NovelToon NovelToon
Air Panas Untuk Selingkuhanmu

Air Panas Untuk Selingkuhanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

Ranti merasa hidupnya sempurna. Suaminya, Sony, adalah pria idaman—penyayang, sukses, dan setia. Bahkan, Ranti begitu percaya pada Sony hingga tak pernah sekalipun menaruh curiga.

Namun, kebahagiaan itu hancur dalam sekejap. Kejadian tak terduga mengungkap kenyataan pahit. Ternyata menyimpan makna lain yang menyakitkan. Nama Raya, guru TK anak mereka.

Kekecewaan dan pengkhianatan mengguncang dunia Ranti. Kebohongan Sony selama ini tak hanya menghancurkan biduk rumah tangga mereka, tapi juga persahabatan Ranti dengan Raya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: BISING NYANYIAN PENGKHIANAT

Langkah kaki yang terseret dan kepulan asap rokok tipis di luar gedung Pengadilan Agama menggambarkan betapa gentingnya situasi bagi kubu tergugat. Usai persidangan sesi pertama ditunda untuk skorsing makan siang, sebuah drama baru kembali meletup di area taman belakang pengadilan.

Ibu Hendrawan memegang erat lengan mantel Ranti saat Ranti baru saja melangkah keluar menuju kantin. Wajah wanita tua itu tampak begitu memelas, air matanya tak berhenti mengalir membasahi pipinya yang berkerut.

"Ranti... Ibu mohon sama kamu, Nak," tangis Ibu Hendrawan pecah, badannya berguncang. "Jangan cerai... Ibu tidak mau kamu dan Sony berpisah. Pikirkan Bima, Ranti! Bagaimana nasib Bima kalau kalian bercerai? Dia masih kecil, dia butuh sosok Papa!"

Ranti menghentikan langkahnya, menatap ibu mertuanya tanpa ekspresi. "Bima tidak butuh sosok Papa yang memberi contoh perzinahan di rumahnya sendiri, Bu."

"Sony sudah kapok, Ranti! Dia menyesal!" teriak Ibu Hendrawan seraya menoleh ke arah Sony yang duduk terlentang di kursi roda, meringis menahan perih dari luka bakarnya. "Sony... ayo bicara pada istrimu! Bilang kalau kamu tidak akan pernah menuntut Ranti lagi!"

Sony menelan ludah dengan susah payah. Rasa perih terbakar di punggungnya seolah tak sebanding dengan rasa takut kehilangan seluruh aset yang kini membayang di depan mata.

"Ran..." suara Sony parau, matanya bergetar hebat. "Aku... aku akan cabut laporan polisi soal penganiayaan itu. Aku janji, Ran. Aku tidak akan pernah menuntut kamu atas luka bakar ini. Tolong... cabut gugatan ceraimu. Jangan hancurkan keluarga kita..."

Ranti terkekeh dingin, suara tawanya sarat akan penolakan mutlak. "Kamu mau mencabut laporan karena kamu tahu laporan itu tidak akan bisa memenjarakan aku, Mas. Kamu panik karena klausul perjanjian pra-nikah itu akan memiskinkan kamu."

"Ranti, tolonglah pengertian sedikit!" Ibu Hendrawan memohon lagi, memegang kedua tangan Ranti dengan sangat erat. "Ibu janji akan suruh Sony putuskan hubungan sama Raya detik ini juga! Ibu yang akan usir perempuan gatal itu dari kehidupan kalian! Tapi tolong, jangan ceraikan Sony... Ibu tidak mau keluarga kita hancur dan jadi bahan gunjingan orang-orang!"

"Keluarga ini sudah hancur sejak anak Ibu memutuskan meniduri guru TK cucunya sendiri," sahut Ranti tajam seraya menghempaskan tangan ibu mertuanya dengan pelan namun tegas. "Dan keputusan saya sudah bulat. Perceraian ini akan tetap berlanjut, dengan atau tanpa persetujuan kalian."

Sementara itu, di sudut lorong yang agak terpencil, Pak Hendra berdiri tenang mengapit kedua tangannya di balik punggung. Di hadapannya, Pak Budi—pengacara Raya dan Sony—tampak menyapu keringat dingin di dahinya.

