnya dunia."

Ogen berpaling menatap Tenkai dengan mata yang menuntut jawaban. "Kita melindunginya dari kejaran mata-mata Hideyoshi selama duabelas tahun, tetapi dengan mengurungnya di puncak gunung ini... apakah kita sedang membentuk seorang pahlawan, ataukah sekadar monster lain yang kesepian?"

Tenkai menatap Ogen dengan tatapan yang amat lembut. Sang biksu tua menghembuskan napas panjang, merapikan gulungan kertas di tangannya.

"Dunia tidak bisa dipelajari dari balik kabut Kurama, Ogen-dono," tutur Tenkai pelan. "Dan masa untuk menyembunyikannya di puncak gunung ini... telah resmi berakhir malam ini."

Ogen mengerutkan dahinya. "Apa maksudmu?"

"Sudah waktunya Mumei melangkah turun," jawab Tenkai mantap. "Dia harus melakukan perjalanannya sendiri."

Ogen mengepalkan tangannya di samping tubuh. "Turun gunung? Dalam situasi seperti ini? Kuroda Kanbei masih menyebarkan mata-mata Suppa di seluruh provinsi! Anak duabelas tahun dengan rona aura Sojobo di matanya akan menarik perhatian pembunuh istana dalam hitungan hari!"

"Itulah sebabnya dia tidak akan melangkah sebagai putri klan Oda, ataupun murid rahasia Kurama," sela Tenkai seraya menarik sebuah kotak kayu panjang dari bawah meja. "Dia akan melangkah menelusuri tanah Jepang dengan identitas yang baru, seorang Onmyouji muda yang mengembara."

Tenkai membuka penutup kotak kayu tersebut. Di dalamnya terbaring satu set jubah pertapa Onmyouji berwarna putih keperakan dengan sulaman pola garis bintang lima sudut emas di bagian lengan, sebuah topi kain kori-zukin khas pengembara spiritual, serta seperangkat kertas mantra ofuda yang telah ditulis menggunakan tinta darah raksa.

Ogen menatap pakaian itu dengan kening berkerut. "Onmyouji?"

"Perang Odawara lima tahun lalu bukan sekadar perang fisik antara dua ratus ribu prajurit," terang Tenkai, suaranya berubah menjadi sangat berbobot dan dalam. "Darah ribuan prajurit yang tumpah di sepanjang perbatasan Kanto, pembakaran kuil-kuil tua di Hakone, serta runtuhnya segel-segel kuno klan Hojo telah merobek batas antara alam manusia dan alam gaib. Bencana kelaparan dan eksekusi massal di mana-mana melahirkan gelombang keputusasaan yang luar biasa pekat."

Tenkai menunjuk ke arah peta Jepang yang terbentang di dinding. "Saat ini, di seluruh penjuru negeri terutama di sepanjang jalur jalan utama menuju utara banyak segel yokai tua yang terlepas. Roh-roh penasaran Onryo dan iblis-iblis liar bangkit dari kuburan-kuburan tua, mengganggu desa-desa terpencil yang diabaikan oleh para daimyo yang sibuk berpolitik."

Tenkai tersenyum tipis. "Masyarakat desa yang ketakutan saat ini sangat membutuhkan pertolongan para praktisi gaib dan pengembara Onmyouji. Jika Mumei melangkah menggunakan jubah pertapa ini, membersihkan roh-roh jahat dan menyembuhkan gangguan yokai di desa-desa... tidak akan ada seorang pun yang mencurigainya sebagai anak terlarang Oda Nobunaga. Penyamaran sebagai Onmyouji adalah perisai paling sempurna bagi jiwanya."

Ogen menatap jubah putih itu, lalu menatap Mumei di luar ruangan. Otaknya yang terbiasa dengan kalkulasi kelangsungan hidup klan Iga mulai mencerna ide Tenkai. Seorang penjelajah spiritual yang membantu rakyat jelata di pedesaan memang adalah identitas yang teramat alami untuk menyamarkan pendaran energi gaib yang terpancar dari tubuh Mumei.

"Genggaman pedangnya..." gumam Ogen. "Bagaimana dengan katana yang biasa dia gunakan?"

"Pedang kayunya akan dimasukkan ke dalam sarung kain rami dan diikatkan di punggungnya, tampak seperti tongkat pertapa khakkhara," jawab Tenkai. "Dia hanya boleh mencabutnya ketika pertempuran hidup dan mati benar-benar menuntutnya."

Ogen menundukkan kepalanya sejenak, menghela napas pasrah. "Lalu... ke mana dia harus melangkah? Dan ke mana dirimu akan pergi, Tenkai?"

Tenkai berdiri dari duduknya, merapikan jubah biksu hitamnya yang tegap. Matanya menatap jauh ke arah timur.

"Langkah Mumei harus membawanya menyusuri jalur perbatasan, belajar mendengarkan suara rakyat jelata, memahami penderitaan mereka, dan belajar berkomunikasi dengan dunia nyata," tutur Tenkai. "Sedangkan aku... tugas utamaku di Kurama telah selesai. Aku harus segera bergerak menuju wilayah Kanto."

"Ke mana tepatnya di Kanto?" tanya Ogen.

"Ke sebuah wilayah rawa-rawa pedesaan di pinggir pantai yang sedang dibangun oleh Tokugawa Ieyasu," jawab Tenkai, matanya berkilat penuh visi masa depan.

