Ophelia (31), karyawan biasa di perusahaan terkaya di Indonesia, sudah kebal dengan pertanyaan "kapan nikah?" di setiap pertemuan keluarga. Ia tidak anti-cinta, ia hanya terlalu sering mendengar keluhan tentang beratnya pernikahan.
Lalu datanglah Navin (28), CEO dingin dengan lidah setajam silet. Dalam pertemuan pertama, kalimatnya melukai Lia. Yang tidak Lia tahu, sejak detik itu Navin tidak bisa berhenti memikirkannya. Navin jatuh lebih dulu, menyangkalnya, lalu jatuh jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. Ketika restu keluarga menjadi tembok, dialah yang hancur paling parah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 Jawaban yang Tidak Ia Duga
Navin menunggu.
Ia tahu, dari suatu tempat di dalam dirinya yang paling jujur, bahwa detik-detik ini akan ia ingat seumur hidup. Angin yang menerpa punggungnya. Cahaya jingga yang membuat rambut perempuan itu terlihat seperti tembaga. Bunyi klakson yang terlalu jauh, terlalu kecil, seperti dunia lain yang tak ada hubungannya dengan mereka.
Ophelia berdiri tiga langkah darinya, dengan tangan yang tergenggam di depan tubuh. Wajahnya tenang. Terlalu tenang. Dan justru ketenangan itulah yang membuat perutnya turun dengan cara yang tidak menyenangkan.
"Pak Navin," ucapnya.
"Ya."
"Terima kasih atas pengakuannya."
Ada sesuatu di dalam nada itu, sopan, tertata, terlalu rapi, yang membuat Navin mengerti sebelum kata berikutnya keluar.
"Tapi jawabannya tidak."
Ia mengira ia sudah siap. Ia sudah membayangkan ini seratus kali. Ia sudah menyiapkan kalimat-kalimat penerimaan yang tegar, senyum yang tidak memperlihatkan luka. Tapi ketika kata itu akhirnya sampai ke telinganya, tak ada satu pun dari persiapannya yang berguna. Rasanya seperti seseorang yang selama ini berjalan di lantai, lalu mendapati lantai itu tidak pernah ada.
Ada dengung aneh di telinganya, seperti orang yang baru turun dari pesawat.
"Tidak," ulangnya, bodoh. "Maksudmu..."
"Saya tidak bersedia menjadi kekasih Bapak."
Suaranya tidak keras. Tidak menusuk. Justru karena itulah lebih menyakitkan. Ia mengucapkannya seperti seseorang membacakan keputusan yang sudah dipikirkan matang-matang.
"Ophelia..."
"Saya menghargai keberanian Bapak. Sungguh. Tapi jawaban saya tidak akan berubah."
Navin membuka mulut. Kata-kata yang tadi begitu banyak, begitu lancar, mendadak menguap. "Boleh saya tahu kenapa?"
"Saya rasa Bapak tahu."
Hantaman itu datang seperti angin dingin yang tiba-tiba. Ia tahu. Ia tahu persis, bahkan sebelum ia menyadarinya. Sebuah kalimat, dua minggu lalu, di ruangan yang tidak jauh dari tempat ini.
"Karena saya..."
"Saya tidak ingin membahasnya."
"Saya ingin minta maaf."
"Tidak perlu."
"Saya harus."
"Pak." Nada suara Ophelia berubah, hanya sedikit, tapi cukup untuk membuat kalimat berikutnya menusuk. "Saya tidak ingin menerima permintaan maaf di atas atap, di saat matahari terbenam, sebagai pembuka sebuah pengakuan cinta. Itu bukan permintaan maaf. Itu taktik."
Navin membeku.
"Kalau Bapak ingin meminta maaf," lanjutnya dengan tenang, "Bapak akan melakukannya karena Bapak menyesal. Bukan karena Bapak menginginkan sesuatu."
"Itu tidak adil."
"Mungkin. Tapi itu jujur."
Angin bertiup. Rambut Ophelia melambai, dan ia tidak menyingkirkannya. Tatapannya lurus dan jernih, tanpa kebencian, tanpa air mata, dan itu yang paling mengerikan bagi Navin. Ia sudah siap untuk kemarahan. Ia sudah siap untuk luka. Tapi ketidakpedulian yang begitu tertata rapi, ia tidak siap.
"Saya tidak tertarik pada Bapak, Pak Navin. Terima kasih untuk tawarannya."
Kalimat itu jatuh seperti pintu yang ditutup. Untuk sesaat ia bahkan tidak bisa merasakan tangannya sendiri di atas pagar besi.
