Satu malam gila di Los Angeles mengubah takdir dua jiwa yang terluka. Terpukul oleh pengkhianatan kekasih dan sahabatnya, Jameson Baxter Ashford—dosen muda jenius sekaligus pahlawan kota yang disegani—meluapkan amarahnya pada Hazel Rosemary Brooks, wanita asing bertato kupu-kupu yang berani meremehkan kesombongannya.
Namun saat fajar menyingsing, Hazel menghilang tanpa jejak—hanya meninggalkan segepok uang tunai dan sepucuk surat "ganti rugi" yang menghantam telak harga diri Jameson.
Diperlakukan bagai pria bayaran, amarah sang pewaris klan Ashford meledak. Dengan kekuasaan dan obsesi yang membara, Jameson bersumpah memburu wanita misterius itu ke seluruh sudut kota.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, Hazel menyadari bahwa melarikan diri dari Jameson adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
•
•
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#9
Malam di apartemen pribadi milik Seraphina terasa hangat dan tenang, berbanding terbalik dengan riuhnya desas-desus pembunuhan yang sedang mengguncang kampus mereka.
Bangunan apartemen berarsitektur modern itu merupakan hunian favorit para mahasiswa dan mahasiswi karena lokasinya yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari area kampus.
Di dalam dapur bersih bernuansa pastel, Seraphina berdiri mengaduk teh hangat di cangkirnya, sementara Hazel duduk anggun di kursi bar sembari mengamati kotak kecil obat yang diletakkan sahabatnya di atas meja.
"Biar kukatakan sekali lagi padamu, Hazel," ujar Seraphina tegas, mendorong strip obat itu lebih dekat ke jemari Hazel.
"Kau harus meminum obat kontrasepsi ini setiap hari."
Hazel menaikkan sebelah alisnya, menatap bungkus obat itu dengan pandangan datar.
"Kenapa aku harus meminumnya setiap hari, Sera? Aku tidak akan melakukannya lagi."
Seraphina terkekeh pelan, mengibaskan tangannya di udara dengan senyuman menggoda.
"Ya, ya, ya... kau boleh mengatakan hal itu sekarang. Tapi siapa yang tahu? Kota ini penuh kejutan, Hazel. Mencegah jauh lebih baik daripada kau pusing belakangan."
Hazel hanya meremas pelan kotak obat itu tanpa berniat meminumnya saat ini.
Ia menyandarkan punggungnya di kursi, membiarkan keheningan sejenak mengalir di antara mereka berdua.
Seraphina mengamati wajah cantik sahabatnya yang tetap tenang meskipun baru saja melewati hari pertama kampus yang penuh drama. Ia kemudian menopang dagunya di atas meja, menatap Hazel dengan binar keingintahuan yang jujur.
"Hazel... boleh aku tahu kenapa kau memilih Los Angeles atas kepindahanmu dari New York?" tanya Seraphina penasaran.
"Maksudku, New York adalah pusat galeri seni dunia. Kampusmu di sana juga luar biasa. Kenapa tiba-tiba pindah ke sini dan mengambil jurusan Bisnis?"
Hazel menatap Seraphina, lalu seulas senyum tipis dan lembut terukir di bibirnya.
Senyuman jujur yang jarang sekali ia perlihatkan kepada orang lain.
"Kita sudah berteman bertahun-tahun sejak aku masih di Inggris, Sera," jawab Hazel dengan suara lirih namun hangat. "Aku tidak mau berteman denganmu hanya sampai di layar ponsel saja. Tentu saja aku kemari karena ada dirimu di sini."
Seraphina membelalakkan matanya terharu, memegang dadanya sendiri.
"Oh... manisnya! Kau membuatku terharu, Hazel!"
Namun detik berikutnya, Seraphina mengedipkan matanya nakal, memutar bola matanya tanda menggoda sahabatnya itu.
"Tapi... kau benar-benar tidak kemari karena pria-pria LA yang tampan, kan?"
Hazel menyunggingkan senyum miring, merespons godaan itu dengan santai.
"Ah, tidak juga. Di New York ada banyak pria tampan. Tapi... jauh lebih tampan mantan kekasihku, tentu saja."
Seraphina tertawa berderai mendengar jawaban percaya diri itu. Ia segera menghabiskan sisa tehnya dan berbalik menuju lorong kamar.
"Baiklah, aku akan ke kamar sekarang. Kau harus makan sebelum pergi ke studio nanti."
"Terima kasih, Sera," angguk Hazel lembut.
Senyuman manisnya mekar dengan begitu sempurna di wajahnya.
"Sama-sama! Jangan lupa makan!" seru Seraphina sebelum pintu kamarnya tertutup rapat.
Setelah langkah kaki Seraphina menghilang dan suasana apartemen kembali hening sepenuhnya, senyuman manis di bibir Hazel perlahan-lahan menguap tanpa sisa.
Wajahnya kembali berubah menjadi datar, dingin, dan tak tersentuh.
