Rin-pertemuannya dengan Al adalah kebetulan. Tapi Al bisa memberikan rasa manis dan asem di hari-harinya.
Al-kaku dan dingin. Tapi dinginnya bisa meleleh. Pertemuannya dengan Rin seperti roti. hangat di luar empuk di dalam.
Kisah semanis roti buatan Rin, penuh proses, harus dibentuk dengan bahan takaran yang pas. Baru bisa dinikmati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Vivian ngobrol lama dengan ketua panitia pelaksana. Sedangkan Rin sibuk di luar. Besok adalah hari pertunjukan dimulai dari pagi sampai sore, malam dilanjutkan lagi dengan penampilan dari guest star. Semua persiapan sudah selesai. Pukul delapan malam Rin baru sampai di rumah dengan wajah yang lelah.
"Gimana persiapannya?" tanya nenek.
"Udah kelar nek, maaf ya Ra gue nggak bisa nemenin lo seharian ini" ucap Rin ke Ara.
"Nyantai aja Rin, gue seneng disini bantuin nenek seharian. Gimana Al?" tanyanya.
"Luka lebar tapi nggak mau dibawa ke rumah sakit," Rin menghempaskan tubuhnya ke kursi. Lelah.
"Loh? Kenapa dengan Al?" nenek bertanya sambil meletakkan teh hangat untuk Rin.
"Makasih nek, Al tadi jatuh. Ya gitu, kakinya luka. Nggak tahu gimana besok dia tampil," ucap Rin.
"Jatuh dimana?" tanya nenek.
"Jatuh dari panggung," jawab Rin.
"Karena cemburu nek hahahaha nenek tahu kalo Al cemburu? Dia takut Rin...."
"Araaa!"
"Hmmmm... Jadi udah sejauh mana hubungan kalian?" nenek bertanya memajukan tubuhnya, begitu juga dengan Ara.
"Nggak gimana-gimana. Kami cuma teman. Kayaknya dia mau balikan sama mantannya. Udah ah, mau istirahat. Mandi dulu, gerah!" Rin menghindari pertanyaan selanjutnya dan buru-buru masuk.
Setelah mandi Rin melihat ponselnya yang bergetar.
Al : gue kangen cookies.
Rin : terus?
Al : bisa bawain nggak? Malam ini? Gue laper.
Rin : kalo laper ya makan. Gue baru pulang dari kampus. Gue titip ke Ara aja ya?
Al : nggak usah. Besok sediain aja di meja tamu. Gue ikut di acara pembukaan.
Rin : oke
Rin meletakkan kembali ponselnya. Ternyata besok pagi semua guest star diundang untuk acara puncaknya.
Keesokannya, pukul tujuh Rin sudah sibuk di kampusnya. Untunglah Rin memilih pakaian yang nyaman. Linen yang d knot di depan warna sage, celana kulot warna putih, sepatu sneakers biar bisa bebas gerak tak lupa dengan sling bag warna terracota. Rambutnya diiket agak ke bawah. Kelihatan adem, manis, tetap rapi dan bebas gerak.
Rin masih memakai name tag panitia dilengkapi dengan papan clip kemana-mana. Rin pergi sendiri pagi-pagi karena persiapan akhir panitia. Setelah briefing pagi, mereka sudah membubarkan diri masing-masing dan ke tempat yang sudah ditugaskan oleh ketua panitia.
Rin duduk di meja menyambut tamu dan memeriksa kebutuhan tamu bersama dua mahasiswa lainnya. Rin hanya memeriksa sebentar sampai semua tamu sudah hadir. Rin yang mengantar para tamu ke kursi yang sudah disediakan.
Satu per satu tamu mulai datang, begitu juga dengan para dosen kampusnya, para penggiat literasi. Lalu rombongan T&T.
"Selamat pagi! Isi daftar tamunya dulu ya!" ucap penyambut tamu. Rin mencentang di kertas papan clip.
"Mari saya antar!" Rin mengajak semua member T&T menuju kursi depan panggung.
"Bang, kedip bang!" bisik Jonas.
"Berisik!"
"Gimana kaki lo?" tanya Rin.
"Masih sakit dikit," ucap Al yang hari itu memakai celana panjang kain hitam dan kaus putih yang dilapisi jas tanpa kancing. Tak lupa kacamata hitamnya.
"perbannya belum diganti kak! Dia nggak mau," ucap Arza. Rin menatap Al. Tapi yang ditatap buang muka pura-pura tertarik dengan pemandangan di sekitar.
"Bisa bantu Al nantinya? Sebagai panitia dan gue sebagai leader T&T yang minta," ucap Bima. Rin mengangguk.