"Pak Hendra, mari kita bicara sebagai sesama profesional," ujar Pak Budi dengan nada yang jauh lebih kooperatif dan melunak dibanding beberapa jam lalu. "Klien saya, Saudara Sony, siap mencabut laporan penganiayaan berat Pasal 351 KUHP terhadap Bu Ranti secara unconditionally. Bisakah dari pihak Anda juga melunak terkait pembagian aset 85 persen itu?"

Pak Hendra tersenyum tipis, merapikan letak kacamatanya. "Pak Budi, Anda tahu betul posisi hukum klien saya sangat solid. Terkait tuntutan penganiayaan, silakan lanjutkan jika Anda mau. Tapi ingat, begitu laporan perzinahan Pasal 284 KUHP yang kami ajukan diproses di POLRES, Saudari Raya dan Saudara Sony akan langsung ditetapkan sebagai tersangka perzinahan dengan bukti video autentik."

Pak Budi menggigit bibir bawahnya. "Tapi Saudari Raya mengalami luka bakar 60 persen, Pak Hendra! Dia korban fisik yang paling parah di sini!"

"Luka bakar itu akibat dari perbuatannya sendiri yang menyusup ke rumah orang dan berzina di atas ranjang istri sah," balas Pak Hendra tanpa ragu. "Jika Saudari Raya tetap bersikeras memproses laporan penganiayaan terhadap Bu Ranti, kami tidak hanya memproses pidana perzinahan, tapi kami juga akan memasukkan gugatan perdata atas pencemaran nama baik dan kerugian imateriil yang nilainya jauh melampaui seluruh harta yang dimiliki Raya. Pikirkan karier dan masa depannya yang sudah hancur itu."

Pak Budi menghembuskan napas pasrah. Sebagai pengacara, ia tahu betul ia sedang bertarung dalam peperangan yang sudah kalah sejak awal.

"Baik... saya akan sarankan pada Raya untuk kooperatif dan mundur dari tuntutan ini," bisik Pak Budi akhirnya.

Di saat yang sama, keributan hebat pecah di area ruang tunggu utama.

Dua orang paruh baya berpakaian bersahaja—seorang pria tua bersafari kusam dan wanita paruh baya berkerudung—berlari tergesa-gesa memasuki koridor. Mereka adalah Pak Joko dan Ibu Sumi, orang tua kandung Raya yang baru tiba dari kampung halaman setelah mendengar kabar persidangan ini.

"Raya!" teriak Pak Joko dengan suara menggelegar, matanya merah padam oleh rasa malu dan amarah yang meluap-luap.

Raya yang sedang duduk di kursi roda dengan balutan perban tebal terperanjat kaget melihat kedatangan kedua orang tuanya. "Bapak? Ibu? Kenapa Bapak dan Ibu ada di sini...?"

Pak Joko melangkah cepat mendekati kursi roda anaknya. Tanpa memedulikan kondisi fisik Raya yang penuh luka bakar, Pak Joko menghempaskan tangannya ke udara.

PLAKK!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Raya yang pucat, membuat wajah wanita muda itu tertolak ke samping.

"Aww! Bapak!" jerit Raya histeris seraya memegangi pipinya yang panas, air matanya langsung menetes deras.

"Anak kurang ajar! Anak tidak tahu diri!" bentak Pak Joko, tubuhnya bergetar hebat karena menahan malu yang amat sangat. "Kami menyekolahkan kamu tinggi-tinggi, membanggakan kamu jadi guru TK di kota... ternyata di sini kamu jadi pemuas nafsu suami orang?! Kamu merusak rumah tangga orang?!"

Ibu Sumi menangis histeris, menepuk-nepuk dadanya sendiri. "Raya... ya Allah, Nak! Ibu sampai tidak berani keluar rumah karena tetangga-tetangga di kampung sudah heboh membicarakan video kamu! Nama keluarga kita kamu seret ke lumpur, Raya!"

"Ibu... Pak... dengarkan Raya dulu! Raya diserang! Raya disiram air panas sama wanita itu sampai kulit Raya melepuh begini!" jerit Raya membela diri seraya menunjuk ke arah Ranti yang berdiri tak jauh dari sana.