Navin merasa sesuatu di dadanya retak, sepelan bunyi kaca tipis yang tak seorang pun dengar. Ia ingin berbicara, berteriak, memohon, menjelaskan bahwa ia belum pernah merasa seperti ini pada siapa pun, bahwa ia rela mengubah apa pun. Tapi lidahnya kelu, dan yang keluar hanya:
"Baik."
Ophelia mengangguk kecil. "Kalau tidak ada lagi, saya permisi."
"Ophelia."
Ia berhenti di ambang pintu besi.
"Kalau saya... berubah." Kata-kata itu terdengar konyol, kekanak-kanakan, tapi tidak bisa ia tahan. "Kalau saya benar-benar berubah, apakah..."
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia tidak tahu bagaimana.
Ophelia menoleh sedikit. Untuk sepersekian detik, ada sesuatu yang melintas di wajahnya. Bukan kelembutan, bukan harapan. Lebih mirip keraguan yang buru-buru ia tutup.
"Itu bukan urusan saya, Pak."
Pintu menutup di belakangnya dengan bunyi besi yang berdentang pelan.
Ada satu hal yang tak mau ia akui: sebelum pintu itu menutup, ia sempat melihat Ophelia menggigit bagian dalam pipinya, tanda kecil yang sudah ia hafal. Tanda seseorang yang sedang berusaha keras tidak memperlihatkan apa pun. Kalau itu benar, mungkin, hanya mungkin, penolakan itu tidak sedingin kedengarannya. Tapi ia tidak berani berharap.
Navin berdiri diam.
Matahari perlahan tenggelam di balik gunung-gunung, meninggalkan langit yang berwarna merah tembaga. Angin makin dingin. Ia tidak mengenakan jas. Kemejanya tipis, dan ia mulai menggigil. Tapi ia tidak bergerak. Ia hanya menatap pintu itu, seakan pintu itu akan terbuka lagi kalau ia menatapnya cukup lama.
Tidak terbuka.
Pelan-pelan, kakinya lemas. Ia menyandarkan punggung ke pagar, dan tubuhnya merosot sampai duduk di lantai beton yang dingin. Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan.
Ia tidak menangis. Setidaknya, ia tidak merasa menangis. Tapi bahunya bergetar, dan napasnya tersendat seperti orang yang baru selesai berlari terlalu jauh.
Aku pantas.
Pikiran itu datang pelan, dingin, dan sangat jernih. Ia pantas ditolak. Ia pantas mendapat kata tidak setegas itu. Ia pernah menyakiti perempuan itu dengan satu kalimat, dan ia mengira satu pengakuan bisa menghapusnya. Ia mengira cinta adalah alat tukar, seperti segala hal lain dalam hidupnya: cukup tawarkan yang paling berharga dan semua akan dimaafkan.
Sekarang ia tahu bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dibeli. Bahkan dengan seluruh isi hatinya.
Di saku celananya, ponselnya bergetar dua kali, tiga kali. Mama. Ia tidak mengangkatnya. Untuk pertama kalinya, dunia luar terasa seperti bahasa yang tak bisa ia terjemahkan.
Langkah kaki pelan terdengar di belakangnya. Ia tidak menoleh. Ia sudah tahu siapa itu.
"Pak."
"Dia benar," ucap Navin, suaranya serak di balik telapak tangannya.
Dimas tidak menjawab. Ia berjalan mendekat dan duduk di lantai di sisinya, jasnya yang mahal tergesek beton kasar, tanpa peduli. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya meletakkan jasnya sendiri di bahu Navin, dan duduk diam.
Mereka duduk bersisian, dua orang di atas atap gedung yang gelap, sementara kota di bawah sana perlahan menyalakan lampu satu per satu.
"Aku harusnya minta maaf dulu," ucap Navin akhirnya.
"Iya, Pak."
"Kenapa kamu tidak memaksaku?"
"Saya sudah mencoba, Pak. Tapi ada hal-hal yang hanya bisa dipelajari dengan cara yang menyakitkan."
Navin tertawa pendek, tawa yang lebih mirip isakan. "Kamu selalu tahu."
Ia menatap kota yang menyala, dan berkata, lebih kepada dirinya sendiri, "Aku mengira kalau cukup jujur, cukup berani, semuanya akan terbayar. Ternyata jujur saja tidak cukup. Harus ada yang lebih dulu diperbaiki."
"Saya tidak selalu tahu, Pak. Saya hanya sudah cukup lama melihat Bapak."
Sunyi lagi. Di kejauhan, seekor burung terbang melintas di atas kota yang bercahaya.
"Dimas."
"Ya, Pak?"
"Bagaimana cara minta maaf yang benar?"
Dimas menatap langit yang sudah biru tua. Ada senyum kecil yang lembut, yang tidak menyakitkan.
"Besok, Pak," katanya. "Kita mulai besok."