NovelToon NovelToon
Bangkitnya Pendekar Desa Sunyi

Bangkitnya Pendekar Desa Sunyi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Action
Popularitas:717
Nilai: 5
Nama Author: LanzT0k3

Dua puluh lima tahun Ryu Jin mengurung jiwanya di dasar jurang terlarang demi menahan kebangkitan Pedang Tulang Hitam. Namun, Aliansi Tiga Sekte membantai seluruh warga desanya demi menguras darah jiwa murni. ​Tetesan darah warga merobek segelnya. Sang Iblis Purba terbangun dengan mata membara. Mereka tidak tahu bahwa desa itu bukanlah pemukiman biasa, melainkan penjara tempat dikurungnya bencana abadi. Kini, pintunya telah terbuka, dan Ryu Jin siap menagih jiwa para penguasa benua!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SIASAT SANG PIMPINAN

​Pegunungan Es membisu di bawah celah langit utara yang tertutup awan hitam. Suara hembusan angin badai melintasi tebing-tebing terjal, membawa serpihan es yang membekukan permukaan batu. Di atas awan tebal itu, berdiri sebuah struktur megah yang melayang anggun di udara—Lembah Awan Kelabu, markas utama Sekte Awan Putih.

​Benteng melayang tersebut dikelilingi oleh ribuan Petir Kebenaran dari Formasi Badai Terlarang. Petir-petir berwarna biru kehitaman itu menyambar tanpa henti, menciptakan perisai energi raksasa yang membakar udara di sekitarnya.

​Dari dasar pegunungan es, sesosok pemuda berjalan menembus badai.

​Ryu Jin melangkah tenang. Jubah kelabunya terkibas pelan ditiup angin es, namun hawa membeku yang memancar dari tubuhnya membuat serpihan salju di sekitarnya seketika mencair dan berubah menjadi uap hitam. Di punggungnya, lima pola ukiran mata merah pada sarung pedangnya berkedip lambat, memancarkan cahaya darah yang merayap di atas permukaan salju.

​Setiap kali telapak kaki Ryu Jin menapak, badai es di sekitarnya mendadak mereda. Hawa kematian yang dibawanya begitu pekat hingga kilat petir dari Formasi Badai Terlarang yang mencoba menyambar ke arahnya mendadak membeku di udara, pecah menjadi percikan cahaya redup sebelum sempat menyentuh jubahnya.

​Di dalam aula tertinggi benteng melayang, Master Yun Cang berdiri di hadapan sebuah cermin pengintai raksasa. Pria paruh baya bernuansa dingin dengan jubah putih berukirkan awan itu menatap bayangan Ryu Jin yang sedang melangkah naik dari dasar pegunungan.

​Sebagai praktisi ranah Soul Formation Tingkat Puncak, Yun Cang tidak memiliki kesombongan seperti Duan Feng. Pengalamannya selama ratusan tahun membuat insting bertahannya sangat tajam. Ia tahu betapa berbahayanya pemuda di bawah sana—seorang monster yang sanggup meratakan Sekte Pedang Suci dalam waktu singkat.

​"Master!" seru seorang tetua dengan wajah pucat pasi. "Iblis itu telah melewati garis pertahanan bawah! Apakah kita harus menurunkan seluruh tetua untuk mengepungnya?!"

​"Bodoh!" bentak Yun Cang dengan suara berat yang menekan udara. "Duan Feng tewas karena dia terlalu percaya diri dan menghadapi pemuda itu dalam jarak dekat! Teknik iblis yang dibawanya memiliki daya hisap jiwa yang mematikan di arena sempit!"

​Yun Cang mengusap Kipas Tulang Awan di tangan kanannya—sebuah pusaka kelas atas yang sanggup memanipulasi ruang dan angin.

​"Kita tidak akan bertarung langsung di atas tanah," lanjut Yun Cang dingin, matanya menyempit menatap cermin. "Aktifkan seluruh Panah Es Petir dan Meriam Energi Badai dari atas benteng! Hujani tempat itu tanpa henti! Jangan biarkan dia mendekati pilar benteng melayang!"