Pak Joko menoleh ke arah Ranti, lalu menatap perban tebal di tubuh anaknya dan Sony yang terkulai di kursi roda sebelah.

"Kamu disiram air panas karena kamu bertindak menjijikkan!" bentak Pak Joko meluapkan amarahnya pada Raya, sama sekali tidak membela anaknya. "Kalau kamu tidak tidur dengan suami orang di rumahnya, tidak akan ada air panas yang menyiram kamu! Kamu yang memancing neraka itu datang!"

Pak Joko kemudian melangkah mendekati Ranti. Pria tua itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, air mata penyesalan dan rasa malu menetes ke lantai.

"Mbak... Mbak Ranti..." ujar Pak Joko dengan suara gemetar, menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada. "Saya... saya atas nama orang tua Raya, memohon maaf yang sebesar-besarnya atas perbuatan bejat anak saya. Kami tidak pernah mengajarinya untuk jadi penjahat moral seperti ini. Saya malu, Mbak... sangat malu..."

Ranti menatap pria tua di hadapannya dengan tatapan iba, namun pandangannya kembali memadat saat melirik ke arah Raya.

"Pak Joko," tutur Ranti dengan nada hormat namun dingin. "Saya menghargai iktikad baik Bapak. Saya tahu Bapak dan Ibu tidak salah. Tapi anak Bapak sudah dewasa dan tahu betul mana yang benar dan mana yang salah. Dia memilih merusak rumah tangga saya dan menyakiti anak saya."

"Saya mengerti, Mbak... saya sangat mengerti," jawab Pak Joko terisak. Pria tua itu kemudian berbalik, menatap Raya dengan pandangan penuh kekecewaan yang mendalam. "Raya! Kamu cabut semua tuntutan gilamu itu! Kamu pulang ke kampung hari ini juga! Bapak tidak mau melihat kamu berhubungan lagi dengan pria brengsek ini!"

"Tidak mau, Pak! Raya tidak mau pulang ke kampung!" teriak Raya histeris dari kursi rodanya. "Mas Sony sudah janji mau tanggung jawab! Mas Sony janji mau kasih Raya uang dan rumah!"

"Uang apa?! Rumah apa?!" potong Pak Joko murka. "Pria ini saja harta bendanya milik istrinya! Kamu cuma dimanfaatkan jadi pemuas nafsu lalu dicampakkan! Kamu tidak punya harga diri sedikit pun!"

Sony, yang duduk di kursi rodanya, hanya bisa menunduk dalam-dalam. Ia tak sanggup menatap mata ayah Raya, apalagi menatap Ranti yang menyaksikan kehancuran moralnya dari jarak dekat.

Pak Budi mendekati Pak Joko dan Raya, lalu berbisik tegas. "Raya, dengarkan ayahmu. Pihak Bu Ranti tidak akan melangkah ke proses pidana penjara jika kamu kooperatif untuk mencabut laporan penganiayaan ini dan menandatangani surat pernyataan tidak akan pernah mengganggu kehidupan keluarga Bu Ranti lagi. Ini jalan terbaik sebelum kamu benar-benar dijebloskan ke dalam sel tahanan."

Raya meraung-raung di atas kursi rodanya. Rasa terbakar di kulit fisiknya akibat air panas kini beradu dengan rasa sakit akibat penolakan orang tua, pemecatan dari sekolah, kehancuran nama baik, dan kenyataan pahit bahwa Sony tidak lagi memiliki harta kekayaan untuk membiayai hidup mewahnya.

Ia telah kehilangan segalanya dalam semalam.

Sore harinya, setelah proses negosiasi hukum yang alot di bawah kendali Pak Hendra, sebuah kesepakatan tertulis akhirnya ditandatangani di ruang mediasi.

Sony resmi menandatangani surat pencabutan laporan polisi atas penganiayaan berat, diikuti oleh Raya yang menandatanganinya dengan tangan gemetar sembari dipaksa oleh ayahnya. Sebagai gantinya, Ranti menyetujui untuk tidak melanjutkan penahanan fisik pidana perzinahan terhadap keduanya, namun seluruh proses gugatan cerai dan pembekuan aset tetap berjalan sesuai klausul Perjanjian Pra-Nikah.