Tenkai melangkah mendekati jendela, menatap pemandangan timur yang tertutup malam. "Ieyasu-sama saat ini sedang menyusun batu pertama basis kekuatannya di sana. Di bawah perintah Hideyoshi, Ieyasu sengaja dibuang ke tanah Kanto yang hancur agar kekuatannya terkikis. Namun Ieyasu justru memanfaatkan kesempatan ini untuk membangun pusat pemerintahan baru yang jauh dari jangkauan intrik busuk Kyoto. Aku harus berada di samping Ieyasu di Edo untuk merancang benteng spiritual dan jaringan candi pelindung bagi kota masa depan tersebut."

"Jadi kalian berdua akan berpisah?" desak Ogen, ada sedikit nada cemas dalam suaranya.

"Ini bukan perpisahan, Ogen-dono," sahut Tenkai mantap. "Ini adalah penataan kembali papan catur takdir. Mumei akan berjalan menembus benua dari barat ke timur, melatih jiwanya di tengah masyarakat. Dan pada saat yang tepat, seluruh garis perjalanannya akan bermuara di Kota Edo—tempat Ieyasu, Mumei, dan anak liar dari Mimasaka itu akan bertemu dalam satu titik zaman."

Satu jam kemudian, di bawah naungan gerbang Torii kayu merah di batas terluar Gunung Kurama, Mumei berdiri tegak.

Pakaian kimononya yang lama telah berganti dengan jubah putih pengembara Onmyouji. Topi kori-zukin kain menutupi sebagian rambut hitamnya, sementara sarung kain rami di punggungnya menyembunyikan pedang kayu pusakanya. Di pinggangnya tergantung beberapa kantong kulit berisi kertas mantra ofuda dan bekal koin tembaga.

Pemandangan anak perempuan duabelad tahun bergaun pertapa gaib itu tampak amat anggun, namun pada saat yang sama memancarkan misteri yang sukar diterjemahkan oleh mata awam.

Ogen berdiri di hadapannya, merapikan tali ikatan topi di bawah dagu Mumei dengan jemarinya yang gemetar tipis.

"Dengar baik-baik, Mumei," bisik Ogen, matanya yang biasa dingin kini berkaca-kaca oleh kasih sayang seorang ibu yang harus melepaskan anaknya ke belantara dunia. "Di luar sana, manusia tidak bertindak seperti yokai atau prajurit Iga. Mereka memiliki kelicikan, kebohongan, tetapi juga memiliki kebaikan dan kehangatan. Jangan terlalu cepat mempercayai orang asing, tetapi jangan pula menutup hatimu rapat-rapat. Belajarlah bicara, belajarlah mendengarkan, dan belajarlah memahami arti hidup manusia biasa."

Mumei menatap ibunya dengan mata bulatnya yang jernih. Pendaran keunguan Sojobo di mata kanannya telah disembunyikan sepenuhnya di balik mantra perlindungan Tenkai.

"Ibu..." suara Mumei meluncur pelan, agak kaku karena jarang digunakan untuk percakapan panjang. "Apakah... apakah aku harus bertarung jika bertemu dengan orang jahat?"

Ogen tersenyum tipis, mengelus pipi halus putrinya. "Gunakan pedangmu untuk melindungi dirimu dan orang-orang yang tidak sanggup membela dirinya sendiri. Namun yang terpenting... kembalilah padaku dalam keadaan bernapas."

Biksu Tenkai melangkah maju, meletakkan tangannya di atas kepala Mumei, memberikan pemberkatan terakhir dari Gunung Kurama.

"Jalan di depanmu dipenuhi oleh bayang-bayang roh jahat dan gejolak zaman yang runtuh, Mumei," ujar Tenkai dengan nada sakral. "Lakukan tugasmu sebagai seorang Onmyouji. Sembuhkan tanah yang ternoda oleh darah Odawara, dengarkan ratapan rakyat yang kehilangan rumah, dan biarkan jiwamu bertumbuh matang. Kita akan bertemu kembali di tanah Kanto, di tempat Tuan Ieyasu membangun masa depan."

Mumei menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan ibu dan gurunya.

"Aku... mengerti," ucap Mumei pelan namun tegas.

Ia membalikkan badannya, memegang tongkat kayu pertapanya, dan melangkah turun menyusuri tangga-tangga batu Gunung Kurama yang diselimuti kabut pagi. Setiap pijakan kakinya terasa ringan namun mantap—sebuah langkah pertama dari seorang anak bayangan yang melangkah keluar dari kegelapan persembunyian menuju terang dunia yang luas.

Ogen dan Tenkai berdiri kaku di bawah gerbang Torii, menatap sosok mungil bertopi putih itu perlahan-lahan mengabur dan menyatu dengan tebalnya kabut pegunungan, membawa gulungan bintang dan segel Raja Tengu menuju takdir baru yang sedang menunggunya di sepanjang jalan tanah Jepang.

1
Xiao Qiao
ngakak tengil bnget nih bocah wkwk🤣
Liang Hou: sesuai sifat aslinya kak 😭😭
total 1 replies
Xiao Qiao
bentar banget thor pertarungannya
Liang Hou: masih agak bingung bikin pertarungan panjang lawan Yokai 🙏
total 1 replies
Xiao Qiao
hmm lumayanlah untuk fiksi sejarah, tapi politiknya terlalu kental jadi agak susah dicerna
Liang Hou: thanks udah baca
total 1 replies
Liang Hou
🤏
penajalanan_
gak jelas banget authornya arc 1 gini doang
penajalanan_
kurang menarik
penajalanan_
bertele-tele sampah
penajalanan_
campur aduk, ini cerita sejarah apa fantasi sih. Sejak kapan tengu ikut perang, lagian mana ada tengu di desa tengu itu tinggal di gunung
penajalanan_
sotoi, Takenaka Hanbei aja udah meninggal tahun 1579 masa ketemu sama Hanbei saat menuju Yamazaki emangnya bisa hidup lagi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!