​"Baik, Master!"

​Di sepanjang dinding luar benteng melayang, ratusan moncong meriam besi hitam dan busur panah raksasa mulai mengarah ke dasar pegunungan.

​DUAARR! DUAARR! DUAARR!

​Ratusan bola cahaya petir dan ribuan anak panah es bermata besi meluncur deras dari langit! Badai serangan berjarak jauh itu menghujani jalur perjalanan Ryu Jin, meledakkan bukit-bukit batu es menjadi puing-puing berhamburan!

​Ledakan demi ledakan mengguncang dasar pegunungan, menciptakan kawah-kawah dalam yang terbakar oleh api petir.

​Namun, dari balik asap ledakan dan hujan petir tersebut, Ryu Jin terus melangkah keluar.

​Ia bahkan tidak mengangkat tangannya untuk menangkis. Gelombang aura hitam yang menyelimuti tubuhnya membentuk kubah pelindung tak kasat mata yang menyerap seluruh ledakan energi petir. Setiap kali bola energi menghantam aura tersebut, cahaya petir itu seketika padam dan tersedot masuk ke dalam sarung pedang Ryu Jin.

​Meskipun hujan serangan itu sanggup memperlambat langkah kakinya, wajah Ryu Jin tetap datar tanpa ekspresi. Mata merah darahnya menatap lurus ke arah benteng melayang di atas awan.

​Melihat serangan jarak jauhnya tidak sanggup menghentikan Ryu Jin, Yun Cang yang mengamati dari atas benteng tidak panik. Ia justru mengukir senyuman licik.

​"Pancing dia ke pilar penyangga luar!" perintah Yun Cang melalui jimat komunikasi. "Runtuhkan pilar batu itu saat dia melompat!"

​Di bawah sana, Ryu Jin melompat tinggi melintasi tebing es, mendarat di atas salah satu pilar batu raksasa yang menyangga energi benteng melayang.

​SSSTTT!

​Sesuai rencana Yun Cang, puluhan jimat meledak yang ditanam di dalam pilar batu itu seketika dipicu!

​DUAARR!

​Pilar batu raksasa setinggi lima puluh meter itu hancur berantakan! Ribuan ton bongkahan batu dan es runtuh, menimbun tubuh Ryu Jin di balik tanah yang longsor.

​Para murid sekte di atas dinding benteng bersorak gembira, mengira pemuda itu telah hancur tertimbun runtuhan batu es.

​Namun, Yun Cang yang berdiri di jendela aula tidak ikut bersorak. Tangannya yang memegang Kipas Tulang Awan justru makin erat mengepal. Firasat buruk yang teramat sangat makin menekan dadanya.

​DUAARR!

​Runtuhan ribuan ton batu es itu mendadak meledak ke udara!

​Sebuah pusaran tenaga dalam hitam pekat membumbung tinggi dari dalam kawah runtuhan. Ryu Jin melesat keluar dari balik debu batu, melayang menembus awan tebal dengan kecepatan yang melampaui batas penglihatan manusia!

​JEBLAG!

​Ryu Jin mendarat dengan mulus di pelataran utama benteng melayang. Hentakan kakinya saat mendarat membuat seluruh benteng raksasa di atas awan itu berguncang hebat, meretakkan lantai batu marmer putih di pelataran.

​Puluhan murid elit dan lima Tetua Inti yang berjaga di pelataran mundur beberapa langkah dengan wajah pucat pasi. Bau amis darah yang memancar dari jubah kusam Ryu Jin mendadak memenuhi seluruh udara di atas awan, membekukan napas siapa pun yang menghirupnya.

​Ryu Jin tidak membuang kata-kata. Ia melangkah maju secara perlahan.