Hazel berdiri dari kursi bar, melangkah pelan mendekati area ruang tamu.
"Studio..." bisik Hazel lirih.
Suaranya bergema bagai bisikan dari masa lalu.
Pandangan mata Hazel tertuju pada dinding utama apartemen tersebut.
Di sana, menggantung sebuah lukisan besar nan mewah dengan bingkai ukiran kayu mahoni yang kelam.
Lukisan itu menggambarkan pemandangan sebuah malam yang temaram di mana seekor kupu-kupu hitam bersayap legam hinggap di atas sekuntum bunga mawar yang terkulai layu, berhiaskan tetesan cat merah pekat yang menetes jatuh seperti darah segar.
Hazel menatap lukisan itu dengan pendar mata yang amat sangat misterius.
Sebuah senyuman tipis—sangat tipis dan membekukan—terukir kembali di sudut bibirnya.
Tatapan matanya tidak memancarkan kehangatan seorang mahasiswi baru, melainkan kejelian seorang seniman yang baru saja menyelesaikan sebuah karya mahakarya yang belum pernah dipahami oleh dunia.
...****************...
Malam makin larut.
Angin dingin meniup lorong-lorong tangga darurat gedung apartemen yang sepi.
Lampu pijar kuning di sudut tangga berkedip-kedip pelan, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang mencengangkan di atas lantai semen.
Di salah satu undakan tangga lantai dua, seorang pria muda duduk bersandar kaku pada dinding.
Bagian depan kemeja pria itu kusut, matanya sembab merah, dan pipinya basah oleh air mata yang terus menetes tanpa henti.
Tangannya yang gemetar meremas lututnya sendiri, menumpahkan rasa hancur dan terpuruk yang teramat sangat.
Tepat di samping pria yang meratapi nasibnya itu, tergeletak sebuah buket bunga mawar merah yang kelopaknya sudah rusak dan terinjak, serta sebuah kotak kue ulang tahun yang pita cantiknya telah terkoyak kotor.
Langkah kaki yang hampir tanpa suara terdengar turun perlahan dari arah tangga atas.
"Kau kenapa?"
Suara wanita itu begitu lirih, memotong kesunyian undakan tangga yang mencekam.
Wanita berbalut mantel hitam tebal itu berdiri di undakan atas, menatap bagaimana rapuhnya pria yang tergeletak tak berdaya di bawahnya.
Pria itu enggan menjawab. Ia sama sekali tidak mendongak.
Tentu saja, siapa yang akan sudi menjawab pertanyaan kepedulian dari seorang asing ketika dirinya berada di puncak titik terendah, hancur, dan hampa?
Wanita itu melangkah turun satu tingkat lagi.
Pandangan matanya yang dingin menyapu kotak kue yang hancur dan buket bunga yang terbuang sia-sia di lantai.
"Kau... kekasih dari wanita yang berada di apartemen nomor 210?" tanya wanita itu lagi, nada suaranya sangat tenang, teratur, tanpa empati.
Pria itu mendadak menghentikan tangisnya. Ia mendongakkan kepala dengan tatapan terpukul dan cukup kaget.
"Bagaimana... bagaimana kau tahu?"
"Aku melihat bagaimana dia melempari buketmu di depan pintu tadi," jawab wanita itu santai, menyelipkan jemarinya ke dalam saku mantelnya.
Senyuman tipis yang sangat dingin terukir di bibir sang wanita saat ia memperhatikan bahu pria itu yang berguncang hebat oleh rasa malu dan sakit hati.
"Dasar lemah," bisik wanita itu pelan namun menusuk tepat di ulu hati.
"Kau menangis hanya karena ditolak? Menjijikan!"
Pria itu mengepalkan tangannya di atas lantai, menatap wanita berdarah dingin di hadapannya dengan mata memerah penuh amarah dan keputusasaan.
"Kau... kau tidak berada di posisiku!"
Wanita itu terkekeh pelan.
Suara terkekehnya begitu halus, merdu, namun terasa amat mematikan di tengah keheningan tangga darurat yang sepi.
"Akui saja kau lemah," ejek wanita itu tanpa rasa iba sedikit pun.
"Dan kau sangat menjijikkan karena menangisi seorang wanita. Apa kau pikir wanita di dunia ini hanya dia saja?"
Napas pria itu tersengal-sengal, air matanya kembali menetes membasahi pipinya saat rasa putus asa melahap seluruh akal sehatnya. Ia memeluk lututnya erat-erat, menggelengkan kepala secara histeris.
"Kau tidak akan pernah mengerti!" jerit pria itu lirih dengan suara serak yang patah.
"Aku... aku tidak bisa hidup tanpanya!"
Wanita bertopi tebal itu hanya menatap puncak kepala sang pria yang tertunduk pasrah.
...----------------...
Happy reading 🦋 Author Up besok lagi 🙏🏻
up up up 🤣