"Ini tempat duduk kalian, duduk yang santai sebentar lagi acara mau dimulai. Kalau ada yang dibutuhkan panggil aja panitia terdekat kalau gue nggak ada," ucap Rin. Al menarik tangan Rin sebelum gadis itu pergi.
"Cookies gue mana?" tanya Al. Rin menarik napas.
"Nanti dibawain Ara, gue nggak sempat bungkusin tadi. Tapi gue udah ngirim pesan ke Ara. Bentar lagi juga datang," ucap Rin sambil tersenyum.
Seketika Jonas dan Arza terbatuk-batuk.
"Manja banget lo bang! Tinggal mampir kesana aja," bisik Arza.
"Beda rasanya" bisik Al. Seketika Arza dan Jonas heboh berdua memukul paha Al.
Tak lama Rin kembali lagi bersama...Vivian! Dia juga tamu kampus. Vivian memakai one shoulder cream, bawahannya rok span hitam dengan belahan tinggi sebelah kanan, heels 5cm yang tidak terlalu tinggi, make up dewy soft brown dan tak lupa tas mungil branded ditangan kanannya. Rin mengantar Vivian duduk dibarisan yang sama dengan T&T.
"Silahkan kak, kalau ada yang dibutuhkan silahkan panggil saya atau panitia terdekat ya," ucap Rin profesional.
"Makasih ya... Nanti aku panggil," balas Vivian tak kalah ramah.
"Hai Al...!" ucapnya yang duduk di sebelah Al. Rin meninggalkan mereka. Pandangan mata Al tak lepas dari Rin. Vivian yang melihat itu sedikit kesal dan mencoba mengambil perhatian Al lagi.
"Gimana kaki kamu?" tanya Vivian.
"Masih bisa jalan!" jawab Al.
"Udah bisa datang ke sini berarti nggak terlalu sakit ya. Aku kira kamu nggak bakal datang pagi ini. Nggak nyangka kita malah duduk sebelahan...kayak dulu lagi," ucap Vivian sambil tersenyum.
"lo nggak risih pake kayak gitu pagi-pagi?" tanya Al saat melihat Rin yang duduk menyilangkan kakinya hingga belahan roknya semakin tinggi. Dulu Al dengan cepat membuka jaketnya dan menutupi kaki Vivian yang terekspos. Sekarang Al membuang muka menghindari bagian yang terbuka.
"Nggak! Aku nyaman-nyaman aja. Nanti juga ada sesi foto. Biar tetap keren dan bisa nyeimbangin kamu," ucap Vivian.
"Jangan berharap lebih Viv...!" ucap Al. Dan pandangannya kembali teralihkan ke Rin yang lewat mengantar tamu terakhir. Lalu dia kembali bersama panitia lainnya di samping gedung.
Acara dimulai dengan kata sambutan. Rin dan tim panitianya kembali sibuk. Rin menerima telepon kalau Ara baru sampai. Rin menenteng paperbag besar ke belakang panggung. Hal itu tidak luput dari pandangan Al, dia yakin itu pesanan miliknya. Al tersenyum sedikit, nyaris tak kelihatan. Vivian yang memperhatikan jadi sedikit kesal. Dia sudah effort berdandan hari ini, meminta duduk disebelah T&T malah dicuekin Al.
"Dia spesial banget buat kamu ya?" bisik Vivian di telinga Al sambil tersenyum-cukup dekat agar kamera wartawan di baris depan dapat momen yang pas.
Al mengangguk pelan tanpa sadar yang mengajaknya bicara adalah Vivian, Al kembali terdiam. Efek yang ditinggalkan dari bisikan itu sampai kemana-mana. Itu yang Vivian mau. Rumor dirinya dan Al. Tentu saja interaksi kecil itu jadi santapan banyak mata yang melihat bahkan beberapa wartawan dapat momen yang pas.
Sementara itu Rin di belakang panggung sedang menyusun cookies pesanan Al. Tak lupa dia menempelkan sticky note dengan tulisan "Spesial req by : Al T&T". Ada juga spesial req by member lainnya. Tidak cuma untuk Al.
Rin menatap puas susunan rider untuk Al dan disebelah meja Al ada meja untuk rider milik Vivian. Rin sudah memenuhi semua pesanannya yang ternyata harganya lumayan mahal. Ada pengharum ruangan merk tertentu, air humidifier, makanan rendah gula dan kalori, minuman dan air mineral dengan merk tertentu. Juga ada bunga kesukaannya.
kisah Al dan Rin tak melulu soal cinta, ada sedih, bahagia, lucu dan kadang sedikit kaku🤭
kisahnya nggak berat kok