​"Tahan!" teriak salah satu Tetua Inti dengan nekat menerjang maju bersama empat rekannya. "Lindungi Pimpinan Sekte!"

​Kelima Tetua Inti itu memancarkan aura ranah Core Formation puncak, mengayunkan pedang es mereka untuk menebas leher Ryu Jin dari lima arah berbeda!

​Ryu Jin bahkan tidak memandang mereka.

​TAP.

​Ia hanya melangkah melewati kelima tetua tersebut.

​SSSTTT!

​Saat tubuh Ryu Jin melintas di antara mereka, bayangan lima tangan tengkorak berwarna hitam mencuat dari dalam tanah, mencengkeram leher kelima tetua tersebut seketika.

​CRES! CRES! CRES!

​Tanpa sempat mengayunkan pedang mereka, seluruh darah dan energi kehidupan kelima Tetua Inti itu tersedot habis dalam waktu satu detik! Tubuh mereka mengering, berubah menjadi lima patung tulang berzirah putih yang runtuh menjadi abu saat ditiup angin awan.

​Murid-murid sekte yang tersisa di pelataran menjerit histeris, melempar senjata mereka dan berhamburan lari menuju ruangan dalam benteng.

​Pintu aula utama terbuka lebar. Master Yun Cang melangkah keluar menuju pelataran, berdiri sejauh sepuluh meter dari Ryu Jin.

​Di tangan Yun Cang, Kipas Tulang Awan memancarkan cahaya perak yang sangat terang. Aura tekanan ranah Soul Formation Tingkat Puncak meluap dari tubuhnya, menciptakan badai angin puyuh yang mengelilingi pelataran.

​Yun Cang menatap lima mata merah yang berkedip di sarung pedang Ryu Jin dengan tatapan waspada.

​"Kau sangat cepat, Ryu Jin," kata Yun Cang dengan suara dingin dan tenang, mencoba menjaga kestabilan jiwanya. "Tapi bertarung denganku di atas tempat melayang ini adalah kesalahan terbesarmu."

​Ryu Jin berhenti. Mata merah darahnya menatap datar ke arah Yun Cang.

​"Kau terlalu banyak menggunakan strategi," jawab Ryu Jin datar, suaranya halus namun memotong desihan angin badai. "Tapi di hadapan pedangku... semua strategimu hanya memperlama kematianmu."

​"Mari kita buktikan!" bentak Yun Cang.

​Yun Cang mengibaskan Kipas Tulang Awan di tangannya ke udara!

​Jurus Terlarang: Ruang Hampa Awan Kelabu!

​SSSTTT!

​Seketika itu juga, ruang di sekitar Ryu Jin terdistorsi hebat! Udara, cahaya, dan gravitasi di radius lima puluh meter di sekeliling Ryu Jin lenyap sepenuhnya. Yun Cang menggunakan kemampuan ruang milik kipasnya untuk menciptakan sebuah kurungan hampa udara yang memutus seluruh pasokan energi alam dan mengunci pergerakan fisik Ryu Jin!

​Tubuh Ryu Jin mendadak membeku di udara, terjerat oleh lipatan dimensi tak kasat mata yang terus menekan organ dalamnya dengan kekuatan jutaan ton!

​"Berhasil!" bisik Yun Cang dalam hati, matanya berbinar. Ia tahu jurus ini tidak akan membunuh Ryu Jin, namun sanggup mengurung gerakan pemuda itu selama beberapa menit—waktu yang cukup bagi Yun Cang untuk mengeksekusi rencana berikutnya.

​Yun Cang tidak menyia-nyiakan waktu. Ia tahu betul betapa berbahayanya jika ia berdiri diam menanti Ryu Jin memecahkan segel ruang tersebut.

​Dengan gerakan cepat, Yun Cang merogoh sebuah jimat peledak tingkat tinggi dari balik jubahnya, lalu melemparnya ke arah pilar penyangga utama benteng melayang di belakangnya!

​DUAARR!

​Pilar energi raksasa itu meledak hancur!