Ibu Hendrawan terduduk lemas di kursi taman pengadilan, menyadari bahwa usahanya mempertahankan "Keluarga Sempurna" milik anaknya telah gagal total.

Ranti melangkah keluar dari gedung pengadilan dengan langkah yang begitu ringan. Sinar matahari sore yang keemasan menimpa wajahnya, memberikan kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan.

Tasya dan Lala yang menunggu di luar langsung menyambutnya dengan pelukan hangat.

"Semua sudah selesai, Ti?" tanya Tasya dengan mata berbinar.

"Belum sepenuhnya," jawab Ranti seraya menyunggingkan senyum terindahnya—senyum bebas tanpa kepalsuan. "Tapi harimau pengkhianat itu sudah kehilangan taring dan cakarnya. Sekarang, waktunya kita menyambut masa depan yang baru."

Ranti melangkah menuju mobilnya tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Di belakangnya, pusaran dosa dan penderitaan Sony serta Raya biarlah menjadi api yang membakar habis masa lalu mereka sendiri.

1
Lee Mba Young
pengacara Sony keren banget, walau Sony napi ttp bisa memenangkan sidang🤣.
pengacara ranti abal abal cm butuh duit Tok mkne keder mengjadapi pengacara Sony. mkne ranti kalah sidang.

pdhl Sony jelas selingkuh Dan korupsi tp masih bisa dpt hak asuh. 👍
NinLugas: ka baca karya baru aku kak, perlu pembaca kritis kyk KK
total 1 replies
Lee Mba Young
pling enak pelakor Raya gk dpt karma.
Lee Mba Young
Cerita pling aneh. pdhl Sony napi dpt hak asuh.
farhan Dan pengacara ranti memang memgalah agar farhan bebas mndekati ranti tanpa bima. 🤣.
pdhl jelas jelas Sony napi kan 🤣
Lee Mba Young
pengacara Sony best banget pdhl Sony selingkuh, zina korupsi tp dpt bebas Dan dpt hak asuh🤣 .
ranty pengacara ne goblok 🤣
farhan kayak nya gk mau bima, cm mau ranti mkne suruh ranti nyerah.
NinLugas: kalau g gila authornya ya ceritanya yg gila kak🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Lee Mba Young
Ini hukum pling aneh, pdhl korupsi kok bisa bebas bersyarat.
pengacara ranti yg kurang keren
sunaryati jarum
Fitnah jika diselidiki dan ada bukti akurat,maka fitnah akan kalah
sunaryati jarum
Sony Seharus kamu akui dan terima kenyataan,ini semua karena kesalahan kamu.
Lee Mba Young
di sini pengadilan yg gk banget bpk nya napi tp dpt hak asuh itu dah aneh.
trus sekarang bpk nya nikah dng selingkuh annya apa gk di Banting tu anak.

ranti punya kerjaan hidup mapan knp gk dpt hak asuh. pdhl anak di bawah umur itu dng ibunya 🤣.
NinLugas: nnti d jelaskan d episode berikutnya nya y kk 🤣
total 1 replies
Lee Mba Young
Kenapa Sony bisa dpt hak asuh anak kn dia narapidana. kok aneh.
hrse dng status napi Dan gk punya penghasilan gk dpt hak asuh kan.
bukan kah kemarin hak asuh resmi ke ibunya. kok mulek.
sunaryati jarum
Kacang lupa akan kulitnya ,itu kamu Soni dan keluargamu
sunaryati jarum
Kamu malah.tambah cari masalah
NinLugas: terimakasih y kk atas dukungannya, 😍
total 1 replies
sunaryati jarum
Ada temen semasa kecil yang memberi dukungan
sunaryati jarum
Semoga kedepannya tidak ada lagi pengkhianat Ranti
sunaryati jarum
Orang tua Raya , bagus.Tidak membela tapi menyalahkan
sunaryati jarum
Tujuan kamu memang ingin merebut posisi Ranti, sudah pas kamu langsung dapat karma instan
sunaryati jarum
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!