​Benteng melayang Lembah Awan Kelabu yang kehilangan pilar utamanya seketika miring secara ekstrem dan mulai jatuh meluncur deras menuju dasar pegunungan es!

​Di saat yang sama, sebuah kapal terbang raksasa berukirkan jimat angin mencuat dari balik reruntuhan aula belakang benteng. Kapal terbang itu adalah jalur melarikan diri rahasia yang telah disiapkan Yun Cang sejak awal!

​"Ryu Jin!" teriak Yun Cang dengan senyuman dingin dari atas geladak kapal terbang yang mulai terangkat naik. "Kau boleh memiliki kekuatan iblis yang tak tertandingi! Tapi kau tidak akan bisa menyelamatkan dirimu dari kejatuhan benteng raksasa ini!"

​Yun Cang mengarahkan kapal terbangnya melesat cepat menuju arah lautan barat—tempat Dewi Lian Ji dari Sekte Teratai Emas menunggunya.

​Di dalam kurungan ruang hampa yang sedang jatuh meluncur bersama benteng, Ryu Jin menatap kapal terbang Yun Cang yang melesat pergi di atas awan.

​Wajah Ryu Jin tetap tenang, tanpa ada sedikit pun rasa panik atau keputusasaan.

​GZZZZZZ!

​Lima mata merah di sarung pedangnya berkedip terang. Suara bisikan gaib di dalam kepalanya mendadak tertawa riang.

​"Bagus..." gumam Ryu Jin pelan. "Seorang musuh yang tahu cara melarikan diri... membuat perburuan ini tidak terlalu membosankan."

​Ryu Jin memegang gagang Pedang Tulang Hitam dengan tangan kanannya.

​Ia menarik pedang terlarang itu keluar dari sarungnya... tujuh sentimeter.

​KLIK-CRAAAAAAK!

​Suara dentang itu begitu dahsyat hingga memecahkan kurungan ruang hampa milik Yun Cang seketika!

​Gelombang tebasan hitam berbentuk cakar raksasa meledak dari celah tujuh sentimeter tersebut. Tebasan itu tidak hanya merobek dimensi hampa udara, tetapi juga membelah sisa-sisa benteng melayang menjadi dua bagian raksasa di udara!

​DUAARR! BLAAM!

​Sisa benteng melayang Sekte Awan Putih hancur berkeping-keping di udara, berubah menjadi hujan batu dan es yang jatuh menghantam dasar pegunungan dengan ledakan dahsyat yang menggetarkan bumi!

​Ryu Jin melompat melintasi serpihan batu yang jatuh, mendarat dengan mulus di atas puncak tebing es tertinggi di dasar pegunungan. Jubah kelabunya terkibas pelan ditiup angin badai.

​Ia mendorong kembali pedangnya masuk rapat ke dalam sarung.

​Dari atas puncak tebing es, mata merah darah Ryu Jin menatap lurus ke arah barat—ke arah kapal terbang Yun Cang yang melesat melintasi lautan awan menuju Benua Barat.

​Master Yun Cang mungkin berhasil meloloskan diri dari pertempuran hari ini dengan taktik liciknya. Namun Yun Cang tidak menyadari bahwa di dalam kapal terbangnya, beberapa tetes aura kematian milik Ryu Jin telah menempel di dinding kapal—menjadi penunjuk jalan yang tak akan pernah bisa dihapus.

​Ryu Jin membetulkan ikatan jubahnya yang dingin, lalu mulai berjalan menyusuri tebing es menuju pelabuhan lautan di ujung benua.

​Tiga Sekte Besar yang dulu menguasai benua ini kini telah hancur. Dua pimpinan terakhir mereka—Master Yun Cang dan Dewi Lian Ji—kini berkumpul di satu tempat di Benua Barat. Perburuan sang Iblis dari Desa Sunyi memasuki babak baru yang jauh lebih berdarah!

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
saling support yo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!